LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 35


__ADS_3

Assalamualaikum ...


Apa kabar?


Lama tak berjumpa:D


Ada yang kangen?


.


.


.


"Dasar cewek muka tebel, nggak tau diri, bisanya cuma recokin hubungan orang!"


Tiga cewek ---entah siapa--- tiba-tiba saja datang berdiri dan menghadangnya. Belum lagi dengan mulut mereka yang pedas, menghina dirinya dengan kejam.


Nayla melirik sekitar, lumayan banyak orang yang menyaksikan mereka namun tidak sekalipun di antara mereka yang berniat membantunya. Nayla ingin berjalan melewati tiga cewek yang menghadangnya namun rambutnya langsung ditarik hingga kepalanya terpaksa mendongak.


"Atas dasar apa sih lo niat banget ngancurin hubungan mereka," sinis salah satu cewek tersebut. Dia semakin menarik keras rambut Nayla sampai cewek tersebut memekik sakit. "Ingat! Lo itu cuma mahasiswi undangan, bukan mahasiswi tetap. Sesekali tau diri jadi orang, greget gue sama lo!" sentaknya.


"Tarik terus sampai m4mpus," teriak cewek berkuncir dua dengan semangat.


"Jangan kasih ampun, cewek perusak hubungan orang nggak pantas dimaafin."


"Ngerasa cantik lo sampai nekad nyatain cinta ke Raka? Cantikan Agatha kali kemana-mana!"


Nayla memejamkan mata sejenak, menikmati rasa sakit yang menghujam kulit kepalanya dan hatinya yang terasa perih. "Le---pasin," pintanya dengan suara bergetar. Nayla mencengkeram pergelangan tangan orang yang menarik rambutnya, akan tetapi rambutnya kembali ditarik keras hingga dirinya tidak punya tenaga lagi untuk memberontak. "Gue mo--hon lepasin, sa--kit banget!"


"Hahaha, baru segitu aja lo udah ngerasain sakit. Apa kabar sama lo yang udah tega dorong Agatha di toilet?"

__ADS_1


"Beraninya sama yang lemah lembut, dasar cewek bar-bar pengecut!"


Nayla mendorong Agatha karena emosinya yang sudah tidak dapat dikendalikan. Dikarenakan Agatha yang terus menerus mengucapkan kalimat yang tidak pantas dikatakan oleh cewek baik-baik. Apalagi setelah tahu fakta kalau Agatha tidak benar-benar mencintai Raka, dia hanya memanfaatkan cowok tersebut sesuka hati.


"Ka--lian salah pa--akkhh." Ucapannya belum selesai namun tarikan di rambutnya semakin erat, Nayla rasa kulit kepalanya sebentar lagi akan tercabut. Setetes air mata keluar dari sudut matanya, untuk berbicara saja Nayla rasa sudah tidak mampu. "Sakiiit," batinnya.


"Nangis! Nangis darah sekalian, kita-kita nggak peduli!"


"Tarik terus, sampai botak tuh kepala!"


"NAYLA!"


Teriakan yang terdengar lantang itu membuat mereka menoleh ke arah utara, di sana Viola berdiri dengan napas ngos-ngosan setelah berlari dan membelah kerumunan. Iris Viola berkilat murka saat melihat keadaan Nayla yang sudah tidak berdaya.


"Lepasin tangan lo dari rambut Nayla, B4jingan!" teriak Viola, menarik secara kasar tangan cewek yang sedari tadi menarik rambut Nayla. "Nay, lo nggak papa, kan?" tanya Viola penuh kekhawatiran seraya memegang kedua pergelangan tangan Nayla, cewek itu nyaris tumbang.


Viola melirik manusia-manusia lain di kerumunan ini, lirikan matanya benar-benar tidak bersahabat. "KALIAN SEMUA KENAPA DIAM AJA? TAKUT LO SAMA MEREKA BERTIGA? CEWEK BEDAK TEBAL YANG NGGAK BERGUNA!" sentaknya.


Ketiga cewek yang tadi menghadang Nayla melotot tidak terima. "Lo nggak usah ikut campur," sentak salah satu di antara mereka. Dia tertawa sarkas, Viola sampai mengepalkan tangan mendengar tawa itu. "Lo bukan siapa-siapa dia, kami tau kalo kalian adalah saingan, bukan teman apalagi sahabat!" ujarnya.


"Asal lo tau, Nayla udah dorong Agatha di toilet, dan itu sebagai hukuman karena dia lancang!" sorakan penuh penekanan itu ditanggapi dengan anggukan dan sorakan-sorakan 'betul' dari mereka yang menonton. Suasana yang riuh jadi semakin riuh.


"Nayla nggak mungkin ngelakuin hal tanpa sebab, gue kenal dia lebih dari kalian! Jadi .... Mulai saat ini kalo kalian masih nekad nyakitin Nayla, itu sama aja kalian nyari masalah sama gue!" Setelah mengatakan itu Viola membantu Nayla untuk pergi dari tempat ini sekarang juga.


"EMANG LO KIRA GUE TAKUT SAMA LO?!"


"Mau Nayla kek, elo kek, gue nggak takut! Kalian sama aja, sama-sama cewek nggak tau diuntung."


Mengabaikan teriakan-teriakan yang menusuk telinga itu. Viola menghela napas panjang, berusaha meredakan emosinya yang meluap-luap karena ucapan-ucapan mereka semua. Untung saja dirinya tidak lepas kendali sehingga mulut mereka masih aman.


Sedangkan Nayla, dia bertarung dengan perasaan berbeda-beda yang masuk ke hatinya. Saat Viola yang selama ini dianggapnya 'saingan', orang yang harus dia kalahkan, membelanya dengan penuh percaya diri. Jujur, Nayla sangat bahagia mendengar itu, mendengar setiap pembelaan Viola, seolah-olah beban yang menghimpit hatinya perlahan-lahan mulai runtuh.

__ADS_1


"Makasih, Vio," tutur Nayla.


"Sama-sama, lagian lo ada-ada aja, ngapain cari masalah sama Agatha terus coba," balas Viola. Dia membantu Nayla duduk di kursi taman, tempat ini lumayan sepi untuk mereka berbicara.


"Gue mau cerita yang sejujurnya sama lo," tutur Nayla. Dia rasa ini yang terbaik, dia percaya pada Viola, dan sudah tidak ada orang lain lagi yang bisa menjadi tempat dirinya bercerita. Nayla lelah memendam semuanya sendiri, dia butuh teman yang bisa menyemangatinya. "Tapi lo harus janji nggak bakal sebar dan ngomong ke siapa-siapa," ujarnya penuh harap.


Viola langsung mengangguk, dia memilih duduk seraya bersandar. "Emang apa? Penting banget yah sampai nggak boleh kesebar?" tanyanya.


Nayla mengangguk. "Penting banget, gue bisa hancur kalo ini kesebar."


Kening Viola mengerut, menatap Nayla dengan sorot tidak paham. Nayla mengukir senyuman kecil yang lemah, bibirnya terlihat sangat pucat. "Cerita cepetan, gue janji nggak bakal sebar," ujar Viola.


Nayla mengangguk dengan harapan Viola mengerti dan percaya pada dirinya. "Gue sebenernya nggak bener-bener suka sama Raka." Baru saja satu kalimat itu yang terlontar, Viola terlihat sudah ingin menampik namun langsung ditahan. "Gue deketin Raka karena dia udah ilangin kata 'gadis' dari diri gue."


"WHAT?" pekik Viola terkejut, dia melirik ke sekitar berharap hanya mereka berdua yang berada di sini. "Kok bisa? Kapan lo sama Raka 'begituan'? Kalian kan baru kenal," bisiknya hati-hati.


Nayla menghela napas, sudah menduga reaksi Viola akan semeriah itu. "Raka tiba-tiba aja masuk ke apartemen gue yang lupa gue kunci dan nganggep gue Agatha, dia mabuk dan nggak tau kalo sebenernya itu gue, bukan pacarnya Agatha." Nayla sebenarnya ingin melupakan malam itu, namun rasanya sangat sulit atau bahkan mustahil. "Dia maksa gue ngelakuin itu karena ngira gue Agatha."


.


.


.


Sampaikan uneg-uneg kalian di komentar?


Bagaimana rasanya menunggu selama itu?


Nyaris satu bulan aku nggak update:(


Masih ada yang nungguin cerita ini?

__ADS_1


salam dariku,


SYUGERR


__ADS_2