
"Apa benar kau akan mulai berkencan?" Ibu mengulang pertanyaannya untuk meyakinkan diri.
"Iya bu." Jawab Romi singkat.
"Kakak akan berkencan dengan siapa? Bukannya kakak tidak punya pacar? Bahkan kakak sepertinya tidak punya teman wanita." Jinny polos menyuarakan isi hatinya.
"Anak kecil tau apa." Romi agak jutek menanggapi pertanyaan adiknya. "Semua sudah diatur oleh Bima, berharap saja semua sesuai rencana." Lanjut Romi masih sambil menyuap makanannya.
"Oh...Kencan buta ya?" Jinny menebak.
"Bagaimana kau tau dengan istilah kencan buta?" Romi agak kaget.
"Ya ampun kak, jaman sekarang masih kencan buta? Ini pasti ide dari sekretaris menyebalkan itu ya? Kakak kenapa percaya dengan Bima sih, dia saja tidak punya pengamalan dengan wanita." Jinny menggerutu pada kakaknya.
"Memang apa salahnya? Kenapa tidak dicoba dulu?" Jawab Romi santai.
"Tadinya aku mau menjodohkan kakak dengan kenalan Adit. Tapi..." Belum sempat melanjutkan kata-kata Jinny dipotong ibu.
"Biarkan kakakmu mencoba apa yang menurutnya terbaik." Ibu mengelus punggung tangan Jinny, seperti ingin memberi isyarat "Sudah, malam ini sampai di sini pembicaraan ini." Ibu sudah puas dengan pernyataan dari Romi tentang rencana kencan butanya.
Paham maksud dari ibu, Jinny menghentikan protes pada kakaknya. " Semoga lancar ya kak, sesuai harapan. Awas jangan sampai tertipu." Doa dan pesan pada Romi yg diucapkan Jinny seolah-olah ia sudah pakarnya dalam percintaan.
Romi hanya angguk-anggukkan kepalanya.
__ADS_1
Acara makan malam penuh maksud akhirnya selesai.
***
Hari yang ditunggu tiba. Bima segera menuju rumah tuan muda, wajahnya cerah sekali hari ini, tatapan matanya pun penuh percaya diri, percaya diri bahwa saran yang ia berikan kemarin adalah yang terbaik dan akan sukses. Ia tiba saat keluarga bosnya selesai sarapan.
Hari ini adalah akhir pekan, sehingga sengaja hari ini dipakai untuk acara kencan buta ini agar tidak mengganggu waktu bekerja.
"Ayo berangkat !" Romi langsung menuju mobil diiringi oleh Bima. Segera masuk ke mobil saat Bima membukakan pintu mobil untuk tuan mudanya.
"Saya berharap semoga gadis yang hari ini menjadi teman kencan tuan akan sesuai harapan dan cocok. Saya sudah memeriksa latar belakangnya, dia adalah gadis baik-baik, berasal dari keluarga menengah, pendidikan terkahirnya S1 Kesenian Universitas Nm, saat ini sedang merintis usaha sendiri." Panjang kali lebar Bima mendeskripsikan calon teman kencan tuan mudanya. Yang diajak bicara hanya diam, entah mendengar atau tidak.
30 menit perjalanan, mereka tiba di tempat yang telah disepakati. Di sebuah Cafe kecil, sengaja dipilih untuk tempat mereka bertemu. Menyamarkan identitas sang presdir agar tidak mencolok sekali latar belakangnya.
Bima yang ada di belakang Romi sadar wanita barusan adalah Dita, calon teman kencan tuan mudanya. Terlihat Bima hendak mengejar Dita, namun ditahan oleh Romi. Hingga akhirnya Dita menghilang dari pandangan keduanya.
"Dia..." Bima belum selesai berkata-kata, namun Romi langsung memotong.
"Biarkan saja, aku tidak suka orang yang tidak tepat janji, untuk apa mengejarnya. Dia terlihat tidak menghargai waktu yang kita luangkan, seenaknya saja pergi." Tampak kekesalah dari nada bicara sang presdir.
Bima bingung menanggapinya. Spontan ia mempersilahkan duduk, dan memesankan segelas kopi kesukaan tuan mudanya.
Tak lama seorang wanita cantik mengantarkan pesanan, dengan senyum manis wanita itu mempersilahkan untuk menikamati pesanannya. "Silahkan dinikmati pesanannya, Tuan. Silahkan tekan tombol ini bila ada yang tuan butuhkan lagi. Saya pamit." Pandangan wanita itu terlihat berbeda saat menatap Romi, seperti enggan untuk meninggalkan meja pelanggannya itu, seperti tersihir oleh wajah tampan sang tuan muda.
__ADS_1
(Oia Author belum mendeskripsikan visual Romi ya 😂
Reader boleh membayangkan sendiri visual Tuan Muda
Yang pasti Tuan Muda Romi ini memiliki wajah tampan dengan ekspresi coolnya. Mata dengan iris berwarna cokelat, alis tebal namun rapi, hidung mancung, rahang tegas, dan bibir menggoda 👄 tentunya).
Romi tampak begitu kesal. Begitu wanita pengantar pesanan pergi, Romi segera menyeruput kopi dingin pesanannya hingga menyisakan setengah gelas. Ia hampir menghabiskan minumannya untuk membantu meredam kekesalannya. Bagaimana tuan muda tidak kesal, upaya yang sudah direncakan gagal total, padahal sejak kemarin tenaga dan pikirannya hampir habis demi menghadapi hari ini.
"Apa kau sudah tidak waras? Bisa-bisanya kau memilih wanita seperti dia. Rupanya ucapanmu di mobil tadi hanya sebuah bualan ya. Wanita baik-baik? Apanya yang baik-baik? Bahkan kesan pertama sudah bisa diambil kesimpulan bahwa dia wanita ingkar janji. Huh...." Romi menumpahkan kekesalannya pada Bima.
Tau akan situasi yang terjadi, Bima segera memohon maaf kepada tuan muda. "Maafkan saya tuan muda, ini di luar perhitungan saya. Saya pastikan wanita itu akan meminta maaf kepada tuan atas kesalahan yang telah ia perbuat hari ini. Dan saya pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi." Bima berucap sambil menunduk, tak punya keberanian dia untuk menatap wajah tuan mudanya.
"Aku tak ingin berusan lagi dengan wanita kurang ajar itu, jangan pernah coba menghubunginya lagi. Kau bilang kejadian ini tidak akan terulang lagi? Maksudmu kau akan membuat rencana kencan buta kedua dan seterusnya untukku? Idemu ini sungguh tak berguna, seharusnya dari awal aku tidak mendengarkan ide bodoh dari jomblo sepertimu. Seharusnya aku mendengarkan kata Jinny tadi malam. Bahkan Jinny lebih jago dalam urusan asmara dari pada kau, Bima." Jomblo yang sedang meneriaki jomblo begitu panjang lebar meluapkan amarahnya. Merasa puas memaki sang sekretaris yang dari tadi hanya tertunduk lesu, tuan muda beranjak dari tempat duduk dan menuju mobil. Bima dengan sigap ikut berdiri dan membuntuti Romi.
Dari meja transaksi sedari tadi seorang wanita sama sekali tak memalingkan pandangannya dari Romi.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, pengemudi bahkan tak berani menanyakan rencana tuan muda selanjutnya. Yang terpikirkan saat ini oleh Bima adalah membawa tuan muda pulang, dan dia harus memikirkan cara lain untuk menemukan jodoh yang sesuai kriteria. Sampai di rumah, Romi langsung keluar mobil tanpa menunggu dibukakan pintu oleh Bima, pintu mobil ia banting cukup keras. Ibu dan Jinny heran mengapa cepat sekali Romi menjalankan kencannya. Melihat gurat wajah Romi, keduanya seolah paham apa yang terjadi. Kencan tidak berjalan lancar, begitu yang ditebak oleh Ibu dan Jinny. Keduanya tak berani menyapa Romi dan membiarkannya masuk ke dalam kamar yg barada di lantai atas.
Karena penasaran dengan apa yang terjadi, segera Ibu dan Jinny mengahampiri Bima untuk mengintrogasinya. "Bima, apa yang terjadi? Mengapa acaranya cepat sekali? Apa tidak berjalan dengan lancar?" Pertanyaan bertubi-tubi dari ibu.
Bima bingung harus menjawab apa, takut jawabannya akan melukai tuan muda, namu tak mungkin ia tidak menjawab pertanyaan nyonya Anne. "Kencan hari ini belum sesuai dengan rencana, nyonya. Maaf atas keteledoran saya." Romi meminta maaf sambil menunduk. Tak ingin lebih jauh diberondong pertanyaan, Romi segera pamit menuju ruang kerja yang berada di lantai dasar. Ia tak punya keberanian untuk pulang ke rumahnya. Takut sewaktu-waktu tuan muda membutuhkannya. Entah dibutuhkan untuk memberi ide, atau dibutuhkan sebagai tempat pelampiasan kekesalan tuan muda saat ini. Karena ia tau, tuan mudah tak semudah itu untuk memaafkan kesalahannya. Nasib...
Bersambung...
__ADS_1