
Di tempat lain, tepatnya di universitas tetangga TB. Dua cewek sedang berdiri saling berdampingan di ruangan rektor. Saling melirik dan bertanya ada apa hanya lewat tatapan mata masing-masing. Mereka ialah Nayla dan Viola, yang sejak pagi dipanggil dan diminta datang ke ruangan ini sesegera mungkin.
Pria paru baya berambut krimis dan berpakaian rapi melirik mahasiswa berprestasi di universitas ini. Senyum terukir di bibirnya, kemudian dia mulai menjelaskan alasan mengapa dua mahasiswa berotak cerdas ini datang kemari.
Nayla dan Viola mencerna setiap kata yang keluar dari mulut rektor mereka. Saat mendapati 'inti' dari ultimatum mereka serentak tersenyum senang, dan melirik satu sama lain dengan bangga. Berlangsung beberapa menit hingga ultimatum selesai.
Nayla dan Viola tidak bisa menyembunyikan senyumnya. Mereka kembali melirik lalu tersenyum geli dan melempar wajah ke samping karena malu dikarenakan status yang kurang jelas musuh-sahabat. Nayla yang ingin memeluk seseorang sekarang menghentikan langkah hingga Viola juga ikut berhenti --- menemani sang musuh.
"Gue mau meluk lo sebagai musuh," ujar Nayla jujur, walau degup jantungnya bertalu-talu dikarenakan takut Viola malah menghujat dan mencibirnya.
"Hanya sebagai musuh," jawab Viola dengan wajah terangkat songong. Dia lebih dulu memeluk Nayla erat dan menggoyang-goyangkan tubuhnya kanan-kiri saking bahagia. "Gue seneng banget dikirim lagi, walau univ tetangga nggak papalah, itung-itung nyari suasana baru," ujarnya.
Nayla mengangguk-angguk dipelukan Viola. "Baru kali ini juga kita seimbang," tuturnya. Viola melepas pelukan mereka, menatap Nayla kembali pada mode songong dan merasa tinggi. Nayla menghela napas berat, jika ekspresi Viola sudah seperti ini maka tidak ada cara lain lagi selain mengaku. "Iya, gue kalah satu langkah, lo yang nyelesain makalahnya dan dapet nilai sempurna!" cibirnya dibuat-buat.
Viola mengangguk-angguk bangga. Tiba-tiba saja irisnya memutar hingga mencapai di ujung lorong, melihat pria dambaan para mahasiswi sedang berdiri dengan gagahnya. "Nay, pak Aldi 'noh, samperin sana," bisiknya.
Nayla mengikuti arah mata Viola hingga benar mendapati Aldi sedang berdiri di ujung lorong. Kacamata baca, dan kemeja digulung hingga siku selalu mampu membuat Nayla menelan ludah. Konflik yang terjadi antara dirinya dan Aldi masih berlangsung hingga hari kelima.
Aldi melangkah mendekat hingga Nayla refleks memegang Viola erat. Viola memicingkan mata penuh selidik, setahunya Nayla setiap berurusan dengan Aldi selalu ingin berdua agar romantis. Tumben, saat Viola ingin beranjak justru ditahan agar tetap tinggal.
"Nay, aku mau bicara sama kamu,"
"Profesional, Pak."
"Oke, kamu ikut ke ruangan saya sekarang juga untuk mengambil LKS yang akan dibagikan ke teman-teman kamu," ujar Aldi. Setelah mengatakan kalimatnya tersebut dia melenggang pergi tanpa mendengar jawaban Nayla.
Viola menyenggol lengan Nayla, dia berujar, "Ada masalah apa lo sama pak Aldi? Ingat Nay dia dosen kita, jangan sampai nilai lo D di matkul dia," peringatnya.
Nayla mendengkus. "Lo aja sana yang ke ruangan dia!" titahnya sebal. Sejak tadi jantung Nayla tak berhenti berdetak cepat, dan semakin berdegup gila saat Aldi meminta dirinya ke ruangan. Nayla benar-benar tidak ingin mempermasalahkan hubungan mereka sekarang. "Gue udah minta putus!"
"GILA LO MINTA PUTUS SAMA DOSEN SENDIRI," jerit Viola refleks. Beberapa mahasiswi yang menyaksikan mulai berbisik-bisik, beberapa pula tampak tenang walau sebenarnya ingin tersenyum dan tertawa.
"Mulut lo!" geram Nayla.
"Lagian lo ada-ada aja mutusin dosen, mau kelar hidup lo di kampus ini?" Suara Viola terdengar pelan.
"G-gue udah bosen," jawab Nayla.
__ADS_1
Satu alis Viola terangkat. "Udah lupa lo waktu ngejar-ngejar pak Aldi?" Viola terkekeh sinis. Nayla mendelik dan menarik tangan Viola untuk ikut ke ruangan Aldi, nyali Nayla tidak cukup untuk datang sendiri. "Apa-apaan 'sih, lo Nay main narik-narik nggak jelas."
"Berisik!" sungut Nayla.
"Lo yang dipanggil bukan gue!" Viola menghempas tangan Nayla lalu melenggang pergi namun, belum sempat Viola menjauh Nayla sudah lebih dulu menarik rambutnya hingga memekik sakit. Viola memukul-mukul tangan Nayla susah payah. "Bar-bar lo main narik-narik rambut," pekiknya.
"Makanya ikut." Nayla melepas tarikannya dari rambut Viola lalu kembali menarik pergelangan tangan cewek itu. Kali ini Viola terima-terima saja walau sama sekali tidak ikhlas. "Cuma ngambil LKS doang gampang, kok," lanjutnya.
"Gampang tapi minta ditemenin," sewot Viola.
"Sama musuh sendiri nggak papa," balas Nayla tak kalah sewot.
Nayla mendorong pelan pintu tertutup di hadapannya. Saat pintu terbuka setengah Nayla dan Viola serentak menelan ludah melihat Aldi tengah fokus membaca buku entah apa judulnya. Nayla langsung gagal fokus, dia melirik Viola yang serasa ingin kabur.
"Nay, lo mutusin cowok se-ganteng ini lho, entar nyesel," bisik Viola sepelan mungkin. "Pas tau pak Aldi jomblo kaki gue gemetaran nj1rr," bisiknya lagi.
Nayla juga sama, bahkan sekrup di lehernya seakan rusak hingga tak mau menoleh ke arah lain lagi. Fokus pada sosok Aldi yang tidak terusik dengan kebisingan yang mereka buat. Viola pelan-pelan melepas pergelangan tangannya dari Nayla lalu melenggang pergi.
"Jangan ngintip masuk, jangan lupa nutup pintu."
Nayla mengangguk, menoleh ke samping dan tak mendapati seseorang membuatnya mengumpat. "Viola anj1ng." Dengan suara sepelan mungkin.
Nayla mengangguk gugup lalu melaksanakan perintah. Dia berdiri dengan kepala tertunduk seperti mahasiswi lain jika berhadapan dengan dosen. "Maaf, Pak. LKS-nya mana? Siniin sekarang biar saya bagi sama temen-temen," ujarnya.
Aldi menghela napas berat. "Duduk!" titahnya lagi. Nayla menurut, Aldi kembali membaca buku.
Sudah sepuluh menit dan tidak tanda-tanda Aldi akan menyerahkan LKS seperti yang dikatakannya tadi. Nayla bertopang dagu, berniat sabar sekitar limat menit lagi sebelum protes dan keluar.
Lima menit berlalu, Aldi masih saja sibuk dengan buku yang dia baca, mengabaikan Nayla yang setia menunggu sambil terkantuk-kantuk. Nayla menegakkan cara duduknya. "Pak, mana LKS-nya?" tanyanya berusaha tenang.
"Tunggu lima menit lagi," ujar Aldi seraya membenarkan kacamata bacanya.
"Lima menit lho pak, awas lebih," rutuk Nayla.
Sepuluh menit berlalu namun, masih saja tak ada tanda-tanda Aldi akan menyerahkan LKS itu untuk Nayla. Nayla memejamkan mata sejenak, Aldi pasti mengerjainnya karena kesal dan meminta putus. "Pak, mana? Saya mau ke kelas sekarang, belum ke kantin juga lapar 'nih, Pak," sungutnya.
"Bentar," sahut Aldi.
__ADS_1
"Kapan, Pak, bentarnya?" tanya Nayla tidak sabaran. Aldi meliriknya sekilas lalu kembali fokus pada buku, Nayla bingung kenapa Aldi memanggilnya kesini sesegera mungkin jika hanya duduk dan menikmati wajah tampannya yang nampak serius. "Mau pamer wajah pak?" celutuknya.
"Hah?"
"Enggak-enggak." Nayla nyengir, bersyukur karena Aldi tidak mendengar dengan jelas ucapannya tadi. "Dosen 'nih, Nay. Dosen," batinnya.
Aldi mengangguk. "Kamu mulai besok ke Univ. TB 'kan, sama Viola?"
Nayla mengangguk-angguk, tidak heran kenapa Aldi mengetahui.
"Jangan lupakan saya, saya nggak bisa pantau kamu terus di sana," ujar Aldi seraya meletakkan bukunya di meja. Nayla terkejut, jantungnya berdebar-debar tidak karuan karena perhatian Aldi yang tak sedikitpun berkurang. "Nay, kita belum putus saya belum iya-in," lanjutnya tersenyum puas.
"U-udah kok." Nayla menjawab gugup. Aldi menggeleng lalu kembali membaca buku, Nayla menghela napas lega. "Pak, mana LKS-nya?" tanyanya sekali lagi.
"Oh, udah diambil sama Dewi tadi."
"Sabar, Nay. Sabar," batin Nayla.
.
.
.
.
.
.
.
SEHARUSNYA INI SAYA UP TADI MALAM, TAPI KETIDURAN 😅 JADI BARU UP PAGI INI.
INFONYA SAMA KAYAK DI TD🌻
SALAM DARIKU,
__ADS_1
SYUGERR