
Hari itu Dita pun berangkat ke tokonya untuk pertama kali sejak menyandang status istri. Nisa yang selalu kepo langsung menarik Dita ke pantri untuk menceritakan kehidupan tiga harinya bersama tuan muda.
"Gimana... gimana rasanya jadi istri, Dit?" Nisa nampak begitu antusias.
"Yaa, ampun. Nis, jangan pura-pura lupa deh. Kan gue nikahnya cuma boongan. Emang lo mau ngarep terjadi apa?" Dita gemas sambil mencubit kecil pinggang Nisa.
"Yaa, kali aja gitu kan kaya di novel-novel. Tiba-tiba sang tuan muda jatuh cinta di malam pertama." Nisa kembali menggoda Dita dengan khayalan tingkat tingginya.
"Ck..ck.ck. Non, masih pagi kalo mau mimpi." Dita berlalu meningalkan Nisa sambil menggelengkan kepalanya.
"Boro-boro dianggep istri. Pagi-pagi udah dikerjain." Dita ngomel sendiri.
------------------------------------------
"Apa yang dia kerjakan sekarang?". Romi menanyakan aktifitas istrinya kepada Bima. Semenjak Romi memutuskan menikahi Dita, Bima berinisiatif untuk memantau semua pergerakan Dita. Bima tidak mau kejadian kelam dahulu kala terulang kembali, dengan cerobohnya dulu ia terkelabuhi oleh Riana.
"Setelah tuan meninggalkan hotel, nona bersiap untuk berangkat ke tokonya. Saat ini nona sudah tiba di toko." Bima detail memberikan penjelasan.
"Hmm, bisnis apa yang ia jalankan?." Romi sejauh ini memang belum begitu mengetahui latar belakang istrinya.
"Nona memiliki sebuah toko yang menjual makanan dan minuman yang sedang trending di pasaran. Nona menjalankan usahanya bersama dengan salah satu sahabat waktu kuliah. Apa saya perlu membawakan berkas-berkas nona untuk tuan baca-baca?." Bima menawarkan kepada Romi untuk mempelajari lebih jauh latar belakang dari nona mudanya. Tak ada jawaban dari Romi. Namun diartikan sebagai sejutu oleh Bima.
Bima menyodorkan beberapa berkas lalu mulai menjelaskan kepada Romi. Berkas-berkas tersebut sesungguhnya adalah berkas yang dikumpulkan Bima saat persiapan kencan buta dulu, hanya ada beberapa berkas tambahan mengenai kondisi terakhir Dita.
"Nona adalah anak kedua dari dua bersaudara. Kedua orang tua nona meninggal dalam sebuah kecelakaan. Sejak orang tuanya meninggal, nona tinggal bersama dengan kakaknya. Nona sangat menghormati dan menyayangi kakaknya, karena cuma kakaknya keluarga yang tersisa." Bima mulai bercerita dari informasi dasar.
"Apa tidak ada keluarganya yang lain?" Romi menyela .
__ADS_1
"Ada tuan, namun tidak ada yang bersikap baik kepada nona." Romi memberikan pandangan kesal ketika mendengar cerita Bima barusan.
"Kakap ipar nona, hanya bersikap baik saat di depan suaminya. Namun sampai saat ini kakak nona tidak tahu kelakuan jahat istrinya itu, karena nona menyimpannya sendiri. Nona tidak mau membuat hubungan kakak dan kakak iparnya menjadi tidak baik, apalagi beberapa waktu lalu keuangan keluarga mereka sedang tidak stabil." Bima masih melanjutkan ceritanya sambil membaca ekspresi wajah Romi, takut apa yang ia ceritakan menjadi boomerang.
"Cih, kenapa sok baik sekali. Beda tipis antara baik dan bodoh sih. Lanjutkan!" Romi lagi-lagi menghina Dita.
"Paman, bibi, dan sepupunya juga sama. Mereka ada satu kubu dengan kakak ipar nona. Sejak kepergian kedua orang tuanya, nona berubah menjadi anak yang mandiri. Karena nona anak yang mudah bergaul dan cukup pintar, tidak sulit untuk nona mendapatkan teman hingga beasiswa." Dari cerita Bima barusan ada yang menggelitik Romi.
"Tunggu dulu, teman yang kau maksud adalah teman laki-laki?." Romi lagi-lagi menyela cerita Bima.
"Maaf tuan, yang saya maksud adalah teman betulan bukan pacar." Bima mebaca arah pertanyaan Romi.
"Aku tidak bertanya mengenai pacar. Yang aku tanyakan temannya adalah laki-laki atau perempuan?". Romi tiba-tiba gengsi karena terbaca pikirannya oleh Bima.
"Oh begitu, maaf tuan saya salah mengira. Teman-teman nona ada yang laki-laki dan ada yang perempuan." Bima mengalah, tak mau memperpanjang kekesalan tuannya dan melanjutkan dongennya mengenai latar belakang Dita.
---------------------------------------
Sudah tiba jam pulang, Dita bergegas mengambil tasnya dan pamit kepada Nisa.
"Nis, gue pulang duluan ya. Sampai jumpa besok." Dita melambaikan tangannya ke arah Nisa.
"Dit, kok buru-buru amat sih." Nisa protes, karena biasanya mereka sering lembur bareng.
"Kalo gue pulang telat, alamat gue nanti ga dibolehin kerja lagi. Udah ah, ntar telat nyampe rumahnya." Dita kali ini benar-benar berlalu meninggalkan Nisa.
"Huh...Ya ampun Dit. Kapan hidup lo bisa bahagia. Gue doain tuan muda lo itu bisa klepek-klepek ama lo. Biar ga sedih-sedih amat hidup lo." Nisa yang sudah sangat mengenal liku-liku kehidupan Dita hanya bisa berharap suatu saat sahabatnya itu bisa menemukan kebahagiaan.
__ADS_1
-------------------------------------
Tepat pukul lima sore, Dita tiba di hotel. Buru-buru ia mebersihkan diri dan berganti pakaian dengan baju rumahan, kaos oblong agak longgar dan celana piyama. Saat itu suasana rumah masih sunyi, pertanda tuan muda belum pulang, begitu pikirnya. Dita dengan santai melenggang ke dapur. Sejak siang ia belum makan karena tak berselera. Kali ini ia berencana memasak nasi goreng untuk makan malamnya. Sebelum mulai memasak ia menguncir rambutnya agak tinggi sehingga terlihat leher mulus nan jenjangnya.
Dari kejauhan nampak sepasang mata mengamati pergerakan Dita sejak tadi.
Dita sibuk dengan aktifitas goreng menggorengnya. Begitu selesai memasak Dita buru-buru menuju meja makan karena sudah sangat lapar. Mengetahui bahwa istrinya sudah selesai masak, Romi dengan santai ikut bergabung menuju meja makan.
"Tu..tuan." Dita kaget saat mendapati keberadaan Romi yang tiba-tiba.
Romi memperhatikan penampilan Dita dari atas sampai bawah, tanpa ia sadari ia menelan ludahnya.
"Kau tak berniat memberi suamimu ini makan?." Tiba-tiba Romi mengalihkan pandangannya ke arah sepiring nasi goreng. Ia mengalihkan perhatiannya, tak ingin tertangkap basah dengan apa yang barusan terjadi.
"Maa..maaf tuan, saya kira tuan akan makan masakan hotel." Dita ragu-ragu menjawab, takut salah lagi.
"Aku akan makan apa yang ingin aku makan." Tiba-tiba suara Romi menjadi sangat menyebalkan bagi Dita.
"Apa-apaan sih nih orang, tadi pagi dimasakin marah-marah. Sekarang ga dimasakin marah-marah juga. Jadi maunya gimana?." Dita bergumam dalam hati sambil kesal.
"Kenapa? Kau kesal? Tidak mau memberikan nasi goreng itu?." Romi kali ini nampak kesal karena tak mendapat respon dari Dita.
"Maaf tuan, mana bisa saya kesal dengan orang yang telah menyelamatkan hidup saya dan keluarga saya. Silahkan dinikmati nasi gorengnya tuan, saya akan buat lagi satu porsi untuk saya." Dita mengalah.
"Baguslah jika kau tahu diri." Romi senang merasa menang. Ia berlalu ke kamarnya untuk membersihkan diri.
Dita bingung ditinggal begitu saja. "Sultan mah bebas. Suka-suka aja." Dita akhirnya terpaksa mulai masak kembali.
__ADS_1
Bersambung...