
***
Sehari sebelum acara reuni, Dita kembali meminta ijin dari suaminya. Kala itu ia sempatkan untuk mampir ke kantor suaminya untuk makan siang sekaligus mencari cela untuk mengantongi ijin dari Romi.
"Sayang apa ada sesuatu yang ingin aku belikan?." Dita melakukan panggilan telepon sambil mengemudi.
"Hmmm...Apa ya?." Romi sok berpikir.
"Ihh...Ya sudah kalau tidak ada yang mau dibeli jangan kelamaan mikirnya." Dita jadi tak konsentrasi mengemudi dan hampir menerobos lampu merah. Terdenhar suara klakson mobil.
"Sayang apa kau sedang menyetir?." Romi tak tahu kalau saat ini Dita sudah dalam perjalanan.
"Eh...Iya sayang." Dita merasa terpergoki.
"Kau ini apa-apaan, mana boleh menelepon sambil menyetir. Sudah matikan saja dulu teleponnya." Romi termasuk orang yang disiplin saat berkendara.
"Aduh, bodoh sekali kau Dita. Siap-siap nanti kena omel." Dita melanjutkan kemudinya. Karena tak sempat menerima request dari Romi, akhirnya Dita mampir membeli kue di toko yang sebelumnya pernah ia beli.
***
__ADS_1
"Apa kau tidak apa-apa?." Romi langsung menghampiri Dita, memeriksa dari kepala hingga kaki, memastikan tidak ada yang luka.
"Tentu saja tidak, sayang. Tadi hanya klakson dari pengemudi lain." Dita berbohong mencari keselamatan.
"Awas kalau sampai diulangi. Jangan pernah menelpon ketika mengemudi."
"Baik, tuan muda..." Dita menarik suaminya untuk segera menyantap makan siang.
"Ayo kita makan, aku sudah sangat lapar." Dita menuju meja yang sudah berjejer beberapa menu makanan.
"Apa tidak mau makan kuenya dulu?." Romi mengingat bahwa sebelumnya Dita makan kue yang dibeli sangat banyak. Dan kali ini ia ingin ikut makan agar tak mengecewakan istrinya seperti sebelumnya.
"Lalu kenapa dibeli kalau tak ingin makan?."
"Aku kan membelinya untukmu. Kalau tidak mau yasudah, biar nanti aku berikan ke Bima saja." Dita sudah mulai memindahkan beberapa makanan ke dalam piringnya.
"Enak saja. Siapa yang bilang tidak mau?." Romi langsung membuka kotak kue dan mulai menyendokkan kue ke dalam mulutnya. Ia bergidik karena kue yang ia makan masih terasa dingin.
"Habiskan ya kalau begitu. Aku sepertinya benar-benar tidak akan memakannya." Dita merasa senang karena kue pembeliannya dimakan oleh suaminya.
__ADS_1
"Apa kau mau kalau badan suamimu ini menjadi melar?."
"Sepertinya bukan aku yang tidak mau, tapi suamiku sendiri yang akan risih kalau badannya melar. Hahaaha..." Romi mencubit dan menggelitiki pinggang Dita.
"Sayang, geli. Hentikan, nanti aku bisa tersedak." Romi seketika berhenti menggelitiki istrinya begitu sadar telah membuat istrinya berisiko tersedak.
"Maafkan aku, maafkan." Romi saat ini jadi mudah sekali untuk mengucapkan maaf. Romi menepuk-nepuk punggung Dita yang sebenarnya tidak sedang tersedak.
***
"Haaaaah...Kenyang sekali." Dita mengelus-elus perutnya yang kekenyangan, sambil menyandarkan kepalanya di bahu Romi.
"Sayang. Apa besok aku boleh datang ke acara reuni?." Kini tangannya merangkul lengan atas tangan kiri Romi.
"Lihat...lihat kelakuannya kalau sedang ada maunya. Kembali sebelum jam sepuluh malam." Romi sedikit banyak terpengaruh dengan perilaku Dita yang menyenangkannya hari ini.
"Waaah...Suamiku memang yang paling baik." Dita semakin mengeratkan pelukannya. Romi masih pura-pura jual mahal.
"Aku janji akan pulang tepat waktu." Satu kecupan mendarat di pipi kiri Romi sebelum Dita buru-buru kembali ke kantornya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa menahannya kalau perilakunya manis begini." Romi merasa berat untuk mengikuti saran yang diberikan oleh dokter Nina.