
*****
Flash Back On
Beberapa bulan terakhir sebenarnya Romi mengalami hal kurang menyenangkan. Ada perempuan dari masa lalunya yang kembali muncul dan membuatnya tak nyaman.
Ia bukanlah mantan istrinya, melainkan mantan calon pacar pertamanya. Ya semasa SMA, Romi pernah satu sekolah dengan seorang gadis polos dan baik hati. Gadis itu bernama Rindi. Rindi bukanlah gadis populer di sekolahnya, namun Rindi bisa membuat Romi sangat nyaman dan merasa disayangi di kala ia kekurangan kasih sayang dari orang tuanya. Namun, sayangnya mereka tak sempat mengungkapkan perasaan satu sama lain, Rindi keburu pindah sekolah karena ayahnya dimutasi kerja. Romi kala itu benar-benar hancur kehilangan orang yang bisa membuatnya melupakan masalah orang tuanya.
Beberapa waktu belakangan sialnya Rindi kembali muncul dalam kehidupan Romi. Pertemuan Romi dan Rindi di kantor tadi bukanlah pertemuan pertama mereka setelah perpisahan mereka dulu. Sudah beberapa kali Rindi mencoba menemui Romi, berharap cinta masa lalu mereka kembali terajut. Sayangnya Rindi sudah sangat terlambat. Cinta Romi pada Rindi sudah tertumpuk oleh beberapa luka yang Rindi buat sendiri, ditambah lagi perasaan cinta Romi pada istrinya saat ini membuat cinta masa lalunya sudah sama sekali tak punya ruang di hatinya.
Beberapa kali Rindi mencoba meyakinkan Romi bahwa ia masih sangat mencintai Romi. Ia selalu mencari-cari kesempatan untuk bertemu Romi. Puncaknya adalah hari ini, ia memberanikan diri datang ke kantor Romi.
"Rom, apa kau benar-benar sudah melupakanku?." Rindi percaya diri bahwa Romi masih sangat mencintainya. Ya Romi memang sangat mencintainya, tapi dulu.
"Percaya diri sekali. Aku peringatkan ini adalah terakhir kali kau menemuiku. Kau sepertinya belum mengenal diriku yang sekarang ya?." Romi jengah karena Rindi tak mengindahkan peringatan yang ia berikan sebelumnya.
"Aku tau aku salah. Tapi tak bisakah kau memberiku kesempatan. Aku mohon." Rindi terdengar pilu.
"Pergilah selagi aku masih berbaik hati. Hatiku sudah dipenuhi oleh cinta dari istriku." Pernyataan Romi membuat Rindi tersentak.
"Bukankah kau sudah tak bersama dengan istrimu lagi?." Rupanya Rindi tak mengetahui kalau saat ini Romi sudah menikah lagi. Yang ia tahu terakhir Romi mengalami kegagalan dalam pernikahannya, sehingga ia merasa punya kesempatan untuk mengobati luka di hati Romi dan kembali bisa bersama. Sayangnya prediksinya gagal.
"Itu dulu. Sekarang aku tidak akan membiarkannya terjadi. Cukup kau dan wanita licik itu yang membuat lembaran kotor di masa laluku." Romi tak berbasa-basi dengan ucapannya.
"Jika kau sudah mengerti dengan semuanya silakan tinggalkan ruangan ini dan jangan pernah muncul di hadapanku." Romi mengusir Rindi.
"Baiklah kalau begitu." Rindi baru menyadari posisinya saat ini. Ia benar-benar merasa malu dengan tindakannya, ia benar-benar tak tahu kalau Romi sudah memiliki istri yang sangat ia cintai.
"Aku benar-benar minta maaf atas kejadian masa lalu dan juga kejadian saat ini. Aku tak akan pernah menampakkan wajahku di hadapanmu." Rindi tertunduk malu dan menyesal, namun ia belum bergerak dari ruangan itu.
"Bagus kalau kau sadar." Romi berdiri dari duduknya hendak meminta Rindi segera pergi.
"Tapi, sebelum aku benar-benar pergi dari hidupmu ijinkan aku melakukan hal yang dari dulu ingin aku lakukan." Rindi tiba-tiba mendaratkan bibirnya di bibir Romi. Romi yang sama sekali tak memprediksi dengan tindakan Rindi seketika mematung tak memberikan reaksi apa-apa, sebelum akhirnya menjauhkan tubuh Rindi dan benar-benar mengusirnya dari ruang kerjanya.
Flash back off
***
Dita masih berada di mobil dengan pikiran kosong. Tiba-tiba ia merasa mual. Entah apa yang menyebabkan rasa mualnya. Apakah karena pengharum mobil? Karena ia teringat peristiwa suaminya mencium wanita lain? Karena terlalu banyak memasukkan makanan ke perutnya? Atau karena HAMIL?!.
Seketika perkataan Romi mengenai kehamilan tadi memasuki pikirannya kembali. Kini wajah datarnya berubah menunjukkan ekspresi panik. Berbagai hal buruk mengenai kehamilan sudah bertebaran di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Bagaimana jika aku benar-benar hamil?" Dita tak bisa membayangkannya saat ini.
"Pak tolong nanti berhenti jika bapak menemukan apotek." Dita meminta dengan sopan kepada bapak sopir. Ada obat dan alat pemeriksaan yang ia ingin beli. Obat untuk mengurangi mualnya, dan juga alat pemeriksaan untuk memastikan dugaan kehamilannya.
"Baik, Non." Pak sopir menurunkan kecepatannya takut melewatkan apotek yang akan mereka hampiri.
Pak sopir menghentikan kemudinya begitu menemukan sebuah apotek.
"Pak, tunggu sebentar ya." Dita meminta pak sopir menunggunya. Pak sopir kemudian memarkirkan mobil di depan apotek.
"Maaf apakah ada obat mual dan juga alat pemeriksaan kehamilan?." Dita bertanya dengan sopan kepada petugas apotek.
"Ada, Nona. Kalau boleh tahu apakah sebelumnya nona sudah pernah melakukan pemeriksaan kehamilan?." Petugas tersebut hendak memastikan jenis obat dan alat pemeriksaan apa yang cocok untuk Dita.
"Belum, ini baru pertama kali." Dita menjawab singkat.
"Apakah ada gejala kehamilan lainnya selain mual yang nona rasakan." Petugas tersebut kembali ingin memastikan.
"Saya tidak tahu," Dita agak bingung menjawab, karena sesungguhnya ia sendiri kurang begitu mengetahui gejala kehamilan selain terlambat haid dan mual muntah.
"Baik nona kalau begitu kami akan merekomendasikan obat mual paling aman dan juga alat pemeriksaan kehamilan paling bagus." Petugas tersebut memeroses pembelian Dita.
Begitu transaksi selesai Dita minta ijin menggunakan toilet. Ia gugup saat menunggu hasil test pack, pikirannya sudah macam-macam.
Sudah tiga menit berlalu sejak ia meneteskan urinnya ke dalam alat pemeriksaan kehamilan, saatnya ia mengetahui hasilnya.
Dua garis merah samar.
'Degh!' Hatinya seketika serasa melompat meninggalkan tubuhnya. Pikirannya sangat kacau saat itu.
"Aku harus bagaimana? Ayah..Ibu..Bagaimana ini?." Saat ini tidak ada yang bisa membantu menenangkan kepanikannya.
Air matanya nya jatuh begitu saja tak tertahankan. Wajahnya sudah basah dipenuhi genangan air mata, dan ia benamkan di kedua lututnya, menangis sesenggukan.
Dita sangat sulit menenangkan dirinya saat ini, keadaannya terlalu berat dan menyulitkan.
Beberapa menit Dita menghabiskan waktu di dalam kamar mandi yang menjadi saksi betapa malang dirinya, mengetahui kehamilan di saat ia mendapati suaminya bersama wanita lain.
Teringat pak sopir yang sudah lama menunggu, kini Dita segera mengeringkan air mata untuk menutupi kesedihannya, meski matanya sudah terlihat sangat sembab.
"Maaf ya pak telah membuat bapak terlalu lama menunggu." Dita segera masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Iya, Non. Ga apa-apa." Pak sopir ini nampak sekali bertanggung jawab dalam mengantarkan penumpangnya, meski penumpangnya ini tak jelas arah tujuannya.
"Sekarang kita harus kemana, Non?." Pak sopir ingin memastikan tujuan, karena sudah lebih dari dua jam ia mengemudi tanpa tujuan.
"Tolong antarkan saya ke sini saja, Pak." Dita menyodorkan ponselnya memberikan alamat kepada pak sopir.
"Siap, Non." Pak sopir dengan semangat memacu kemudinya karena akan segera selesai menjalankan kewajiban mengantarkan penumpang.
***
"Kemana perginya gadisku? Apa dia belum pulang?." Romi melirik jam di tangannya. Sudah jam delapan belas lewat tiga puluh menit.
"Apa kau melihat istriku?." Romi menanyakan keberadaan istrinya kepada Jinny. Kamar Jinny sudah menjadi seperti kamar kedua bagi Dita.
"Tidak kak, sejak tadi aku tak melihat kakak ipar. Sepertinya belum pulang." Jinny menjawab sambil rebahan di kasur.
"Kemana perginya gadis itu? Kenapa tidak memberiku kabar?." Romi merasa heran karena biasanya Dita selalu mengiriminya pesan bila Dita pulang lewat dari jam kantor.
Romi menekan nomor Dita pada ponselnya untuk melakukan panggilan telepon. Tersambung, namun tida diangkat. Beberapa kali panggilannya tidak mendapat jawaban, Romi yang kesal kini membanting ponselnya. Romi berlalu menuju ke kamar untuk mandi dan menyegarkan pikiran.
***
Sudah pukul delapan malam, namun belum ada kabar dari Dita. Kini Romi mondar mandir di ruang tamu sambil terus melakukan panggilan telepon.
"Apa istrimu belum pulang?." Ibu menghampiri anaknya yang nampak panik.
Romi tak menjawab. Ia tak ingin ibu terlibat dengan urasannya ini.
"Apa ibu bilang, dia bukan wanita yang baik untukmu, Nak. Saat ini pasti dia sedang bersama laki...." Perkataan ibu tak dilanjutkan karena dipotong oleh Romi.
"Cukup, Bu." Romi yang kesal kini memilih meninggalkan ibu sebelum kekesalan membuatnya menyakiti ibu.
Kini amarahnya semakin meninggi karena secara tidak langsung perkataan ibu sudah berhasil masuk ke dalam pikirannya.
"Jangan coba macam-macam. Kau akan tau akibatnya." Romi tak pernah macam-macam dengan perkataannya.
"Cari keberadaan istriku!." Romi memberi instruksi kepada Bima.
"Baik, Tuan." Bima segera menjalankan kemudinya untuk membantu mencari keberadaan nona muda.
"Nona, aku percaya padamu." Bima berharap ucapannya adalah sebuah kebenaran.
__ADS_1
Bersambung...
Maafkeuun terlambat update karena baru sempet :)