
***
Dita sudah ikut terjaga. Mukanya merah semu, matanya terlihat sekali lelah seperti habis bekerja lembur hingga larut malam. Malunya membuat Dita mengumpulkan keberanian sekitar tiga puluh menit untuk beranjak dari tempat tidur.
Ia raih selimut untuk menutupi seluruh badannya yang tanpa sehelai kain. Untung saja Romi sudah mandi dan berpakaian lengkap, sehingga mereka tak perlu membagi selimut untuk menutupi aurat mereka.
"Mengapa kau seperti putri malu saja? Aku bahkan tidak masalah jika kau melenggang tanpa sehelai benangpun. Toh semalam aku sudah melihat dan merasakan 'Semuanya'." Romi tanpa rasa malu ataupun bersalah mengomentari istrinya yang terlihat sekali canggung.
"Lihat! Enteng sekali mulutnya bicara ya. Dasar manusia seenaknya, tak punya malu, mesum. Oh..Tuhan... kenapa bisa semalam aku terhanyut oleh perlakuan lembutnya. Hei hati! Lagian kenapa kau lemah sekali, baru digoda sedikit sudah luluh. Siapa yang akan tanggung jawab jika suatu saat kau akan jatuh kemudian hancur? Tentu aku juga yang akan kau buat susah." Dita memarahi dirinya sendiri yang semalam begitu lemah dan mudah diperdaya. Rasanya saat ini ingin sekali ia benamkan mukanya di dasar bumi.
Sama sekali tak ia tanggapi perkataan suaminya, secepat kilat ia kabur ke kamar mandi meski dengan rasa sakit di bagian selangkangannya.
Romi yang gemas melihat tingkah malu-malu istrinya, semakin menjahilinya. Entah sejak kapan prilaku ini mulai timbul, sepertinya akan menjadi hobi baru Romi untuk menjahili istrinya.
***
Di dalam kamar mandi Dita masih berusaha menenangkan pikiran dan perasaannya. Beberapa kali ia tarik dan buang napas panjang. Ia masih begitu malu mengingat kejadian semalam.
Ia pandangi tubuhnya yang diisi oleh beberapa noda merah kebiruan.
"Apa ini? Kenapa jadi banyak lebam di leher dan dadaku? Masa iya ada serangga di hotel semewah ini?." Dita begitu polos, tak mengetahui bahwa noda yang ada di leher dan dadanya adalah ulah serangga besar dan buas, yaitu suaminya sendiri.
"Tapi dia tak boleh tau mengenai hal ini, bisa-bisa seluruh karyawan hotel ini akan ia pecat bila tau ada serangga di hotel semewah ini." Dita berencana menyembunyikan noda yang benar - benar ia anggap sebagai gigitan serangga itu dari suaminya.
Tak begitu lama ia menghabiskan waktu di kamar mandi. Acara berendam yang biasanya ia gemari menjadi menyiksanya kali ini, luka di bagian kewanitaannya membuatnya perih saat berendam.
Dita keluar kamar mandi menggunakan kimono hotel, ia kenakan handuk seperti mengenakan hijab agar bagian lehernya tak terekspos. Romi merasa aneh melihat tingkah istrinya.
"Kenapa kau menutupi tubuhmu begitu dan hanya menampakkan wajahmu saja?." Romi tak tahan untuk berkomentar.
"Itu tuu..an. Udara pagi ini terlalu dingin. Eh..Sa..sayang. Saya ijin ke kamar mandi lagi." Dita belum begitu terbiasa dengan panggilan baru untuk suaminya, ia kembali buru-buru masuk ke kamar mandi begitu telah mendapatkan apa yang ia ingin ambil dari kopernya.
__ADS_1
Ketika kembali ke kamar mandi, ia tutupi noda yang ia anggap gigitan serangga tadi dengan foundation, lumayan tersamarkan.
"Huh, untung saja aku bawa benda ini. Ternyata ada gunanya juga." Dita mengecup botol foundation yang menjadi penyelamat kali ini.
Ia keluar kamar dengan pakaian yang membuatnya berpenampilan manis. Ia kenakan dress setinggi lutut bermotif bunga. Semua pakaian yang dikemas oleh bibi kemarin semuanya sejenis yang ia pakai saat ini, hanya berbeda motif dan warnanya saja.
Dita sedikit heran mengapa pakaian yang disiapkan untuknya semua terdiri dari pakaian yang dilarang dalam perjanjian.
"Maaf, sayang. Jika aku menggunakan pakaian yang tidak kau sukai." Dita berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu sebelum suaminya murka melihat ia menggunakan pakaian yang tidak disukai.
"Baju yang disiapkan dalam koperku bentuknya seperti ini semua." Dita kembali menjelaskan panjang lebar karena sejak tadi Romi hanya memandanginya tanpa memberikan komentar.
"Ehmm...Kenapa kau jadi cerewet sekali?." Romi berdehem seolah ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya, padahal saat itu ia sedang menetralkan perasaannya. Ia sesungguhnya terpesona dengan tampilan istrinya yang seperti sekarang. Dress yang dikenakan Dita membuatnya semakin menggemaskan. Panjang dress setinggi lutut membuatnya terlihat semakin mungil, potongan leher yang tak terlalu tinggi maupun rendah menampakkan leher jenjangnya dan juga tulang selangkanya yang nampak seksi. Itulah alasan Romi tak menginginkan Dita berpenampilan seperti sekarang di dalam perjanjian nikahnya, ia tak ingin dirinya tak bisa menahan godaan. Penampilan yang telah membuat Romi jatuh cinta saat pertama
melihat istrinya ketika berpakaian seperti ini, kala itu.
Dita yang kembali mendapat cibiran hanya bisa tertunduk.
Dita dengan telaten mengambilkan sandwich dan menuangkan teh hangat untuk suaminya. Terselip senyum tipis di wajah Romi. Ia berasa seperti pengantin baru betulan.
"Eh, kemana perginya lukisan abstrak yang aku buat semalam? Apa ia menghilang secepat itu? Padahal aku sangat menyukainya." Romi nampak heran karena tak mendapati kiss mark di leher dan dada istrinya.
"Sa..sayang. Kenapa melihatku seperti itu? Apa ada penampilanku yang salah?." Dita menjadi panik ketika dipandangi oleh Romi, takut ada penampilannya yang membuat Romi tak senang.
"Apa tak boleh memandangi istri sendiri? Apa harus ada alasan untuk aku boleh melakukannya?." Romi seketika membungkam mulut Dita dan membuat istrinya seketika kepanasan dan memerah.
"Hahaha...Kau lucu sekali kalau sedang malu-malu begini." Romi semakin menjadi menggoda istrinya, tawanya tergelak terdengar seperti orang yang sedang sangat bahagia. Untuk pertama kalinya Dita melihat suaminya sesenang itu saat bersamanya selama beberapa bulan mereka menikah.
"Sebenarnya ada apa dengan orang ini? Kenapa sikapnya berubah sekali? Membuatku jadi takut saja." Dita masih benar-benar tak menyadari bahwa suaminya itu sudah mulai menunjukkan perasaan yang sesungguhnya, perasaan cinta yang sejak awal memang sudah ada untuknya. Dita hanya bisa mesem-mesem tidak jelas menanggapi tingkah suaminya yang ia anggap aneh itu, sambil terus melahap sarapannya.
***
__ADS_1
Usai sarapan Romi kembali naik ke atas tempat tidur sambil membuka tabletnya, membaca berita apa yang sedang terjadi di kalangan bisnis.
Dita kehilangan harapan untuk jalan-jalan sesuai rencananya semalam.
Ia memainkan ponselnya lalu menghubungi Nisa. Penasaran dengan apa yang terjadi semalam. Mengapa bisa-bisanya Nisa menghilang dan tak kembali ke kamar sampai sekarang.
"Lo dimana?." Pesan terkirim dan segera dibaca oleh Nisa.
'Satu foto diterima'. Notifikasi muncul di ponsel Dita. Sebuah pesan gambar dikirimkan oleh Nisa. Foto saat Nisa dan ketiga rekan kerja lainnya berpose di pinggir pantai lengkap menggunakan alat snorkling.
Nisa sedang asyik menikmati pantai dan berenang melihat ikan di sela-sela terumbu karang, menikamati air kelapa muda segar, mengubur badan mereka dengan pasir, dan beberapa putaran mengendarai banana boat.
"Ih curang lo. Kok lo tiba-tiba ngilang sih? Ga setia kawan banget." Dita kesal melihat foto yang barusan ia buka.
"Hahhahaha...Sori...Gue lebih setia dan cinta ama diri gue sendiri, Non. 😜" Nisa berkata jujur.
"Maksud lo apa?." Dita tak mengerti.
"Ga mungkin gue berani nolak perintah tuan muda. Semalem sekretrisnya minta gue pindah kamar, biar doi bisa bobo bareng lo." Nisa menjelaskan kejadian semalam yang sebenarnya.
"Dasar lo ya. Kenapa lo ga ngasih kabar, ga bilang-bilang." Dita kesal karena ternyata sahabatnya itu terlibat dengan kejadian memalukan semalam.
"Ya gue takut ganggu lo kalo gue nelpon. Takut lagi ehem ehem." Nisa bicara tanpa saringan.
Dita seketika merona lagi. "Hei hati, bisa ga sih ga usah lebay. Begini aja udah berdebar." Dita lagi-lagi memarahi dirinya sendiri.
"Awas ya kalo ketemu, gue habisin lo. 😬." Dita tak sabar ingin menemui Nisa dan memberi pelajaran pada sahabat yang telah mengerjainya semalam.
"Hahahahha. Sowryyyy..." Nisa tau kalo sahabatnya itu tak akan pernah bisa marah betulan. Kini Nisa melanjutkan acara berenangnya, sedangkan yang di kamar hanya bisa gigit jari. Lagi-lagi Dita terkurung.
Bersambung...
__ADS_1
Ada yang mau extra up malam ini? 😁😁😁