LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MEMBUAT PILIHAN


__ADS_3

***


Hari ini Romi tak jadi libur. Selepas pulang dari rumah sakit Romi minta diantar ke kantor. Dita tau suaminya sedang kecewa saat ini, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memberikan ruang untuk suaminya bisa menenangkan pikiran.


***


Dita dan Romi sudah sama-sama di atas tempat tidur. Tidak seperti biasanya, Romi malam ini memilih untuk tidur lebih dulu.


Dita merasa tak biasa dengan perubahan sikap suaminya hari ini. Dita yang ditinggal tidur sulit untuk ikut memejamkan mata. Malam itu ia akhirnya memilih untuk main ke kamar Jinny.


"Adik ipar, apa sudah tidur?." Dita sudah di kamar Jinny.


"Eh kakak ipar. Belum. Ayo sini." Jinny menyingkap selimut yang tadi menutupi tubuhnya.


"Kakak ipar ditinggal tidur ama kak Romi ya?." Jinny menggoda Dita.


"Haha..Iya tumben kakakmu tidur lebih cepat." Dita tertawa getir.


"Apa sedang ada masalah? Semalam katanya ga tidur di rumah ya?." Jinny mencoba menerka-nerka dan memancing Dita untuk bercerita.


Dita akhirnya menceritakan kejadian kemarin secara detail.


"Kakak ipar. Kenapa kakak ipar ini bodoh sekali?." Jinny tertawa keras setelah mendengar cerita Dita.


"Eh, ga sopan ya ngatain kakak sendiri bodoh." Dita mencubit pelan pinggang Jinny.


"Ampun...ampun kak. Iyaa, kakak ipar ini antara polos dan bodohnya beda tipis sih. Emang kemarin aku pernah cerita mengenai alasan kak Romi menikah dulu karena dimintain cucu oleh ibu. Tapi bukan berarti sekarang kak Romi pingin anak dari kakak ipar karena alasan ibu juga...." Jinny gemas dengan pemikiran kakak iparnya.


"Lalu?." Dita masih saja tak paham.


"Aduuh...susah banget sih bilanginnya. Ya sekarang jelas kondisinya berbeda. Kak Romi menikah dengan kakak ipar jelas ga ada hubungannya sama ibu, lagian kakak ipar tau sendiri ibu sekarang belum bisa berbaikan dengan kakak ipar. Jadi mana mungkin ibu yang minta kak Romi memberikan cucu dari pernikahannya dengan kakak ipar. Pahaam?."


Dita hanya terdiam.


"Kak Romi juga bukan orang yang suka bermain-main dalam hubungannya. Hubungan masa lalu nya terlalu buruk jika untuk ia ulang. Aku sangat yakin kak Romi sudah mempertimbangkan dengan matang saat dulu menikahi kakak ipar." Jinny lagi-lagi meyakinkan Dita.


"Benarkah?." Dita mencoba untuk percaya. Jinny memberi jawaban mengangguk dengan yakin.


***


" Haruskan aku mempercayai perkataan adikmu? Apakah aku harus menjatuhkan hatiku untukmu?. Rasanya aku sudah terlalu lelah berjalan sejauh ini. Berlari bukan pilihan yang bisa ku ambil, karena dari awal aku menandatangani perjanjian itu aku tau aku tak akan pernah bisa melakukannya. Apakah sebuah keegoisan jika nanti aku memintamu untuk memberikan hatimu juga untukku? Aku hanya tak ingin cinta itu nanti hanya berjalan sebelah pihak dan membuatku sakit."


Dita memandangi wajah tampan suaminya yang sedang tertidur pulas. Ia sentuh bulu mata panjang dan lentik, hidung mancung, dan bibir merah suaminya.


"Kenapa belum tidur? Apa sesuka itu kau dengan wajah tampanku ini?." Romi terbangun karena aktifitas Dita. Dita jadi salah tingkah. Ditarik tubuh Dita mendekat dan ia jatuhkan di dada bidangnya.

__ADS_1


"Tidurlah. Sebelum aku melakukan hal macam-macam."


"Hey ingat aku ini sedang menstruasi. Mana boleh seperti itu." Dita protes dalam hati. Ia hanya bisa menuruti sebelum perkataan suaminya benar-benar terjadi.


***


Pagi itu Dita bangun lebih dulu. Ia sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Menyiapkan pakaian kerja suaminya, setelan kemeja hitam, dasi abu-abu bercorak, dan jas hijam.


"Sayang ayo bangun, nanti kesiangan." Dita dengan semangat membangunkan suaminya.


"Aku sudah siapkan air hangat untukmu." Romi terheran melihat perubahan sikap istrinya pagi ini.


Romi dengan malas menuju kamar mandi.


"Apa dia salah makan sesuatu? Atau wanita yang sedang menstruasi memang begini sikapnya? Tapi dari yang aku dengar wanita yang menstruasi justru malah jadi galak dan menyebalkan." Romi masih keheranan dengan perubahan sikap Dita yang begitu ceria pagi ini.


"Huh...Bertahanlah. Kau pasti bisa melakukannya. Ini baru permulaan, jangan mudah menyerah." Dita yang juga tak biasa bersikap lebih aktif merasa gugup.


***


Di meja makan semua orang sudah berkumpul. Dita sengaja turun lebih awal untuk menyiapkan langsung sarapan untuk suaminya.


"Ayo cepat dimakan nanti terlambat ke kantornya." Dita menuangkan teh hangat ke dalam cangkir untuk dinikmati suaminya.


Semua orang merasa sedikit tidak terbiasa dengan perubahan sikap Dita. Jinny, ayah, dan Romi mungkin merasa senang. Namun sepertinya berbeda dengan ibu.


"Apa adik ipar mau juga aku tuangkan tehnya?." Dita tersenyum dibuat-buat.


"Hahahah...Tidak perlu kakak ipar. Aku tidak suka teh." Jinny sengaja menggoda kakak iparnya.


"Aaa...Maaf kalau begitu." Kini Dita memilih berdiam diri sambil melanjutkan sarapannya.


Romi yang melihat tingkah Dita pagi itu tersenyum di dalam hati.


"Kenapa tak dari dulu sikapmu begini."


***


"Kakak ipar, apa kakak ipar benar-benar mendengarkan perkataannku semalam?." Jinny langsung menarik tangan Dita sehabis sarapan dengan semangat.


"Haha...Aku rasa omonganmu tidak sepenuhnya salah. Aku pergi ke kantor dulu ya, nanti telat." Dita ingin cepat-cepat kabur sebelum ia diintrogasi lebih jauh.


"Hahahahha...Kenapa tingkahnya jadi lucu begini sih. Dasar si polos." Jinny senang sekaligus gemas dengan tingkah kakak iparnya.


***

__ADS_1


Di kantor Dita sudah memulai aktifitasnya seperti biasa.


"Dit, makan siang di mana?" Nisa menghampiri meja Dita begitu jam makan siang tiba.


"Di kantin aja yuk." Mereka berjalan beriringan menuju kantin.


"Nis, gue mau tanya ama lo boleh?."


"Ya bolehlah, apa sih yang engga buat lo. Eh tapi sebelum lo nanya, gue mau nanya dulu. Kemarin emang lo kemana kok sekertaris itu nanyain lo ke gue sih." Nisa penasaran.


"Hahah...Kok lo malah balik nanya duluan sih. Tapi gapapa deh pertanyaan gue ada kaitannya ama kejadian kemarin." Dita akhirnya menceritakan kejadian menghebohkan kemarin.


"Astaga, Lo ini bener-bener ya." Nisa sama gemasnya dengan Jinny setelah mendengar cerita Dita.


"Emang gue kenapa. Kok lo sama ama adik ipar gue sih. Jangan bilang lo mau bilang kalo gue bodoh!."


"Nah itu lo tau. Ga usah gue bilang juga udah jelas. Sekarang gue bilangin ya. Mana ada orang yang ga cinta tapi udah nidurin lo berkali-kali." Sangking gemasnya Nisa bicara blak-blakan.


"Hus...Lo ini kalo ngomong suka ga disaring deh. Ga enak kalo ada yang denger." Dita melihat ke sekeliling takut ada yang mendengar obrolan vulgar mereka.


"Kan namanya laki-laki bisa aja karena nafsu doang." Dita masih bertahan dengan pemikirannya.


"Terus lo ngelakuinnya pake nafsu juga berarti?." Nisa membalikkan keadaan.


Dita seketika terdiam.


"Yaa...Yaa...Ga gitu juga, Nis. Ehm..." Dita mendadak gugup.


"Terus?." Nisa terdengar seperti sedang mencecar.


"Gue...gue..Ga tau sama perasaan gue sendiri, Nis."


"Dit, kalo gue boleh kasih saran. Lo harus bisa lebih terbuka sama perasaan lo, dan jangan suka neting. Nih ya gue kasih tau, apa yang dibilang ama adik ipar lo itu gue setuju. Kalo lo mikir suami lo pengen punya anak karena ibu mertua lo jelas lo salah. Kalo bukan karena itu menurut lo kita-kira karena apa?. Ya jelas karena doi yang pengen sendiri punya anak dari lo, yang artinya ga mungkin doi mau punya anak kalo ga ada rasa sayang dan cinta. Sampe sini bisa diterima sama pemikiran lo yang suka neting itu?." Nisa mencoba membuka pemikiran Dita.


"Sejujurnya gue juga sedang buka perasaan gue buat dia, dan mencoba nerima apa yang adik ipar dan yang lo bilang. Mudah-mudahan gue ga akan kecewa dan sakit." Terselip nada takut dan pasrah dari ucapan Dita.


"Gue cuma kasih pemikiran yang sekiranya masuk akal. Semoga semua sesuai dengan yang kita harapkan. Gue cuma pengen lo nemuin kebahagiaan lo, Dit." Tulusnya pertemanan Nisa sangat bisa dirasakan oleh Dita.


"Gue akan coba. Doain gue ya." Dita memeluk Dita lagi-lagi dengan mata berkaca-kaca.


"Udah ah, jangan cengeng." Nisa menggoda Dita yang kini memang sering melow.


"Ini karena gue lagi dapet aja." Dita berdalih.


"Iya deh iya." Siang itu mereka hanya sempat membeli cemilan karena jam makan siang keburu berakhir.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2