
Dita masuk ke kamar dengan langkah ragu-ragu, tak seperti tadi saat ia keluar dari ruangan itu. Romi yang sudah kembali ke posisi semula saat mengetahui Dita dan Jinny meninggalkan taman.
Dita masuk ke dalam kamar mandi, mengumpulkan kekuatannya untuk meminta ijin kepada Romi. Ia cuci mukanya yang seketika memanas karena gugup. Sekitar sepuluh menit ia keluar kamar mandi, merasa sudah cukup mengumpulkan kekuatan untuk mengucap kata ijin.
Kekuatan yang susah payah ia kumpulkan seketika luntur begitu ia melihat ke arah Romi yang tanpa sengaja juga menatapnya, sehingga pandangan mata mereka bertemu. Secepat kilat Dita menundukkan kepalanya kemudian terbirit lari menuju sofa.
"Apa yang anak kecil itu minta darimu?". Kalimat Romi menghentikan langkah Dita. Romi mencoba menebak apa yang sedang Jinny dan Dita rencanakan. Romi paham betul karakter adiknya yang manja dan banyak maunya. Romi bisa merasakan kali ini perlakuan yang diberikan Jinny kepada Dita berbeda dengan mantan kakak iparnya dulu.
"E...e.." Dita masih kelu untuk bicara, pertemuan pandangan mata mereka tadi masih menyisakan debaran di dada Dita.
"Kau tentu tidak lupa kalau aku bukan orang yang sudi mengulang kata-kataku." Romi berbicara santai sambil sibuk mengoperasikan laptopnya.
"Jinny mengajakku untuk keluar sebentar. Jinny merasa suntuk karena batal pemotretan hari ini. Itupun jika tuan mengijinkan." Dita akhirnya menjawab cepat, tak ingin kesempatannya terlewatkan.
"Tentu semua harus seijinku. Sebentar." Romi tidak lupa menekankan kalau hidup Dita sepenuhnya milik Romi saat ini.
Dita yang masih berdiri di dekat kasur memutar otaknya. Ia berusaha mencerna kata-kata terakhir Romi yang sulit dipahami oleh orang biasa seperti dirinya. "Sebentar?". Dita refleks membuka mulutnya merasa senang ketika menemukan makna kata 'sebentar'.
Sebentar : boleh keluar rumah sebentar sesuai janji Dita
"Baik tuan, saya akan pulang sebelum matahari terbenam." Dita merasa senang mendapat ijin. Sepertinyaa ia harus menyelipkan kata-kata pujian atau rayuan sebelum meminta sesuatu kepada Romi. Trik baru yang didapat Dita hari ini.
Bergegas Dita menuju kamar ganti. Ia pilih setelan kasual celana jins biru langit dan kaos oblong berwarna putih polos. Sedikit ia tambahkan pewarna bibir bernada lembut, manambah manis senyumnya.
Usai siap dengan penampilannya, Dita menuju lantai satu untuk menjemput Jinny.
"Saya berangkat, tuan." Tak lupa Dita pamit dengan sopan sebelum meninggalkan Romi.
"Kubiarkan kau sedikit bersenang-senang hari ini. Sebagai pelipur kesedihanmu di masa lalu." Ucap Romi dalam hati. Hati nurani Romi saat ini sedang tergerak usai membaca laporan yang ia terima dari Bima semalam. Laporan yang membuat Romi meminta Bima memberikan pelajaran untuk keluarga paman dan bibi Dita.
-----------------------------------------------------
"Tok...tok..." Dita mengetuk pintu kamar Jinny yang hendak ia masuki untuk pertama kali.
"Masuk!" Jinny mengijinkan sang pengetuk pintu untuk masuk.
"Kakak ipar....Kau sudah siap? Wow...aku pikir butuh waktu berjam-jam. Boleh juga. Hahaha..." Jinny menyambut kedatangan Dita agak terkejut. Ia bahkan masih sibuk memilah pakaian mana yang akan ia kenakan.
"Haha...aku tidak pandai berdandan adik ipar. Jadi hanya bisa berpenampilan sederhana ini, sehingga tidak perlu waktu berjam-jam." Dita tersenyum.
"Bukan itu maksudku kakak ipar." Jinny menghentikan aktifitasnya sesaat.
"Maksudku boleh juga kakak ipar tidak butuh waktu berjam-jam untuk mendapat ijin dari kakak." Jinny menjelaskan maksud dari kata-katanya tadi.
"Oooo." Dita membulatkan bibirnya.
"Mengapa kata-kata semua orang di rumah ini sulit dimengerti. Apa sejak lahir mereka sudah diajarkan kalimat sandi." Dita dalam benaknya merasa heran.
__ADS_1
"Kakakmu itu sangat pengertian kok. Hihi." Dita tersenyum kaku saat mengucapkan kata-kata dusta.
"Hahahahah." Dita ikut tertawa penuh makna yang sulit diartikan.
-----------------------------------------------------------
Jinny mengajak Dita mengunjungi sebuah mall. Mereka tiba di tempat tujuan sekitar pukul sebelas. Destinasi pertama mereka adalah sebuah restoran. Destinas pertama ini dipilih oleh Dita. Ia sudah merasa lapar meskipun belum masuk jam makan siang, akibat sarapan penuh ketegangan tadi pagi yang membuatnya sedikit menelan makanan.
"Kakak ipar mau pesan apa?" Jinny mendekatkan dirinya ke samping tempat duduk Dita. Memilih untuk melihat-lihat menu secara bersama.
"Aku rasa ini cukup menarik." Dita memilih salah satu menu kesukaannya.
Sembari menunggu pesanan datang mereka mulai berbincang-bincang.
"Kakak ipar, apa kakak ipar tahu kalau akting kakak ipar itu sangat buruk?." Jinny memulai pembicaraan yang membuat Dita reflek memalingkan wajahkan ke arah Jinny.
"Maksudmu apa adik ipar? Hahahhaah." Dita meraba-raba maksud dari kalimat Jinny yang seperti biasa memang sulit dimengerti.
"Aku tahu kalau kakak ipar sebenarnya terpaksa menikah dengan kakak bukan?" Lagi-lagi pertanyaan Jinny bak suara kembang api yang mengagetkan.
"Bagaimana kau bisa tahu adik ipar?" Dita kali ini tak ingin mengelak lagi.
"Haha. Kakak ipar ternyata benar-benar polos ya. Tingkah laku kalian saja sudah sangat jelas. Mana ada suami istri sungguhan bersikap secanggung kalian." Ucapan Jinny seratus persen benar dan diamini oleh Dita.
"Aaaa, ternyata berakting itu tidak mudah ya." Dita tersenyum dibuat-buat.
"Tapi kakak ipar tenang saja. Aku akan bantu agar pernikahan kakak dan kakak ipar bukan hanya akting semata." Jinny terdengar seperti sangat serius dengan ucapannya.
"Tapi boleh kan kalau aku yang berharap lebih?" Jinny lagi-lagi serius.
"Haha, maksud adik ipar apa?". Tawa Dita lagi-lagi dibuat-buat.
"Aku tak ingin kakak sakit untuk kedua kalinya. Cukup pernikahan pertamanya yang gagal." Dita seketika tersedak saat mendengar penyataan Jinny barusan.
"Kakak ipar pasti belum tahu cerita ini kan?" Jinny melanjutkan kalimatnya. Disambut oleh gelengan dari Dita.
Jinny meceritakan kisah kakaknya yang malang, cerita yang membuat Dita sedikit kasihan dengan suaminya.
--------------------------------------------------
"Berjanjilah!. Jika kakak ipar tidak bisa membuat kakak bahagia, atau setidaknya kakak ipar tidak akan membuat luka di hati kak Romi." Permintaan tulus diucapkan Jinny di akhir ceritanya.
Dita belum memberikan jawaban atas permintaan yang tak mudah itu.
"Kak Dita." Jinny memegang punggung tangan Dita, masih menunggu jawaban penuh harap.
"Entahlah adik ipar. Aku bahkan tidak bisa menjanjikan apapun untuk hidupku sendiri." Jinny terdiam mendengar jawaban dari Dita.
__ADS_1
"Aku tak tahu apakah tindakan yang kuambil saat ini adalah tindakan yang benar atau tidak?". Dita mulai menceritakan awal pertemuannya dengan Romi hingga proses pernikahan yang begitu cepat.
Dari cerita yang ia dengar, Jinny berusaha menghubungkan salah satu penyebab pernikahan dadakan itu. "Apa pernikahan si brengsek dengan wanita culas itu menjadi salah alasan kakak menikahi kakak ipar, untuk membalas dendam perbuatan mereka?". Jinny menerka-menerka, bergulat dengan pikirannya sendiri.
---------------------------------------------------
Keduanya akhirnya disibukkan dengan menghabiskan pesanan mereka, ketika keduanya telah menyelesaikan apa yang ingin mereka ceritakan.
Beberapa jam bersama membuat mereka nampak seperti telah saling mengenal berbulan-bulan. Karakter Dita dan Jinny yang sama-sama mudah bergaul dan mudah menyesuaikan diri mungkin menjadi faktor yang mempercepat kedekatan mereka.
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Jinny kali ini yang mengajak Dita untuk berbelanja. Jinny sibuk dengan memilih barang dari toko ke toko, mulai dari baju, tas, hingga make up. Dita setia menemaninya tanpa mengeluh.
"Kakak ipar. Kenapa dari tadi kakak ipar sama sekali tidak ada yang dibeli. Sekarang saatnya menghabiskan uang kakakku. Hahahha..." Jinny mengajarkan hal yang tak baik kepada kakak iparnya.
"Haha, saat ini belum ada yang perlu aku beli. Kakakmu sudah terlalu banyak membelikanku barang-barang, bahkan ada beberapa yang belum sempat dipakai." Dita memang bukan tipe shopaholic, ia belanja hanya ketika ada kebutuhan.
"Hmmm, kakak ipar ga asih ah." Jinny kali ini mulai membiasakan kalimat yang tidak terlalu formal saat berbicara dengan Dita.
"Kalau kakak ipar ga ada yang mau dibeli, gimana kalo beliin kak Romi sesuatu?." Ide dadakan muncul dari otak Jinny.
"Emang apa yang dibutuhkan kakakmu, kayanya semua udah dia punya deh." Dita tak mau mengikuti ide aneh-anehnya Jinny.
"Aduuh, kakak ipar. Harus banyak tau dong tentang suaminya. Tapi ga apa-apa, awal-awal akan kukasih tau apa aja yang kakak suka.". Jinny percaya diri.
"Aku bahkan udah hapal apa yang disuka dan yang ga disuka oleh kakakmu itu." Dita bergidik ketika mengingat saat-saat ia harus mengahapal kebiasaan tuan muda Romi.
"Woooo. Kakak ipar ternyata boleh juga." Jinny berseru heboh.
"Kalo ga kaya gitu, mana bisa aku bertahan sampe sekarang." Dita nampak membanggakan dirinya yang sebenarnya tak patut dibanggakan.
Di tengah kesibukan kegiatan berbelanjanya Jinny, Dita mendapat sebuah pesan.
"Satu setengah jam." Pesan dari Romi.
Dita menunjukkan pesan tersebut kepada Jinny.
"Huh dasar menyebalkan". Jinny protes dengan pesan yang dikirimkan oleh Romi.
Mereka memutuskan pulang segera setelah reminder waktu diberikan kepada Dita.
--------------------------------‐--------------------
Mobil yang mereka tumpangi tiba di rumah tepat pukul setengah enam sore, setengah jam sebelum batas waktu berakhir.
"Kakak ipar. Jangan lupa dengan janjimu." Jinny mengingatkan janji yang bahkan belum disetujui oleh Dita.
Meskipun Jinny tahu motif pernikahan Romi dan Dita, ia tetap akan medukung pernikahan itu. Karena semua sudah terlanjur terjadi pikirnya. Yang bisa dilakukan hanyalah berusaha membuatnya menjadi lebih baik, setidaknya Romi dan Dita tidak akan saling menyakiti.
__ADS_1
Dita lagi-lagi hanya tersenyum menanggapi permintaan Jinny. Sungguh saat ini ia tidak bisa menjanjikan apa-apa.
Bersambung...