
HAIII ... ABSEN DULU GUYS.
.
.
.
.
.
"Aku ada di kafe depan, sekarang kamu dimana?" Aldi tersenyum tipis melihat Nayla yang sedang linglung di depan gerbang universitas Taruna Bakti. Dilihat dari caranya memandang ke sekitar sepertinya sedang geram entah karena apa Aldi tidak tahu. "Kenapa mukamu ketekuk begitu?" Aldi terkekeh pelan, sambungan terputus begitu saja setelah kalimatnya terucap.
"Pak, seharusnya nggak perlu repot-repot datang kesini buat jemput saya, jadwal Pak Aldi 'kan, padat," tutur Nayla. Tidak habis pikir pada dosen satu ini yang selalu saja menyempatkan waktu untuk bertemu dengannya setelah apa yang Nayla katakan beberapa hari yang lalu.
"Kan, pengen ketemu kamu, gimana kuliahnya, lancar? Ada yang jahatin kamu? Mending duduk dulu kamu." Aldi memerintahkan Nayla untuk duduk, lagi-lagi dibuat senyum karena wajah tertekuk Nayla yang menurutnya menggemaskan. "Kenapa wajah kamu ditekuk gitu?" tanyanya.
"Kita 'kan, udah putus, Pak. Saya mohon Pak Aldi nggak usah kayak gini lagi, jangan samain yang dulu dan sekarang," tegur Nayla. Bukannya tidak senang, hanya saja ada perasaan aneh yang menjalar pada hatinya saat berdekatan dengan Aldi, rasa sukanya pada lelaki itu masih sangat besar, dia tidak ingin niatnya untuk meminta pertanggungjawaban pada cowok yang sudah berbuat hal tidak senonoh padanya lebur begitu saja. "Kita. Udah. Putus," tekannya di setiap kata yang mampu menyatukan alis Aldi dengan mata memicing.
"Alasan kamu tidak masuk akal dan tidak aku terima. Kita pacaran karena keinginan kita berdua, dan putus pun harus begitu, tidak boleh sepihak," jelas Aldi. Dia menyeruput sedikit white coffe yang telah dipesannya lalu menumpukan siku di meja. "Ada alasan yang lebih jelas? Lagian, kamu masih suka 'kan, sama aku? Terlihat dari mata kamu," ujarnya lagi.
__ADS_1
"Saya memang sudah bosan, Pak. Saya mau fokus sama kuliah saya saja, nggak mau pacar-pacaran." Nayla menggeleng kukuh. Teguh pada pendirian. Aldi mengukir senyum membuat Nayla was-was ditempatnya. Pesona seorang Aldi Destura terlalu besar untuk Nayla abaikan.
"Itu alasan anak SMA yang mau fokus ujian, Nay. Nggak cocok kamu gunakan sebagai alasan." Aldi terkekeh pelan, Nayla kian gugup tidak tahu harus menjawab apa lagi. "Lagian aku berniat melamar kamu setelah lulus nanti, aku kepingin serius sama kamu, Nay."
Iris coklat teduh itu menghipnotis iris coklat milik Nayla hingga enggan untuk mengalihkan tatapan. Andai saja malam itu tidak terjadi, pasti cewek berwajah manis ini sangat senang bukan main, berteriak-teriak dan melompat sebagai wujud nyata kesenangannya. Namun, yang bisa dilakukannya hanya menatap dalam dengan bibir membisu terkatup rapat.
"Apa yang Pak Aldi suka dari saya?" Entah kenapa pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Nayla. Akan tetapi, sungguh! Dia penasaran dengan jawabannya, Aldi ini ganteng, tajir, dan seorang dosen yang digilai mahasiswi karena ke-perfeksionis-sannya dalam segala hal, rasanya masih tidak percaya jika melepaskan cewek seperti Nayla saja susah.
"Teralu banyak Nayla, saking banyaknya aku sampai bingung dan memilih tidak ada untuk mencintai tanpa alasan," jawab Aldi.
"Sebut saja, Pak. Tiga aja kalau perlu," kekeh Nayla. Aldi terkekeh pelan yang mana membuat Nayla mengalihkan tatapan ke arah lain, tangannya gatal ingin memegang tangan Aldi karena gemas melihat tawanya. Tatapan Nayla jatuh pada segerombolan cowok yang dikenalnya, mereka adalah Raka, Morgan, dan Gino yang baru saja masuk ke cafe.
"Ehm, kenapa pengen tau alasannya?" Aldi malah memancing kekesalan Nayla, cewek itu hanya membalas dengan sorot mata malas membuat Aldi tersenyum jenaka. "Kamu hebat, berhasil luluhin hati aku dan nggak capek ngejar-ngejar aku, sampai-sampai kamu nyaris melampaui kodratmu sebagai perempuan yang harusnya dikejar bukan mengejar," ujarnya.
"Kedua, selama kita pacaran kamu nggak pernah nuntut apapun dan selalu bisa ngertiin aku, beda sama mantan-mantanku yang dulu yang buat aku pusing," lanjut Aldi. Fokus Nayla langsung terbagi, kembali menatap raut wajah Aldi yang tenang seraya menatap irisnya dalam.
"Bukannya Pak Aldi yang selalu ngertiin saya? Saya 'kan, yang selalu merepotkan Pak Aldi, minta bantuan sama Pak Aldi," sanggah Nayla. Aldi menatap Nayla humor, merasa lucu dengan ucapan cewek itu, Nayla mendengus seraya mengalihkan tatapan ke arah lain. Bertemu dengan iris hitam milik Raka yang menatapnya rendah dengan senyum miring. Nayla menggeram tertahan, mengepalkan tangan kuat-kuat di atas pahanya.
Melihat mimik wajah Nayla yang berubah, Aldi kian ingin menoleh ke belakang, tetapi Nayla lebih dulu mencegahnya. "Kenapa? Kenapa ketekuk gitu wajahnya?" tanyanya sarat akan penasaran dan kekhawatiran. Tidak biasanya Nayla memasang wajah tertekuk saat bersamanya, tidak ceria seperti biasa.
"Nggak papa kok, Pak. Lanjut aja yang ketiga." Nayla tersenyum tipis untuk menghilangkan kerutan curiga di kening Aldi. Dia tidak ingin jika Aldi tahu masalah yang menimpanya, dia tidak ingin melibatkan orang lain dan berakhir merepotkan, dia ingin menyelesaikan masalahnya sendiri.
__ADS_1
"Ketiga, kamu pandai menjaga diri, dari 100 persen perempuan ada 80 persen yang sudah tidak perawan, dan 20 persen yang masih perawan. Aku yakin, kamu masuk ke dalam 20 persen itu, kamu perempuan baik-baik seperti idamanku. Kamu tahu Nayla, aku tidak menyukai bekas orang lain."
Nayla merasa tertampar. Alasan ketiga itu mungkin yang paling utama untuk Aldi, lelaki itu tidak menyukai bekas orang lain makanya ingin mempertahankan Nayla yang dirasanya masih suci dan terjaga. Bagaimana jika Aldi tahu yang sebenarnya? Nayla tidak ingin jika itu terjadi, hatinya tidak ingin sakit lebih dari ini. Hanya memutuskan hubungan pacaran mereka dan setelah itu Nayla akan berusaha keras melupakan Aldi.
Tetapi bagaimana caranya? Alasan apa lagi yang akan Nayla katakan supaya Aldi mengerti dan mengakhiri hubungan mereka. Lagipula, seorang Aldiano Destura tidak akan susah untuk mencari pengganti pasangannya, bahkan yang lebih cantik dan berkelas, yang setara dengan statusnya yang kaya raya. Tidak seperti Nayla yang berasal dari kalangan menengah ke bawah, hidup di kota mengandalkan otak dengan bekerja paruh waktu yang selalu dilakukannya, seperti menulis, dan menjadi editor di sebuah perusahaan penerbit yang tengah naik daun.
"Nay, aku cinta sama kamu, itu yang paling utama," lanjut Aldi. Mimik wajah Nayla membuatnya bingung setengah mati, cewek itu juga banyak diam tidak ceria seperti biasanya, Aldi seperti kehilangan sosok Nayla Kayana yang menjadi pacarnya, hingga Aldi bertanya-tanya apakah keputusan Nayla untuk mengakhiri hubungan mereka sudah bulat? Tetapi apa alasannya? "Nay, kamu ada masalah? Bisa cerita sama aku, hubungan kita sudah berjalan satu tahun dan nggak mungkin alasan kamu cuma bosan, Nay. Itu terlalu klasik dan aku nggak percaya sama sekali."
"Terserah Pak Aldi."
"Hati-hati dong! Baju gue basah 'kan, jadinya!"
.
.
.
.
.
__ADS_1
SALAM DARIKU,
SYUGERR