LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 53


__ADS_3

Gimana kabarnya?


maaf ya baru nyapa sekarang.


Targetnya udah tembus jauh tapi karena ada kesibukan aku nggak sempat nulis.


harap ngerti ya💞


.


.


.


Nayla lega sebab kata dokter tidak ada luka serius pada tubuhnya. Tadinya dia mengira jika tulang rusuknya patah mengingat ada yang menendangnya dengan keras. Dia tidak akan melupakan kejadian dua hari lalu, termasuk alasan kenapa hal itu terjadi.


Viola berjalan di sampingnya, menggenggam tangannya dengan yakin. Bersikap apatis pada orang yang menatapnya. "Bolos aja, yuk. Enek gue disini," ujarnya.


Nayla menggeleng. "Kita udah bolos kemarin, kalo bolos lagi bisa bahaya," balasnya. Viola yang dirinya kenal benar-benar beda terbukti dia terus-menerus meminta bolos. "Vio, bukannya kata 'bolos' lo blacklist dari idup lo? Kok pengen?"


Viola memutar mata malas. "Trus? Kita di sini gitu? Lo nggak liat tatapan mereka setajam apa?" sebalnya. "Tadinya enggak mau, tapi sekali coba gue ketagian," imbuhnya lagi lalu terkekeh.


Nayla mendatarkan wajah, dia fokus pada langkahnya menuju kelas.


"Vio, gue minta maaf sama lo ya."


Viola dan Nayla memasang tampang enek saat Morgan tiba-tiba saja datang merengek manja di lengan Viola. Viola diam, dirinya benar-benar kesal pada Morgan sebab bukannya membantu dia memilih kabur bersama Raka membuat Nayla dan Viola berpikir jika mereka sama saja.


"Enggak!" Viola melepas tangan Morgan dari lengannya dan kembali berjalan. "Gue nggak suka deket-deket cowok pengecut kayak lo! Katanya suka sama gue tapi takut sama Raka!" tukasnya kesal.


"Lah, Raka sahabat gue. Nggak mungkin dong gue milih salah satu di antara kalian. Lo kalo ada di posisi gue pasti milih sahabat lo juga," pungkas Morgan.


"Tapi Raka orang yang nggak baik," ketus Viola.


"Raka orang yang baik Beb, sama Nayla aja dia jadi gitu," balas Morgan. Sejak kejadian itu Viola tidak ingin bicara padanya, sekalinya bicara cewek itu akan seketus ini. "Jangan campurin urusan Nayla sama urusan kita, bisa?" tanyanya.

__ADS_1


"Idih." Viola bergidik bahu tak acuh. "Siapa lo ngomong gitu, nggak ada 'kita' antara Viola dan Morgan!" ketusnya. Dia melipat tangan di depan dada lalu pergi dengan perasaan dongkol.


Morgan menghela napas berat, susah juga menaklukkan hati seorang gadis seperti Viola Oksana.


"Lo beneran suka sama Vio?" tanya Nayla. Melihat bagaimana Morgan berusaha membujuk cewek itu. "Kalo lo bener-bener suka, jangan nyerah! Viola sebenarnya baik dan peka kok." Nayla mengusung senyuman tulus lalu menepuk pundak Morgan. "Semangat rebut hati do'i."


Morgan mengangguk. "Hm, tapi gue agak risih gimana gitu deket-deket sama lo Nay. Sorry, bukannya gue nggak suka sama lo, gue suka karena lo baik. Tapi .... Mengingat konflik lo sama Raka gue agak ragu."


Nayla terkekeh pelan. "Jelas-lah lo ragu, tapi itu hak lo kok," ujarnya. Nayla bergegas pergi dengan langkah pelan, lima langkah ke depan dia membalikkan badan dan tersenyum pada Morgan. "Viola suka bunga tulip," imbuhnya lagi.


Morgan mengangguk antusias lalu bersorak. "Otw toko Bunga," riangnya.


Saat ingin membalikkan badan dia dikejutkan oleh Gino dan Raka yang jalan bersisian. Mereka terlihat sama seperti biasanya dan tidak terlibat obrolan apapun. Ini adalah tugasnya untuk mencairkan suasana.


"Selamat jam delapan pagi sahabat-sahabatku," seru Morgan sembari berjalan mendekati mereka dan merangkulnya semangat. "Coba tebak apa yang buat Abang Morgan sebahagia ini? Kalo bener Abang Morgan kasih sejuta," imbuhnya.


Raka dan Gino tidak menjawab, mereka sama-sama diam. Bahkan, untuk sekedar melirik Morgan pun mereka terlihat tak berminat. Morgan melepas rangkulannya, dia berjalan lebih cepat dan berhenti di depan yang mana mau tidak mau Raka dan Gino ikut berhenti juga.


"Kalian kenapa, sih?" tanya Morgan terdengar kesal. Dia tidak suka suasana canggung seperti ini. "Ada masalah baru lagi? Apa masalah dua hari yang lalu belum kelar juga?" tanyanya beruntun.


"Jangan bersikap kekanak-kanakan Morgan." Kali ini Gino yang bersuara. "Masalah sepele nggak akan ngusik gue," imbuhnya lagi dengan wajah yang tetap datar.


Morgan mencibir pelan. "Gue ngerasa nggak guna kenal sama kalian," lirihnya. "Kita ini sahabat, kan? suka-duka kita mesti lewatin bareng-bareng. Nggak ada duka yang pantas kita sembuyiin, bagi, cerita biar kita cari solusinya sama-sama." Morgan berkata serius, dia muak sendiri di kelilingi orang-orang yang memendam perasaan. "Kita bener-bener sahabat, kan?"


Pertanyaan penuh harap itu membuat Raka dan Gino kembali bergeming. Namun, tetap saja tak ada yang mengeluarkan kata sampai Morgan menatap mereka dingin.


Bukannya marah, hanya saja ucapan Morgan membuat mereka sendikit terharu, mungkin. Morgan yang mereka kenal terlalu aneh jika berkata serius.


"Kalian nganggep gue apa sebenarnya?" tanyanya. Dia menatap Gino yang terdiam lalu beralih pada Raka yang mulai lunak.  "Raka, lo tau Gino, kan? Dia susah diajak bicara dan sekalinya bicara semaunya aja, lo seharusnya bisa ngerti, kan?"


"Gue ngerti," jawab Raka. Melirik Gino lalu menepuk pundak sahabatnya itu, dia kembali mengimbuhkan, "Kita nggak papa," imbuhnya.


Gino mengangguk.


Morgan masih terlihat curiga. "Gue nyesel harus punya sahabat kayak kalian, kenapa kita ketemu 'sih, hah? Kenapa gue harus kenal sama kalian berdua?" histerisnya yang mana Raka dan Gino terkekeh pelan.

__ADS_1


"Gimana keadaan nenek lo? Udah baikan?" tanya Morgan pada Gino.


Gino mengangguk.


"Kalo lo Raka? Gimana? Agatha udah nggak ngambek lagi gara-gara Nayla?" Kali ini Morgan menatap Raka yang berdecak kesal. "Ada masalah apa lagi, hah?" histerisnya menepuk punggung Raka dengan keras.


Raka balas memukul kepala Morgan sampai terdengar aduhan. "Pusing gue masalah cewek," ujarnya. Raka tidak tahu lagi mesti melakukan apa untuk membujuk Agatha-nya. "Sejak kejadian di rooftop Agatha nggak mau ketemu sama gue, jangankan ketemu, angkat telepon gue aja dia nggak mau!"


Gino mengukir senyuman miring. "Putus aja udah, cari cewek lain," tuturnya enteng.


"Enak dong lo kalo mereka putus, lo jadi bebas deketin Agatha lagi ye kan?" tudingnya pada Gino dibalas angkatan bahu tidak peduli. "Tapi .... Terserah lo aja sih, Ka. Cewek yang suka sama lo itu banyak, kayak Nayla misalnya."


"T4i lo!" kesal Raka, dia ingin memukul kepala Morgan lagi namun cowok itu menghindar dan berlari, mau tidak mau dia mengejarnya. "Gue gibeng pala lo ye, Mor!" teriaknya.


"Coba sini, mustahil lo bisa nangkap gue," balas Morgan. Dia menoleh ke belakang memasang wajah songong membuat Raka semakin geram, dan saat dia kembali menatap ke depan dia tak sengaja menabrak seseorang alhasil kecepatan larinya berkurang.


Gino ikut di belakang mereka tanpa sepatah kata, dia hanya tertawa saat Raka dengan susah payah meraih Morgan dan memelingan cowok itu sampai berteriak kesakitan.


"Kalo tangan gue patah yang bayar biaya amputasinya elo yang, Ka!" teriak Morgan berapi-api.


.


.


.


Yang penasaran sosok Gino siapa?


Yang penasaran sosok Morgan siapa?


Ada yang bisa nebak alurnya?


jangan lupa like untuk target 🐩


SALAM DARIKU,

__ADS_1


SYUGERR


__ADS_2