LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
PERGI MENJAUH


__ADS_3

***


Beberapa saat setelah menghabiskan menu utama, kini Dita dengan semangat mengeluarkan isi dari kotak yang tadi ia bawa. Terdiri beberapa potong cheese cake, tiramisu, dan beberapa kue lainnya.


"Ayo kita makan kue." Dita sudah mengeluarkan sepotong tiramisu kesukaan Romi.


"Apa kau tidak kenyang, baru beberapa menit lalu kau menghabiskan begitu banyak makanan." Romi masih merasa sangat kenyang memberi protes saat Dita sudah mengajaknya kembali makan.


"Yasudah kalo tidak mau biar aku yang habiskan sendiri." Dita kini kembali mengambil sepotong kue dari dalam kotak untuk ia mulai santap.


"Apa iya kau bisa menghabiskannya sendiri?." Romi meledek Dita yang sudah kelihatan mulai kesal.


"Tentu saja." Dita mulai melahap cheese cake kesukaannya.


"Sayang, apa kau benar-benar lapar? Mengapa kau nampak seperti orang yang tidak makan berbulan-bulan?." Romi keheranan dengan nafsu makan istrinya yang mendadak naik.


Dita masih melahap kue tanpa memerdulikan ocehan Romi.


"Sayang pelan-pelan, nanti kau bisa tersedak. Tidak ada yang ingin merebut makananmu." Romi kini khawatir dengan cara makan Dita yang nampak terburu-buru. Mulut Dita dipenuhi dengan makanan hingga membuat pipinya menggembung.


Romi tak peka. Sesungguhnya Dita bertingkah demikian karena kesal dengan Romi yang seperti tidak menghargai usahanya membawakan makanan penutup kesukaannya. Kue yang tadi ia beli dengan bangga.


Dita masih tak memperdulikan Romi.


"Sayang." Romi kini agak meninggikan nada bicaranya karena Dita tak mau mendengarkannya. Romi mengambil kue dan sendok yang ada di tangan istrinya, agar istrinya berhenti menyuap seperti orang kelaparan.


"Kenapa, tadi katanya tidak mau. Kenapa sekarang mengambil kueku?." Aksi makan Dita seketika terhenti.


"Apa kau marah karena aku tak mau memakan kue?." Romi mempertegas sumber kekesalan Dita.


"Sayang aku masih kenyang. Kita bisa makan kuenya satu atau dua jam lagi." Romi mencoba membujuk Dita.


"Waktu istirahatku kan sudah hampir habis, mana sempat makan kuenya bila harus menunggu dua jam lagi." Ternyata ini salah satu alasan Dita mengajak Romi segera memakan makanan penutup mereka. Berbanding terbalik dengan Romi yang sengaja mengulur waktu agar istrinya tinggal lebih lama di kantornya.


"Hahaha...Siapa bosmu? Biar nanti aku yang minta ijin agar istriku bisa diberi waktu makan siang lebih lama?." Romi segera mengambil ponselnya.


"Sayang mana boleh begitu." Dita tak ingin pekerjaannya diikut campuri oleh suaminya. Untuk urusan pekerjaan ia ingin lepas dari bayang-bayang kekuasaan suaminya.


"Baiklah, kalau begitu kau saja yang minta ijin kepada bosmu." Romi memberikan Dita pilihan.

__ADS_1


Dita tak enak hati, karena sesungguhnya tadi ia sudah minta ijin kepada Beni akan terlambat satu jam dari jatah waktu makan siang. Kini tinggal setengah jam lagi ia seharusnya sudah sampai lagi di kantor.


Dita masih tak bergerak, Romi menaikkan alisnya menunggu jawaban Dita.


Dita sesungguhnya masih sangat ingin berlama-lama di ruangan ini, ruangan yang pertama kali ia datangi.


"Halo. Pak Beni, maaf sepertinya hari ini aku jadinya ijin pulang cepat saja. Karena masih ada urusan yang belum diselesaikan." Akhirnya Dita memutuskan meminta ijin tak kembali ke kantor sampai jam kerjanya berakhir.


"Silakan, Dit. Selamat bersenang-senang." Beni dengan mudah memberikan ijin.


"Terima kasih pak." Dita lega mendapat ijin dari atasannya.


"Memangnya urusan apa yang belum kau selesaikan?." Romi bertanya genit sambil melingkarkan tangan pada pinggang Dita yang kini sedang berdiri sehabis melakukan panggilan telepon.


"I..ini." Dita mengangkat kotak kue, tak ingin melanjutkan kenakalan suaminya.


Siang hingga sore Dita berada di ruangan presdir menghabiskan waktu berdua dengan suaminya. Ia hampir menghabiskan seluruh kue yang ia beli, Romi masih keheranan dengan porsi makan istrinya .


"Ahhh...Kue ini benar-benar enak. Kapan-kapan aku akan membelinya lagi." Dita tampak begitu senang setelah menyuapkan potongan terakhir kue yang ia punya.


"Sayang, apa jangan-jangan kau hamil?." Romi mengutarakan isi pikirnya yang sejak tadi menerka-nerka penyebab lonjakan nafsu makan istrinya.


"Kenapa tidak menjawab?." Romi benar-benar penasaran.


"Haha...sayang kau ini bicara apa?." Dita yang masih terkejut menunjukkan tawa yang terpaksa.


"Aku perhatikan nafsu makanmu jadi jauh meningkat. Menurut informasi yang pernah kubaca, bisa jadi salah satu penyebabnya adalah karena kehamilan. Lagi pula kita sudah sangat sering melakukannya, bisa saja salah satu benih yang aku tanam sudah tumbuh bukan?." Romi nampak bersemangat.


"I..itu karena makanan dan kuenya yang enak sayang." Entah kenapa ada rasa khawatir di dalam diri Dita saat diingatkan mengenai masalah anak. Karena merasa tak nyaman, Dita akhirnya mengalihkan pembicaraan membahas topik lain.


***


Karena acara kunjungan makan siang Dita, beberapa pekerjaan Romi harus diundur. Hari ini ia akan pulang lebih larut dari biasanya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang tadi tertunda. Dita memutuskan pulang duluan dan menunggu di rumah.


"Sayang, aku pulang duluan ya." Dita sudah bersiap-siap untuk pamit.


"Apa benar tidak mau diantar oleh Bima?." Romi tadi sempat meminta Dita agar diantar oleh Bima, namun Dita menolak karena tau Romi saat ini lebih membutuhkan sekretaris itu.


"Tidak usah sayang. Lagian aku juga tadi bawa mobil sendiri." Dita meyakinkan Romi.

__ADS_1


"Hmm...Baiklah. Hati-hati di jalan. Beri aku ciuman." Romi memang tak jauh dari yang begituan ya.


"Cup." Tanpa banyak protes dan drama Dita menuruti untuk mencium suaminya. Ia sudah sangat paham, suaminya tidak akan berhenti meminta sebelum keinginannya terpenuhi.


"Dah." Dita segera berlalu sebelum ada permintaan lebih dari Romi.


"Tunggu aku di rumah." Romi sebenarnya masih tak rela membiarkan istrinya pulang.


***


Dita kini sudah berada di parkiran.


"Duh, ceroboh sekali sih." Dita merutuki dirinya karena telah meninggalkan kunci mobil di ruangan suaminya. Ia bergegas kembali untuk mengambil kunci mobil.


Saat tiba di pintu ruangan Romi ia ragu untuk masuk karena ia mendapati sesosok wanita yang tak ia kenal sedang berbicara dengan Romi. Dari gesture tubuhnya sepertinya wanita ini bukan wanita asing bagi Romi.


"Siapa wanita itu?." Dita yang penasaran masih melanjutkan memindai dari celah pintu yang sedikit ia buka.


Ia begitu terkejut dan dunianya terasa runtuh ketika ia menyaksikan adegan perempuan tersebut memberikan ciuman di bibir suaminya. Sayangnya ia tak begitu bisa melihat reaksi suaminya karena tertutup oleh tubuh sang wanita.


Ia memundurkan langkahnya, menjauh dari ruangan yang barusan ia pakai bercengkrama dengan hangat bersama suaminya. Tak ada yang bisa ia pikirkan saat ini selain pergi menjauh dari tempat itu. Ia segera masuk ke dalam taksi begitu sampai di lobi. Meminta pak sopir segera memacu kemudinya entah kemana arahnya.


"Maaf nona, tujuan kita mau kemana?." Pak sopir bertanya dengan sopan.


"Kemana saja pak." Dita memang tak mengetahui ke mana arah tujuannya saat ini.


"Maksudnya gimana non?." Pak sopir bingung.


"Jalan dulu aja pak." Dita memberi perintah.


"Oh iya baik non." Pak sopir sedikit mulai bisa membaca apa yang terjadi dengan penumpangnya, karena mata Dita sudah terlihat memerah menahan air mata.


"Di sekitar sini ada taman yang cukup bagus, Non. Apa mau ke sana saja?." Pak sopir menawarkan tempat untuk Dita menenangkan diri.


"Tidak pak. Bawa saya ke tempat yang menenangkan yang jauh dari sini." Yang Dita pikirkan saat ini adalah pergi ke tempat yang tak akan ada orang bisa menemukannya.


"Waduh...Kemana itu ya, Non?." Pak sopir bingung lagi.


Dita tak menjawab lagi, ia benar-benar memasrahkan arah tujuannya saat ini kepada pak sopir.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2