LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 47


__ADS_3

selamat malam!


jam berapa kalian baca cerita ini?


oh iya, kalian berasal dari provinsi mana saja?


jangan lupa absen yahh 💜


.


.


.


Nayla berguling ke sisi lain kasur. "Menurut lo sifat Gino itu gimana?" tanyanya pada cewek yang duduk bersila seraya memangku sepiring sate. Nayla merentangkan kedua tangannya lalu menoleh ke samping kanan. "Vio, makan mulu lo! Jelasin dulu menurut lo Gino itu gimana?"


"Perfect." Viola kembali memakan rakus setusuk sate, mengabaikan ekspresi Nayla yang kian masam.


"Info apa aja yang lo dapet setelah ngikutin pak Aldi seharian?" Nayla menyapu pandang pada furniture kamar Viola, tadinya mereka berencana ke apartment namun urung saat Nayla tiba-tiba saja malas masuk ke apartmentnya sendiri. Nayla beralih duduk, meraih tas Viola dan menggeledahnya. "Sekretaris apaan lo. Cuma bawa satu buku kecil, hp, mah skincare," omelnya.


Viola memakan setusuk sate terakhirnya. Meraih tissue, ia menunjuk susuk kotak di atas nakas. "Ambilin itu dulu Nay, haus nih."


Nayla menaikkan satu alis dan memasang ekspresi sebal namun tetap saja ia mengikuti perintah Viola. "Cepet kasih tau, info apa aja yang lo dapet?" desaknya. Dia menerima sodoran piring bekas dari Viola dan menyimpannya di nakas. "Seenak jidat lo nyuruh-nyuruh gue."


"Lo itu seharusnya bersyukur udah gue bantuin!" gerutu Viola. Dia mengambil buku kecil bersampul biru di tangan Nayla dan membukanya, mencari beberapa kalimat yang sempat ia tulis. "Nih baca, Kalo masih belum ngerti entar gue jelasin," ujarnya.


"Raka keliatan kenal sama pak Aldi, dan perusahaan Dirgantara akan bekerja sama dengan perusahaan pak Aldi ...." Nayla membaca kalimat itu dua kali sebelum netranya membulat membaca empat kata terakhir. "Hotel dan restoran italia? Busyeet! Abis berapa milyar tuh buat bangun?" hebohnya.


Viola mengangguk. "Gue sering banget bahas bisnis sama bokap gue jadi ngerti dikit-dikit. Dan menurut pandangan pribadi gue, hotel dan restoran italia itu nggak cocok dibangun, dikelola oleh dua perusahaan yang asing sebelumnya. Karena apa? Kesempatan buat nipunya lebih muda, Dan gue yakin banget kalo di antara mereka ada yang kepingin main curang," tutur Viola.

__ADS_1


Nayla mengangguk, ia sangat mengerti info yang Viola bawa. Hotel dan restoran italia membutuhkan biaya yang sangat banyak, bisa sampai ratusan milyar dan akan memicu konflik yang sangat besar jika salah satunya ada niat curang.


"Dan maksud lo Raka udah kek kenal sama Pak Aldi itu gimana?" tanya Nayla. Seingatnya pertemuan pertama Raka dan Aldi tidak berjalan begitu baik karena dirinya yang tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Agatha dan membuat Raka marah. "Pertemuan pertama mereka nggak begitu baik," ujarnya yang dibalas kernyitan oleh Viola.


"Dulu pak Aldi sempat ngajak gue ke cafe Dan waktu itu gue nggak sengaja nyenggol Agatha sampai minumannya tumpah ke baju dia, Raka marah dan sempat debat dikit sama pak Aldi," tutur Nayla. "Apa itu bukan pertemuan pertama mereka?"


Viola menggeleng tidak tahu. "Tanyain sama Raka aja sana. Kalo masalah Gino apa aja yang lo dapetin?" Viola senyum-senyum kesenangan karena akan membahas seorang Gino Sigra Pribawa. "Apa aja? Cepet jelasin!"


Nayla memasang ekspresi masam lalu mulai menceritakan apa saja yang ia dapatkan setelah mengikuti Gino seharian, Viola yang mendengar itu memasang ekspresi masam, ia ingin bertukar posisi dengan Nayla.


"Ekspresi Gino terlalu sulit buat gue baca," ujar Nayla seraya mengingat-ingat ekspresi apa saja yang sempat tampil di wajah tampan Gino. "Minim ekspresi jadi susah buat ditebak," komentarnya.


Viola mengangguk, ia menangkup wajah dan tersenyum manis. "Sebab itulah gue jatuh cinta sama Gino, cowok kayak dia cuma dikit di dunia ini, selebihnya ada di dunia novel," pungkasnya. Viola menarik kembali buku catatan hariannya di tangan Nayla. "Lo tenang aja pasti bukan Gino, kok. Dia masih polos nggak mungkin berbuat dosa."


Mendengus, Nayla mengetuk kepala Viola. "Besok gue mau ngikutin Agatha karena gue yakin titik permasalahannya ada di Agatha!" Mendengar itu Viola mengangguk, Nayla kembali mengimbuhkan. "Agatha udah ngaku kalo dia emang sengaja buat Raka marah dan berakhir mabuk malam itu, tapi cara Raka mandang gue emang benar-benar kek setan, mungkin ada sesuatu yang Agatha campurin ke minuman Raka?"


Viola bertepuk tangan sekali. "Agatha nyuruh orang buat campurin obat ke minuman Raka sampai-sampai Raka susah ngendaliin diri!" hebohnya.


Di sisi lain.


Pagi hari.


Cowok dengan kaos hitam lengan panjang yang lengannya tergulung sampai siku itu tengah antusias menuruni tangga. Dia ingin keluar rumah, kemarin saat diminta oleh sang Papa ikut di sebuah rapat Raka tidak menolak dengan jaminan hari ini ia akan bersenang-senang.


Bertemu dengan Agatha.


"Halo, Sayang?"


Mama yang mendengar itu menggeleng maklum, anak muda yang tengah kasmaran memang jarang melihat tempat.

__ADS_1


"Udah mandi belum? Mandi dulu sana, entar kita jalan," ujar Raka lagi pada seseorang di seberang sana. Raka membuka pintu kulkas lalu meraih sebuah apel Dan mengigitnya. "Ada juga yang mau aku ceritain sama kamu," ujarnya lalu terkekeh pelan.


Mama menarik sebuah kursi lalu meminta Raka duduk di sana. Raka yang asyik telfonan mengangguk saja. "Kangen aku tuh, kamu 'sih, ngangenin jadi orang."


"Rencana hari ini aku mau ngajak kamu ke KUA," candanya lalu tertawa, berbeda dengan mama yang mulai memincingkan mata pertanda curiga. "Enggak-enggak, canda doang, entar lulus baru nikah ya." Setelah itu Raka mengangguk sekali dan berdehem sebelum mematikan sambungan.


"Telfonan sama Agatha, ya?" tanya mama yang dibalas anggukan oleh Raka. Mama mengangguk singkat dan mengimbuhkan, "Segitu sukanya kamu sama Agatha? Padahal papa udah larang kamu suka sama sembarangan cewek," ujar Mama lagi membuat ekspresi Raka mendadak tidak enak.


"Mama pikir Agatha cewek yang nggak baik?" tanya Raka, dari suaranya sudah terdengar tidak enak. "Kalian belum kenal aja siapa Agatha," lanjutnya dibalas senyumam simpul dan deheman pelan oleh sang Papa yang baru muncul.


"Lagi bahas apa?"


"Agatha, hari ini Raka mau pergi sama Agatha," seru Mama.


"Ka, kamu bisa nggak cari cewek lain aja? Jangan dia, dia nggak keliatan baik buat kamu," saran papa dibalas dengusan oleh Raka. Raka jika menyangkut soal Agatha tidak pernah main-main, ia memang sangat mencintai cewek itu. "Firasat Papa nggak bener sama hubungan kalian," ujar papa lagi.


"Agatha cewek yang baik, Pa. Dia cewek terbaik yang pernah Raka temuin sejauh ini." Raka berkata serius, saat papa dan mama kembali ingin berkomentar Raka buru-buru meletakkan sendok, garpu lalu bergegas pergi. "Raka pamit."


"Raka, dengerin Papa dulu," teriak papa namun sayang anak semata wayangnya itu sudah hilang dari pandangannya.


Menekan satu tombol pada kunci yang mana salah satu mobil mewah di garasinya berbunyi. Mobil kali ini yang akan Raka gunakan ialah sport merah, mobil yang sangat pas untuk menikmati cuaca pagi bersama Agatha.


.


.


.


Raka berani lawan ortunya demi Agatha. Gimana yah rasanya pas tau kalo Agatha itu nggak bener-bener suka sama dia?

__ADS_1


salam dariku,


SYUGERR


__ADS_2