
Dita seakan tak memercayai apa yang barusan ia dengar.
"Baa..baik, Tuan." Dita terpaksa mengiyakan. Ia tahu Romi tak suka jika perintahnya diabaikan apalagi ditolak.
"Kau mau kemana? Mau kabur?" Romi mencegah langkah Dita begitu hendak mengambil peralatan tidurnya di sofa
"Saya akan mengambil bantal dan selimut saya di sofa, Tuan." Dita meluruskan tuduhan Romi. "Mana mungkin aku berani untuk kabur, Tuan."
"Segera naik!." Romi mencegah niat Dita. Sejak malam menginap di kamar sempit Dita, Romi sudah memutuskan tidur satu ranjang dengan istrinya untuk malam-malam berikutnya. Salah satu alasannya adalah Romi ingin memastikan Dita tidak akan terbangun tengah malam, kemudian pindah tidur di ruang TV karena tak berani menyalakan lampu kamar.
Romi sudah meminta pelayan untuk mengatur tempat tidurnya agar bisa digunakan oleh dua orang. Semua disiapkan sesuai instruksi, bantal guling dua buah, bantal kepala dua buah, dan selimut satu buah. Romi memutuskan untuk tidur di satu ranjang dalam satu selimut.
"Baik, tuan." Dita lagi-lagi tak bisa menolak. Segera ia naik ke atas kasur. Kasur yang ia tempati saat ini sangat berbeda dengan kasur sempit nan usang di kamarnya yang dulu, bahkan jauh lebih nyaman dibanding sofa mewah yang selama ini ia jadikan tempat tidur.
"Apa kau ini batu? Apa kau bahkan tidak bernapas?". Romi mencela Dita yang sejak naik ke kasur memang sama sekali tak bergerak, tak mengeluarkan suara. Suara napasnya pun tak terdengar oleh telinga Romi.
"Apa kau tidak kedinginan? Pakai selimutnya!". Dita yang masih tetap tak bergerak membuat Romi kasihan, bibirnya hampir membiru karena kedinginan. Ia tak berani menarik selimut, padahal udara malam ini sangat dingin karena hujan turun sejak tadi sore.
__ADS_1
"Terimakasih, Tuan." Akhirnya Dita beringsut dan menarik selimut. "*Hmm nyaman sekali". *Tubuhnya mulai merasakan nyaman ketika selimut mencegah udara dingin masuk ke kulitnya.
***
Malam itu Romi memulai kembali pekerjaannya meskipun tubuhnya masih sedikit lelah. Projek yang iya kerjakan sedikit lagi selesai. Tidak seperti biasanya, malam itu Romi mengerjakan tugasnya bukan di ruang kerja. Ia membawa laptop dari ruang kerja ke kamarnya, agar bisa mengerjakan sambil bersandar di ranjangnya. Sepertinya mulai malam ini ruang kerjanya akan pindah ke atas ranjang.
Dita yang malam itu agak sulit memejamkan mata memilih memainkan ponsel untuk mengurangi kecanggungannya. Beberapa kali ia nampak tertawa kecil ketika mendapati pesan dari Nisa dan membaca komentar-komentar di sosial medianya.
Romi sesekali memperhatikan tingkah istrinya itu. "Siapa yang membuatnya bisa sebahagia itu? Tawanya bahkan tak pernah ia tujukan untukku, mukanya bahkan selalu terlihat seperti orang yang tertindas"
***
Romi yang sebenarnya sejak tadi menahan kantuk langsung mematikan lampu kamar begitu ia tahu Dita telah terlelap. Sejak tadi ia sengaja menahan kantuk sampai istrinya itu tertidur, ia tak akan bisa tidur jika lampu masih menyala. Sedangkan Dita tak akan bisa tidur jika ia mematikan lampu. Sehingga malam itu ia memutuskan untuk mengalah.
"Apa-apaan ini?". Romi kesal begitu mendapati adanya bantal guling yang menjadi pemisah antara ia dan istrinya. Ia menyesal meminta pelayan menyiapkan dua bantal guling di kamarnya. Ia singkirkan benda menyebalkan itu hingga jatuh ke lantai kamar, teronggok begitu saja. Ketika bantal guling yang menjadi penyangga tubuhnya hilang, kini Dita mengubah posisinya dari sedikit miring ke kanan menjadi menghadap ke kiri.
"Kenapa kau malah tidur membelakangi suamimu?. Tidak sopan sekali." Kali ini Romi agak meninggikan suaranya, kesal. Romi yang tak terima dipunggungi oleh istrinya, kini membalikkan tubuh Dita agar menghadap ke kanan.
__ADS_1
Kini Dita sudah berada dalam pelukan Romi. Sepertinya memeluk Dita menjadi hobi baru bagi Romi. Entah mengapa sejak malam menginap itu, Romi selalu merindukan pelukan istrinya.
Romi menyingkirkan rambut yang menghalangi wajah Dita. Dita menyingkirkan tangan Romi dari wajahnya.
"Hei kau! Jangan ganggu tidurku! Apa kau tak bisa sedetikpun membiarkanku tenang. Dasar tuan suka-suka !. Hahaha..." Dita mengatai Romi.
"Hei kau! Beraninya kau..." Romi hendak marah saat Dita sedikit meneriakinya. Namun ia urungkan niatnya karena Romi menyadari ternyata Dita hanya meracau dalam mimpi, karena matanya masih terpejam ketika ia merutuki suaminya itu.
"Haha...Apa senyaman itu tidurmu hingga melantur begini." Romi malah balik gemas melihat kelakuan istrinya itu.
"Hmm...Ternyata tubuh suamiku ini harum dan nyaman ya. Coba saja dia tak menyebalkan, galak, dan dingin. Hmm..." Dita kali ini masih meracau, ia selipkan kepalanya di dada bidang Romi, dan memeluk pinggang suaminya itu. Entah apa yang membuat Dita meracau seperti itu malam ini, apa karena tidur di kasur empuk? Apa karena udara malam yang dingin? Atau karena pelukan hangat suaminya?
Romi makin melebarkan senyumnya begitu mendengar pujian dari Dita, meski terselip cacian juga. Semakin ia eratkan pelukannya.
"Aku akan menjadi suami yang paling kau cintai, meski aku harus memaksamu. Lihat saja, aku akan membuatmu tak akan bisa lepas dariku." Romi akhirnya memilih memejamkan matanya yang memang sudah berat. Kombinasi hujan rintik dan pelukan istri membuat tidurnya makin lelap, mungkin saja ia akan bergabung dalam mimpi Dita malam ini.
Sejak mengucap janji suci pernikahan, sesungguhnya Romi sudah bersumpah akan menjaga pernikahan mereka apapun yang terjadi. Kegagalan pernikahan pertama yang menyakitkan membuatnya bertekad untuk membuat pernikahan keduanya berbeda dan bahagia bersama cinta pada pandangan pertamanya.
__ADS_1
Bersambung...