LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
KEMBALI HANGAT


__ADS_3

"Hey, kenapa menangis?." Romi yang mengetahui Dita sedang menangis semakin panik. Segera ia memanggil dokter, dikira perut istrinya bertambah sakit. Padahal sebenarnya Romilah yang menjadi sumber penambah rasa sakit bagi Dita saat ini.


***


Prosedur rawat inap semua sudah diurus oleh Bima. Saat ini Dita sudah dipindahkan ke ruang rawat inap deluxe. Dita masih enggan bersuara. Romi masih dibuat bingung dengan sikap istrinya.


"Sayang, apa masih begitu sakit?." Romi yang sudah dijelaskan oleh dokter mengenai penyakit yang dialami Dita ikut merasa bersalah. Secara tidak langsung ialah yang menjadi sumber penyebab kesakitan istrinya.


Dita masih diam seribu bahasa. Rasa takutnya pada Romi perlahan berkurang seiring dengan sikap baik yang kembali ditunjukkan Romi. Sepertinya hormon menstruasi benar-benar sedang mengambil alih mood Dita saat ini.


"Maaf." Romi tiba-tiba mengucap kata maaf. Membuat Dita spontan membalikkan wajahnya melihat ke arah Romi.


Namun kata Romi terhenti begitu saja, tak ada kelanjutan. Dita bingung apa yang Romi inginkan untuk dimaafkan.


"Tidurlah, kau pasti sangat lelah." Romi kini ikut membaringkan tubuhnya di sebelah Dita. Ukuran tempat tidur pasien terlalu cukup untuk mereka tempati berdua.


Dita masih terdiam, tak bisa menolak. Mengikuti saja apa maunya Romi. Kini ia balikkan tubuh Dita yang semula terlentang menjadi miring ke kanan, ia selipkan kepala Dita di dadanya.


"Tidurlah." Dita hanya menurut, diusap-usap kepalanya, sesekali ditepuk bahunya, dan sesekali diusap pinggangnya yang tadi juga sempat terasa sakit. Kembali air mata Dita jatuh tanpa ia minta, hingga ia terlelap. Sungguh ia tak mengerti dengan perasaan yang ia punya saat ini. Entah mengapa sejak menikah ia menjadi lebih sering mengeluarkan air mata dari biasanya.


***


Flash Back On


"Tuan, maaf mengganggu. Saya Nisa sahabat Dita. Saya ingin menginformasikan bahwa saat ini Dita sedang di rumah sakit ABD." Nisa menghubungi Romi menggunakan ponsel Dita. Sambungan telepon langsung dimatikan oleh Romi begitu mendengar kabar duka tersebut.


Romi terlihat sangat panik dan tergesa menuju parkir, hendak mengendarai mobilnya sendiri. Untung saja segera diketahui Bima dan segera dicegah.


Bima untuk pertama kalinya melihat tuan mudanya panik tak karuan, kehilangan tender bernilai miliaran bahkan tak sebegininya.

__ADS_1


"Apa bisa kau percepat kemudinya?." Romi sungguh tak sabar ingin segera sampai.


"Awas saja jika sampai keleletanmu membuat istriku kenapa-kenapa." Romi lagi-lagi memarahi Bima entah atas dasar apa.


"Tuan, cobalah sedikit tenang. Ini bukan seperti tuan yang saya kenal." Bima merasa tak biasa dengan sikap tuannya.


Flash Back Off


***


Sepasang suami istri telah terlelap saling mendekap. Bima yang hendak masuk untuk mengantarkan pakaian ganti tuan mudanya mengurungkan niatnya. Akhirnya ia titipkan pakaian ganti tuan muda kepada perawat yang nanti akan memeriksa kondisi Dita.


Sepertinya pelukan istri membuatnya seolah lupa untuk membersihkan diri bahkan sekedar untuk sikat gigi. Meski sebenarnya ia merasa risih, Romi memilih untuk beridiam diri. Ia tak ingin membangunkan Dita kalau ia harus merubah posisi. Karena ia lihat istrinya begitu tenang dan tak tega ia ganggu tidurnya.


***


"Sayang, ada apa? Kenapa kau jadi pucat begini? Apa perutmu sakit lagi?." Romi yang seperti punya feeling tiba-tiba ikut terbangun. Segera ia memencet bel untuk meminta bantuan dokter. Ia pegangi tangan Dita yang sesekali memberi remasan keras ketika gelombang nyeri kembali datang, Romi sangat tak tega melihatnya, sesekali ia hapus keringat dingin di wajah Dita. Kenapa rasanya dokter lama sekali tiba di ruangan ini


"Dokter, kenapa perut istriku masih sakit juga? Tolong berikan obat terbaik di rumah sakit ini!." Romi yang tak mau melihat Dita kesakitan langsung menghardik dokter untuk segera membantu menyembuhkan penyakit istrinya.


"Maaf, Tuan. Infeksi saluran kencing memang membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk penyembuhannya. Karena antibiotik minimal kita berikan selama tiga hari untuk membunuh bakteri penyebab. Untuk keluhan nyeri memang bisa saja hilang dan timbul selama bakteri belum sepenunya dimusnahkan. Tapi kami akan memberikan obat anti nyeri tambahan agar frekuensi nyeri menjadi berkurang." Setelah memeriksa Dita dan memberikan beberapa obat suntik, dokter dengan tenang menjelaskan panjang lebar, membuat Romi sedikit tenang.


"Terimakasih, dokter. Maaf sudah banyak merepotkan." Dita yang tak enak hati dengan hardikan suaminya mewakilkan untuk meminta maaf.


"Sudah tugas kami, Nona. Bila tidak ada yang ingin ditanyakan saya pamit. Silahkan tekan bel bila ada sesuatu yang diperlukan lagi." Dokter akhirnya pamit.


"Kenapa kau yang jadi minta maaf. Sudah tugasnya sebagai dokter jika direpotkan oleh pasiennya." Romi tak terima atas perminta maafan Dita tadi.


"Memang seharusnya bukan aku yang minta maaf, tapi anda tuan. Sepertinya anda lebih merepotkan dari pada pasien yang sedang dirawat." Dita menggerut dalam hati.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa sayang. Seperti yang dijelaskan dokter tadi, sakitku tidak separah itu." Dita mencoba menenangkan, tak mau memperpanjang urusan.


"Sayang. Apa tidak mau membersihkan diri?" Dita kasihan memperhatikan penampilan Romi yang tampak kusut. Memang terakhir kali ia mandi adalah tadi pagi sebelum berangkat bekerja.


"Apa kau tak suka jika penampilanku begini?." Romi salah paham lagi.


"Bukan begitu sayang. Aku hanya tak tega melihat wajahmu yang tampak lelah. Mungkin membersihkan diri dapat membantu menyegarkan." Dita berkata jujur.


"Jangan kemana-mana!." Romi beranjak untuk mengikuti saran Dita untuk mandi.


"Memangnya aku mau kemana malam-malam begini? Dasar aneh." Dita kembali merasa mengantuk ketika obat nyeri telah bekerja dan membuat rasa nyeri di perutnya menghilang.


***


"Lihat dirinya. Baru ditinggal sebentar sudah tertidur." Romi yang baru selesai mandi ditinggal tidur istrinya. Perutnya terasa lapar, namun kembali bergabung dengan istrinya ia rasa lebih menarik dibanding menu makanan yang sudah tersaji sejak tadi.


Malam itu kembali menjadi malam yang hangat bagi Dita dan Romi.


***


Selama tiga hari dirawat, Romi absen dari pekerjaannya. Sepenuhnya ia meluangkan waktu untuk menjaga istrinya. Tak banyak orang yang ia ijinkan untuk menjenguk istrinya dengan alasan istrinya harus istrirahat total. Ia hanya memperbolehkan Jinny, ayah, ibu, dan kakak iparnya untuk menjenguk. Sayangnya ibu sama sekali tak menampakkan wajahnya, rasanya tak mudah untuk membuat hati ibu berubah.


Setelah tiga hari dirawat, seperti yang dikatakan oleh dokter sebelumnya, Dita benar-benar sudah pulih seratus persen. Hari ini ia sudah diijinkan pulang, Tiga hari ia benar-benar terkurung di kamar, hanya diperbolehkan turun dari tempat tidur jika itu untuk keperluan ke kamar mandi.


Sebelum Dita benar-benar meninggalkan ruangan ini, dokter sekali lagi melakukan visit.


"Obat yang telah kami resepkan harap untuk dihabiskan. Dan untuk sementara waktu sebaiknya jangan melakukan hubungan badan dulu. Semoga selalu diberikan kesehatan tuan dan nona, saya pamit." Pesan terakhir yang diberikan dokter membuat Dita tertunduk malu, dan membuat Romi terkejut sekaligus kesal. Namun terlalu malu bagi Romi untuk menyanggah omongan sang dokter.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2