LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 49


__ADS_3

Haiiii ....


jangan lupa absen!


like sebelum baca!


komentar seramai-ramainya!


biar akuuu seneng nulisnya 😂


.


.


.


Morgan menyapa Agatha pagi ini dengan senyuman simpul yang dibalas sama. Dia memberikan setangkai bunga melati pada Agatha dan mengatakannya jika ini dari Raka, Agatha menerimanya dan tersenyum manis.


"Berseri-seri bener muka lo, dari mana aja lo kemarin?" tanya Morgan. Mereka tidak berdua melainkan bertiga dengan Gino yang baru saja kembali mencari buku bahan referensinya. "Manis ae tuh senyum," godanya lagi.


"Cuma ke taman trus ke Starbucks buat makan, habis itu pulang," tutur Agatha. Dia tersenyum saat Gino meliriknya datar, dia kembali menatap Morgan. "Nggak usah natap gue kek gitu," ujarnya yang mana Morgan langsung terkekeh.


"Grogi ya lo ditatap orang ganteng kayak gue," guraunya.


"Nggak sama sekali," balas Agatha, dia memilih menunduk membaca novelnya sampai seperkian detiknya dia mendongak saat seseorang menepuk bahunya. "Raka, kamu ngapain di sini?"


"Dua cecunguk ini di sini, dan pacar aku juga di sini jadi ngapain aku ke tempat lain?" ujar Raka yang mana Gino langsung menggeleng pelan dan Morgan yang mulai mencemooh.


"Mulai deh, mulai deh, Abang Raka-nya ngebucin," ejek Morgan.


Agatha tersenyum tipis lalu kembali fokus pada novel, namun konsentrasi membacanya tiba-tiba saja buyar saat cowok yang duduk di sampingnya ini  menatapnya terus sambil tersenyum.


"Konsentrasi Agatha baca novel buyar gara-gara lo," ujar Morgan tertawa pelan, Agatha juga mengangguk mendengar itu. "Daripada nggak ada kerjaan mending lo rangkum materi tadi, si Gino pelit nggak mau bagi catatannya," ujarnya melirik Gino dongkol.


Gino tidak bereaksi, dia tetap fokus pada tujuannya. Melirik Gino lalu menggeleng pelan, Raka menarik buku paket yang Gino baca. "Kapasitas otak lo berapa sih, hah? Kuat bener belajarnya."


"Balikin buku gue, Ka!" Ucapan Gino yang terdengar kesal itu tidak membuat Raka gentar dan mengembalikan bukunya. "Ka, balikin sini, gue mau baca," kesalnya.


"Sekali-kali ngikut ngobrol sama kita nggak ada salahnya." Raka tidak benar-benar kesal pada Gino, dia hanya ingin jika Gino tidak terlalu tenggelam dalam hidupnya sendiri. "Setiap ngumpul gini suara lo nggak pernah kedengaran," ujarnya lagi.

__ADS_1


"Balikin aja, Ka. Kayak nggak tau Gino aja lo." Morgan merebut buku yang Raka genggam dan menyerahkannya pada Gino. "Cuek-cuek gini, Gino diam-diam dengerin kita kalo lagi ngomong, iya kan, No?" tanyanya namun Gino yang merasa risih langsung berdiri dan pergi.


Agatha menghela napas. "Kalian bertiga berteman udah lama, jangan kayak gitu, kasian pertemanan kalian," sarannya.


"Bener tuh kata Agatha, lo sama Gino jangan keseringan bertengkar," ujar Morgan.


"Gue nggak pernah nyari masalah sama Gino. Gue cuma pengen Gino nyahut juga kalo kita ngomong, nggak diam aja kayak mayat," kesal Raka.


Agatha menarik tangan Raka dan menggenggamnya. "Aku tau kamu nggak pernah ada niat buruk sama Gino, tapi tetap aja kamu nggak bisa ngatur-ngatur Gino kayak gitu, dia nggak suka." Agatha berusaha menasehati Raka namun cowok itu menggeleng dan memilih diam.


Morgan mengeluarkan tiga permen kopiko dari dalam sakunya. "Daripada ngomongin Gino, mending kita makan nih permen."


Agatha dan Raka serentak menggeleng. Morgan menarik kembali tangannya yang menyodorkan permen pada mereka. Mencibir pelan, dia meringis saat ada yang menarik telinganya. "SIA-- eh Viola," ujar Morgan tersenyum manis.


Viola balas tersenyum, dia duduk di samping Morgan dan menarik permen di tangan cowok itu. "Ini perpus, nggak boleh makan," ujarnya menasehati.


Morgan mengangguk-angguk. "Kalau Viola yang larang mah Aa' Morgan oke-oke aja," ujarnya yang mana Raka langsung mengejeknya lewat gerakan mulut tanpa suara. "Iri bilang babu!" ketusnya.


"Ngapain gue iri." Raka merangkul Agatha dengan mesra. "Gue udah punya Agatha," tuturnya kemudian.


Viola diam-diam mengamati ekspresi Agatha dan benar apa kata Nayla jika cewek itu tidak benar-benar mencintai Raka terbukti dari senyumannya yang mengembang paksa. Morgan sendiri memilih menatap Viola, dia menggunakan moment ini untuk lebih dekat dengan cewek itu.


"Mau kemana, Sayang?" tanya Raka melirik ke arah novel di tangan Agatha membuatnya langsung mengerti dan berdiri. "Untung aku cowok peka, jadi tau apa yang pingin kamu lakuin, biar aku aja yang nyimpen nih Novel di rak," ujarnya terlihat manis lalu mengambil novel dipelukan Agatha.


Agatha hendak menolak namun Raka sepertinya tidak bisa dibantah.


"Cocok si Raka jadi babu lo," ujar Morgan tertawa pelan.


"Lo kali yang cocok jadi babu," balas Viola yang mana tawa Morgan langsung reda digantikan batuk. Viola dengan sigap mengeluarkan tissue dari tasnya dan menyerahkannya pada Morgan. "Nih, makanya kalo ketawa bismillah dulu," ujarnya terkekeh pelan.


Agatha langsung pergi begitu saja. Satu alis Viola terangkat, dia masih menatap kepergian Agatha sebelum akhirnya Morgan mengambil alih atensinya.


"Agatha kenapa?" tanya Viola pada Morgan namun cowok itu bukannya menjawab malah mengangkat bahu acuh dan mengalihkan topik obrolan.


Di sisi lain ada Nayla yang mengikuti kemanapun Gino pergi, dia sudah stay di depan perpustakaan dan begitu Gino keluar Nayla langsung mengikutinya. Keningnya berkerut saat Gino menapaki tangga hingga sampai di lantai teratas, dia yang mengikuti cowok itu sampai ngos-ngosan.


"Ngapain Gino ke rooftop?" tanya Nayla pada dirinya sendiri. Mendengar suara langkah kaki Nayla segera menarik pintu dan bersembunyi di balik sana.


"Ngapain lo kesini?" Itu suara Gino, dia bertanya pada seseorang yang baru saja tiba. Nayla menajamkan kuping agar tidak ketinggalan. "Lo yang dari tadi ngikutin gue?" tanyanya pada seseorang itu.

__ADS_1


"Ayolah, Gino."


Netra Nayla membulat. Itu suara Agatha.


"Maksud lo apaan, sih." Gino menampik ucapan Agatha.


Lalu terdengar suara langkah kaki yang Nayla yakini salah satu diantara mereka melangkah mendekat satu sama lain. Berada di posisi ini membuat dirinya deg-degan.


"Lo nge-chat gue suruh ke sini," tutur Agatha, Gino tidak menjawab. "Sayang ..."


"WHAT?" Nayla memekik dalam hati, tak lama ponselnya berbunyi membuat Nayla terpaksa pergi dari sana. Dia tidak ingin ketahuan apalagi saat mendengar Agatha berteriak 'Apa'. Bisa gawat jika dirinya ketahuan menguping.


Ini Viola.


"Vio, lo dimana sekarang?" tanya Nayla. Dengan langkah secepat kilat dia ingin pergi sejauh-jauhnya dari kawasan rooftop. "Gue dapet info penting dan gue yakin ini inti dari masalah gue," pungkasnya.


Sampai di anak tangga terakhir Nayla langsung berlari ke kelasnya, Viola sedang di sana bersama Morgan dan Raka. Dia ingin menyampaikan informasi yang baru dia dengar, dia ingin mengungkap kebenaran dan membersihkan nama baiknya di kampus ini.


"Cewek itu yang ngebet banget sama Raka pacarnya Agatha. Nggak banget, kan? Sok cantik."


"Ngapain lo lari-lari? Nyungsep nyaho' Lo."


"Jatuh gue sukurin!"


Ejek-ejekan itu terus terdengar di sepanjang langkah kaki Nayla. Namun, dia tetap fokus pada tujuan dan mengabaikan hal itu. Membiarkan mereka semua menggunjingkannya sampai mulut berbusa pun Nayla tidak peduli walau sesekali harus makan hati.


.


.


.


Jangan pedulikan mereka Nay!


fokus pada tujuan😘


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2