LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
MIMPI INDAH


__ADS_3

Kebiasaan tidur cepat yang dimiliki oleh Dita membuatnya langsung terlelap tak lama setelah naik ke atas kasur.


Romi yang masih setia dengan laptop dan pekerjaannya tak segera bergabung dengan Dita, tubuhnya masih seratus persen terjaga. Banyak faktor yang membuatnya sulit untuk memejamkan mata, kondisi kamar yang sempit, lampu yang terang benderang, dan wanita yang saat ini berada di sampingnya. Entah mengapa setiap berdekatan dengan Dita, dadanya dipenuhi getaran yg sulit diartikan dan kendalikan.


"Apa kau tidak kehabisan napas?". Romi menurunkan selimut yang tadinya sebatas hidung menjadi sebatas leher Dita.


"Lihat wajah tanpa dosanya." Romi mencibir dalam hati, kesal karena ia ditinggal tidur.


"Ternyata wajahmu begitu tenang saat tidur begini. Tapi mengapa saat melihatku seperti melihat hantu saja?." Ia pandangi wajah istrinya sambil ia usah-usap pipi dan hidung mungil Dita.


Romi mengambil ponsel dan bercermin dengan layar ponselnya. "Tak ada yang salah dengan wajahku. Bahkan orang lain banyak yang memujanya."


Puas dengan acara bercermin, Romi akhirnya memutuskan untuk membaringkan tubuhnya. Ia matikan lampu kamar, merebahkan badannya menghadap Dita yang saat ini dengan posisi terlentang. Masih memandangi wajah lembut istrinya.


"Apa boleh aku peluk?" Romi bertanya pada dirinya sendiri.


"Kenapa tidak boleh? Diakan istri sah ku." Ia jawab sendiri pertanyaannya.


"Aku pikir pelukan dariku adalah bonus untuknya. Hangatnya pelukanku akan membuatnya jauh dari mimpi buruk." Romi memposisikan Dita menghadap ke tubuhnya. Meletakkan kepala Dita ke lengan kirinya, memberikan tepukan kecil di punggung Dita.


"Lihat! Tubuhnya bahkan memberikan respon baik." Romi tersenyum cerah dalam remang-remang malam ketika tangan Dita refleks melingkar ke pinggang Romi.


"Tidurlah! Malam ini pasti kau akan mimpi indah." Kecupan kilat mendarat di bibir Dita sebelum Romi memutuskan untuk menyudahi aktifitasnya hari ini. Sebelum aktifitasnya menjadi sulit dikendalikan.


Mereka menjalani malam ini berdua berbagi kasur, berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Seperti perkataan Romi, Dita malam ini tidur ditemani mimpi indah, entah karena tidur di kamar ternyamannya atau karena tidur dalam pelukan nyaman sang suami.


------------------------------------------------------


Uap dari embun pagi ini membuat anak manusia malas untuk menyibakkan selimutnya. Dita dengan berat membuka mata kemudian menggeliat merengangkan badannya, mengumpulkan nyawa hingga menyadari bahwa pagi itu ia terbangun di atas kasur favoritnya. Ia toleh kasur kosong di sebelahnya.


"Kemana perginya si yang mulia raja?". Dita mencari keberadaan Romi.


Beranjak dari kasur menuju kamar mandi, tak ia temukan keberadaan suaminya.


Kakinya ia langkahkan ke luar kamar menuju ruang makan, ruang tamu, bahkan halaman rumah. Nihil, Dita tak juga menemukan keberadaan Romi.


"Apa sudah pulang?." Dita kemudian mengambil ponselnya.


"Pagi ini tuan ada rapat penting dan rencana ke luar kota. Nona diijinkan untuk tinggal lebih lama untuk menikmati akhir pekan bersama keluarga nona." Pesan diterima oleh Dita, dari Bima.

__ADS_1


"Cih, dasar si raja seenaknya. Datang dadakan, pulang juga dadakan." Dita sedikit kesal karena kepergian mendadak suaminya. Ia mengabaikan pesan yang ia terima.


Dita kembali masuk, ia dapati Putri sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk tamu terhormat mereka. Putri belum tahu bahwa tamu kehormatan mereka sudah pulang. Sengaja Dita biarkan kakak iparnya itu menyiapkan sarapan terbaiknya, kapan lagi ia bisa mengerjai wanita bermuka dua itu pikir Dita.


---------------------------------------------------


Dimas, Dita, dan Putri sudah berada di meja makan untuk sarapan. Putri berubah menjadi masam begitu tahu Romi sudah pulang lebih dulu.


Dita kembali merebahkan tubuhnya di kasur usai sarapan, ia memilih menghabiskan akhir pekannya hanya di rumah. Ia kembali ingin merasakan menjadi manusia rebahan seperti sebelum menikah.


Dita saling berkirim pesan dengan Jinny. Tak jarang Jinny menggoda kakak iparnya itu dalam obrolan mereka.


"Semalam kak Romi tidur di mana?". Jinny usil menanyakan pertanyaan yang membuat Dita berat untuk menjawab.


"Di kamarlah, emangnya di mana lagi?" Dita memberikan jawaban aman.


"Iya di kamar, masa di loteng. Maksudnya di kamar siapa? Kakak ipar? Aku dengar kamar di rumah kakak ipar cuma ada dua ya? Berartiii....." Bukan Jinny namanya kalo tak jahil.


"Iyaaa...". Dita yang sudah tahu maksud adik iparnya itu dengan cepat mengiyakan, tau kalau dia akan terus di pojokkan jika tak menyerah.


"Woooow...one step closer niiih. Ngapain aja semalem kak?."Ternyata Jinny makin seru menggoda Kakak iparnya.


Tak puas dengan jawaban kakak iparnya, Jinny memilih melakukan panggilan video. Ia ingin melihat wajah malu-malu kakak iparnya itu.


"Kenapa adik ipar?" Dita terpaksa mengangkat telepon video dari Jinny.


"Kakak ipar ga asih ah. Masa jawabnya singkat-singkat gitu."Jinny menahan tawa melihat muka merona kakak iparnya.


"Emang nya mesti jawab gimana coba?." Dita makin merona.


"Jadi udah ngapain aja semalem ama kak Romi?". Jinny munutup mulutnya agar tawanya tak lolos.


Ketika mendengar pertanyaan langsung dari Jinny, entah mengapa ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalari tubuhnya. Tubuhnya ternyata memberikan respon seolah mengingatkan Dita apa yang dilakukan Romi semalam.


Panggilan video tak lama mereka lakukan, Dita yang terus digoda oleh Jinny memutuskan untuk mengakhiri video. Terlalu malu ia menanggapi pertanyaan vulgar dari adik iparnya itu. Jinny tertawa lepas begitu Dita mengakhiri panggilan.


"Huh, kenapa beda sekali sifat antara kedua kakak beradik ini. Yang satu dingin, yang satu kelewat usil." Dita membandingkan karakter Romi dan Jinny.


--------------------------------------------------------

__ADS_1


Dita menginap satu malam lagi di rumahnya. Dita dijemput oleh Bima di hari minggu sore.


"Apa tuan muda sudah kembali?". Dita bertanya kepada Bima yang sedang mengemudikan mobil menuju rumah utama.


"Tuan muda tiba di rumah tadi siang, nona." Bima memang selalu menjawab seadanya, sesuai kebutuhan.


"Oh." Dita agak kecewa dengan jawaban Bima, padahal ia berharap Bima menceritakan kemana suaminya itu pergi, dan kegiatan apa saja yang dikerjakan.


"Huh, makanya jangan terlalu berharap Dita...Lagi pula apa pentingnya kau tahu kemana lelaki dingin itu pergi." Dita menasihati dirinya sendiri.


----------------------------------------------------


Dita langsing masuk kamar begitu tiba di rumah utama. Didapatinya Romi sedang tidur. Segera ia berlari ke kamar mandi, membersihakan diri sebelum suaminya terbangun.


Rupanya Romi tidur cukup lama. Sekitar jam delapan ia baru bangun. Cahaya kamar dalam keadaan remang, rupanya Dita mematikan lampu utama agar tidur suaminya itu nyenyak.


Romi melihat ke arah sofa mencari keberadaan Dita. Karena posisi sofa yang menghadap jendela membuat Romi tak bisa mengetahui keberadaan Dita. Ia berjalan menuju sofa untuk memastikan apakah istrinya berada di sana.


"Tuu..tuan sudah bangun." Dita yang sedang memainkan ponselnya untuk menghilangkan jenuh terkagetkan oleh penampakan Romi di bawah cahaya remang-remang.


Romi menjauhkan tubuhnya dari sofa begitu mendapati apa yang ia cari, menuju ke arah saklar lampu dan menghidupkannya.


Dita beranjak dari sofa saat Romi hendak ke kamar mandi. Keluar dari kamar mandi Romi melirik beberapa menu makanan yang ada di atas meja.


"Apakah tuan ingin makan?". Dita menawarkan Romi untuk makan malam yang memang sempat ia lewatkan.


Romi yang sedikit masih mengantuk berjalan lesu menuju meja untuk menyuapkan makanan yang sudah dibawakan oleh pelayan atas permintaan Dita. Dita tahu sepertinya Romi sangat sibuk saat perjalanan bisnisnya, sehingga mungkin melewatkan jadwal makan. Ia ingin memastikan malam ini suaminya tidak melewatkan lagi waktu makannya.


Usai makan malam Romi kembali naik ke atas ranjang, tubuhnya masih sedikit terasa lelah. Dita bergegas ke kamar mandi untuk bersiap-siap tidur, selagi lampu menyala. Ketika hendak kembali ke sofa langkahnya terhenti.


"Mulai malam ini aku tak ingin kau tidur di sofa itu." Romi mendadak membuat Dita kaget.


"Apa maksudnya?." Di dalam hati Dita berkata. Dita masih mencerna perkataan Romi barusan.


Dita yang masih tak menemukan jawaban, akhirnya menoleh ke arah Romi. Romi menolehkan kepalanya ke arah kiri sambil mengangkat sedikit dagunya, seolah mengatakan "Tidur di sini, di sebelahku."


Dita masih tak percaya dengan apa yang ia pikirkan. "Apa dia serius memintaku tidur satu ranjang dengannya?". Dita kembali bertanya di dalam hati. Masih tak bergerak dari posisinya.


"Bodoh! Mulai malam ini kau tidur di ranjang ini." Romi yang gemas melihat kebingungan Dita, akhirnya memperjelas maksudnya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2