
Ejek-ejekan itu terus terdengar di sepanjang langkah kaki Nayla. Namun, dia tetap fokus pada tujuan dan mengabaikan hal itu. Membiarkan mereka semua menggunjingkannya sampai mulut berbusa pun Nayla tidak peduli walau sesekali harus makan hati.
"VIO!" antusias Nayla saat sampai di ambang pintu, napasnya putus-putus, keringat mengalir dari sela pelipisnya namun senyum masih setia mengembang di bibirnya. "Gue udah tau siapa pacar Agatha sebenarnya," girangnya tanpa sadar.
Viola melotot mendengar itu. Nayla tidak sadar jika banyak warga kelas lain yang mendengar, terutama Raka yang langsung berdiri dan Morgan yang terbatuk.
"Maksud lo apa, hah? Gue pacar Agatha," sanggah Raka sarat akan ketidaksukaan. Warga kelas mulai berbisik-bisik perihal ucapan Nayla tadi hingga akhirnya Nayla sadar dan maju mendekatinya. "Kalo ngomong disaring dulu!" Raka mendesis.
"Gue serius." Suara Nayla terdengar lebih pelan, itu karena dia tidak ingin warga kelas lain mengetahui info ini, setidaknya untuk sekarang karena yang terpenting adalah Raka. "Pacar Agatha bukan lo. Lo itu cuma mainan Agatha buat 'sesuatu' yang nggak gue ketahui, Agatha punya pacar yang sebenarnya dan lo bakal kaget banget tau siapa pacar Agatha."
Satu alis Raka terangkat, Nayla mengangguk serius namun detik berikutnya Raka tertawa dan menunjuk-nunjuk kening Nayla. Nayla menepis telunjuk Raka, menatap cowok itu tidak mengerti.
Viola dan Morgan memang ada di sana namun dia tidak mendengar apa yang Nayla ucapkan saking pelannya.
"Gue serius, Ka. Ikut gue sekarang!" pungkas Nayla menarik tangan Raka namun cowok itu malah menyentaknya. Raut wajah Nayla semakin tertekuk. "Ka, ikut gue sekarang ada yang pingin gue tunjukkin sama lo!" sentaknya kehabisan kesabaran.
"Ngomong yang jelas, Nay," tegur Morgan. Demi apapun dia sama sekali penasaran dengan obrolan mereka. "Gue pengen denger kalian ngomongin apa," ujarnya lagi namun Nayla tetap menggeleng dan menatap Raka.
Viola meraup napas frustasi, jika begini terus tidak akan ada perkembangan. Dia juga penasaran dengan info yang Nayla bawa namun, cewek itu lebih memilih memberitahu Raka daripada dirinya.
"Ikut gue sekarang!" Nayla menarik tangan Raka lebih keras. "Kalo lo nggak ikut, gue pastiin idup lo nggak bakal tenang, gue bakal ngikutin lo kemanapun!" ancamnya.
Raka menyentak tangannya dari cewek itu lalu berjalan lebih dulu, Nayla tersenyum senang dia mengikuti Raka dari belakang. "Kita ke rooftop," tuturnya.
Raka tidak menjawab, tatapannya menghujam tajam ke depan. Kesabarannya lagi-lagi di uji oleh cewek ini. Namun, entah kenapa dia mau-mau saja mengikuti keinginan Nayla. Sampai di tangga pertama, dia berhenti dan menoleh ke belakang.
"Kenapa? Mereka ada di rooftop," tutur Nayla. Meminta Raka untuk kembali melangkah namun nihil, cowok itu mendekatinya. "Cepetan! Agatha sama pacarnya ada di rooftop!" pungkasnya lagi.
"Kalo nggak ada?!" Raka tersenyum menantang, dia tahu ini hanyalah tipu muslihat Nayla dan dia berencana memutar balikan keadaan. "Kalo nggak ada gue mau lo berjemur di lapangan utama sambil nyanyi!" lanjutnya membuat iris coklat Nayla melotot.
__ADS_1
"Nyanyi?" beonya dan Raka mengangguk. Nayla menggeleng, suaranya bisa membuat orang mati sekalipun bangun. "Suara gue nggak enak seriusan! Lo mau liat seisi kampus pingsan massal?" pekiknya dan Raka mengangguk lalu tersenyum miring.
"Kalo nggak mau ...." Raka menggantung ucapannya membuat Nayla meliriknya sebal. "Gue nggak bakal ke rooftop," lanjutnya ingin melangkah pergi namun Nayla dengan cepat menarik ujung kaosnya.
"Gue mau- gue mau," pasrah Nayla. Dalam hati dia berdoa semoga saja mereka masih ada di sana. "Kalo gitu ayo cepetan! Gue takut mereka udah pergi," ujarnya buru-buru.
Raka mengangguk saja. Nayla menapak anak tangga dengan tergesa-gesa. Ini menyangkut harga dirinya yang tersisa, jika sampai dia kalah dan melakukan apa yang Raka minta maka harga diri yang sebesar biji jagung itu pun akan lenyap.
"Ka---lo gue bener, apa yang bakal lo lakuin?" tanya Nayla dengan napasnya yang mulai putus-putus. "Lo bakal putusin Agatha?" tanyanya lagi lalu terkekeh pelan.
"Enggak." Jawaban Raka itu membuat Nayla memasang ekspresi sebal. "Gue bakal cium Agatha tepat di depan mata lo," lanjutnya lagi.
Seharusnya Nayla tidak merasakan ini, hubungan Raka dan Agatha hancur memang inginnya namun menyukai Raka adalah hal gila yang tidak seharusnya dia rasakan. Hidupnya hancur, kepercayaan keluarganya dipertaruhkan jika Raka tidak ingin tanggung jawab. Bukannya Nayla hamil, tidak! Nayla tidak hamil namun apa kata suaminya nanti jika tahu dirinya bukan gadis lagi.
Sampai di anak tangga terakhir Nayla tidak membuang waktu langsung menarik pintu sedikit kasar.
"AGATHA!" teriak Nayla pada sosok Agatha yang duduk dengan cowok lain. Dia berlari ke arah sana, menyapu pandang ke setiap sudut mencari keberadaan seseorang. "Gino mana?" tanyanya.
"Tadi gue kesini karena ngikutin Gino dan nggak lama Agatha datang dan ngomong sama Gino pakai kata 'sayang'." Nayla mejelaskan dengan nada yakin walau dia sedikit gemetar sekarang. Dia kembali menatap Agatha yang nampak tidak paham. "Si4lan! Nggak usah pura-pura lo, cepet ngaku kalo sebenernya lo pacaran sama Raka karena pengen sesuatu, lo nggak tulus pacaran sama Raka. DAN PACAR LO YANG SEBENARNYA ITU GINO!"
PLAK! Wajah Nayla terlempar ke samping saat tangan kekar menamparnya keras. Nayla meringis, rasa perih mulai menjelajar di pipinya. Namun, dia masih menatap Agatha nyalang, menyiratkan betapa marahnya Nayla pada sosok Agatha.
"Raka kamu nggak boleh nyakitin cewek!" Agatha berdiri di samping Raka, memeluk lengan cowok itu posesif. "Dia cewek dan kamu nggak boleh nyakitin cewek," ujarnya lalu diam-diam dia tersenyum miring yang hanya Nayla melihat itu.
"NGGAK USAH PURA-PURA! DASAR CEWEK ULER!" teriak Nayla berapi-api.
"STOP NAYLA!" Raka balas berteriak, dia sangat murka sampai urat-urat di sekitar lehernya terlihat lebih jelas. Tangan Raka terkepal, menatap Nayla dengan sorot bengis. "Tutup mulut lo yang nggak punya etika itu."
"Gue nggak pernah bohong sama lo, Ka," ujar Nayla. Menghela napas sesak Nayla kembali menatap dalam iris kelam Raka. "Semua yang gue ucapin itu benar, Agatha nggak bener-bener suka sama lo. Gue nggak bohong, gue nggak pernah bohong. Tadi ... Gino beneran kesini kok, kalo lo nggak percaya lo bisa tanya Gino."
__ADS_1
"Tadi aku emang ketemu Gino." Itu suara Agatha yang membuat Raka langsung menunduk meliriknya. "Kita nggak ngapa-ngapain lalu nggak lama Iyyan datang minta tolong buat revisi naskah pertamanya," tuturnya lagi.
"Iya, Kak Agatha bener," seru Iyyan sang adik tingkat.
"Lo denger, kan?" Raka menatap tajam Nayla, mencengkeram erat pergelangan cewek itu dan menyeretnya pergi. "Lo udah ngomong yang nggak jelas tentang Agatha!" tukasnya.
Nayla meringis karena cengkeraman Raka terlalu keras. "Aww--aku be-ner, Ka."
Raka menggeleng, langkahnya semakin lebar sampai Nayla terseok-seok mengimbanginya. Iris Nayla berkaca-kaca, menatap Raka tak percaya. "Lo ... bakal nyesel giniin gue, Ka," batinnya.
.
.
.
LIABILITY ADA TARGET😋
TARGET; 200 LIKE 100 KOMENT
JANGAN LUPA DI TEMBUSIN KARENA AKU NGGAK MAU UP SEBELUM TEMBUS😂
NGGAK PAPA LAMA, BIAR BISA REBAHAN:D
YANG MAU TAU VISUAL LIABILITY BISA CEK IG; SUGIATIDAHLAN
UDAH ADA KOK, BAKAL AKU UP SEMUA DI SANA.
SALAM DARIKU,
__ADS_1
SYUGERR