LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
PERMINTAAN ROMI


__ADS_3

***


Dita kini sudah membeku seperti batu, Romi sudah siap dengan posisinya. Pakaian bagian atasnya sudah ia lepas, menampakkan dada mulus, perut dan lengan berototnya.


Ia tatap dalam wajah istrinya, yang ia tahu istrinya sedang berdebar sama seperti dirinya. Pengalaman kedua mereka ini tak kalah menegangkan seperti kali pertama mereka melakukannya.


"Aku janji akan melakukannya dengan lembut seperti sebelumnya." Romi mulai berbisik di telinga Dita, hawa panas yang diterima telinganya kini menjalari seluruh tubuh Dita.


Dita tak ingat bagaimana rasanya saat pertama kali bercinta. Selama masa penyatuan pertama kalinya, yang muncul di kepalanya hanyalah ingatan masa lalu kelam. Tak seperti yang orang katakan bahwa bercinta itu memabukkan, bagi Dita rasanya jauh dari itu.


Dita benar-benar tak merubah posisinya. Romi yang tanpa minta persetujuan mulai memberi kecupan di bibir singkat dan lembut. Kecupan beralih ke kening, mata kanan dan kiri, pipi kanan, hidung, pipi kiri, dan kemudian kembali ke bibir. Kecupan bibir kali ini ditambahkan intensitasnya, dalam dan lekat. Dita sampai hampir kehabisan napas, namun Romi memberikan ruang kepada Dita untuk mengisi paru-parunya dengan udara sebanyak-banyaknya sebelum kembali melakukan kecupan bibir yang semakin memanas.


"Aku menginginkan anak darimu." Romi kembali berbisik di telinga Dita, sambil mulai melucuti pakaian istrinya.


Dita masih belum bisa bersuara. Tindakan dan ucapan Romi membuatnya kelu untuk berkata-kata. Dirinya seperti terhipnotis. Obrolan dirinya dan Jinny tadi siang ia ingat kembali, obrolan mengenai cucu yang diinginkan ibu.


"Aku harus bagaimana? Aku bahkan tak memperhitungkannya sama sekali." Dita memang tak banyak berpikir saat memutuskan menikah dengan Romi, yang ia pikirkan saat itu hanyalah menyelamatkan hidup kakak kesayangannya.


"Kenapa tak menjawab? Apa kau tak menginginkannya?." Romi terdengar santai dengan pertanyaannya. Kali ini ia sudah berhasil menanggalkan seluruh pakaian istrinya. Mereka sudah berada dalam satu selimut masing-masing tanpa pakaian.


"Aku tak perlu persetujuanmu, karena dari awal kau sudah menjadi milikku seutuhnya." Romi sejak tadi berbicara sendiri, lawan bicaranya terlalu berat hanya untuk mengucapkan sebuah kata.


Romi kembali beraktifitas dengan tangan dan bibirnya. Tangannya meremas lembut kedua payudara Dita yang pas ukurannya, tak terlalu besar juga tak terlalu kecil. Bibirnya menyusuri wajah, leher, dada, hingga perut rata Dita. Dita merasa geli dan membuat sekujur tubuhnya merinding. Kegiatan kali ini cukup bisa ia rasakan, ia tak panik seperti sebelumnya. Mungkin karena sebelumnya saat malam pertama dadakan, Romi menepati janji untuk melakukannya dengan lembut, sehingga kali ini tak membuat Dita ketakutan lagi.


Dita memberi respon dengan menggeliatkan badannya ketika sentuhan Romi membuatnya geli.

__ADS_1


"Sayang, aku akan masuk." Romi kini sudah menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Dita. Perlahan ia arahkan miliknya ke arah milik Dita. Awal pertemuan membuat Dita tersentak, gagal. Percobaan kedua sudah berhasil masuk sebagian, namun Romi tak langsung meneruskan karena Dita menunjukkan ekspresi kesakitan.


"Akan sakit sebentar. Aku janji." Setelah merasa tubuh Dita tak begitu tegang, Romi kemudian melanjutkan penyatuan hingga benar-benar menyatu. Penyatuan kali ini tak sesulit yang pertama.


Dita menggigit bibir bawahnya menahan sakit, bulir air mata keluar lewat kedua ujung matanya.


Kini Romi bertahan dengan posisinya tanpa melakukan gerakan di bagian bawah tubuhnya, ia berikan kembali kecupan lembut di bibir istrinya yang sedang tergigit.


"Kau bisa melukai bibirmu kalau terus menggigitnya begini." Romi menyadarkan Dita untuk melepaskan gigitan pada bibirnya, sebelum bibirnya diambil alih oleh bibir Romi.


"Hmmmm...Haah." Lagi-lagi ciuman panas Romi membuat Dita kehabisan napas.


Setelah ciuman panas ia lepaskan, kini Romi memulai kembali aktifitas tubuh bagian bawahnya. Ia gerakkan pinggangnya menyatu dengan pinggang Dita dengan lembut. Gerakannya nampak pelan dan teratur. Dita masih belum terlalu terbiasa dengan aktifitas ini, aktifitas yang awalnya memang membuatnya merasa sakit namun lama kelamaan berubah menjadi rasa yang tak bisa ia jelaskan.


"Apa masih terasa sakit?." Romi yang sudah melihat Dita mulai terbiasa ingin memastikan bahwa ia sudah berhasil memberikan kenikmatan pada istrinya.


"Ti..tidakk..Ah.." Dita yang memang sudah mendapatkan kenikmatan secara refleks mendesah ketika pertama kali ia membuka mulutnya untuk bersuara. Secepat kilat ia kembali menggigit bibirnya, menahan agar tak kelepasan desahannya.


Romi yang jelas mendengar desahan dari istrinya tersenyum penuh kemenangan. Semakin semangat ia memberikan hentakan kenikamatan di dalam tubuh istrinya.


"Hey. Sudah kubilang, kau bisa melukai bibirmu bila menggigitnya seperti itu." Ucapan Romi terselip kata menggoda, seolah ia ingin berkata 'Mendesahlah sayang, jangan ditahan.'


Dita tak mengindahkan perkataan Romi. Romi yang tak tega melihat istrinya terus menggigit bibirnya kini membantu Dita dengan kembali memberikan kecupan panas pada bibir istrinya.


Keduanya kini seperti sedang berada di surga dunia. Jika Romi begitu jelas menampakkannya, maka Dita masih terlihat malu-malu.

__ADS_1


Pergumulan mereka berakhir ketika keduanya mencapai puncak kenikmatan. Romi melakukan pelepasan di dalam tubuh istrinya, berharap benih yang sedang ia semai segera tumbuh. Dita yang terkulai lemah kini sudah terlelap dalam pelukan hangat Romi.


"Cepatlah tumbuh dan memberi kebahagiaan baru di rumah ini." Romi berharap apa yang sudah ia tanam akan segera berbuah. Saat ini ia sudah sangat bahagia dengan adanya Dita di sisinya, namun tak bisa dipungkiri jika kehadiran buah hati akan menambah kebahagiaan baginya sekaligus untuk mengeratkan kunci agar Dita tak akan bisa lari darinya.


***


Minggu pagi kali ini terasa sangat berbeda bagi sepasang manusia yang semalam habis bercinta. Wajah Romi secerah matahari pagi ini, sedikit berbeda dengan Dita yang menampilkan wajah malu merona.


Pagi itu Dita terbangun dalam pelukan hangat suaminya yang sudah lebih dulu bangun. Romi sengaja tak beranjak dari tempat tidur sampai Dita membuka mata, ia ingin menatapi wajah tenang istrinya saat tidur hingga puas. Ia benar-benar serasa seperti anak ABG yang sedang jatuh cinta.


"Apa aktifitas semalam membuatmu selelah itu?." Ucapan pertama di pagi hari Romi sudah sangat provokatif. Dita yang sudah hendak beranjak dari tempat tidur membenamkan kembali wajahnya di dada Romi.


"Haha..Kenapa mukamu menggemaskan begitu. Kalau aku tak ingat kau masih kelelahan, aku pasti sudah melahapmu lagi." Romi sepertinya benar-benar kecanduan dengan aktifitas intim yang baru dua kali mereka lakukan.


Romi mengeratkan pelukannya, menyambut pelukan Dita yang sudah menempelkan kepala di dada bidangnya. Sesekali ia belai lembut rambut harum istrinya, mengusap punggungnya yang masih telanjang, terkadang usil meremas pantat Dita yang membuat Dita mencubit pinggang Romi. Posisi itu mereka pertahankan beberapa lama sampai keduanya kembali tertidur dan melewatkan sarapan mereka.


Ayah, ibu, dan Jinny sedari tadi menunggu di meja makan untuk sarapan akhirnya memulai sarapan tanpa Dita dan Romi.


"Kenapa Romi jadi berubah sejak menikah dengan wanita itu?." Ibu yang masih belum menerima Dita kini menyalahkan menantunya itu ketika Romi melewatkan sarapan yang biasanya dilaksanakan bersama setiap hari.


"Ibu, kak Romi baru kali ini dan pas sakit loh ga sarapan barengnya. Ibu kan pengen cepet dapet cucu, mungkin sekarang sedang proses pembuatan kali bu." Jinny berusaha membela kakak iparnya. Ia langsung kabur begitu selesai bicara dengan perkataannya yang tak disaring.


"Ibu tak mengharapkan cucu darinya." Ibu masih berkeras hati. Ayah yang tak ingin ribut kini mengikuti jejak Jinny untuk meninggalkan meja makan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2