
"Kerjasama Ayah dan Bang Aldi gimana?"
Ayah menutup laptopnya lalu menatap Raka yang duduk di hadapannya. Tiba-tiba saja anak semata wayangnya itu datang ke ruang kerja dan menanyakan perihal kerjasama perusahaannya dengan Aldi.
"Untuk apa kamu menanyakan itu Raka?" tanya Ayah. Merasa heran karena Raka tertarik membahas bisnis. "Bukannya kamu sensitif jika membahas bisinis, kenapa sekarang bertanya tentang bisnis ke Ayah?"
"Iya, Raka emang nggak suka yang namanya bisnis, kerja di perusahaan dulunya. Tapi, Raka mulai tertarik saat Ayah ngajak Raka ketemu sama Aldi," ujarnya. Sebenarnya Raka sama saja, tidak ada ketertarikan dalam dirinya tentang dunia bisnis, namun Ayah selalu meminta Raka untuk menjadi penerusnya alhasil Raka mulai berusaha untuk menurunkan egonya sedikit demi sedikit. "Kalo Ayah mau nerima proposal kerjasama itu dan menandatanganinya Raka bakal berusaha lebih keras lagi belajar bisnis ke Ayah."
Ayah mulai mempertimbangkan keinginan Raka. "Tapi ... Raka ini bukan kerjasama biasa, jika kita tidak mempertimbangkannya dengan baik juga kerjasama itu tidak berjalan lancar akan berdampak besar bagi perusahaan. Kamu mengerti, kan?"
Raka mengangguk. Dia mengakui itu, modal yang dikeluarkan mencakup beberapa saham perusahaan. Jika tidak berjalan lancar Ayahnya akan rugi besar atau yang terburuk mengalami kebangkrutan.
"Tapi, Yah. Itu kalo kerjasamanya nggak berjalan lancar, gimana kalo lancar. Ayah bisa untung besar, keinginan ayah untuk membangun restoran Itali bakal terwujud," jelas Raka.
Ayah mengangguk. "Raka, Ayah bisa mencari klien lain. Kita tidak perlu buru-buru, Ayah mengajak kamu ke rapat waktu itu bukan untuk ikut campur, Ayah cuma ingin kamu belajar dari Pak Aldi yang berhasil membangun perusahaan Ayahnya yang sempat bangkrut." Ayah menjeda kalimatnya. Dia berjalan memutari meja dan berhenti di samping Raka. "Ayah pengen kamu mencontoh kegigihan Pak Aldi, itu saja Raka."
"Yah, terima aja. Raka jamin bakal berjalan lancar kok," pintanya sungguh-sungguh membuat Ayah mulai ragu untuk menolak.
Ayah tidak ingin membuat Raka kesal yang berdampak dengan hubungan mereka. Raka bersedia pulang ke rumah dengan paksaan juga bujukan kalau dirinya dan Bunda tidak melarang hubungan Raka dan Agatha.
Di sisi lain.
Nayla benar-benar memforsir tubuhnya untuk menyelesaikan beberapa novel dengan waktu yang terbilang sangat singkat. Pagi-pagi sekali dia datang ke perpustakaan, membaca beberapa novel yang cocok untuk dijadikan referensi.
"Nayla."
Mendengar ada seseorang yang memanggil namanya Nayla yang berdiri menghadap rak novel menoleh dan mendapati Gino dengan dua kotak susu di tangannya.
"Entar dulu Gino, gue bener-bener lagi mikir keras buat nyelesain semua novel-novel gue. Biar bisa cepat terbit dan royaltinya cepet cair," gerutu Nayla.
"Nay, lo tau sendiri kalo nerbitin buku itu butuh waktu minim 5 bulan. Jadi percuma lo ngeforsir tubuh," ujar Gino, membuang kotak susunya yang habis ke tempat sampah lalu menarik novel ditangan Nayla. "Nih, buruan minum sebelum ketahuan Bu Perpus."
Mendengus, dengan kesal Nayla menarik kotak Susu yang Gino sodorkan. Tahu saja kalo dirinya tengah haus.
__ADS_1
"Kalo lo nggak ada kerjaan mending bantuin gue mikir, apa yang mesti gue tulis di part selanjutnya. Gue bener-bener kehabisan ide." Nayla menghentakkan kaki lalu berjalan ke kursi tempatnya tadi.
"Nulis itu pake hati Nayla," nasihat Aldi, menarik kursi lain dan duduk di sana. "Menulis itu menuangkan ide dan imajinasi, bukan ambisi. Dengan nulis kayak gitu lo sama aja ngehina penulis yang sebenarnya."
Telapak tangan Nayla tiba-tiba saja menjadi dingin. Perkataan Gino berhasil menamparnya. "Tapi gue nggak ngerti lagi caranya gimana, Gino. Gue putus asa, papa gue sakit di kampung, gue harus ngirim duit untuk pengobatannya dan itu nggak kecil."
"Sebesar apa?" tanya Gino membuat Nayla menatapnya sebal lalu berdecak. Gino menarik laptop di hadapan Nayla dan menutupnya. "Berhenti mikir pendek Nayla. Pantas aja semua masalah lo nggak selesai karena daya pikir lo itu pendek, lo selalu bertindak sesuai insting."
Gino tidak pernah mengucapkan banyak kata dalam satu kali berucap. Itu sebabnya Nayla bengong mendengar ucapan Gino, hal itu membuat Gino memicingkan mata kesal.
"Nay! Gue serius," tekan Gino membuat Nayla mengangguk-angguk tidak ingin memperpanjang.
"Jadi mau lo gimana? Gue kudu cari pekerjaan lain gitu? Gue kudu ngemis gitu biar dapet duit? Lo nggak ngerti gimana rasanya jadi gue. Jadi, mending diam aja! Pacarnya Agatha," jengkel Nayla sengaja menekankan dua kata terakhir membuat Gino geram dan memalingkan wajah ke arah lain.
"Kayak pengen aja lo bayarin pengobatan papa gue," gumam Nayla tanpa sadar membuat Gino yang mendengar itu tersenyum kecil.
"Iya, gue yang bakal bayarin semuanya."
#######
Yang Agatha mau. Gino dan Nayla tidak boleh sedekat itu, jika itu terjadi maka rencana tidak akan berjalan lancar. Agatha tidak suka jika Gino berdekatan dengan cewek lain, apalagi Nayla yang merupakan objek pelengkap balas dendamnya terhadap Raka.
Morgan yang melihat Agatha tampak tidak baik-baik saja mendekati, menepuk pundak cewek itu sampai tersentak.
"Ngapain lo ngelamun? Kesambet gue sukurin lo," guraunya tertawa kecil.
Agatha menghela napas lega. "Kamu ngagetin aku aja," jawabnya. Melihat ke belakang Morgan mencari Raka, keningnya mengkerut saat Raka tidak ada. "Raka mana? Nggak sama kamu?"
Morgan menggeleng. "Nggak, jadi nggak usah was-was gitu." Morgan mendatarkan wajah melihat mimik gelisah di wajah Agatha. "Lo kenapa? Gelisah gitu, ada yang nggak beres?"
"Iya!" Agatha berseru cepat. Dia mengambil tangan Morgan dan menggenggamnya. "Gino dan Nayla tadi bareng di perpustakaan. Mereka kayak baik-baik aja, padahal kamu sendiri udah tau 'kan, apa yang terjadi?"
Mendengar itu tiba-tiba saja Morgan menjadi geram. "Lo cemburu liat mereka berdua?" tudingnya membuat Agatha membulatkan mata dan menggeleng. Morgan mencengkeram pipi Agatha, membuat bibir cewek itu maju ke depan. "Awas aja lo berani ngehianatin gue, gue nggak bakal segan-segan ngancurin idup lo dan kakak lo itu! Camkan itu!"
__ADS_1
Agatha mengangguk gugup.
Morgan melepas cengkeramannya, iris kelamnya memindai Agatha tajam. "Gue udah berjasa buat idup dan kakak lo. Gue harap lo tau diri untuk itu!" tekannya membuat Agatha tidak ada pilihan lain selain mengangguk.
Morgan tersenyum lebar, menepuk puncak kepala Agatha dua kali. "Jadi Agatha, lo tau dimana Gino dan Nayla sekarang?"
Agatha tampak gugup, dia menggeleng dan berkata. "Aku nggak tau."
Baru saja Morgan ingin membalas ucapan Agatha sebuah suara dari belakang punggungnya menyeru. Morgan dan Agatha tersentak, mereka terkejut luar biasa saat Raka tiba-tiba datang.
"Lagi bahas apa lo berdua?" tanya Raka.
Agatha tersenyum tipis lalu menggeleng, dia menatap boneka beruang yang Raka bawa. Boneka itu sangat cantik, besar, dan pastinya sangat mahal, itu yang Agatha tau sejak berpacaran dengan Raka. Cowok ini selalu memperlakukan dirinya spesial.
"Nggak bahas apa-apa," jawab Agatha, menatap lama boneka itu, Agatha ingin memeluknya segera namun Raka belum memberikannya.
Raka mengikuti arah pandang Agatha, tertawa kecil melihat Agatha yang begitu suka dengan boneka yang dibawanya. "Suka banget ya? Sampe nggak berhenti natap."
Agatha mengangguk. "Cepet siniin, aku mau peluuuuk," celutuknya menggemaskan di mata Raka.
.
.
.
UWUW 😂, SEKALINYA UPDATE LANGSUNG TERBONGKAR.
YANG NUDUH GINO SIAP-SIAP AJA SUNGKEM.
EH BTW ADA YANG BISA JELASIN SISTEM VOTE KAYAK GIMANA? KATANYA ADA PERUBAHAN?
Salam dariku,
__ADS_1
SYUGERR