LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
AMARAH DAN PERPISAHAN


__ADS_3

"Bugh...". Suara keras tercipta dari dinding yang ditinju oleh tangan kanan Romi. Matanya nampak merah, menahan amarah. Darah bercucuran dari tangan yang masih menempel pada dinding Kafe, rahang mengetat, pandangan mata seperti hendak menelan dua insan yang sedang menjadi objek pemandangannya.


Tanpa sepatah kata Romi meninggalkan Kafe dengan perasaan tak karuan. Bima hanya bisa membuntuti dengan perasaan yang lebih kurang sama dengan yang dirasakan tuan muda. Seketika Bima merasa seperti disambar petir, bisa-bisanya ia membuat hal memalukan ini bisa terjadi. Ia merasa gagal menjadi asisten kepercayaan Romi, ia dengan cerobohnya bisa melewatkan hal penting seperti ini. Hal tak disangka-sangka dilakukan oleh istri tuan mudanya, dan hal itu luput dari pengawasannya. Ia bersumpah tidak akan memaafkan dirinya sendiri atas kejadian ini. Sebelum meninggalkan Kafe, Bima sempatkan mengambil beberapa gambar sebagai barang bukti yang bisa dipakai bila istri tuan muda mengelak dengan kejadian barusan.


-----------------------------------


Sesampainya di mobil, Romi kembali mengeluarkan amarahnya dengan menendang mobilnya hingga ia jatuh berlutut dengan kedua lututnya. Melihat pemandangan tersebut, Bima hanya bisa tertegun, merasa hatinya teriris seolah ikut merasakan apa yang dirasakan Romi. Mereka bertahan dengan posisi masing-masing lebih kurang tiga puluh menit untuk kemudian meninggalkan kafe. Malam itu Bima mengantar tuan muda ke salah satu hotel milik Perusahaan Ekadarma, karena tidak memungkinkan tuan mudanya pulang dan bertemu dengan istrinya yang sudah membuat tuan muda hancur sehancur-hancurnya.


Riana tiba di rumah pukul sembilan malam. "Romi belum pulang." Berkata pada diri sendiri ketika tidak mendapati suaminya di kamar mereka. Bergegas membersihkan diri dan bersiap untuk tidur. Tak lama setelah merebahkan tubuhnya di kasur, Riana pun tertidur. Berbeda jauh dengan seseorang yang sedang berada sendirian di kamar hotel. Gelisah dan sulit memejamkan mata, beberapa kali mendesah untuk mengurangi amarahnya. Setelah nampak cukup bisa menguasai dirinya, Romi meraih ponselnya untuk menghubungi Bima. Tak lama Bima tiba di kamar terbaik di hotel ini.


"Apa yang bisa saya bantu, Tuan?" Sangat jelas wajah penuh rasa bersalah di wajah Bima yang ditangkap oleh Romi.


"Kau tak perlu merasa bersalah atas kejadian ini. Karena dari awal memang salahku yang tidak ingin melibatkanmu dalam urusan rumah tanggaku." Bima masih tertunduk mendengar ucapan Romi. Romi mengingat dulu dia pernah meminta Bima untuk tidak perlu ikut campur perihal kencan sampai dengan urusan pernikahannya.

__ADS_1


"Tidak, tuan. Ini semua salah saya yang lalai dalam mengawasi pergerakan nona. Saya pastikan ke depan tidak akan ada yang bisa menyakiti, Tuan. Kali ini ijinkan saya untuk menyelesaikan urusan ini. " Bima masih belum berani menatap tuan mudanya.


Dari obrolan singkat malam itu Bima tahu apa yang harus ia lakukan untuk menyelesaikan kekacauan ini. Bima langsung menghubungi seseorang untuk megumpulkan bukti-bukti perselingkuhan Riana selama ini. Hari-harinya belum akan tenang sampai masalah ini selesai.


----------------------------


Hari telah berganti menjadi pagi, Riana bangun seperti biasa, merasa seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Saat bangun ia tidak mendapati sang suami yang biasanya masih terlelap di sampingnya. Romi tidak pulang pikirnya, tapi sedikit aneh karena hari ini adalah hari libur. Biasanya di hari libur Romi selalu berada di rumah, meski tak banyak yang mereka lakukan bersama selama hari libur, bahkan tak jarang mereka malah masih bergelut dengan pekerjaan masing-masing.


"Romi mana, nak." Ibu merasa heran pagi ini Riana seorang diri keluar dari kamar.


"Coba sering diingatkan lagi suamimu supaya jangan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Kalian harus bisa bagi waktu, jangan terlena. Ibu tidak mau kejadian ibu dan ayah dulu terulang pada anak-anak ibu." Ibu terlihat sedih saat mengingat masa-masa sulit yang ia lalui bersama suaminya dulu.


"Baik, bu. Kami akan berusaha lebih lagi untuk saling berbagi waktu. Mohon maaf ya bu, belum bisa memenuhi keinginan ibu." Riana kembali teringat dengan ucapan Romi mengenai tujuan ia menikahi Riana, yang sampai saat ini belum bisa mereka wujudkan. Yaitu memberi ibu seorang cucu.

__ADS_1


"Tidak usah terlalu dipikirkan, takut malah jadi beban kalian. Semua pasti akan ada saatnya. Kalau dalam waktu dekat kau sudah hamil berarti itu suatu bonus kebahagiaan untuk keluarga ini." Ibu berusaha bijak, namun tetap tampak jelas di nada bicaranya harapan seorang nenek untuk segera menimang cucu.


"Terimakasih, bu." Sarapan hari itu akhirnya selesai. Meja makan terasa sepi karena Jinny dan ayah sedang olahraga pagi bersama.


-----------------------


"Maaf tuan, saya membawa berita yang mungkin akan tidak mengenakkan bagi tuan." Bima menyerahkan sebundel berkas dalam amplop berwarna cokelat.


Romi membuka dan membaca satu persatu dengan serius berkas yang ia terima. Sorot matanya seperti hendak membakar kertas-kertas itu, pandangannya tak bisa lepas sedikitpun dari berkas satu ke berkas lainnya, hingga akhirnya ia menghamburkan berkas yang ia pegang setelah selesai membaca berkas terakhir. Seketika adegan panas istrinya dengan seorang laki-laki saat di kafe semalam kembali terbayang. Betapa bodohnya ia selama ini pikirnya. Dalam sekejap usaha yang ia kerjakan selama ini hancur, usaha menjadi suami yang lebih manusiawi. Ia bahkan mengabsen satu persatu apa saja yang sudah ia lakukan untuk istrinya, seketika ia menjadi manusia paling perhitungan. Ia mengingat mulai dari awal pertemuan dengan Riana. Memulai suatu hubungan yang baginya sangat tidak mudah, meluangkan waktu satu kali seminggu untuk mengakrabkan diri, bahkan di setiap kesempatan ia selalu menjemput istri yang mungkin sebentar lagi akan berstatus mantan istri. Pertama kali mencoba tidur satu ranjang dengan seorang wanita yang saat itu masih terasa asing, bahkan saling berbagi selimut. Memberikan bantuan agar usaha istrinya maju, memberi kebebasan istrinya untuk tetap berkarir dan tidak membatasi pergaulannya. Mungkin ini salah satu kesalahan terbesarnya, terlalu mempercayai orang yang baru dikenal. Yang tak kalah menyedihkannya adalah Romi sudah menyiapkan acara bulan madu yang ia janjikan pada Riana dulu. Bulan madu yang sudah ia siapkan sedemikian rupa setelah proyek barunya selesai, yaitu minggu depan. Bayangkan bagaimana hancurnya perasaan Romi! Sakit dan berdarah.


Semua tidak bisa disesali, sudah terlanjur terjadi, hancur. Saat ini yang ia pikirkan hanyalah tidak ingin melihat wajah istrinya, Romi memutuskan untuk tinggal di hotel sampai persidangan cerai mereka selesai. Bima akan mulai mengurus berkas dan proses persidangan cerai esok hari, sesegera mungkin.


Riana masih setia menunggu kepulangan sang suami tanpa mengetahui apa yang sudah, sedang, dan akan terjadi dalam hidupnya...

__ADS_1


-------------------------


Bersambung...


__ADS_2