LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MEMINTA RESTU KAKAK


__ADS_3

Usai lelah mengenakan berbagai macam gaun, Dita ingin meregangkan lelahnya hari ini dengan menyerput segelas kopi hangat. Ia memutuskan untuk mampir ke salah satu kafe langganannya. Kala itu Dita susah mengajak Dimas untuk ngopi bersama. Sebenarnya bukan ngopi biasa, ada maksud di balik itu. Ia ingin menyelesaikan satu persatu urusan sebelum hari pernikahannya yang sudah tidak bisa diganggu gugat, yaitu salah satunya meminta restu kakak.


Tak lama Dita tiba di kafe, disusul oleh kedatangan Dimas. Dita memilih duduk di ruang privat, karena tak ingin obrolan serius mereka didengar oleh orang lain.


"Ngapain pake pesen ruang privat segala? Dari pagi kok kakak perhatiin tingkah kamu agak aneh ya?". Dimas langsung menodong dengan tudingan yang tepat.


"Hehe...Kakak kok selalu tepat sih tebakannya." Dita mencoba berpura-pura tenang, padahal di dalam hatinya sangat gugup untuk menyampaikan maksud pertemuan mereka kali ini.


"Udah ga usah bertele-tele deh. Buruan bilang maunya apa?." Dimas yang sudah mulai menyeruput minumannya sudah tak sabar ingin tahu apa kemauan adiknya itu.


"Tapi kakak jangan marah ya?." Dita menatap wajah Dimas, menilai ekspresi apa yang ditunjukkan kakaknya. Dimas masih nampak santai, hanya mengangguk menanggapi pertanyaan Dita barusan.


"Minggu depan Dita akan menikah!". Dita menggigit bibir bawahnya begitu selesai mengucapkan kalimat yang membuat kedua mata Dimas membulat sempurna.


"Apa? Menikah? Siapa pria yang akan menikahimu? Kenapa terburu-buru sekali?." Sesuai ekspektasi Dita, Dimas pasti akan terkejut. Mungkin sama terkejutnya saat ia diberitahu oleh Bima untuk menikah dengan Romi beberapa hari lalu.


"Kakak jangan berpikir macam-macam dulu, aku buru-buru menikah bukan karena hamil duluan yaa...". Dita menjawab cepat tak ingin kakaknya salah paham.


"Kakak penggal kepalamu kalo sampai itu kejadian." Romi bahkan tak terpikir dengan alasan yang barusan dilontarkan Dita. Kali ini Romi berusaha mengurangi keterkejutannya. "Siapa laki-laki itu? Apa dia pria baik-baik?".


"Tentu saja kak, dia pria baik-baik dan sangat mencintaiku. Akupun sangat mencintainya." Dita rasanya ingin muntah setelah mengucapkan kalimat barusan. "Maafkan aku Tuhan atas kebohongan besar ini." Dita dalam hati sambil mengutuk dirinya.


"Ternyata adik kakak sekarang sudah dewasa ya. Kakak serahkan semua pilihan di tanganmu, kareka kakak yakin Dita sudah bisa menentukan pilihan sendiri dengan bijak." Dita tidak menyangka semudah itu ia mendapat restu dari kakaknya.

__ADS_1


"Tapi satu pesan kakak. Berumah tangga itu bukan perkara mudah. Sesulit apapun masalah yang nanti dihadapi jangan pernah lari, hadapi!. Hadapi bersama. Dan ingat kakak selalu ada buatmu kalo-kalo dibutuhkan. Tapi awas saja kalo nanti suamimu macam-macam sama kamu, akan kakak bawakan samurai." Kali ini Dimas sudah bisa sedikit sambil bercanda.


"Terimakasih kak. Dita akan selalu ingat pesan kakak. Kakak emang yang terbaik." Langsung memeluk kakaknya dengan erat.


"Ngomong-ngomong kapan kakak akan dikenalkan dengan calonmu?." Dimas penasaran dengan sosok calon adik iparnya itu.


"Haha...dia sangat sibuk kak. Nanti Dita tanya dulu ya kak kapan dia ada waktu luang." Seketika Dita melepaskan pelukannya karena terkejut sekaligus panik. Ia tidak memikirkan skenario ini sebelumnya. "Matilah aku, gimana caranya bicara dengan manusia dingin itu." Dita bergumam dalam hati.


"Ya, kakak tunggu kabar baiknya." Dimas pikir permintaannya barusan bukan hal besar, karena sudah sepatutnya sang calon adik ipar menyapa dan memperkenalkan diri pada calon kakak iparnya.


--------------------------------


Usai menyelesaikan misi meminta restu kakak, ada rintangan lain yang tak pernah terpikirkan oleh Dita sebelumnya. Dita memutar otak mencari cara untuk memenuhi permintaan kakaknya tadi.


Yang sedang di ujung pesan langsung membuka pesan yang ia terima dari 'Nona Dita'. Usai membacanya, ia langsung memberikan ponselnya kepada Romi.


Ekspresi Romi saa ini sulit ditebak, seperti orang yang sedang kesal namun juga terlihat senang. Rupanya ia kesal dengan pernyataan 'pernikahan ini adalah sebuah keterpaksaan'.


"Apa aku pernah memaksanya untuk menikahiku, jelas-jelas dia sendiri yang tanda tangan perjanjian itu dengan kesadaran penuh." Kesal, dan selalu ingin dibenarkan semua perkataannya.


"Dan lagi apa aku punya waktu untuk menemui kakaknya itu? Memangnya siapa kakaknya sampai berani-beraninya minta bertemu denganku?. Sudah syukur aku membantunya mengembalikan usahanya yang hampir bangkrut itu." Masih mengoceh karena masih kesal dengan isi pesan barusan.


"Saya rasa besok setelah jam makan siang tuan tidak ada pekerjaan penting yang harus diurus." Bima mencoba menawarkan tuannya untuk bisa menemui calon kakak ipar tuan muda. Dalam hati Bima sebenarnya mendukung permintaan Dita untuk mengenalkan Romi kepada Dimas agar tidak terlihat seperti pernikahan yang dipaksakan. Secara tidak langsung Bima mengamini semua isi pesan yang dikirimkan Dita.

__ADS_1


"Kau yang membuatku bertemu dengan kakak wanita itu ya. Bukan karena keinginanku!." Romi menanggapi perkataan Bima barusan. (Tuan muda sedang gengsi atau gimana sih? 😂)


----‐-----------------------------------------


Malam sudah berganti pagi. Lagi-lagi Dita merasa urusan yang awalnya ia pikir rumit tiba-tiba menjadi mudah. Hari ini tak disangka tuan muda sudi untuk bertemu dengan calon kakak iparnya. Dimas yang sudah diinfokan oleh Dita mengenai jadwal pertemuan usai makan siang nanti nampak begitu senang dan bersemangat.


"Ternyata dia anak yang tau sopan santun ya. Kakak kira dia akan mencari-cari alasan, sok sibuk karena ga mau atau takut ketemu sama calon kakak iparnya. Adik kakak emang ga salah pilih calon suami." Wajah Dimas diselimuti dengan senyum yang mengembang.


"Sopan dari mananya? Semoga doa kakak dikabulkan, keputusan yang aku pilih memang tidak salah". Ucap Dita dalam hati sambil membalas kakaknya dengan senyum dipaksakan.


Putri yang mendengar kabar bahwa Dita akan menikah minggu depan cukup kaget. Usai sarapan ia segera meninggalkan meja makan, mengambil ponselnya lalu bergosip di grup chat bersama bibi Lia dan Luna.


------------------------------------


Karena acara makan siang dengan Dimas dan Romi, Dita sekali lagi meminta bantuan Nisa untuk menghandle pekerjaannya. Untungnya ia dari awal sudah menceritakan semua pada Nisa, dan Nisa mendukung keputusannya yang tidak mudah itu.


Dita berangkat bersama Dimas ke lokasi yang telah disepakati. Mereka datang lebih awal, karena Dita tak ingin mengulang kesalahan yang sama.


"Masih jam segini loh. Kok buru-buru banget sih?". Dimas protes karena mereka tiba di restoran itu satu jam lebih awal.


"Ga apa-apa kak, kan ga enak kalo kita telat." Dita agak bingung menganggapi Dimas.


"Ya ga apa-apalah kalo kita telat. Kan kakak calon kakak iparnya. Harusnya dia dong yang datang lebih dulu." Dimas sewot, dia belum tahu siapa calon adik iparnya yang sebenarnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2