LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA

LEMBARAN BARU SANG TUAN MUDA
HAK DAN KEWAJIBAN


__ADS_3

Hari itu Romi menyelesaikan pekerjaan kantornya saat matahari telah terbenam. Begitu tiba di hotel ia langsung menuju kamar, ia tak mendapati sosok istrinya di sana. Siang tadi Bima memang sudah mengabarkan bahwa Dita meminta Mia untuk membantunya memindahkan barang-barang ke kamar tamu. Romi masuk ke kamar mandi, melepaskan pakaian kerjanya ke sembarang tempat.


Saat Romi di kamar mandi, Dita masuk ke kamar utama untuk mengambil barang yang ketinggalan. Ia tak menyadari kepulangan Romi. Begitu ia hendak keluar berbarengan dengan Romi yang keluar dari kamar mandi dengan bertelanjang dada. Dita kaget hingga menjatuhkan benda yang barusan dia ambil, buru-buru ia mengambilnya kemudian kabur dari ruangan itu. Romi si pemilik kamar tersenyum sinis, "Dasar ceroboh!".


Dita yang malu bukan kepalang langsung membenamkan kepalanya di bawah bantal begitu tiba di kamarnya.


"Bodoh...bodoh...bodoh." Dita mengutuk dirinya sendiri sambil beberapa kali memukulkan bantal ke kepalanya. Bima yang ternyata sejak tadi berada di ruang tamu ikut tersenyum melihat adegan Dita terbirit-birit saat keluar dari kamar tuan mudanya.


---------------------------------


"Tok..tok..". Dita samar-samar mendengar pintu di ketuk saat kepalanya masih ia tutupi dengan bantal. Merasa yakin dengan pendengarannya, Dita gerak cepat merapihkan rambutnya yang berantakan kemudian menuju pintu.


"Ma..maaf, tuan. Apa ada yang harus saya lakukan." Dita agak canggung saat mendapati Bima berada di depan pintu kamarnya.


"Apa kondisi nona sudah membaik?". Bima basa-basi bertanya, padahal jelas ia sendiri bisa melihat kondisi Dita saat ini, wajah yang sudah tidak pucat bahkan sudah bisa lari-lari. Bahkan sejak pagi Bima sudah mendapat laporan kondisi Dita dari dokter Ricky dan Mia.


"Seperti yang tuan lihat. Kondisi saya sudah sangat sehat." Dita memutar-mutar badannya, meyakinkan bahwa kondisinya saat ini benar-benar sudah pulih.


"Baguslah. Kalau begitu nona sudah siap dengan tugas nona sebagai istri dari tuan muda. Mari ikut saya." Bima meminta Dita mengikutinya menuju ruang tamu.


"Apaaaa? Kalau begini ceritanya lebih baik aku mengaku masih sakit sajaa." Dita bergumam sambil memukul kepalanya.


Bima tersenyum ketika mendengar gumaman Dita. "Kepala nona bisa sakit lagi jika terus memukulinya." Terdengar sedikit nada meledek saat Bima meminta Dita berhenti memukuli kepalanya.


----------------------------------------


'HAK DAN KEWAJIBAN', berkas yang sudah disiapkan oleh Bima saat ini sedang dipelajari oleh Dita.


Berkas tersebut berisi apa saja yang mesti dikerjakan Dita, dan apa saja hak yang ia dapatkanselama menjadi istri Romi. Untuk bagian 'kewajiban' Isinya sama seperti yang tertera pada surat perjanjian. Namun dalam berkas ini ditambahkan daftar apa saja yang tuan muda sukai dan tidak disukai, yang isinya lebih kurang sepuluh lembar.


"Aturan macam apa ini?." Dita mendesah ketika membaca deretan kalimat yang belum sepenuhnya ia baca.


Sedangkan pada pasal 'Hak' hanya terdiri dari beberapa poin. Salah satu hak yang ia peroleh adalah Dita diperbolehkan bekerja, namun dengan segala macam aturannya. Sisanya dirasa tidak terlalu menarik bagi Dita.

__ADS_1


"Huh, untung saja aku masih diperbolehkan bekerja." Setidaknya ia tidak sepert burung dalam sangkar, begitu pikirnya.


"Apakah nona sudah selesai membaca dan memahaminya? Apakah ada yang tidak bisa nona pahami?" Bima memberikan pertanyaan begitu melihat Dita selesai membaca halaman terakhir dari berkas.


"Mana mungkin aku bisa mengingat hal sebanyak ini dalam waktu singkat, tuan. Saya tidak secerdas itu." Dita menatap Bima dengan muka yang dibuat-buat serius.


"Saya rasa sejak menyandang status istri tuan Romi, nona harus menjadi wanita yang cerdas dan cepat beradaptasi. Kalau tidak, saya tidak tahu apakah nona bisa bertahan atau tidak." Ekspresi wajah Dita mendadak pias setelah mendengar jawaban Bima.


Bima dalam hati menertawakan perubahan drastis ekspresi wajah Dita. "Ekspresi ini yang lebih cocok untuk nona." Batin Bima.


"Ba..baik tuan. Beri saya beberapa waktu untuk mempelajari semuanya." Dita kali ini sedikit memelas. Tak ada jawaban dari Bima, hingga Bima berlalu ke kamar Romi.


"Dasar si pelit bicara." Dita kesal karena tak mendapat persetujuan dari Bima. Ia kemudian meninjukan tangannya ke udara untuk mengurangi kekesalannya.


--------------------------


Di dalam kamar, Bima memberikan laporan bahwa telah menyampaikan hak dan kewajiban kepada Dita.


"Nona meminta waktu untuk mempelajari dan memahami semuanya, tuan." Bima ternyata menyampaikan permintaan Dita tadi.


"Baik, tuan. Saya harap semua sesuai dengan harapan tuan. Saya pamit." Bima pamit begitu menyelesaikan laporannya.


---------------------------------


Di dalam kamar berbeda, ada yang sedang sibuk memasukkan kata-kata dalam kertas yang sedang ia pegang ke dalam otaknya. Jika saja membakar kertas-kertas tersebut, mencelupkan ke dalam air, kemudian meminumnya adalah cara agar bisa cepat menghapal apa yang ia baca, pasti Dita sudah melakukannya sejak tadi.


Selain banyak sekali hal yang harus ia hapal, beberapa di antaranya adalah hal yang sulit diterima oleh akal. Salah satu contohnya adalah terdapat aturan Dita tidak diperbolehkan menggunakan dress setinggi lutut bermotif bunga.


Ada beberapa hal lain yang juga membuat Dita tak kalah terkejut. Di kertas tersebut tertulis bahwa Romi menyukai aroma peach, menyukai warna krem. Dita mulai mencocokkan hal tersebut dengan beberapa barang yang sudah disiapkan untuknya yaitu parfum beraroma peach, baju tidur hingga pakaian dalam berwarna krem. Dan masih banyak hal lainnya yang sulit diterima oleh nalar Dita.


Hingga lewat tengah malam, akhirnya Dita menyerah. Dita yang sejak tadi sudah tak terhitung berapa kali menguap, kini memilih tidur dan berniat melanjutkan lagi esok hari.


--------------------------------

__ADS_1


Romi yang berada di kamarnya kini masih belum bisa memejamkan matanya. Ia merasa aneh saat melihat posisi di sebelah tempat tidurnya kosong, yang semalam ditempati oleh Dita.


Ia mengingat kembali kejadian semalam, ketika ia ragu-ragu bergabung tidur di kasur yang sama dengan istrinya. Setelah memutuskan naik ke atas kasur, ia menatapi wajah istrinya yang saat itu sangat pucat, dengan beberapa bulir air mata mengalir dari sudut matanya. Beberapa kali ia mengusap air mata itu. Seketika ia meraba ke dasar hatinya, "Apakah tindakanku saat ini tidak berlebihan?".


Malam kedua pernikahannya mereka jalani dengan tidur terpisah.


----------------------------------------


Pagi itu Dita yang masih kurang tidur bangun lebih pagi dari biasanya. Semalam ia membaca salah satu pasal yaitu tuan muda selalu sarapan dengan sandwich dan secangkir teh hangat. Buru-buru ia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan, ia tak mau membuat kesalahan di awal.


Saat tiba di dapur ia mulai membuka kulkas mencari beberapa bahan makanan, dan mulai membuat sarapan dengan penampilannya yang masih acak-acakan. Rambut diikat tinggi, mata sembab dengan lingkaran hitam di bagian bawah mata. Ia meraba-raba sandwich jenis apa yang diinginkan tuannya, karena tidak tercantum secara detail dalam kertas yang ia baca semalam. Pikirnya bahan makanan yang ada di dalam kulkas adalah makanan yang disukai tuannya, sehingga pagi itu Dita mulai membuat sandwich berbahan sayur, keju, tomat, saus, dan menambahkan sedikit biji wijen.


Saat Dita baru selesai dengan menu sarapan tuannya, Romi keluar dari kamar. Dita langsung bernapas lega, "Untung saja aku tak terlambat bangun. Bisa mati aku!" Dita memuji dirinya sendiri dalam hati.


"Silahkan sarapannya, tuan." Dita membawakan menu sarapan ke meja makan, mempersilahkan tuannya untuk menikamati sarapan perdana buatannya.


"Semoga sesuai selera, tuan. Saya akan buatkan yang baru jika tidak sesuai selera tuan." Dita takut-takut saat membaca ekspresi dan mood Romi pagi itu.


Romi melirik Dita, "Apa kau pembantu sehingga menyiapkan semua ini? Apa kau kira aku tak punya uang menyewa pembantu untuk membuatkan sarapan?."


"Maaf tuan. Di dalam pasal yang semalam saya pelajari tercatat bahwa tuan sarapan dengan sandwich dan teh hangat setiap pagi." Dita ingin meluruskan apa yang terjadi.


"Apa di sana disebutkan kau yang harus menyiapkan? Dasar bodoh!." Dita yang mendengar jawaban Romi, langsung menundukkan wajahnya malu.


"Kenapa perkataannya seolah benar. Aku memang bodoh." Kali ini umpatan yang ia terima dari dirinya sendiri, di dalam hati.


Karena merasa bersalah Dita ingin memperbaikinya dengan menarik kembali sarapan yang sudah ia salah artikan. Namun ketika Dita hendak mengambil sandwich dan teh hangat, Romi langsung menggigit sandwich tersebut dan mengunyahnya seperti tanpa dosa. Dita semakin bingung melihat kelakuan tuannya.


"Sebenarnya apa yang diinginkan manusia menyebalkan satu ini?" Dita mengumpat dalam hati, sambil menatap Romi dengan kesal.


"Aku bisa terbakar karena tatapan matamu itu. Hanya aku yang berhak melakukan itu. Jadilah gadis penurut!" Romi mengejutkan Dita yang saat itu sedang memelototi Romi, cepat ia tundukkan kembali kepalanya, menunggu hingga tuannya selesai sarapan.


Pagi yang sibuk dan menyebalkan bagi Dita.

__ADS_1


Pagi yang menyenangkan bagi Romi, memakan sarapan yang terasa lebih nikmat dibanding pagi-pagi sebelumnya. Pagi yang menyenangkan karena mendapat 'mainan' baru.


Bersambung...


__ADS_2