
"Tolong, tuan." Dita berteriak berkali-kali dalam tidurnya, keringat bercucuran dari kedua pelipisnya. Ia terbangun dengan napas tersengal. Adegan kecelakaan yang ia alami beberapa hari lalu kembali datang ke dalam mimpinya, ia mulai mengingat-ingat kejadian, sejak mobilnya terlempar ke bahu jalan hingga ia melihat dalam bayangan sosok laki-laki menolongnya.
"Siapa laki-laki itu, apakah dia yang menolongku? Apakah dia adalah keluarga yang dimaksud oleh suster?" Dita berusaha mengingat dan meyakinkan apa yang ada dalam pikirannya.
Sudah hampir dua hari ini ia berada dalam ruang rawat inap, sendiri tanpa ada yang menjenguk. Bahkan mungkin tidak ada yang tau dengan keadaanya saat ini, karena sejak kejadian itu ia sama sekali tidak bisa menghubungi siapapun. Lagi pula, mungkin tak akan banyak yang khawatir dengan kondisinya saat ini.
Dita yang sudah sangat membaik dibandingkan hari pertama ia dirawat, menanyakan kepada perawat tentang waktu kepulangannya. "Apakah saya sudah diijinkan pulang hari ini?."
"Maaf nona, nona hanya boleh pulang setelah mendapat persetujuan dari keluarga nona?" Perawat yang sedang mengganti cairan infus itu menjawab dengan ramah.
"Maaf apakah saya boleh bertanya, keluarga yang anda maksud sejak kemarin itu siapa? Karena sampai sekarang saya belum bertemu dengannya?." Dita bertanya untuk menjawab rasa penasarannya.
"Tuan muda tampan yang kemarin membawa nona kemarin, bukankah itu keluarga nona?. Beliau berpesan mungkin baru bisa berkunjung kemari nanti sore karena sedang ada yang diurus. Apakah tuan muda tampan itu masih single?." Sang perawat bertanya balik dengan muka merah malu-malu.
"Oh, iya. Terimakasih atas informasinya." Dita bingung menanggapi.
"Ahh, apa aku harus prolonge shift supaya nanti sore bisa bertemu dengan tuan tampan itu ya." Melanjutkan obrolannya tanpa malu-malu kali ini. "Ah, maaf nona atas ketidaksopanan saya. Kalau sudah tidak ada yang bisa saya bantu, saya pamit dulu." Perawat tersebut pamit undur diri dengan tergesa setelah sadar kalau ucapannya barusan sangat memalukan.
Dita semakin penasaran dengan sosok yang diceritakan perawat tadi. "Siapa tuan muda yang dimaksud? Keluargku?." Gumamnya dalam hati
----------------------------------------
"Tuan, berdasarkan laporan dari rumah sakit saat ini kondisi nona Dita sudah sangat membaik. Sudah diijinkan pulang. Rencananya hari ini saya akan ke rumah sakit, apakah tuan akan ikut?" Bima memberikan laporan berkala mengenai perkembangan Dita.
"Untuk apa aku ikut kau ke rumah sakit. Memangnya dia siapa sehingga aku harus menjenguknya?." Romi menatap Bima dengan wajah kesal.
__ADS_1
"Maaf tuan atas kelancangan saya." Bima berani bertanya demikian karena ia melihat sisi ketertarikan Romi terhadap wanita yang mereka tolong malam itu.
"Sepulang dari rumah sakit bawa dia ke hotel. Untuk memulai berhitung apa saja yang perlu ia bayar." Perintah Romi langsung diterima oleh Bima.
---------------------------------
Adit dan Riana baru saja melangsungkan pernikahan mereka. Pernikahan mereka mendadak digelar karena tanpa mereka sadari Riana sudah mengandung selama tiga setengah bulan. Terkutuk sekali perbuatan mereka. Pantas saja Riana selalu menolak saat diajak berhubungan badan oleh Romi, salah satu alasannya ternyata karena ia sudah tidak perawan lagi.
Kabar pernikahan dan kehamilan mereka sudah terdengar oleh Jinny. Menanggapi berita tersebut Jinny kembali berang, padahal luka yang terbentuk sudah hampir sembuh, ia sudah berusaha seratus persen move on.
"Sialan. Betapa bodohnya aku dulu, Bu. Bisa-bisanya aku tertipu oleh lelaki brengsek seperti Adit. Beruntung dulu aku menolak ajakan menikahnya. Lihat sajs apa yang akan kakak perbuat terhadap hidup kalian setelah tahu berita ini." Ia menceritakan kelakuan Adit dan Riana kepada ibu dengan menggebu-gebu.
"Jangan kau ceritakan pada kakakmu, nak. Lukanya yang belum sembuh mungkin akan bertambah parah. Cukup kita saja yang tau masalah ini. Karena ibu yakin kalau kau selama ini memang tidak terlalu serius terhadap Adit, sehingga tidak akan sesakit kakakmu." Ibu berusaha sebijak mungkin, ia tahu betul karakter Romi. Sekali sakit akan sangat sulit untuk memaafkan, bahkan bisa berubah menjadi monster. Sebaliknya, ia juga bisa sebaik malaikat bila ia bertemu dengan orang yang baik dan tulus kepadanya.
Jinny terdiam mendengar nasihat ibu, ia bingung. Ia sudah terlanjur mengirim pesan kepada kakaknya. Pesan berupa foto resepsi pernikahan Adit dan Riana, beserta foto saat Riana di rumah sakit memeriksakan kandungannya. "Baik, bu." Jawaban singkat Jinny dengan unsur kebohongan.
Bima yang menyaksikan tuan muda yang sedang terdiam di kursi kerjanya dengan tatapan kebecian tak berani bertindak apa-apa, ia hanya bisa menunggu sampai amarah tuannya sedikit mereda. Ia bisa menebak apa yang terjadi, karena ia mendapat pesan yang sama dari Jinny.
Tak lama dari itu, Romi yang masih dengan tampang mengerikan beranjak dari duduknya. "Segera bawa gadis itu. Dia yang harus bertanggung jawab atas semua kejadian brengsek yang kualami beberapa bulan terakhir." Perintah Romi membuat Bima bingung. Siapa gadis yang dimaksud Romi, Riana atau Dita?
"Maaf tuan. Gadis yang tuan maksud apakah nona Riana atau..?" Bima belum selesai dengan kata-katanya namun sudah dipotong.
"Apa otakmu sudah tidak bisa digunakan? Aku sudah pernah bilang aku sudah tak sudi melihat wajah wanita menjijikkan itu, aku rasa aku sudah terlalu ringan memberinya hukuman. Setelah ini kau pastikan ia pergi dari kota ini. Dan apa kau sudah lupa gadis yang ingin kau jodohkan denganku dulu adalah yang paling punya andil dengan semua kekacauan ini. Andai dia tidak mengingkari janji hari itu, aku pasti tidak akan menikah dengan wanita licik itu." Penjelasan panjang lebar dari Romi segera ditangkap oleh Bima.
"Baik tuan, maafkan atas kebodohan saya." Bima segera mengekor saat Romi ke luar ruangan.
__ADS_1
"Kau memang bodoh." Jawab Romi ketus.
--------------------------------------
Usai mengantar tuan mudanya, Bima bergegas menuju rumah sakit untuk memenuhi perintah Romi.
Terdengar langkah kaki menuju kamar rawat inap Dita. Dita yang sudah penasaran sejak pagi agak gugup saat gagang pintu ditarik, ia menatap wajah lelaki yang baru saja memasuki kamarnya. "Siapa dia? Aku tidak mengenalnya, tapi kenapa wajahnya seperti tidak asing?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
"Selamat sore nona, saya datang untuk menjemput nona." Bima langsung ke inti dari kedatangannya, tanpa basa-basi bahkan tanpa memperkenalkan diri.
"Maaf anda siapa sehingga saya harus ikut bersama anda?." Dita kesal dengan perlakuan Bima barusan. "Aku tidak terbiasa berbicara dengan orang asing." Lanjutnya.
Seperti tahu maksud perkataan Dita barusan, "Perkenalkan saya Bima. Saya menjalankan perintah tuan muda untuk membawa nona." Bima memperkenalkan diri.
"Siapa lagi tuan muda yang anda maksud? Siapa dia sehingga aku harus ikut dengannya." Ketus Dita masih tak mau terima dengan penjelasan yang ia dapat.
"Nanti nona akan tahu." Tanpa basa-basi lagi Bima meminta dua pengawal untuk membawa Dita ke mobil dan segera menuju hotel.
"Lepaskan aku. Tolooong." Dita berusaha memberontak, namun tenaganya kalah jauh dibandingan dengan dua pengawal yang menggiringnya.
"Tolong kerjasamanya nona, saat ini yang bisa menolong nona adalah diri nona sendiri." Ancam Bima. Orang yang melihat kejadian itu tidak ada yang berani menolong Dita, karena mereka akhirnya tahu siapa orang yang kemarin mengaku sebagai keluarga Dita, Presdir Perusahaan Ekadarma.
-----------------------------------------------
"Akhirnya kau di sini." Suara Romi menggema dengan seringai mengerikan. Dita yang baru saja tiba di hotel merinding sekaligus bingung mendengar ucapan Romi barusan.
__ADS_1
"Siapa lagi dia?. Oh, Tuhan...tolong selamat aku lagi kali ini." Doa terucap dalam hati Dita.
Bersambung...