LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MENJANDA


__ADS_3

Pagi ini selesai mengantar Romi ke kantor, Bima segera mendatangi kantor pengadilan untuk menyelesaikan berkas perceraian. Sebelumnya ia sudah meminta seorang pengacara handal untuk mempersiapkan persyaratan-persyaratan perceraian, mulai dari surat pengajuan sampai dengan barang bukti kuat yang mejadi alasan perceraian tuan muda Romi dan nona Riana. Tak lama lagi panggilan nona yang sudah beberapa bulan ini disematkan pada Riana akan segera hilang.


Bima yang datang hanya sekedar memastikan bahwa semuanya akan diselesaikan tanpa prosedur yang bertele-tele, karena ia tidak ingin memperpanjang waktu tuan mudanya mempunyai hubungan dengan wanita paling menjijikkan bagi Romi, dan juga dirinya saat ini.


Setelah dipastikan semua persyaratan lengkap, butuh waktu sekitar tiga hari proses verifikasi berkas untuk kemudian jadwal persidangan. Sampai saat ini Riana bahkan belum mengetahui tuntutan cerai dari suaminya, sesuai rencana Bima akan menginformasikan kepada Riana saat menjelang persidangan digelar. Bima tidak ingin memberi kesempatan kepada Riana untuk menyangkal apa yang sudah ia perbuat selama ini, semua bukti yang dikumpulkan sudah terlalu jelas. Bima juga tidak ingin tuan mudanya goyah saat Riana menunjukkan air mata dengan segala usaha mengelaknya. Bima tahu saat ini tuan mudanya sudah mulai membuka sedikit hatinya untuk Riana, hal itulah yang membuat Romi saat ini menjadi sangat hancur.


-------------------------------


Di ujung telpon Romi sedang mendapat laporan perkembangan proses perceraiannya dari Bima. "Semua berkas sudah diselesaikan, tinggal menunggu jadwal persidangan. Kemungkinan jadwalnya tiga hari dari hari ini, tuan." Bima melaporkan apa yang baru saja ia selesaikan, menurutnya ia sudah bekerja cukup baik kali ini. Tidak ada hambatan.


"Aku mau jadwal persidangan di gelar esok hari." Sambungan telpon diputus begitu saja. Bima yang kala itu sudah berada di parkiran terpaksa kembali ke ruang konsultasi, mendesak agar jadwal dimajukan menjadi besok sesuai keinginan tuan muda yang tidak bisa ditolak.


Semua bisa berjalan dengan mudah bila tuan muda sudah berkehendak, hanya saja para staf yang dibuat sibuk dengan permintaan tak mudah itu.


Kini tinggal satu langkah sebelum proses persidangan, yaitu memberikan undangan kepada tergugat.


Sore hari setelah Romi selesai dengan urusan kantor, ia kembali ke hotel. Bima memastikan tuan muda masuk ke kamar hotel dengan selamat, kemudian menuju rumah utama dengan membawa amplop cukup tebal untuk diserahkan kepada Riana. Tak sabar ia ingin melihat ekspresi Riana saat menerima amplop tersebut. Namun tiba di rumah ia harus bersabar, karena Riana belum pulang. Pikiran negatif terus muncul di kepala Bima, "Apa yang nona kerjakan hingga sampai jam segini belum tiba di rumah." Gumam Bima dalam hati. Ia meraih ponsel dan mengubungi seseorang hendak mencari pembenaran dengan apa yang ada di pikirannya. Tak lama ia medapat balasan pesan berupa beberapa foto. Foto yang dapat membenarkan apa yang ia pikirkan barusan. Foto pertama nampak Riana bersama seorang pria, namun tak jelas wajahnya karena di foto dari belakang. Foto kedua masuk, seketika membuat Bima mengeratkan gigi atas dan bawahnya setelah melihat siapa pria yang saat ini sedang bermesraan dengan Riana, pria yang ia dan tuan mudanya kenal. 😬😬😬

__ADS_1


Amarah Bima kembali menjalari tubuhnya sampai ke ubun-ubun. Ia tak tahu apakah bisa menahan diri saat nanti bertemu dengan Riana. Murahan dan menjijikkan sekali wanita itu pikirnya.


Saat ini ia belum bisa menyimpulkan seratus persen apa yang sudah menjadi hipotesanya, ia perlu mencari bukti untuk membenarkan hipotesa yang barusan ia buat. Hipotesa mengenai alasan mengapa Riana mau menikahi tuan mudanya. Jika apa yang ia pikirkan barusan adalah benar, maka ia tidak yakin apakah bisa menceritakan semuanya kepada tuan muda. Ia tahu jika semua itu benar dan diketahui oleh Romi, maka akan membuat Romi jatuh untuk kedua kalinya karena orang yang sama.


------------------------


Butuh waktu yang tak sebentar bagi Bima menunggu kepulangan Riana, tiga jam. "Nona ikut saya sebentar." Tak ada basa-basi dari Bima, begitu melihat Riana memasuki ruang tengah segera ia meminta Riana ikut ke ruang kerja. Riana yang masih tidak tahu apa-apa mengekor di belakangnya.


Tanpa mempersilahkan duduk Bima langsung menyerahkan amplop yang sudah ia siapkan. Riana agak aneh dengan sikap sangat dingin yang ditunjukkan Bima. Riana segera melihat apa yang ada dalam amplop. Berkas pertama ia baca, agak mengerutkan kening ketika membaca judul berkas "Gugatan Cerai". Setelahnya menunjukkan ekspresi terkejut saat melihat nama yang tercantum sebagai 'tergugat' dan 'penggugat'. Marsya Riana Dewi sebagai tergugat. Andreas Romi Johan sebagai penggugat.


Ingin bertanya kepada Bima apa yang dimaksud dengan surat tersebut, namun ia urungkan saat melihat berkas-berkas lainnya yang sudah terpampang di hadapannya. Begitu melihat beberapa foto dirinya bersama seorang pria sambil berpelukan ia langsung menyadari situasi apa yang sedang ia hadapi. Seketika ia berlutut sambil memegang kaki Bima, memohon agar mendapat pengampunan. Bima dengan jijik menyingkirkan tangan Riana dari kakinya. "Saya mohon ampuni saya." Riana memohon sambil menangkupkan kedua tangannya, tak berani memandang Bima. "Jangan hancurkan hidup saya." Sambungnya lagi.


Tindakan menduakan pasangan adalah hal yg paling sulit untuk dimaafkan dalam menjalin sebuah hubungan. Karena kepercayaan adalah kunci dari keberlangsungan hubungan untuk tetap bertahan. Mungkin sebagian orang ada yang bisa mencoba memaafkan dan bertahan, namun tak sedikit dari mereka akan mengalami pengkhianatan untuk kedua kalinya. (Reader ada di tim mana nih , melepaskan atau bertahan? 😁😁😁)


----------------------------------


Persidangan sudah selesai. Sesuai pesan Bima bahwa tidak boleh ada kekacauan, ternyata Riana tak punya cukup keberanian untuk melawan permintaan Bima. Sidang berakhir tanpa dihadiri oleh Romi, tak akan sudi lagi ia melihat wajah wanita yang sekarang sudah menjadi mantan istrinya. Status janda sudah tersemat pada diri Riana, status yang ia terima atas ulahnya sendiri.

__ADS_1


Sedikit flashback :


Tadi saat berangkat ke acara persidangan Riana langsung membawa serta barang-barang pribadi miliknya yang ia beli sendiri sebelum menikah. Pesan Bima, "Tinggalkan rumah, jangan membawa apapun kecuali barang yang anda punya sebelum anda menikah dengan tuan Romi."


Riana hanya pamit pada ibu, sengaja ia pamit setelah ayah Johan dan Jinny meninggalkan rumah usai sarapan. "Ibu maafkan Riana. Riana pamit." Riana sudah hampir menangis, suaranya serak. Ibu tak mengerti dengan apa yang diucapkan menantunya. "Maksudmu apa, nak?" Ibu sambil berusaha mencerna kalimat yang susah ia pahami. Riana hanya terdiam tak menjawab untuk kemudian berlalu meninggalkan rumah dengan langkah sedikit tergesa. Tak mampu ia menjawab pertanyaan ibu, tak mampu ia berkata jujur, tak mampu ia mendapat makian lagi. Ia memilih bungkam, ia berpikir toh sekretaris sialan itu pasti akan menceritakan semuanya kepada ibu mertuanya yg kini sudah menjadi mantan mertua.


Flashback off.


-----------------‐----------------------------


Ibu sejak tadi bolak balik menelpon Romi, hendak menuntut penjelasan atas sikap Riana tadi. Romi yang membaca situasi, mengabaikan puluhan telpon dari ibu. Ia masih enggan untuk menjelaskan apa yang sedang terjadi dengan rumah tangganya.


"Pantas saja beberapa hari ini Romi tidak pulang. Apa yang sebenarnya terjadi?" Ibu bicara sendiri sambil terus mencoba menelpon Romi.


---------------------------------


Di tempat lain, Bima sudah mendapat laporan lengkap mengenai hipotesa yang sebelumnya ia buat. "Bagaimana aku harus menjelaskan situasi ini. Tuan muda pasti akan hancur berkali lipat." Tak sanggup ia menceritakan apa saja laporan yang barusan ia terima. Tak sanggup ia menyampaikan betapa jahat dan liciknya wanita bernama Riana yang telah menyakiti tuan Romi dan nona Jinny sekaligus.

__ADS_1


Apa yang sebenarnya terjadi? Ada apa dengan Jinny?


Bersambung...


__ADS_2