LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
SENANG MENDAPAT IJIN


__ADS_3

***


Sedikit gambaran, usaha mereka bergerak di bidang produksi makanan ringan dan minuman dalam kemasan. Dulunya mereka hanya menjajakan minuman dan makanan ringan yang sedang hits di pasaran, sehingga mereka menyebut tempat kerja mereka ini dengan sebutan toko. Lama kelamaan mereka berinisiatif untuk mengembangkan usaha menjadi pembuat resep, bukan hanya sebagai penjual. Ide produk mereka kemudian dijual kepada produsen yang tertarik untuk bekerjasama.


Untuk mendapatkan ide produk, biasanya mereka sering melakukan survey. Entah survey melalui sosial media ataupun survey lapangan langsung.


Hari ini mereka berencana melakukan survey untuk produk terbaru mereka. Rencananya mereka akan melakukan survey lapangan untuk melihat dan mencicipi produk yang sedang trend di pasaran.


Sekitar empat jam mereka keliling dari satu tempat makan ke tempat makan yang lain.


"Gila banyak banget kita makan hari ini." Dita mengeluh kekenyangan setelah memasukkan berbagai macam makanan ke perutnya.


"Sumpah, nyari duit gini amat ya. Kalo lo mah ngapain lagi sebenernya masih kerja keras, udah jadi nona muda juga." Nisa meledek Dita sambil tertawa kecil.


"Udah deh jangan pura-pura lupa ama status gue." Dita cemberut.


"Ngomong-ngomong sejauh ini perasaan lo ama tuan muda gimana sih, Dit?." Nisa yang sambil menyetir tiba-tiba melontarkan pertanyaan agak serius.


"Menurut lo gue mesti gimana?." Dita malah balik bertanya.


"Ihhh...Lo kok malah balik nanya sih. Gue serius." Nisa jadi kesal.


"Gue juga serius nanya. Kalo lo jadi gue gimana?. Jujur gue ga ngerti ama jalan hidup gue sendiri. Masih bersyukurnya gue boleh keluar rumah, kalo engga kayanya bisa gila gue." Dita tiba-tiba berubah jadi serius. Kali ini ia yang sudah tidak tahan, akhirnya menceritakan kesedihannya pada Nisa.


"Dit, sori kalo pertanyaan gue nyinggung lo. Gue ga maksud kaya gitu kok. Sori ya..." Nisa tiba-tiba menjadi merasa bersalah.


"Gapapa, Nis. Bersyukur gue masih punya temen kaya lo. Udah banyak ngebantu dan menghibur gue. Gue sekarang bener-bener ngejalanin hidup kaya air mengalir ajalah. Ga pengen berharap apa-apa." Dita lagi-lagi terdengar menyedihkan.


"Lo sama sekali ga pengen berusaha bikin pernikahan lo jadi pernikahan beneran? Contohnya berusaha buat cinta gitu ama suami lo?". Nisa mencoba mencari celah untuk memberi pendapat.


"Hahahah...Gimana mau cinta coba, ngeliat dia aja gue takut. Doi itu susah ditebak. Omongannya aja kadang sulit dimengerti, galak, nyebelin, seenaknya." Dita bergidik ketika mengingat momen-momen mengerikan dan menyebalkan saat bersama Romi.


"Eh...Bisa jadi loh sikapnya yang kaya gitu adalah cara dia mengungkapkan rasa cintanya." Nisa masih memberikan pendapatnya


"Mana ada orang cinta kaya gitu, Non..." Dita geleng-geleng tidak percaya saat mendengar ucapan Nisa.


"Emang lo pernah jatuh cinta gitu? Sok tau banget." Nisa lagi-lagi ngeledek.


"Pernah laah, cinta monyet sih jaman SMA. Hahaha...Lagian yah kaya yang tadi gue bilang. Gue ga mau ngarep apa-apa, nanti gue yang bisa sakit sendiri kalo terlalu berharap. Pokoknya gue minta lo selalu mau jadi tempat cerita gue yaaa..." Dita menutup obrolan mereka ketika mobil sampai di toko.


"Lo nya yang jangan suka mendem sendiri, gue mah selalu usahain akan ada buat lo, Dit." Nisa memberikan pelukan pada Dita untuk menyemangati sahabatnya itu.


"Oia, Dit. Gimana dengan tawaran pak Beni yang mau rekrut kita buat kerja di perusahaannya?." Nisa meminta pendapat Dita begitu mereka sudah sampai di toko kecil mereka.


"Gue pikir ini tawaran yang bagus sih, Nis. Posisinya juga menjanjikan. Tapi..." Dita ragu-ragu menyampaikan unek-uneknya.


"Lo mesti ijin ama suami lo dulu?." Tebakan Nisa seratus persen benar.

__ADS_1


"Hihi...kok lo bisa banget sih baca pikiran gue. Gimana? Gapapakah? Gue ga yakin diijinin sih. Tapi kalo misal lo mau ambil tawarannya tanpa gue, gue gapapa banget kok." Dita sejujurnya tak ingin membuat Nisa kehilangan kesempatan bagus ini. Karena kesempatan ini tak akan datang untuk ke dua kalinya.


"Dih, lo ngomong apa sih. Gue ga akan ninggalin lo sendiri. Lo ijin dulu aja, kalo emang ga boleh yaudah, dengan kerjaan kita yang sekarang aja gue udah seneng dan lebih dari cukup kok." Nisa memang tipe sahabat yang setia.


"Beneran? Kenapa lo baik banget sih jadi orang?." Dita terharu dengan jawaban Nisa.


"Karena lo orang baik, jadinya lo punya orang-orang baik di sekitar lo." Nisa ikut membesarkan hati Dita.


"Hahaha...Bisa aja lo." Obrolan mereka diakhiri tawa yang mengisi seluruh ruangan toko.


***


Di tempat berbeda, Romi sedang mengadakan pertemuan dengan kliennya di salah satu restoran ternama. Dari jauh ada sesosok wanita yang memandanginya begitu lekat.


***


"Tuan, Bima. Apa saya boleh bertanya sesuatu?." Dita menghampiri Bima sebelum sekretaris itu meninggalkan rumah utama. Mereka berbicara di halaman Rumah.


"Silakan, nona. Maaf nona saya rasa nona cukup memanggil saya dengan panggilan nama saja." Bima tidak enak hati bila panggilannya disamakan dengan tuan mudanya.


"Baiklah, Bima. Tapi kau jangan bilang-bilang dulu pada tuan muda ya. Aku ingin dengar pendapatmu dulu." Dita membuat perjanjian.


"Akan saya putuskan setelah mendengar pertanyaan apa yang nona ingin tanyakan." Jawab Bima tegas


"Huh, setia sekali sih sekretaris ini pada tuannya. Perilakunya pun sama-sama menyebalkan."


"Aku rasa di perjanjian sudah jelas, nona diberikan hak atas pekerjaan nona." Bima menjawab singkat.


"Aaaaa, ia juga ya. Baiklah kalau begitu. Terimakasih banyak ya, Bima." Wajah Dita seketika berubah menjadi cerah, ia berlalu masuk ke rumah meninggalkan Bima yang juga tersenyum melihat kebahagiaan nona mudanya.


"Bisakah nona tunjukkan wajah bahagia itu saat di depan tuan muda?." Bima berharap.


***


Sudah beberapa minggu Dita dan Nisa bekerja dengan perusahaan yang cukup superior, mereka merasa cukup nyaman. Pengalaman mereka sebelumnya membawa mereka lebih mudah menyesuaikan diri dan menjalankan pekerjaan mereka yang sekarang.


"Dit, weekend ini kita ada project baru ke luar kota. Rencananya nanti kita berangkat berlima. Jangan lupa siapin semuanya." Perintah pak Beni kepada Dita. Beni adalah pimpinan perusahaan tempat ia bekerja sekarang. Beni termasuk orang yg supel, ramah, tapi untuk urusan pekerjaan beliau sangat tegas dan profesional.


"Baa..baik, pak." Dita tergagap menjawab permintaan bosnya. Ia tak menyangka secepat ini diberi tugas yang cukup besar.


"Kenapa lo kok kaya kaget gitu sih?." Beni bisa menangkap keterkejutan Dita.


"Hehe..Gapapa kok pak, cuma kaget dikit aja." Sesungguhnya selain kaget karena permintaan yang mendadak, Dita juga dibuat pusing masalah urusan ijin ke luar kota kepada suaminya.


***


"Nis, mati gue. Weekend ini kita diajak ke luar kota, gimana gue ijinnya coba." Dita buru - buru menghampiri Nisa untuk minta bantuan menyelesaikan masalah ini.

__ADS_1


"Yaudah sih, ijin tinggal ijin kali. Kan lo kemarin pernah bilang kalo ursan kerjaan doi ga ada masalah, ga akan ngebatesin lo." Nisa dengan santai mengingatkan Dita akan perjanjian pernikahannya.


"Ya iya sih. Tapi kan ga tau nih kalo urusan pergi-pergi gini boleh apa engga. Lo kaya ga tau doi aja, mood nya kan labil, susah ditebak." Perkataan Dita ada benarnya juga.


"Yaudah terus gimana dong?." Nisa malah balik nanya.


"Ih...Kan gue ke sini karena minta pendapat lo, kok lo malah balik nanya sih. Nyebelin deh..." Nisa hanya tertawa melihat sahabatnya itu yang sedang panik.


"Yaudah, coba lo telpon aja tuh sekretaris setianya. Minta ijin kaya pertama lo dulu pas mau kerja di sini." Akhirnya Nisa memberi saran.


"Yaudah deh gue coba. Mudah-mudahan gue ga digantung ya." Dita pasrah dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Bima.


"Halo...Bima. Apa sedang sibuk?." Dita ingin memastikan situasi dan kondisi terlebih dahulu.


"Tidak terlalu, nona. Ada perlu apa nona menelepon?." Sengaja ia tekankan suaranya agar didengar oleh Romi yang saat itu sedang bersama dengannya. Romi nampak penasaran.


"Begini...Hmm...Saya besok ditugaskan keluar kota untuk keperluan project baru. Rencananya yang berangkat ada lima orang, termasuk Nisa." Dita membawa-bawa nama Nisa, menurut perhitungannya persentase diijinkan akan lebih besar bila ia berangkat bersama sahabatnya itu.


Bima tak langsung menjawab. Ia meminta persetujuan dari tuan mudanya yang memang sejak tadi mendengarkan pembicaraan mereka, karena panggilan diloud speaker atas inisiatif Bima.


"Silakan, Nona." Bima mengiyakan setelah mendapat anggukan dari Romi.


"Wah...Sungguh? Mengapa akhir-akhir ini kau jadi baik sekali, Bima...Hahahah...Terimakasih yaa..Baiklah kalau begitu aku matikan dulu teleponnya ya." Dita senang bukan kepalang. Sangking senangnya ia melompat-lompat dan memeluk Nisa.


"Wooo...tadi aja muka lo kaya orang abis dijambret. Sekarang aja kaya orang abis menang undian." Nisa mencibir kelakuan sahabatnya.


"Kita mesti pake baju apa ya. Katanya penginapannya deket sama pantai. Aaa....udah lama banget ga jalan-jalan." Dita begitu antusias.


"Eh inget. Kita ke sana itu buat kerja bukan jalan - jalan, Non." Niss mencandai Dita.


"Yaaa, kan ga ada salah nya sambil menyelam minum air." Dita benar-benar terlihat bahagia saat itu. Memang perjalanan mereka nanti akan diselingi dengan sesi jalan-jalan, karena rapat project nya hanya dilaksanakan satu hari. Sisanya mereka bisa manfaatkan waktu nya untuk liburan.


***


Di tempat berbeda


"Kenapa dia malah berterimakasih padamu? Kan aku yang memberikannya ijin!." Romi protes karena Dita terdengar sangat senang dan berterimakasih pada Bima setelah mendapat ijin ke luar kota.


"Maaf, tuan. Mungkin karena tadi nona tidak tahu kalau tuan yang memberikan ijin. Akan saya sampaikan kepada nona kebaikan tuan hari ini." Bima mencoba meluruskan.


"Tidak perlu!. Apa kau pikir aku ini orang yang suka pamer kebaikan?" Romi yang kesal memilih menyenderkan badannya di kursi kebesarannya sambil memejamkan mata dan senyum-senyum sendiri.


Bima terdiam seribu bahasa tak berani berkata-kata lagi.


Bersambung...


Kira-kira kenapa pak Romi senyum-senyum sendiri ya?

__ADS_1


__ADS_2