LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
PERNIKAHAN


__ADS_3

Tepat sesuai dengan waktu yg disepakati Romi tiba di lokasi. Dimas masih protes perihal waktu kedatangannya yang lebih dulu dibandingkan calon adik iparnya. Namun seketika mulutnya bungkam ketika melihat sosok yang menghampiri meja mereka. Ia kaget bagaimana bisa presdir Perusahaan Ekadarma duduk satu meja di kursi yang bersebrangan dengannya.


"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" Dimas langsung berdiri ketika Romi duduk. Romi yang datang dengan wajah datarnya seketika menoleh ke arah Dita yang juga ikut berdiri.


"Kau tidak memberitahu kakakmu siapa calon suamimu?." Dimas sontak kaget dan langsung mengarahkan pandangannya ke adiknya. Saat ini semua pandangan tertuju pada Dita. Dita hanya melongo, tak mengerti situasi apa yang sedang dia hadapi.


"Dia adalah tuan muda presdir dari perusahaan Ekadarma. Bagaimana kau bisa mengenalnya? Apa dia calon suamimu." Dimas mendekatkan diri dan berbisik di telinga Dita, Dita hanya menganggukkan kepalanya.


Dita kaget dengan ucapan kakaknya barusan. Dita memang tidak mengetahui sama sekali mengenai jati diri calon suaminya itu. Yang dia tahu, dia harus bisa menyelamatkan hidup kakaknya saat ia menandatangani surat perjanjian saat itu.


"Kenapa kalian berbisik-bisik? Kalian sedang menggosipkanku?." Yang mulia tuan muda tak puas dengan sambutan yang diberikan, karena Dita dan Dimas tampak sibuk sendiri.


"Maafkan saya tuan. Saya hanya tidak menyangka mendapat kehormatan bisa makan bersama tuan." Dimas cepat membaca situasi segera mengajak Dita duduk. Romi tidak memberikan respon apa-apa dan langsung memulai makan.


"Dita, tolong ambilkan makanan buat calon suamimu." Dimas mencoba mengajarkan sopan santun kepada Dita dalam memperlakukan calon suaminya. Dita sontak menoleh ke arah Dimas, menatap kakaknya dengan kesal, namun dengan terpaksa ia harus mengikuti perintah kakaknya agar tidak terbongkar drama pernikahannya.


"Silahkan dinikmati tuan." Terlihat sangat canggung saat Dita menyendokkan beberapa menu ke piring Romi.


Romi masih dengan wajah datarnya kemudian menyingkirkan menu udang yang barusan ditaruh di piringnya. Bima yang mengamati dari meja sebelah merasa khawatir, karena ia tahu kalau tuan mudanya punya alergi terhadap makanan laut. Jika tidak di depan calon kakak iparnya mungkin Romi sudah melemparkan udang tersebut ke wajah Dita.


Sepanjang makan siang suasana nampak sangat hening. Tak banyak yang mereka bicarakan. Di akhir sesi pertemuan itu Dimas memberanikan diri menghampiri Romi.


"Tuan Romi, mohon maaf jika keinginan saya ini terlalu lancang. Hanya satu keinginan saya, saya titipkan adik perempuan saya untuk bisa hidup bahagia bersama tuan." Dimas dengan tulus memohon sembari menundukkan kepalanya.


"Tuan tenang saja. Tidak ada wanita yang tidak bahagia jika hidup bersama saya." Lagi-lagi kenarsisan diri Romi menjulang ke langit.


"Terimakasih tuan atas kebaikannya selama ini." Hanya dijawab oleh anggukan Romi sebelum kemudian meninggalkan restoran.


--------------------------------


Dita yang baru kembali dari toilet langsung ditarik kembali oleh Dimas menuju meja makan.


"Bagaimana bisa kau mengenal tuan muda, Dit?." Kali ini Dimas tak ragu mengungkapkan rasa penasaran yang sejak tadi ia pendam.


"Ya kenal begitu aja kak. Memang harus seperti apa?." Dita nyengir kuda, sangking bingungnya menjelaskan proses pertemuannya memang mengalir begitu saja.

__ADS_1


"Kamu itu ya kalo diajak ngobrol serius susah banget. Kamu tau kan siapa tuan Romi itu?". Dimas jadi meragukan adiknya itu.


"Ya taulah kak. Masak Dita ga kenal ama calon suami sendiri." Lagi-lagi jawabannya menggantung dan menyebalkan.


"Iya juga sih, ga mungkin ga kenal calon suami sendiri. Yaudahlah susah ngomong sama anak kecil." Dimas pasrah menanggapi adiknya yang ternyata masih kekanakan itu.


"Satu lagi pesan kakak, harus banyak belajar memperlakukan suami dengan baik. Jadilah dewasa minimal saat nanti kamu sudah berstatus istri." Kali ini Dimas sedikit serius dengan ucapannya.


"Iya kak, Dita akan selalu berusaha menjadi istri yang baik. Terimakasih sudah mengijinkan Dita menikah meski dengan pemberitahuan yang mendadak." Dita sedikit tersentuh dengan pesan kakaknya barusan, namun Dita bukan tipe wanita yang suka menampakkan kesedihannya.


------------------------------------


Di dalam mobil menuju hotel tempat Romi tinggal, nampak tuan muda tiba-tiba berwajah kesal setelah meninggalkan calon kakak iparnya tadi. Perkara apakah yang membuat Romi tiba-tiba kesal?.


"Tuan, maafkan atas keteledoran saya tadi." Bima ternyata langsung mengetahui apa penyebab kekesalan tuannya.


"Kau sengaja memberitahu wanita itu tentang alergiku, agar dia bisa membunuhku dan membuatnya gagal menikah denganku?" Tudingan terlontar yang tak berbukti. Sejauh itu pikiran buruk Romi.


"Maafkan saya tuan, semua kesalahan saya. Karena saya yang belum memberikan daftar kebiasaan tuan." Romi benar-benar menyesal, walaupun sebenarnya wajar ia belum menjelaskan semuanya kepada Dita karena semua proses yang terjadi serba mendadak tanpa rencana.


Bima yang menilai emosi Romi sudah mereda, akhirnya melanjutkan mengemudi mobil dengan kecepatan sedang.


-----------------------------------


Hari-hari berikutnya berjalan dengan tak banyak tragedi yang terjadi. Dita bekerja dengan ritme seperti biasa, begitupun dengan Romi. Urusan persiapan pernikahan semuanya dipegang oleh Bima. Sesungguhnya masih ada satu urusan yang seharusnya Romi sendiri selesaikan, yaitu mengiformasikan kepada keluarganya perihal pernikahan dadakannya. Ia tak ingin ada campur tangan dari keluarga untuk urusan pernikahannya kali ini. Sampai menjelang satu hari menuju pernikahannya, Romi mampir sebentar ke rumah utama untuk makan siang.


Kebetulan semua anggota keluarga hadir dalam makan siang kala itu. Ibu nampak senang sekali, apalagi setelah melihat kondisi Romi yang jauh lebih baik dari sebelumnya.


"Romi datang untuk menyampaikan berita pernikahan Romi yang akan berlangsung besok." Kata-kata Romi yang tanpa basa-basi seketika membuat ibu dan Jinny menjatuhkan sendok ke piring mereka. Hanya Ayah yang nampak tenang.


"Apa maksudmu nak? Apa kau baik-baik saja?". Ibu menyuarakan keterkejutannya.


"Kakak sedang tidak bercanda kan?." Jinny tak jauh berbeda dengan ibu.


"Besok jika ayah, ibu, dan kau punya waktu, hadirlah di pernikahanku." Romi menoleh ke arah Jinny. Sama sekali tak menanggapi pertanyaan yang barusan diarahkan kepadanya. Ia bukan tipe orang yang mau mengulang dua kali perkataannya, hal ini ternyata berlaku juga bahkan untuk ibu kandungnya.

__ADS_1


Ibu dan Jinny masih tak percaya dengan apa yang barusan mereka dengar. Mereka menghentikan makan ketika makanan yang sudah terlanjut di mulut selesai mereka kunyah. Mereka kompak menoleh ke arah ayah, memberi kode agar ayah turut memberi komentar.


"Ayah pasti akan datang." Ayah tersenyum ke arah Romi. Membuat ibu dan Jinny kesal, karena ayah tak menanggapi kode yang mereka berikan.


"Terimakasih ayah." Romi dan ayah melanjutkan makannya, meski sepertinya yang lain sudah kehilangan selera makan.


Acara makan siang berlalu begitu saja, kemudian Romi pamit. Hari ini ia pulang cepat, sehingga usai makan siang ia segera menuju hotel untuk persiapan pernikahan esok hari.


-----------------------------------


Setelah perdebatan panjang antara ibu, Jinny, dan ayah mengenai pernikahan Romi, akhirnya ibu dan Jinny terpaksa menerima kenyataan untuk saat ini. Sudah tidak mungkin membatalkan pernikahan, dan tak mungkin mereka tidak mengahadiri pernikahan Romi, begitulah yang paling mungkin menurut mereka saat ini.


Mereka begitu penasaran dengan sosok calon istri Romi, terutama ibu. "Apa dia sosok wanita pengincar harta sama seperti Riana?" Begitu yang ada di pikiran buruk ibu. Masa lalu pernikahan Romi membuat ibu memiliki ketakutan sendiri bila ada wanita yang mendekati Romi.


----------------------------------------------------


Hari pernikahan tiba. Tentunya Dita dan keluarganya yang harus tiba lebih dulu di lokasi resepsi pernikahannya, kali ini Dimas menerima tanpa protes seperti kejadian sebelumnya.


Selang tiga puluh menit kemudian calon pengantin pria pun tiba. Tampilannya terlihat lebih menawan dan lebih gagah dari biasanya, kalau orang bilang aura pengantinnya keluar. Begitu tiba di ruang persiapan pengantin, Romi langsung mengabsen kehadiran calon wanitanya. Ia langsung memalingkan pandangannya begitu sudah menemukan apa yang dia cari.


Putri, bibi Lia, dan Luna begitu terkejut ketika mengetahui siapa calon suami Dita. Dimas yang membaca situasi segera menarik ketiganya untuk keluar ruangan, memperingatkan untuk tidak bersikap berlebihan dan bertindak macam-macam. Tentu saja saat ini tidak akan ada yang berani macam-macam, mereka tidak sudi jika harus diusir dari acara penting ini.


Kali ini giliran keluarga mempelai pria yang ikut masuk ke ruang persiapan pengantin. Ibu dan Jinny nampak sangat buru-buru tidak sabar untuk mengetahui calon istri Romi. Begitu tiba mereka langsung mencari sosok calon pengantin wanita tanpa memperdulikan pengantin pria yang merasa risih dengan kedatangan ibu dan Jinny di ruangan itu.


Begitu menemukan calon pengantin wanita, ibu langsung mengabsen Dita dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan yang sulit diartikan.


Sedangkan Jinny yang awalnya hanya terdiam ketika melihat apa yang tadi membuatnya penasaran, namun kemudian ia menghambur memeluk Dita untuk memecah keheningan dalam ruangan itu.


"Kak, perkenalkan aku Jinny. Adik kesayangan kak Romi. Semoga kita bisa akur untuk kedepannya." Jinny mengeratkan pelukannya. Ibu yang masih setia dengan tatapannya tadi tak bergerak dari posisi terakhirnya.


"Aku juga berharap hal yang sama." Dita yang merasa bingung harus berbuat apa, akhirnya hanya bisa membalas pelukan Jinny.


"Hiduplah bahagia bersama anakku." Ayah menghampiri Dita sambil mengusap rambut Dita. Dita hanya mengangguk, terharu. Nampak sekali ketulusan dari suara dan gerak-gerik ayah. "Hanya ini yang bisa ayah lakukan. Mendoakan yang terbaik untuk anak-anakku." Ayah mengucap dalam hati, kemudian mengajak ibu meninggalkan ruangan untuk menyapa tamu undangan yang hadir.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2