LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 32


__ADS_3

Raka menggeliat, tubuhnya terasa kaku, kepalanya terasa sangat berat. Perlahan kelopak mata cowok itu bergerak hingga terbuka sempurna, menyesuaikan cahaya yang masuk menyapa retinanya. Raka memegang perutnya, terkejut karena ada tangan lain di atas perutnya, tangan yang lebih kecil dan juga sangat dingin.


Merasakan itu, Raka langsung menegakkan badan. Dia tambah terkejut saat melihat Agatha tertidur di samping Sofanya dengan wajah berantakan. Baju yang tidak terpasang sempurna dan rambut awut-awutan. "Agatha ...," lirihnya.


Raka meremas kepalanya. "Lo bodoh banget, Ka. Apa yang udah lo lakuin sama pacar lo sendiri?!!" tanyanya frustasi. Hati Raka teriris melihat Agatha seperti ini. Dia tidak tahu penyebabnya, tetapi mengingat Agatha ada di apartemennya dan dia semalam dalam keadaan mabuk membuat Raka ditelan rasa bersalah.


Raka menelusukkan tangannya di lipatan lutut Agatha dan sebelah lagi di punggung cewek itu dan mengangkatnya ala bridal. Raka memandang lurus ke depan, dia tidak mungkin mencuri kesempatan saat tubuh atas Agatha nyaris terbuka sempurna, hanya tanktop crop yang menutupi.


Sampai di samping ranjang Raka menurunkan Agatha dan langsung menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuh cewek itu. Raka duduk di pinggir ranjang, ekspresi wajahnya semakin berantakan. Melihat keadaan Agatha seperti ini, membuat Raka merasa dirinya tidak becus sebagai pacar.


Raka mengusap lembut rambut Agatha yang mana tindakannya itu membuat Agatha menggeliat dan membuka mata. Raka mengukir senyuman tipis, namun senyuman itu sirna saat Agatha langsung duduk dan menggeser tubuh menjauh dari Raka dengan mimik ketakutan.


"JANGAN DEKET-DEKET!" jerit Agatha saat Raka hendak meraihnya. Cewek itu memeluk selimut tebal untuk menutupi seluruh tubuhnya. "Raka yang aku kenal nggak mungkin sekasar itu," ujarnya lagi, detik berikutnya Agatha menangis sesenggukan membuat Raka langsung menjambak rambut frustasi.


"Sayang, aku nggak ingat apa-apa. Apa yang aku lakuin? Kenapa kamu bisa sampai seperti ini?" tanya Raka dengan suara beratnya yang sedikit bergetar. Melihat Agatha menangis di depannya membuat hatinya sakit, dia tidak suka melihat air mata menyusuri wajah cantik pacarnya, apalagi dia-lah yang menjadi penyebab.


Agatha menggeleng. Dia menenggelamkan wajah di atas lutut, dia masih menangis. "Kamu jahat, nggak seperti Raka yang aku kenal," lirihnya sendu di sela-sela tangis.


"Hey ... Aku Raka, pacar kamu." Raka berusaha membujuk.


"Bukan! Pacar aku nggak mungkin sekasar itu."


"Apa yang aku lakuin, hm? Bicara sama aku, Agatha." Suara Raka melemah, tenaganya seolah terkuras habis. Cowok itu berdiri dan berjalan ke arah lemari, dia menarik dua kaos secara asal. Raka memakai satu kaos tersebut dan satunya lagi dia berikan pada Agatha. "Pake dulu, Sayang," bujuknya.


Agatha menggeleng, dia tidak ingin menatap Raka. Air matanya masih terus menyusuri pipi, tatapannya menatap kosong ke depan.


"Agatha, aku nggak ingat apa-apa, kamu tolong cerita. Jangan nyiksa aku kayak gini." Raka duduk di pinggir ranjang, dia hendak menarik Agatha lebih dekat dengannya namun cewek itu menolak dengan menepis tangannya. Raka menghela napas frustasi.


"Sayang. Kamu kenal aku, kan? Aku nggak mungkin nyakitin kamu. Nggak mungkin," ujar Raka lagi. Namun, Agatha masih tidak menatapnya.

__ADS_1


Raka mengacak-acak rambutnya frustasi. "Agatha, jangan buat aku gila. Bicara yang sebenarnya." Suaranya semakin lemah.


"Agatha .... Please tell me what i have done," ujarnya Lagi.


"Kamu jahat," lirih Agatha, perlahan dia menoleh pada Raka. Wajah sendunya semakin membuat Raka murka. Murka pada dirinya sendiri, yang telah berani menjadi penyebab Agatha-nya menangis.


"Sini, cerita sama aku." Raka melebarkan tangannya, meminta Agatha untuk mendekat dan cewek itu langsung menuruti keinginannya. Raka menghela napas lega saat Agatha perlahan menggeser tubuh semakin dekat dengannya, cewek itu masih memeluk selimut. "Jangan nangis lagi," pintanya seraya mengusap pipi Agatha yang basah.


"Tadi malam kenapa mabuk-mabukan?" tanya Agatha yang mana langsung membuat Raka membisu. "Pas aku masuk apartemen kamu, aku liat kamu tiduran di sofa, aku nyamperin trus kamu langsung bangun dan nyerang aku," ujarnya lagi.


Kening Raka mengerut. "Nyerang?" tanyanya. Agatha langsung menunduk, membuat Raka mengangkat wajah cewek itu dengan telunjuknya. Raka menangkup kedua pipi Agatha, jempolnya bergerak mengusap pipi cewek itu. "Maksudnya gimana? Aku kasarin kamu?"


Agatha mengangguk, hati Raka langsung mencelos. Raka langsung menjatuhkan tangannya, dia mengusap wajah kasar, mengacak-acak rambut. Giginya bergemelatuk menahan marah pada dirinya sendiri. "Aku nggak pantes buat kamu Agatha, aku udah nyakitin kamu," ujarnya.


Agatha menggeleng. "Kamu mabuk makanya nyakitin aku," ujarnya.


Agatha kembali menangis. Dia menenggelamkan wajah di atas lipatan lututnya. Melihat itu membuat Raka langsung menarik Agatha kepelukannya. "Apa yang udah aku lakuin?" lirihnya. Raka berharap apapun yang mencokol di pikirannya itu tidak benar.


"Cuma cium, trus robek baju aku. Karena aku dorong kamu ke sofa lagi dan kamu langsung tidur," lirih Agatha.


Raka memejamkan mata sejenak, membayangkan betapa takut Agatha saat dirinya beringas seperti semalam. Memaksa dan memaksa, orang mabuk cenderung keinginannya tidak bisa ditolak.


"Aku udah nyakitin kamu Agatha," lirih Raka. Agatha tidak menjawab, dia memeluk semakin erat tubuh Raka, menyandarkan kepalanya di dada bidang cowok itu. Raka menunduk, mencium puncak kepala Agatha beberapa kali, berharap Agatha bisa segera melupakan moment mengerikan itu. "Aku minta maaf, aku salah." Raka mengaku salah.


"Aku sayang sama kamu Raka ...," ungkap Agatha.


"Aku lebih-lebih sayang sama kamu," jawab Raka.


"Kenapa kamu bisa mabuk?" Agatha melepas pelukannya dia tersenyum saat Raka memberinya sebuah kaos putih oversize.

__ADS_1


Raka mengingat-ingat alasan dirinya bisa mabuk semalam. Netranya membulat saat tahu bahwa penyebabnya ialah kalimat terakhir Nayla."Gue mau lo nikahin gue, karena lo yang udah ilangin kata 'gadis' dari diri gue, Raka."


"Gara-gara Nayla," ujar Raka. Agatha terdiam, merasa tidak paham. Raka menyandarkan tubuh lelahnya ke sandaran ranjang. Menoleh sekilas pada Agatha, Raka menatap lurus ke depan. "Dia ngomong yang enggak-enggak, buat aku kepikiran sampai nggak tahan," lanjutnya lagi.


"Jadi ... Ini semua gara-gara Nayla?" tanya Agatha.


"Hm ... Gue mesti kasih pelajaran setimpal buat cewek itu," ujar Raka yang mana berhasil membuat Agatha tersenyum miring diam-diam.


.


.


.


.


ADA YANG KESAL BACA PART INI?


KIRA-KIRA APA YANG BAKAL RAKA LAKUIN KE NAYLA?


UDAH BISA NEBAK SIAPA PACAR AGATHA?


UDAH TAHUKAN KALO ALDI ADALAH KAKAK AGATHA, WKWKWK:)


KASIHAN SAMA NAYLA NGGAK?


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2