
Siap komen banyak di part ini?
siap ajak temen-temen yang lain buat ikut baca cerita ini?
siap like sebelum baca?
jam berapa kalian baca cerita ini?
absen dulu say💜
.
.
.
.
.
Seperti janjinya dengan sang mama lima hari yang lalu, Raka benar-benar membawa Nayla ke rumahnya. Dia juga sudah ijin dengan Agatha, dan menekankan pada Nayla jika ini hanyalah pertemuan biasa yang tak berarti apa-apa.
Masuk ke kediaman Dirgantara, Raka melepas tasnya dan melemparnya ke sofa, ia kemudian melepas sepatu dan meninggalkan begitu saja ketika berjalan ke tangga. Nayla yang berdiri di sampingnya cengo sesaat melihat tingkah tidak sopan cowok itu.
"Gini cara lo nyimpen barang-barang?" tanya Nayla membuat Raka yang sudah ada di ujung tangga menoleh. "Mau kemana lo? Lo yang ngajak gue kesini dan lo malah ninggalin gue! Kalo tau gini gue pulang aja, lo pasti sengaja ngajak gue kesini cuma main-main doang!"
Satu alis Raka terangkat, ia kembali berjalan pada Nayla. "Di otak lo emang nggak ada kesan baik sedikitpun tentang gue?" tanyanya yang dibalas tatapan datar. Raka mengibaskan tangan. "Udahlah, percuma gue nanya, nyokap gue ada di taman belakang lo kesana aja, gue gerah mau mandi."
"Anterin gue, rumah lo gede banget dan gue nggak tau arah ke taman belakang!" tukas Nayla.
"Kayaknya lo 0on deh, nggak ada pinter-pinternya jadi orang," nyeleneh Raka hingga Nayla mengangkat sebelah alis. Raka memutar tubuh 180°, ia kembali berjalan pada tangga. "Ke taman belakang ya lewat belakang lah, masa depan!"
"RAKA 0ON!" teriak Nayla berapi-api. Dia memilih berjalan sendiri, menyusuri rumah megah ini lebih dalam hingga dirinya bertemu dengan salah satu wanita yang merupakan pembantu.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita itu melihat raut bingung di wajah Nayla.
Nayla mengusung senyuman tipis sebagai bentuk kesopanan. "Saya temen Raka, dia minta saya ke taman belakang, bisa tunjukkan jalannya?"
Wanita itu mengangguk dan menunjukkan jalan. Nayla berjalan dengan diam sesekali menyapu pandang pada furniture mewah di rumah ini.
Masuk ke sebuah pintu Nayla melihat seorang wanita yang duduk di kursi taman, menatap bunga-bunga yang bermekaran indah. Wanita parubaya yang mengantar Nayla sudah pergi meninggalkan Nayla. Yang ada hanyalah Nayla yang berdiri gugup di pijakannya.
Netra Nayla membulat saat wanita itu menoleh dan tersenyum padanya. Nayla mengangguk sopan, perlahan ia melangkahkan kaki gemetarnya mendekat.
"Jangan gugup, Sayang. Duduk sini," ujar wanita itu saat mimik wajah Nayla sarat akan ketakutan. Dengan senyuman kikuk Nayla duduk di sampingnya, ia kemudian memposisikan duduknya agar berhadapan dengan Nayla. "Kamu gadis yang terlibat insiden dengan Raka?"
Nayla mengangguk. Sempat terkejut karena ternyata ucapan Raka yang membujuknya untuk kesini ialah benar, mama Raka ingin bertemu dengannya. Nayla sempat menolak karena takut dijebak.
"Kamu tau Raka orangnya seperti apa?" tanya sang mama yang langsung dibalas anggukan oleh Nayla. Sang mama tersenyum, ia membelai wajah Nayla dan berkata, "Menurutmu Raka orangnya seperti apa?"
"Punya gengsi setinggi langit, menyebalkan, egois, suka bikin naik darah," spontan Nayla mengingat setiap tingkah Raka yang tidak pernah baik terhadapnya, detik berikutnya netranya membulat dan kontan menutup mulut. "Maaf Tante saya nggak bermaksud jelek-jelekin Raka." Emang aslinya udah jelek.
Nayla sempat mengalihkan tatapan ke arah lain untuk berpikir. "Ini argumen saya aja ya Tante. Raka orangnya tulus banget, dia juga nggak tegaan jadi orang, Raka lumayan pintar ngendaliin emosi kalau sama cewek." Nayla mengigit bibir, ingatannya mengarah pada malam itu. "Raka cowok yang sabar tapi sekalinya marah buas banget," lanjutnya.
Sang mama mengangguk. "Coba sini liat Tante dan ceritain awal mula kamu ketemu sama Raka."
Permintaan sang mama itu membuat Nayla terdiam cukup lama. Dia benar-benar berusaha keras melupakan awal pertemuannya dengan Raka dan kini ia dipaksa untuk mengingat. Nayla menggeleng, tangannya berkeringat dingin karena gugup dan mama meraih kedua tangan Nayla dan menggenggamnya.
"Ceritain sama Tante," pintanya sangat, Nayla menggeleng.
"Tante bisa bantu kamu bujuk Raka kalo apa yang kamu ucapin itu benar," pintanya lagi dengan suara lembut berhasil membuat Nayla melunak hingga akhirnya mengangguk.
Nayla mulai menceritakan detail kejadian yang ingin ia lupakan dan takkan bisa ia lupakan bagaimanapun keadaannya dengan iris yang sesekali bertubrukan dengan iris mama.
Raka mengintip di balik jendela atas. Dia sama sekali tidak mendengar apa yang wanita beda usia itu bicarakan, yang jelas itu tidak jauh-jauh dari dirinya. "Nayla pasti jelek-jelekin gue di depan Mama," ujarnya.
Dia kemudian meraih handuk dan mengeringkan rambutnya yang masih meneteskan air. Sekali lagi ia menoleh ke jendela, mengangkat satu alis saat melihat Nayla menangis yang dibalas pelukan oleh mamanya.
__ADS_1
Raka berdecak, "Parah, akting tuh cewek ular oke juga, mama percaya nggak ya?" tanyanya entah untuk siapa.
Cowok bercelana cargo dengan tubuh atas Shirtless yang tak tertutupi kain itu masih mengintip di balik jendela hingga lima menit setelahnya Nayla berdiri dan bergegas pergi, Raka melempar handuknya ke sembarang arah dan keluar kamar.
"Jangan mentang-mentang lo penulis dan lo bisa seenaknya ngarang cerita tentang gue!" tukas Raka, ia menuruni tangga dengan sangat cepat, berdiri di hadapan Nayla yang terdiam kaku. "Jawab! Apa yang lo katakan ke nyokab gue?!" paksanya.
Nayla diam, ia sempat salah fokus saat Raka menuruni tangga untuk menghampirinya, tatapannya selalu mengarah pada kotak-kotak di perut Raka. Entah kenapa Raka selalu saja bisa membuatnya terdiam kaku.
"Eh, gue bicara sama lo, ngadep sini!" ketus Raka saat Nayla tidak ingin melihat ke arahnya. Raka mencari objek yang saat ini Nayla pandang dan ternyata hanyalah guci. "Nay, telinga lo udah nggak berfungsi atau apa? Ngadep sini, jawab pertanyaan gue!" paksanya.
"Enggak!" balas Nayla sedikit berteriak. Dia ingin segera pergi namun Raka menarik lengannya. "Lo apasih?" ketusnya kembali tanpa menatap Raka.
"Apa yang lo omongin sama nyokap gue?" tanyanya sedikit memaksa. Raka menarik tangannya dari lengan Nayla. "Lo kenapa sih nggak mau ngadep sini? Segitu bencinya lo sama gue?"
"Gue emang benci sama lo karena lo nggak pake baju, puas?" Setelah mengatakan itu dengan nada kesal Nayla berlari untuk segera meninggalkan rumah ini.
"Cuma itu?" Raka memasang wajah lempeng, tidak habis pikir jalan pikiran Nayla. Hanya karena dirinya yang tidak memakai baju cewek itu tidak ingin menoleh ke arahnya. "Lebay," cibirnya.
Mama yang saat itu sudah berdiri di dapur mengusung senyuman simpul melihat perdebatan putranya dengan gadis berkarakter unik seperti Nayla. Saat mengobrol dengan gadis itu tadi, kebanyakan buruknya Raka yang ia bicarakan, berbeda dengan gadis lain yang menyukai putranya.
.
.
.
Menurut kalian Raka gimana?
apa yang ingin kalian katakan ke Nayla?
Salam dariku,
SYUGERR
__ADS_1