
***
Hari-hari mereka lalui dengan ada kemajuan hubungan. Dita rasanya sudah tak setakut dulu saat berdekatan dengan Romi.
Pesan dokter mengenai menunda berhubungan badan menjadi penyelamat Dita, namun menjadi petaka bagi Romi. Namanya lelaki, sekalinya mencicipi surga dunia akan terus meminta untuk melakukannya lagi dan lagi. Namun pesan yang disampaikan dokter membuatnya menjadi ragu dan takut untuk meminta haknya lagi, tak ingin ia membuat istrinya kembali sakit seperti dulu. Meski kejadian itu sudah berlalu lebih dari sebulan yang lalu.
Mereka menjalankan hari-hari seperti biasa, namun suasana sudah menjadi lebih cair dan hangat. Romi tak jarang menunjukkan sikap perhatiannya, meski Dita nampaknya tak bisa begitu menangkap sinyal yang diberikan untuknya. Dita merasa lebih lega karena ia merasa Romi sekarang sudah menjadi seperti manusia yang bisa ia ajak bicara, meski kadang suasana kaku dan canggung masih terjadi.
Usaha Dimas pun berjalan dengan lancar, keuangannya sudah sangat membaik. Sesekali ia melakukan sambungan telepon untuk sekedar menanyakan keadaan adiknya. Kesehatannya juga sudah sangat baik. Dimas dan istrinya memang sudah cukup lama berumah tangga, namun mereka belum dikaruniai anak karena masalah kesuburan salah satu pasangan.
Dimas tak mengharap banyak, diberi kesehatan saja sudah sangat ia syukuri. Tapi rasanya tak salah jika ia meminta adiknya untuk segera mempunyai keturunan, mumpung usianya masih produktif. Ia tak ingin apa yang ia alami bersama istrinya terjadi pada adiknya. Dulu memang ia dan istrinya terlalu sibuk mencari harta sehingga sempat melupakan masalah anak, kini masalah usia menjadi penghalang bagi mereka.
"Dit, udah ada rencana buat punya momongan belum?." Dimas yang sedang melakukan sambungan telepon membuat yang di ujung telepon bak disambar petir.
"Hahahha..Kenapa kakak tiba-tiba nanya beginian sih. Tumben banget?." Dita berusaha menutupi kekagetannya,l. Sekalipun ia tak pernah berpikir ke arah sana. Ia tak pernah berharap apa-apa dari pernikahannya ini, yang bisa ia harap hanyalah kebahagiaan dan kesehatan kakaknya.
"Ya namanya udah nikah apalagi yang mau diharap kalo bukan keturunan. Ayo jangan sampe kaya kakak, dulu keasikan ngejer materi sekarang jadi nyesel sendiri." Dimas berusaha memberi nasihat, namun tak ingin terdengar sebuah keharusan yang menjadikan beban bagi adiknya.
"Hehe...Iya kak, cerewet banget sih. Doain selalu adiknya ini yaa...Oia apa kata dokter jantung pas terakhir kakak kontrol?." Dita tak ingin berlarut dengan percakapan yang tak ingin ia bahas, ia memilih untuk mengganti topik pembicaraan.
"Ga usah khawatirin kakak, Dit. Kakak udah sehat banget sekarang, kata dokter jantungnya itu karena kakak nurut buat hidup lebih sehat." Dita lega ketika mendengar kabar mengenai kesehatan kakaknya. Kalo sedang begini Dita bahkan sama sekali tak pernah menyesal telah mengambil keputusan untuk menikah dengan suaminya yang sekarang.
***
"Kak Dita...Denger-denger kemarin waktu dirawat itu karena abis ehem ehem ya." Jinny menghampiri Dita dengan buru-buru dan memberondongnya dengan pertanyaan memalukan bagi Dita.
"Gimana dia bisa tau sih?." Dita saat ini bingung mengkondisikan jawabannya dan malu bukan kepalang.
__ADS_1
"Hus...jangan ngomong yang aneh-aneh deh." Dita mengelak.
"Ih.. kakak ipar, aku serius nanya. Jadi kakak ipar beneran udah HS ama kak Romi?." Pertanyaan Jinny makin membuat Dita malu.
Sesungguhnya Jinny mengetahui perihal riwayat penyakit Dita karena mendengar obrolan Romi dan Bima tadi pagi. Romi masih mengomeli aturan yang dibuat oleh dokter yang merawat Dita dulu. Bima yang hampir tiap hari mendengar omelan tersebut akhirnya menyarankan Romi datang kembali ke rumah sakit untuk mengkonsultasikan kembali kapan aturan tersebut sudah boleh ia langgar.
"Kalo emang iya, berarti kakak ipar itu sudah dianggap spesial di hati kak Romi." Jinny melanjutkan perkataannya karena tak mendapat respon dari Dita.
"Hahaha...Adik ipar ini ngomong apa sih?." Dita yang masih malu-malu tak mengerti dengan perkataan Jinny.
"Kakak ipar, kakak ipar harus tau in bisai jadi kesempatan bagus untuk bikin hati ibu luluh. Kakak ipar masih inget kan ceritaku dulu tentang pernikahan kak Romi sebelumnya?." Jinny yang bersemangat menunggu respon dari Dita.
Seketika hati Dita terasa ada yang aneh ketika mendengar mengenai masa lalu pernikahan suaminya. Ia hanya menanggapi berupa anggukan.
"Pernikahan itu terjadi sebenarnya sedikit banyak karena pengaruh ibu. Ibu udah pengen banget punya cucu. Jadi kak Romi sebagai anak tertua merasa punya tanggung jawab. Sampe pernah ikut kencan buta coba. Tapi sayangnya kencan butanya gagal karena calon pasangannya kabur. Terus jadinya nikah deh ama mantan istrinya." Jinny kembali bercerita dengan menggebu, panjang lebar.
"Ih kakak ipar ini ya, polos apa gimana sih." Jinny gemas, Dita hanya bisa nyengir.
"Jadi maksudnya, kak Romi kan udah punya hati tuh ama kakak ipar. Berarti udah bisa dong bikin anak. Kalo kakak ipar bisa kasih ibu cucu pasti ibu bakal seneng banget. Gitu loh maksudnya." Jinny kali ini menjelaskan secara gamblang maksud dari obrolannya yang sudah sepanjang kereta api tapi tak dipahami.
"Oooo." Dita hanya melongo. Ia mengerti beberapa bagian, tapi merasa masih ada yang ambigu di beberapa kalimat Jinny.
"Kakak ipar paham kan?." Jinny memastikan.
"Paham sih. Tapi ada beberapa hal yang kayanya perlu dilurusin deh." Dita menuntut penjelasan.
"Apalagi coba yang perlu dijelasin?." Jinny makin gemas.
__ADS_1
"Gimana bisa adik ipar menyimpulkan kalo kakakmu itu ada hati buatku?." Dita mengkonfirmasi pendapat yang diutarakan Jinny tadi.
"Hahhahaha...Ya ampun kaka Dita yang cantik dan baik hati. Kakak ipar kira kak Romi itu lelaki macam apa? Ga mungkin kak Romi mau tiduri perempuan kalo dia ga ada rasa suka atau cinta." Pernyataan Jinny kembali membuat Dita bingung untuk menanggapinya.
"Ngerti?." Jinny benar-benar dibuat gemas oleh kakak iparnya itu.
Dita masih sibuk dengan pikirannya, mencoba mencerna dengan benar obrolan mereka yang sedikit membuatnya bingung.
"Pokoknya ditunggu launching ponakan barunya ya, Kak." Jinny membuat permintaan seenaknya.
"Kenapa beberapa hari ini semua orang membicarakan masalah keturunan sih." Dita mengingat juga pembicaraannya dengan Dimas beberapa hari lalu.
***
"Apa kondisimu sekarang sudah tidak ada yang dikeluhkan?." Romi yang sudah rapi dengan pakaian tidurnya ingin memastikan kondisi Dita. Dita yang juga sudah bersiap berlayar ke arah mimpi menundanya karena sedang mencerna pertanyaan suaminya.
"Maksudku apa masih suka timbul nyeri perut?." Romi mempertegas pertanyaannya.
"Oh. Kondisiku sudah sangat sehat selepas pulang dari rawat. Ada apa sayang?." Dita ingin tahu maksud dari pertanyaan suaminya.
"Setelah konsul dengan dokter, katanya kita sudah boleh melakukannya lagi bila kau sudah tidak ada keluhan. Aku hanya ingin memastikan." Tadi sore sepulang kerja, Romi ternyata mengikuti saran dari Bima untuk berkonsultasi kepada dokter. Kekhawatiran dan kegelisahannya terhapuskan ketika dokter sudah membolehkannya berhubungan lagi bila sudah tidak ada keluhan dari Dita.
Seketika Dita kesulitan menelan ludah dan menyesali mulutnya yang telah mengeluarkan pertanyaan yang ternyata membuatnya tak berkutik.
"Seharusnya aku memang tidak boleh terlalu banyak bicara dan kepo." Dita mengutuk dirinya sendiri. Dadanya kembali bergemuruh, sudah berterbangan di kepalanya pikiran-pikiran kotor dan membuatkan tiba-tiba memerah dan memanas.
Romi saat itu sudah bersiap-siap untuk memulai aktifitas intimnya, segera setelah mendapat jawaban dari Dita tadi.
__ADS_1
Bersambung...