LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
PERJANJIAN SEBELAH PIHAK


__ADS_3

Romi duduk menyandarkan punggungnya di ranjang kamar tidur utama, memberi tatapan mematikan. Mengabsen tubuh Dita dari kepala hingga ujung kaki. Rambut hitam lurus melewati bahu, mata bulat dengan iris berwarna hitam pekat, alis tipis rapih, hidung mungil lancip, bibir merah yang saat ini tampak bergetar. Tubuhnya terbilang mungil dengan tinggi badan sekitar 157 cm dengan pinggang yang ramping.


"Apa kau tahu mengapa aku membawamu ke sini?. Seringai dari bibir Romi lagi-lagi membuat getaran di bibir Dita semakin jelas, tak mampu mengucapkan kata-kata.


"Aku bukan orang yang suka untuk mengulang pertanyaan. Apa kau ada masalah dengan telingamu? Atau kau ada masalah dengan mulutmu?." Sungguh Romi saat ini terlihat seperti seorang monster, namun terlalu tampan untuk disebut sebagai monster.


"Ma...ma..maaf, Tuan. Aku tidak tahu, tuan. Justru saya yang ingin bertanya me..mengapa saya di bawa ke sini." Dita takut-takut menjawab.


"Apa kau ini gagap?." Romi tak sadar diri bahwa Dita terbata akibat ulah dirinya. "Selain tak tahu terima kasih, dan ingkar janji, ternyata kau ini gagap ya. Hahahahha...." Tawanya menggelegar, seolah ucapannya barusan sangat lucu. Ya, mungkin lucu untuk dirinya, tapi tidak untuk orang yang ada di hadapannya.


Dita tak mengerti dengan apa yang diucapkannya barusan. Bima yang sedang menunggu di depan pintu kamar seketika masuk, seperti cenayang yang tahu maksud dari gerak-gerik tuan mudanya. "Nona, silahkan ikut saya. Saya akan menjelaskan kepada nona apa yang akan nona lakukan selanjutnya." Bima memandang tuan mudanya untuk meminta persetujuan, dan disetujui dengan anggukan Romi.


Dita yang masih sangat bingung dengan apa yang terjadi seperti tak punya pilihan, ia mengekor di belakang Bima menuju ruang tamu. Tiba di ruang tamu Bima mempersilahkan Dita duduk di sofa. Aura Bima tak kala dingin dengan Romi, namun entah mengapa Dita seperti bisa lebih tenang menghadapinya. Setelah sama-sama duduk, Bima kemudian menyodorkan selembar kertas dengan tulisan-tulisan yang membuat Dita penasaran dengan isinya. Dengan cekatan Dita mengambil kertas tersebut dan mulai membaca. "SURAT PERJANJIAN". Glek, judulnya saja sudah membuat Dita menelan ludah.


"Surat perjanjian apa ini?, apa aku pernah memintanya?." Ucapnya dalam hati. Setahunya surat perjanjian itu akan dilakukan oleh dua belah pihak, dan baru akan tercipta apabila keduanya sudah ada kesepatan sebelumnya. Tapi sepertinya Dita sangat buta dengan apa yang rerjadi, ia sama sekali tidak mengenal siapa Romi, dan juga Bima. Romi manusia yang bisa sangat baik, namun bisa menjadi manusia paling kejam apabila ada yang menghianatinya. Bima , manusia yang akan mendukung segala tindak tanduk tuannya, asal tuannya bahagia.


Mata Dita membelalak saat membaca poin pertama dari perjanjian. Ia melajutkan membaca surat perjanjian yang memiliki dua poin.

__ADS_1


"1. Dita akan menjadi istri Romi seumur hidup, kecuali Romi yang menceraikannya"


"2. Dita akan menyerahkan seluruh hidupnya kepada suaminya."


Begitu kira-kira inti dari perjanjijan tersebut. Dita yang tak percaya dengan apa yang barusan ia baca menuntut penjelasan dari Bima. "Tuan, maaf apa maksud dari surat ini? Mengapa saya harus menikah dengan tuan muda mengerikan itu? Dan mengapa saya harus menyerahkan hidup saya dengan orang yang bahkan tidak saya kenal?."


"Karena tuan muda adalah penyelamat hidup anda. Dan jika anda menolak maka kehidupan anda dan keluarga anda, kakak kesayangan yang akan menjadi taruhannya. Oh iya sekedar informasi, anda bahkan tidak punya kewenangan untuk menolak. Lagi pula tak akan ada gunanya anda menolak." Dengan santai Bima menjawab, sambil menyodorkan pulpen meminta Dita untuk tanda tangan. "Jika sudah selesai membaca, silahkan tanda tagan di sini, Nona." Sambil menunjukkan posisi dimana Dita harus tanda tangan.


Dita tak terima dengan penjelasan Bima. "Apa anda sudah gila menyuruh tanda tangan dengan perjanjian yang tidak masuk akal ini." Menolak pulpen yang disodorkan kepadanya.


"Saya rasa nona yang gila jika berani menolak perjanjian ini." Lagi-lagi Bima berbicara seolah perjanjian ini adalah hal sepele bagi Dita


"Jika nona tidak lupa, di hari kecelakaan itu tuan mudalah yang menyelamatkan hidup nona. Tak tahu apa yang akan terjadi jika tuan muda tidak berbaik hari menolong nona. Untuk pertanyaan terakhir, hal yang sangat mudah untuk mengetahui latar belakang nona. Kakak kesayangan nona yang sedang terbelit hutang untuk mempertahankan bisnisnya, beberapa hari lalu mendatangi kami untuk memohon bantuan. Saya rasa nona bisa bernapas lega, karena sepertinya sudah tidak ada kendala lagi dengan usaha kakak anda." Bima menjelaskan tanpa basa-basi. "Sekarang nona sudah paham? Masih punya keberanian untuk menolak?."


"Sebenarnya siapa mereka? Berlagak seperti yang punya bumi ini saja." Celetukan itu tentunya hanya berani ia uangkapkan dalam hati. Kali ini Dita benar-benar bungkam, dan tak tahu harus melakukan apa.


"Nona!". Seketika Bima membuyarkan lamunannya. "Saya rasa nona sudah tahu, kami bukan orang yang mau dua kali mengulang perkataan." Bima menirukan style tuan mudanya.

__ADS_1


"Beri saya waktu untuk berpikir!." Cepat Dita menangkupkan kedua tangannya untuk memohon.


"Tidak ada kesempatan ke dua. Pilihan anda saat ini adalah keputusan anda. Bila anda menolak sepertinya saya tidak perlu lagi menjelaskan apa yang akan terjadi". Lagi-lagi kejam tanpa basa-basi.


Dita makin panik, ia masih sulit untuk menghadapi situasi ini. Namun satu yang menjadi fousnya saat ini, yaitu kakak kesayangannya. "Apakah saya tidak diberikan kesempatan menambahkan pasal dalam perjanjian?." Masih berusaha menyelamatkan diri. Tapi sayangnya sia-sia, ia betul-betul masih belum paham siapa yang sedang ia hadapi saat ini.


Bima menggeleng sambil menyodorkan kembali pulpen yang sempat terjatuh. Dengan ragu Dita membubuhkan tanda tangannya di atas kertas bermaterai, artinya hidupnya saat ini sudah terikat dengan perjanjian yang sudah dibuat, perjanjian yang sesungguhnya hanya disepakati sebelah pihak.


"Saya rasa nona cukup bisa memahami posisi nona saat ini. Mohon kerjasama nya." Bima langsung mengambil surat perjanjian begitu selesai ditandatangani oleh Dita, dan segera menghampiri tuan mudanya.


"Mengapa kau begitu lama hanya untuk urusan sebuah tanda tangan." Tuan muda yang sedari tadi menunggu dengan tak sabar mulai kesal.


"Maaf, Tuan. Ternyata wanita itu ada di luar dugaan kita." Bima menjelaskan apa yang barusan terjadi.


"Apa maksudmu? Dia awalnya menolak? Berani-beraninya dia menolak orang setampan dan sekaya ini?." Romi menebak-nebak dengan tepat.


"Ia, tuan. Saya pastikan ke depannya semua akan sesuai dengan rencana. Saya pamit untuk mengantarkan nona Dita untuk pulang ke rumahnya." Diterima dengan anggukan dari Romi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2