
***
Sudah hampir satu jam Dita sudah berada di ruang operasi. Romi sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari pintu ruang operasi, tak sabar menunggu penjelasan dokter mengenai keberhasilan operasi istrinya.
Tepat satu jam sesosok perempuan berseragam warna hijau dengan mengenakan masker keluar dari ruang operasi, segera Romi bangkit dari duduknya menghampiri dokter Nina.
"Semua baik-baik saja kan dokter?." Romi langsung menodong dokter Nina dengan pertanyaan mengintervensi.
"Syukurlah operasinya berjalan sesuai rencana, butuh waktu sekitar satu jam agar nona Dita bisa dipindahkan ke ruang perawatan."
"Tolong dokter agar bisa memenuhi permintaan saya tadi." Suara Romi tiba-tiba terdengar lirih.
"Apa tuan yakin dengan keputusan untuk merahasiakan semuanya?. Nona Dita sangat berhak tahu akan kondisi kesehatannya. Saya hanya ingin agar tuan memikirkannya kembali." Dokter Nina bernegosiasi agar privasi pasiennya tetap terlaksana.
"Dokter tahu kan bagaimana besar keinginan istri saya untuk memiliki keturunan?." Romi masih teguh dengan pendiriannya.
"Baiklah kalau begitu. Semoga semua sesuai dengan harapan kita semua. Kalau begitu saya pamit, Tuan." Dokter Nina mengangguk pelan, mengalah adu argumen dan berpamitan meninggalkan Romi.
Romi masuk menemani Dita di ruang pemulihan yang masih dalam pengaruh obat bius dan belum sepenuhnya sadar.
"Tolong jangan begini lagi. Aku tak tau apa yang akan terjadi kalau para pengawal bodoh itu lebih terlambat lagi dalam menemukanmu. Aku tak bisa membayangkan jika hal lebih buruk terjadi padamu. Kenapa kau terus-terusan membuatku menjadi orang lemah begini?." Romi dengan erat menggenggam tangan istrinya yang lunglai, tak jarang ia kecup tangan pucat itu.
***
Waktu sudah berganti menjadi pagi.
"Apa yang terjadi padaku? Kenapa kepalaku terasa berat?."
"Oouh..." Dita meringis memegang perutnya yang terasa sedikit kram ketika hendah duduk dari tidurnya.
"Sayang, apa yang masih terasa sakit?." Romi yang ikut terlelap di samping Dita dengan sigap bangun dan memeriksa kondisi istrinya.
"Perutku terasa sedikit tidak nyaman." Dita berkata jujur.
"Ah..Itu...Dokter bilang sepertinya ada benturan di daerah perut yang mungkin menimbulkan nyeri. Apa begitu terasa sakitnya?." Romi agak gugup memberi penjelasan, sebisa mungkin ia simpan rahasia besar yang telah terjadi dalam hidup mereka.
Dita hanya menggeleng pelan.
"Apa yang laki-laki brengsek itu telah lakukan padamu? Apa dia menyakiti bagian tubuhmu yang lain?." Romi mulai mengecek satu persatu bagian tubuh istrinya.
Dita seketika mematung, tak bergerak, kemudian menjatuhkan air matanya ketika kembali mengingat kejadian buruk malam itu.
Romi terkejut melihat reaksi Dita.
__ADS_1
"Sayang. Maafkan aku. Aku tak bermaksud...". Ucapan Romi terhenti ketika Dita mendadak mendekapnya.
"Tidak. Aku yang seharusnya meminta maaf. Aku yang sseharusnya tak datang di acara itu. Maafkan aku yang selalu membuatmu kesusahan. Maafkan aku...maafkan aku." Dita benar-benar merasa bersalah. Dan trauma yang dulu, yang sudah sempat menghilang kini kembali muncul ketika dengan jelas ia bertemu kembali dengan pria yang beberapa tahun lalu memperlakukannya dengan tidak baik.
"Tidak sayang, tidak ada yang perlu disalahkan. Aku akan selalu ada di sini. Berhentilah menangis, aku tak mau melihat wanitaku menangis begini."
"Ayolah, sepertinya kau butuh mengisi energimu karena sejak kemarin tak berhenti menangis. Apa ada sesuatu makanan yang kau inginkan?."
Dita hanya menggeleng dalam pelukan suaminya.
"Apa hanya aku yang kau inginkan saat ini? Tapi dokter bilang, untuk sementara kita tidak bisa melakukannya untuk beberapa waktu ke depan." Romi menyempatkan diri menggoda istrinya.
Dita mencubit pelan pinggang Romi karena kesal telah digoda.
"Lagian mana bisa. Sepertinya aku sedang datang bulan." Dita malu-malu menjawab. Ia merasakan ada cairan mengalir dari kewanitaannya, ia mengira itu adalah masa menstruasinya yang padahal sebenarnya adalah sisa dari proses kuret yang semalam ia jalani.
Romi tiba-tiba terdiam mendengar pernyataan Dita.
"Yasudah kalau begitu ayo bersandar, biar aku suapi. Tak ada penolakan." Romi memaksa Dita duduk bersandar pada kepala tempat tidur yang ukurannya bisa ditempati untuk tiga orang.
Sarapan berlangsung tanpa ada penolakan, karena Dita sudah mendapat ancaman dari yang mulia.
Usai sarapan Dita beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Tampak rembesan darah dari jalan lahirnya. Termenung sejenak ia menatapinya.
"Hmm...Belum waktunya kau tumbuh ya?." Dita mengusap perut ratanya.
***
"Sayang, apa hari ini aku sudah boleh pulang?."
"Memangnya apa yang mau kau kerjakan di rumah?."
"Ya, tidak ada sih. Aku hanya tak suka dengan suasana rumah sakit. Lagi pula aku sudah benar-benar tak ada keluhan. Aku sudah makan banyak kan tadi." Dita merengek merayu agar diijinkan pulang.
"Selamat sore nona Dita. Bagaimana kondisinya hari ini? Apa masih ada yang dikeluhkan?." Dokter Nina datang untuk mengecek kondisi Dita bertepatan dengan permintaan pulang dari pasiennya.
"Syukurlah, berkat bantuan dokter saya sudah jauh lebih baik. Sepertinya saya sudah bisa pulang ya dok hari ini?." Dita sedikit mengintervensi dokter Nina dengan senyum cerianya.
"Hmm...Coba saya cek dulu kondisinya ya nona. Silakan berbaring sebentar, Nona." Dokter Nina mulai memeriksa menggunakan stetoskop.
"Apa benar tidak ada yang dikeluhan lagi, Nona?." Dokter Nina memastikan.
"Sungguh dokter. Tadi pagi dan siang saya sudah makan sesuai porsi yang disediakan oleh rumah sakit." Dita sedikit melirik suaminya meminta pengaminan.
__ADS_1
"Baiklah. Nona kami ijinkan pulang, dengan syarat istirahat total dulu di rumah. Saya rasa tuan pasti bisa memastikan itu, betul?." Dokter Nina mengajukan pertanyaan pada Romi.
"Awas saja jika kau tak patuh!." Romi memberi peringatan pada Dita.
"Siap laksanakan, Tuan." Dita meletakkan tangannya di dahi memberi hormat pada sang suami.
"Baik kalau begitu saya pamit. Nanti ada beberapa obat yang harus tetap diminum saat sudah pulang."
"Terimakasih dokter." Dita dengan riang berterimakasih sudah diijinkan pulang.
***
Dita dan Romi sudah dalam perjalanan pulang ke rumah.
"Sayang, ngomong-ngomong kenapa kemarin dokter Nina yang merawatku ya?." Dita memberikan jawaban mendadak yang tak terprediksi oleh Romi.
"Kebetulan kemarin hanya dokter Nina satu-satunya dokter perempuan yang sedang bertugas, Nona." Bima di balik kemudi membantu menjawab pertanyaan yang tak bisa dijawab oleh Romi.
"Oh..." Dita hanya mengangguk-angguk mencoba menerima jawaban sekretaris setia suaminya.
***
Setibanya di rumah Dita langsung dituntun menuju kamar, tak ada penolakan karena tadi mereka telah bersepakat agar Dita istirahat total selama beberapa hari ke depan.
"Ahh...Rasanya lama sekali sudah tak menempati kamar ini." Dita langsung membantingkan tubuhnya ke kasur setibanya di kamar.
"Hey, kau ini apa-apaan? Apa tidak bisa pelan?." Romi terlihat sangat khawatir saat Dita dengan cerobohnya menjatuhkan badannya ke kasur.
"Sayang, aku benar-benar tidak kenapa-kenapa. Sungguh." Dita menjawab dengan santai.
"Apa kau mau kubawa kembali ke rumah sakit?." Romi masih kesal, membuat Dita terdiam.
"Sayang, jangan selalu membuatku cemas begini. Aku mohon." Romi yang merasa bersalah karena telah meninggikan suaranya kini menjatuhkan Dita ke dalam pelukannya.
"Maafkan aku. Tak bisakah kau menurut saja? Aku tak mau terjadi sesuatu padamu lagi." Romi memeluk erat tubuh mungil istrinya.
"Maafkan aku. Maafkan aku juga karena belum bisa memberikan keturunan untukmu." Dita semakin membenamkan wajahnya di dada Romi, tiba-tiba ia teringat dengan periode menstruasi yang ia kira ia peroleh bulan ini.
"Sayang, ini bukan waktunya memikirkan itu. Bagiku ada kau di sisiku sudah lebih dari cukup. Jangan terlalu memaksakan diri. Kita bisa mencoba memrosesnya setiap hari jika nanti kau sudah benar-benar pulih." Lagi-lagi Romi menggoda istrinya, sebenarnya di dalam hati ia merasa sangat hancur ketika mengingat peristiwa tadi malam yang amat sangat tidak terduga. Buah hati yang sama-sama mereka dambakan, seketika pergi bahkan saat ia baru mengetahui kehadirannya.
"Hoaaam...Aku rasa aku sudah mengantuk." Dita seketika melepaskan pelukannya, membaringkan diri dan mulai menarik selimut.
"Hahahaha...Kau ini pasti pura-pura mengantuk ya?. Hey jangan pura-pura ya!. Lagian dari semalam kau meninggalkanku tidur duluan. Dasar tidak sopan." Romi hendak menarik selimut Dita namun mendapat perlawanan dari Dita yang dengan susah paya memejamkan matanya.
__ADS_1
Romi akhirnya ikut bergabung di bawah selimut dan menarik Dita ke dalam pelukannya, menghabiskan malam bersama, memroses mengurangi kesedihan yang sedang ia tanggung sendiri.
Bersambung...