
"Kasar banget lo." Nayla memegangi kepalanya yang nyeri. Sejak semalam Raka seperti dendam dengan rambutnya karena selalu dijadikan bahan pelampiasan ketika kesal. "Kalo lo kesal, tarik rambut Agatha bukan rambut gue!" pekiknya.
Agatha diam. Memperhatikan interaksi mereka. Raka ingin kembali menarik rambut Nayla namun dengan cepat cewek itu memberi bogeman mentah ke pipi Raka hingga meninggalkan jejak merah. Agatha hendak bicara namun kembali mengatupkan bibir saat Nayla menatapnya.
"Lo suka Raka darimananya, sih? Dia itu nggak lebih dari sekedar sampah masyarakat yang hobinya menyusahkan bangsa dan negara!" Nayla berkata sinis, mendelik murka saat rambutnya kembali ditarik keras.
"Gue ... suka Raka apa adanya," jawab Agatha. Nayla tertegun hingga membuat Raka tersenyum puas. Agatha kembali mengibuhkan, "Karena Raka ... segalanya buat gue," jawabnya tenang.
"Udah dengarkan? Raka adalah Agatha, dan Agatha adalah Raka. Nggak ada celah untuk penyusup kecil seperti lo!" Setelahnya Raka menendang kursi Nayla hingga cewek itu jatuh berlutut di atas marmer. Seisi kantin menoleh pada keributan. Raka berdiri, merendahkan diri di hadapan cewek itu. "Ingat baik-baik Nayla Kayana. Gue ... Raka Dirgantara nggak pernah mau ninggalin berlian demi batu busuk nggak yang berharga!" Raka menekan kening Nayla menggunakan telunjuknya.
"Raka jangan kasar-kasar." Agatha memperingatkan. Raka mengangguk dan kembali berdiri untuk duduk di tempat yang semula.
"Wouuh, baru beberapa hari di kampus ini tapi dia udah langsung aja jadi pencokor." Cowok yang duduk di sisi kantin bagian kanan menyahut heboh. Nayla mendelik kesal kearahnya. "Putus urat malu lo!" teriaknya lagi mengundang gelak tawa dari seluruh penghuni kantin.
Nayla bergegas berdiri. Menepuk-nepuk celana levis putih selututnya yang berdebu. "Denger baik-baik!" Nayla berkata tegas. menatap Raka yang fokus pada Agatha, menulikan seluruh indranya pada Nayla. "Gue ...." Nayla bahkan tidak tahu harus mengatakan apa. Dia pikir, jika ingin bebasĀ mendekati cowok itu, sekalian saja harga dirinya ikut serta biar seluruh warga kampus tidak heran lagi. "Cinta sama Raka."
Raka terpaku. Agatha juga ikut terkejut. Dengan cekatan dia menahan tangan Raka saat cowok itu hendak bangkit membalas ucapan Nayla. "Nggak usah didengerin," tutur Agatha yang dibalas anggukan oleh Raka. Menatap Nayla kembali, yang tetap setia berdiri di pijakannya walau sorak-sorai dan tatapan hina dilayangkan terang-terangan.
"Nggak lama lagi lo bakalan di pindahin ke kampus burik lo itu!"
"Putus urat malu lo! Udah jadi tamu undangan jadi perusak lagi. Tamu nggak tau diri!"
"Mati aja sana lo. Nggak guna hidup lo kalo cuma ngincar hal-hal yang mustahil lo milikin."
__ADS_1
Pasangan Raka-Agatha menjadi salah satu pasangan favorit sebagian warga kampus. Keserasian pasangan itu membuat banyak warga kampus berdecak iri dan ingin merasakannya juga. Apalagi para warga dari fakultas sastra yang tahu betul sikap posesif dan overprotektif Raka jika menyangkut soal Agatha. Datang pagi-pagi hanya untuk mengantar Agatha, kalau Agatha sedang tidak ada mata kuliah maka Raka sering hilang juga.
"NAY!" Menoleh ke arah timur, melihat Viola yang datang bersama Morgan dan Gino. Tatapannya tajam, menatap lurus pada Nayla yang berdiri kaku. Menjadi bulan-bulanan seisi kantin. "Sekalian aja lo telanj4ng depan mereka, harga diri lo udah hancur hanya karena tiga kata."
"Nggak usah ikut campur." Nayla membuang muka. Viola mencengkeram pergelangan tangannya dan menariknya paksa. "Vio, lo bukan siapa-siapa gue, jadi lo nggak berhak ikut campur!" teriaknya menggema, tak lupa menghempaskan tangan Viola.
"Nggak tau terima kasih lo!" Morgan ikut-ikutan berseru. Viola melirik sebal pada Morgan, memperingatkan agar cowok itu diam saja dan tidak perlu bicara lagi. "Tapi, Vio, Nayla ... udah keterlaluan nggak nganggep lo."
"Gue nggak peduli!" Viola berkata judes. Dia kembali menarik pergelangan tangan Nayla, menyeret cewek itu untuk ikut bersamanya. "Seenggaknya jangan mempermalukan nama besar kampus, Nay. Kita kesini karena prestasi, bukan cuma-cuma," omel Viola.
"Raka udah keterlaluan!" Nayla menampik. Viola menghentikan langkah, menatap dalam iris Nayla yang menyorot bengis.
"Apa yang Raka lakuin? Setahu gue bukan Raka yang salah. Tapi lo! Karena cinta nggak masuk akal lo itu!" Viola tidak habis pikir dengan jalan pikiran Nayla kali ini. "Pertemuan pertama ... lo dan Raka musuhan bahkan sampai maki-makian, lo benci sama dia. Dan dua hari setelahnya lo jatuh cinta sama dia? **** you! Itu nggak masuk akal!" Suara Viola semakin tinggi.
"Lo nggak ngerti, Vio! Nggak ada yang bisa ngertiin gue!" Nayla berujar rendah. Viola mengusap wajah dengan sebelah tangan, mengalihkan tatapan dan menghela napas jengah sebelum kembali menatap Nayla yang kian tertunduk. "Gue tetap ngejar-ngejar Raka, nggak peduli apapun resikonya! Mau seisi kampus ini benci gue ..." Nayla menahan napas. " .... Gue tetap nggak peduli! Persetan!"
Menatap punggung Viola yang semakin menjauh. Nayla terkekeh pelan, bahkan Viola pun menyumpah serapahinya karena tindakan bodoh yang dilakukannya di kantin tadi. Nayla tidak mencintai Raka ... Sama sekali tidak, dia benci. Benci jika cowok itu hidup tenang, sedangkan dirinya dihantui rasa takut.
Mengingat ucapan Raka di kantin tadi membuat Nayla terkekeh sekali lagi. Dia membanding-bandingkan berlian dengan batu, pakai embel-embel busuk segala lagi. Sudah tentu menang berlian, selain berkilau harganya juga mahal dan diincar banyak orang. Sedangkan batu ada dimana-mana, tidak berharga, ataupun di lirik. Tapi apa mereka sadar jika fundamen yang menjadi akar dari bangunan agar bisa kukuh itu tercampur dengan batu kerikil.
Batu geretan ... Bisa menciptakan api. Apa berlian juga bisa menciptakan api?
Pada dasarnya, mereka dapat berharga jika berada di lingkungan yang tepat.
__ADS_1
"Apa yang udah Raka lakuin sampai lo nekad seperti tadi?"
Nayla tercenung. Menoleh ke belakang melihat cowok bermimik wajah tidak bersahabat berdiri dengan tangan yang tenggelam di saku hoodie.
"Nggak ada. Ini ... Benar-benar cinta," jawab Nayla. Gino menaikkan satu alis membuat Nayla menelan ludah gugup. Entah kenapa, di antara Morgan dan Gino, Nayla lebih takut bercengkrama dengan Gino. Cowok itu lebih banyak diam, bicara seperlunya saja. "Ada apa Gino? Ngapain nyamperin gue?" Nayla berusaha tenang.
"Otak lo ... Fungsinya apa?"
Nayla bergeming.
.
.
.
.
.
TADI AKU SEMPAT MIKIR BUAT BERHENTI AJA DI CERITA INIš¤£. INI ADA YANG NUNGGUIN TIDAK YAH? AKU SEMPAT KEHILANGAN ARAH DI CERITA INI. TAPI KARENA AKU NGGAK MAU MUNDUR DARI SESUATU YANG UDAH AKU MULAI ... MAKANYA TETAP LANJUT UP.
DOAKAN, YAH. SEMOGA CERITA INI BISA END. NGGAK BERHENTI DI TENGAH JALANš„
__ADS_1
SALAM DARIKU,
SYUGERR