LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 37


__ADS_3

update lagi ....


Semoga nggak bosan nunggu ...


selamat siang, jangan lupa makan siang.


selamat membaca, tapi sebelum itu like dulu yah!:*


.


.


.


"Gue bisa buktiin kalo apa yang selama ini gue ucapin semuanya benar," ujar Nayla.


"Nggak ada yang perlu di buktiin lagi, semuanya udah jelas," jawab Raka.


"Tapi, Ka. Niat gue untuk nyerah udah luntur saat Agatha kembali menyiram minyak di api yang sebentar lagi akan padam."


Mereka berdua berada di perpustakaan. Dihukum oleh dosen mencari buku apa saja yang berkaitan dengan materi hari ini namun bukannya sibuk mencari, Nayla memanfaatkan itu untuk membuat Raka percaya jika semua ucapannya ialah benar.


"Problematika kita nggak ada kaitannya sama Agatha." Raka menarik sebuah buku dan menggenggamnya, dia kembali menyusuri rak demi rak untuk mencari buku-buku yang lain. "Kerjain hukuman lo jangan ikutin gue mulu," ujarnya kembali.


"Justru semua masalah yang muncul berawal dari Agatha, pacar lo yang nggak tau terimakasih itu!"


Sebuah suara peraduan terdengar tepat setelah Nayla menyelesaikan kalimatnya. Bibir Raka menipis menahan kesal sebelum akhirnya dia memilih pergi dari sana dengan buku-buku tangan yang mengucurkan darah.


Nayla tergugu, tidak berani lagi untuk mengusik Raka. Melihat cowok tersebut melangkah keluar, Nayla tidak mengejar melainkan memutar tubuh 45° dan mulai sibuk meniti satu demi satu buku-buku tebal yang berbaris rapi.


"Lo bodoh, Ka. Bodoh di percintaan dan juga bodoh di pendidikan," gumamnya.

__ADS_1


Nayla terkejut saat tiba-tiba saja ada yang menepuk punggungnya. Dia yang duduk sendiri di tengah-tengah kantin kontan menjadi perhatian saat suaranya terdengar. Viola yang merupakan pelaku tertawa lalu duduk di sampingnya.


"Lo ngapain duduk di tengah-tengah gini? Nggak takut jadi pusat perhatian?" tanya Viola, dia menarik gelas yang Nayla pegang lalu meminumnya.


"Itu minuman gue Vio," ujar Nayla namun percuma karena minuman yang baru saja tiba itu sudah habis oleh Viola. "Gue juga haus tauu, lo datang-datang langsung minum punya gue," ujarnya pelan.


"Haus lo itu boongan! Kalo aja beneran nih jus sampai---langsung lo minum, bukan diaduk-aduk doang. Jawab pertanyaan gue, lo ngapain duduk di meja tengah gini? Udah tau trending topic perebut do'i orang," gurau Viola membuat Nayla mencebikkan bibir.


"Gimana caranya bawa Raka buat nonton tuh cctv? Pas di perpustakaan tadi dia kayaknya udah nggak mau ngobrol apalagi deket sama gue," tutur Nayla meraih piring yang berisi bakso bakar pesanannya.


"Gue nanya dan lo malah nanya balik? Bukannya lo tau kalo kecerdasan yang sebenarnya itu berasal dari jawaban pertanyaan, bukan pertanyaan yang diberikan," tutur Viola mengambil satu garpu dan memakan bakso bakar milik Nayla.


"Bukannya lo juga tau kalo mengambil milik orang lain tanpa ijin sama aja mencuri?" Nayla menjauhkan jangkauan piringnya dari Viola. "Gue duduk di sini biar semua orang tau kalo gue nggak takut sama cibiran mereka, gue bener jadi untuk apa gue sembunyi? Biarin mulut mereka berbusa gunjingan gue."


"Wihh, gitu dong, itu baru namanya Nayla Kayana. Pantang nyerah," pujinya, Viola kembali menusuk bakso milik Nayla dan memakannya. "Btw, Raka tinggal di rumah apa di apartemen?"


"Apartemen," jawab Nayla. Viola mengangguk-angguk dengan mulut yang penuh, melihat itu Nayla langsung berdiri untuk membeli sebotol air untuk jaga-jaga takut Viola tersedak.


Gino dan Morgan kini berjalan mendekatinya. Nayla yang juga berada lima meter dari kursinya langsung menghentikan langkah. Dia tidak siap satu meja dengan teman-teman Raka, dirinya yakin jika ucapan kedua cowok itu lebih tajam dari netizen-netizen rempong di luar sana.


"Nay, lo ngapain berdiri di sana? Sini aja, gabung sama mereka," panggil Viola dengan suara santainya seperti tak terjadi apa-apa. Dengan berat langkah Nayla kembali pada kursinya. "Mana minumnya? Tenggorokan gue rasanya kecekik," tanyanya membuat Nayla menyodorkan sebotol air.


"Raka tinggal di apartemen mana?" tanya Viola setelah meneguk air mineralnya.


"Biar gue yang mesan, Gino lo tunggu aja di sini." Morgan berniat kabur dari pertanyaan itu, bisa berabe jika membahas Raka di depan Nayla. Setidaknya itu yang ada di otaknya sekarang mengingat bagaimana usaha Nayla untuk memisahkan sahabatnya itu dari Agatha.


Sepergian Morgan, Viola tiba-tiba saja bungkam, dia segan bertanya pada Gino dikarenakan cowok tersebut sangat jarang bicara. Iritnya kelewatan.


"Apartemen Raka dekat apartemen gue," tutur Nayla membuat Viola melongo untuk beberapa detik.


"Kenapa nggak bilang dari tadi?" geramnya pada Nayla.

__ADS_1


"Gimana mau bilang, lo aja baru nanya," tutur Nayla membuat Viola mengerucutkan bibir.


"Ngapain kalian nyari info tentang Raka?" tanya Gino. Viola mengusung senyuman manis, Nayla was-was sendiri takut dihakimi. "Mau jebak dia seperti apa lagi?"


"Apasih lo Gin, nggak ada yang mau jebak Raka," kilah Viola cepat, dia tertawa pelan agar suasana yang tercipta tidak terlalu tegang. "Kita cuma mau nunjukkin cctv, udah itu aja," ujarnya lagi.


"Nggak usah ikut campur lo." Setelah diam beberapa saat akhirnya Nayla mulai mengeluarkan suara membuat Gino menatapnya. "Walaupun lo sahabat Raka sekalipun, lo nggak ada hak buat ikut campur urusan gue sama dia," tuturnya berani.


"Siapa bilang? Tali persahabatan gue dan Raka nggak bakal kendor karena konflik yang nimpa kalian." Gino tersenyum miring, Viola sampai heran dan tak berkedip menatapnya, dia baru sadar jika wajah Gino tampan berkali-kali lipat saat tersenyum seperti itu. "Dan untuk lo, Vio." Gino menatap Viola. "Yakinin temen lo kalo sampai bukti yang dia tunjukkan salah dia nggak bakal ganggu Raka lagi."


Kening Nayla mengerut, ada yang aneh dari kalimat Gino. Seketika mata Nayla terbelalak saat menyadari sesuatu. "Lo tau konflik yang nimpa gue sama Raka?" tanyanya dengan mata memicing.


Viola juga baru sadar, dia menatap lamat-lamat wajah Gino yang datar. "Gino, lo nggak nyembunyiin sesuatu dari kita, kan?"


"Pesanan datang." Suara Morgan tiba-tiba saja datang menyela, keningnya mengerut saat Gino tiba-tiba berdiri dan pergi begitu saja. "Mau kemana lo?" teriaknya, langkah Gino yang panjang membuatnya cepat jauh.


Nayla ikut berdiri dan berlari mengejar Gino. Ada sesuatu yang tidak beres dari cowok cuek itu. "Mau kemana mereka?" tanya Morgan pada Viola, yang ditanya hanya diam dengan pandangan tertuju pada pintu. "Vio, gue nanya jangan kacangin gue elah," sungutnya.


"Lo makan aja," ujar Viola. Dia berdiri namun Morgan dengan gesit ikut berdiri dan menariknya. "Morgan, apasih," sungutnya pada Morgan yang mana membuat Morgan nyengir tidak berdosa. Viola kembali duduk di tempatnya. "Makan, gue tetap di sini nemenin lo."


.


.


.


.


.


SALAM DARIKU,

__ADS_1


SYUGERR


__ADS_2