
Bima telah mengerahkan beberapa orang untuk membantunya menemukan nona muda. Bima sempat menghubungi Nisa. Nisa mengatakan bahwa sejak pamit makan siang Dita tak kembali lagi ke tempat kerjanya.
Romi yang masih ketar-ketir dalam hati bolak-balik memeriksa ponselnya untuk memastikan kabar terbaru dari Bima.
***
Di tempat lain, Dita kini berada di atas sebuah sofa panjang, berselimutkan kain tipis. Dinginnya angin malam mampu menembus kain yang ia kenakan.
Matanya masih belum terpejam, pikirannya masih malayang-layang. Ia sulit menentukan langkah apa yang sebaiknya ia ambil, keadaannya serba mendadak dan tak menyenangkan. Momen bahagia siang tadi bersama suaminya sepersekian detik menghilang tak berbekas, yang kini ada hanyalah luka yang menganga, PERIH.
Terlalu lelah dengan peristiwa hari ini membuat tubuh Dita akhirnya menyerah. Ia sudah terlelap dalah remang malam dengan tes pack berada dalam genggamannya.
***
Sudah lewat tengah malam Romi belum mendapatkan kabar baik. Pelacakan ponsel Dita mengalami kendala karena cuaca kurang bagus karena hujan.
Romi semakin gelisah akhirnya memutuskan untuk ikut Bima langsung mencari istrinya.
"Apa anak buahmu tidak ada yang bisa kau andalkan?." Romi langsung mengomeli Bima begitu ia memasuki mobil.
"Maafkan saya tuan. Barusan saya mendapatkan info keberadaan nona." Kabar baik dari Bima mengehentikan kekesalan Romi.
"Cepat jalan!." Romi sudah tak sabar ingin menemui istrinya.
***
"Hey...Bangun!." Begitu tiba di kantor Dita, Romi langsung menggoyangkan tubuh Dita agak kasar karena rasa kesalnya masih belum hilang. Dita yang terlalu lelah karena menangis seharian tak memberikan respon.
Ia pandangi tubuh kecil istrinya meringkuk kedinginan. Rasa kasihan dan kesal bercampur menjadi satu. Ingin segera ia dekap tubuh menggemaskan itu namun masih terlalu gengsi. Saat ini ia masih marah karena Dita menghilang begitu saja tanpa kabar.
Dita benar-benar tertidur lelap, ia sama sekali tak menyadari keberadaan suaminya. Romi sekilas melihat benda yang ada di tangan Dita begitu ia hendak menggendong istrinya.
__ADS_1
"Benda apa ini?." Romi tak mengenali benda itu.
"Apa kau tau benda apa ini?." Romi menunjukkan kepada Bima.
"Saya rasa itu adalah alat tes kehamilan, Tuan." Bima juga agak ragu.
"Apa? Kenapa dia menggunakan benda semacam ini?." Romi masih menerka-nerka.
"Apa kau tahu maksud dari alat ini?." Romi menanyakan mengenai hasil dari tes nya.
"Sebentar, Tuan." Bima mengambil ponselnya dan melakukan pencarian di internet.
Dahinya berkerut ketika membandingkan apa yang dia baca di internet dengan hasil yang tertera di alat.
"Apa nona hamil, Tuan?." Bima menyimpulkan apa yang ia pelajari.
"Benarkah?." Romi seketika berbinar. Segera ia hampiri tubuh istrinya dan tanpa ragu mendekapnya. Dita masih tak memberi respon.
***
Mereka sudah berada di kamar hotel. Romi sudah mengganti baju Dita dengan pakaian tidur. Hari sudah menunjukkan pukul dua malam, Romi masih enggan menutup matanya. Ia masih asik memandangi wajah polos istrinya, mengelus dan menciumi perut Dita yang masih sangat rata.
Dita benar-benar seperti orang yang kehabisan energi. Ia sama sekali tak membuka matanya dari awal dipindahkan dari kantor hingga sampai di hotel. Beberapa kali Romi menjahilinya dengan menciumi pipi, tangan, bahkan bibirnya, sama sekali tak memberikan respon.
Dita akhirnya terbangun karena aktifitas Romi sudah sangat mengganggu tidurnya. Dita terkejut ketika mendapati dirinya sudah berpindah tempat. Seketika ia sadar bahwa ia sedang bersama suaminya. Kejadian tadi siang langsung terngiang di kepalanya dan membuat Dita langsung turun dari tempat tidur dan keluar kamar.
"Sayang, apa ada yang kau butuhkan?." Romi merasa heran kenapa istrinya tiba-tiba meninggalkan kamar. Romi kemudian mengekor ketika tidak mendapat respon dari Dita.
"Sayang." Romi kini sudah memeluk pinggang ramping Dita.
Dita terlalu bingung untuk merespon. Hatinya saat ini menjadi kosong. Tak tahu apa yang harus ia perbuat.
__ADS_1
"Sayang." Romi kini membalikkan tubuh Dita menghadap tubuhnya. Senyum lebar terpampang di wajahnya, berbeda dengan garis bibir Dita yang datar.
"Ada apa? Apa kau tidak ingin memberi tahuku berita bahagia?." Romi yang masih tak sadar dengan situasi memberi kode kepada Dita. Gemas tak mendapat jawaban kini Romi sudah hendak mendaratkan bibirnya di bibir Dita. Adegan tadi siang kembali merasuki kepala Dita, dan membuat Dita memalingkan wajahnya. Ciuman gagal.
Romi masih berusaha membaca situasi.
"Hey, kau kenapa sayang?." Kini Romi sudah bisa membaca sepertinya ada yang tidak beres.
Dita masih terdiam seribu bahasa dengan memalingkan wajahnya, tak ingin melihat wajah suaminya. Terlalu menyakitkan, bayangan adegan tadi siang akan menghampirinya ketika ia melihat wajah suaminya.
Romi raih wajah Dita agar menatap wajahnya, mendapat perlawanan dari Dita.
"Hey, kenapa kau jadi begini? Seharusnya kau bersyukur aku sudah memaaafkanmu atas perbuatan menghilangmu tadi. Kenapa kau menjadi bersikap aneh seperti ini? Jangan menguji kesabaranku!." Romi menjadi sedikit emosi karena mendapat penolakan kedua kali dari Dita
Tangan yang masih menempel di pipi Dita tiba-tiba basah. Lagi-lagi air mata Dita keluar tanpa ia ijinkan.
Romi yang mengetahui istrinya sedang menangis kini tak jadi marah.
"Sayang sebenarnya ada apa? Tolong jangan seperti ini. Apa yang terjadi sebenarnya? Tolong jelaskan padaku!. Kenapa seharian kau menghilang? Kenapa kau tidak langsung memberitahuku berita kehamilanmu? Kau tau kan aku sudah sangat menantikannya?." Romi menumpahkan apa yang ia rasakan saat ini.
Dita agak kaget mendengar kabar bahwa Romi telah mengetahui perihal kehamilannya. Dita benar-benar tak bisa berkata-kata.
"Tolong jangan menangis." Romi menarik Dita ke dalam pelukannya. Tangis Dita semakin menjadi dan kini membasahi dada Romi.
Dita yang tak ingin terlarut dalam perlakuan manis suaminya kini melepaskan pelukan dan segera berlari menuju kamar tamu dan mengunci pintu dari dalam. Kali ini Romi kalah cepat, ia tak berhasil menahan Dita mengunci pintu kamar.
"Sayang ada apa? Kenapa sikapmu berubah menjadi aneh begini? Apa ada orang yang menyakitimu?." Romi menggedor-gedor pintu dari luar.
"Ya, kaulah orang yang telah menyakitiku!." Dita tak dapat menghentikan tangisannya. Mulutnya terlalu berat untuk mengucap, tenaganya terlalu lemah untuk melawan, menghindar dan berlari seperti pengecut satu-satunya pilihan yang bisa ia ambil untuk saat ini.
Bima menyaksikan adegan drama rumah tangga tuan dan nona mudanya dari ruang tamu. Bima bisa bernapas lega, karena ia sudah memastikan bahwa harapannya tadi telah sesuai. Nona mudanya tidak pernah berhubungan dengan lelaki lain di luar urusan pekerjaan. Saat ini cuma ini yang bisa membuat Bima bisa tenang untuk sementara waktu. Ia tak tahu apa yang akan terjadi ke depannya setelah melihat adegan drama barusan. Ia kembali mengerahkan beberapa orang untuk mengetahui penyebab pasti terjadinya drama.
__ADS_1
Bersambung...