LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 15


__ADS_3

ABSEN DULU GUYS, BIAR AKU TAU NAMA AKUN KALIAN SIAPA AJA?


.


.


.


.


.


"Kenapa dari sekian banyak kampus di Indonesia, lo mendaratnya di sini?" Raka mengetuk-ngetuk dagu menggunakan pulpen, kursinya sedikit di miringkan ke samping kanan agar leluasa menganggu cewek itu. "Atau lo emang sengaja biar bisa dekat-dekat sama gue? Jangan-jangan lo jatuh cinta sama gue pada pandangan pertama?" Netra Raka memicing curiga.


"Pfftt Hahaha ...! Gue? Suka sama setan kayak lo. Nggak mungkin, manusia nggak boleh suka sama setan." Nayla tertawa kesenangan. Raka menatapnya penuh dendam, walau benar adanya jika sedari tadi hal itulah yang dipikirkan Nayla. "Tuhan ngasih jalan ke gue buat balas dendam ke lo mungkin, orang baik doanya selalu dikabulin," tuturnya lagi.


"Mana ada setan gantengnya kayak gue, katingalna mah mata lo yang karatan." Raka menyeringai miring, bertopang sebelah tangan dengan tangan yang lain menjentik-jentikkan pulpen di ujung meja. "Apa jangan-jangan lo diam-diam suka sama gue, yah? Berdoa sama tuhan biar gue balas perasaan lo? Maaf 'yah, gue nggak doyan cewek kayak lo."


"Uhukk-uhukk." Nayla pura-pura terbatuk, wadah cilok yang sejak tadi mengambil perhatiannya dia tutup dengan kesal, selera makannya jadi hilang karena Raka. "Kepedean lo terlalu tinggi, lebih tinggi dari gunung Himalaya. Gue juga udah punya pacar. Lebih baik, ganteng, kaya, dan yang pastinya cerdas nggak modar kayak lo!" Nayla kembali memundurkan wajahnya yang sempat maju.


"Nggak usah malu-malu meong, kepercayaan diri yang terlalu tinggi nggak baik untuk kesehatan, apalagi sampai ngaku-ngaku punya pacar." Raka tertawa kecil. Nayla menganga dibuatnya. Padahal, Nayla serius atas ucapannya barusan tetapi Raka memang paling jago membuat orang kesal. "Makan aja ciloknya, lo nggak usah malu-malu sama gue," tuturnya lagi.


"SIAPA YANG MALU-MALU? YANG ADA GUE MARAH-MARAH ...!!" Nayla refleks berteriak yang mana membuat Raka berjengit kaget dan memundurkan bangku. Penghuni kelas pun mulai menatap ke arah Nayla dengan berbagai macam tatapan namun, Nayla hanya fokus pada satu titik --- Raka.

__ADS_1


"Apanih-apanih. Nayla sebut-sebut Raka, apa jangan-jangan lo godain Nayla juga 'yah, Rak? Plis jangan maruk, Rak. Satu aja," timpal Morgan yang baru saja bergabung memasuki kelas.


"Ambil aja kalo cewek ini, nggak doyan gue, nggak ada cantik-cantiknya, ngabalukarkeun nyeri panon," cibir Raka, otak Nayla langsung mendidih dibuatnya. Siapa juga yang menggodanya? Nayla tidak mengatakan apapun hanya Raka sendiri yang menyimpulkan. Raka menyambar jaketnya di kepala kursi dan membereskan buku-bukunya. "Gue mau amanin buku gue, kali aja dia nekad trus melet gu 'kan, nggak lucu kalo hubungan gue dan Agatha hancur gara-gara kecebong," ujarnya lagi.


Netra Nayla terbelalak kaget. "Apa hak lo manggil-manggil gue kecebong? Gue bahkan diam aja sedari tadi yah, elo-nya yang ngerocos terus kayak emak-emak dipasaran! Tingali dina eunteung." Suara Nayla yang cukup menggelegar mengundang tawa satu kelas. Raka memantik api permusuhan di kedua matanya, Nayla membalas hal yang sama bahkan kedua tangannya sudah berkacak.


"Wihh, panas-panas-panas, kayaknya Raka udah dapet lawan setimpal," timpal Reno, teman sekelas Raka. Cowok itu bersiul-siul gaje hingga teman-temannya yang lain ikut juga. "Mana cewek lagi, bahaya 'nih, kalo Agatha tahu," ucapnya lagi.


"Yang di sudut diam 'yah, bacotan lo nggak dibutuhin di sini!" Raka menunjuk Reno dengan kesal. Morgan yang berdiri di samping Raka menahan lengan temanya agar tidak bertindak lebih jauh.


"Woyyy, santai Man, gue cuma bercanda kagak usah dimasukin ke hati-lah." Reno tertawa pelan. Menanggapi Raka memang harus dengan otak dingin, karena sifat Raka di kelas ini terkenal emosional dan jarang berpikir rasional, jadi hanya orang-orang sabar seperti Morgan dan Gino saja yang cukup dekat dengan cowok itu.


"Selain nggak ada akhlak, lo juga emosian tingkat akut, semakin bingung gue, cewek lo suka dari mananya, sih? Ganteng atau duit?" remeh Nayla. Raka membuang muka ke arah lain. Nayla menatap Morgan, dia berujar santai, "Tahan banget lo sahabatan sama dia, di jadiin budak, yah?"


Raka melirik mereka sinis. "Salah cewek lo, Gan. Kalo mikir mau dekat-dekat sama dia mending jangan! Gue nggak ngerestuin lo!" ancam Raka lalu pergi begitu saja.


"Tadi katanya nggak papa."


"Kuping lo yang rusak!"


Morgan mengangkat bahu tidak peduli. "Kayak orang mau nikahan aja segala minta restu." Morgan terkekeh kecil, Nayla juga sama. Kali ini Morgan melirik cewek lain yang sedang sibuk dengan dunianya sendiri sebab, memakai aerphone seraya membaca novel. "Dia siapa? Cantik juga," pujinya.


"Jaga mata, Gan," seru Gino, lalu berdiri dan menyusul Raka, berjalan di samping cowok itu. Gino terlihat tidak bersahabat dengan Raka namun sering ikut kemanapun Raka pergi, mereka seperti 'teman' dalam selimut yang terlihat bermusuhan namun nyatanya saling peduli. Itulah yang Morgan dapat dari kedua temannya itu, sedangkan dirinya? Netral.

__ADS_1


Viola melirik punggung Gino sekilas. Tidak bisa dipungkiri jika jantungnya berdetak dua kali lebih cepat saat bersama cowok itu, Viola juga sengaja duduk di bangku belakang Gino untuk melihat punggung lebar cowok itu dengan leluasa. "Ya ampun, jatuh ialah turun atau meluncur ke bawah dengan cepat karena gravitasi bumi, baik ketika masih dalam gerakan turun maupun sesudah sampai ke tanah dan sebagainya. Tapi ada jatuh yang enggak gue tau." Viola melirik Nayla dan Morgan bergantian, senyumannya semakin merekah saja. "Jatuh cinta itu ... apa?" tanyanya.


"Pertanyaan yang bagus, ada dewa cinta di sini," ujar Morgan terkekeh kecil. Viola tampak antusias mendengarnya, berbeda dengan Nayla yang langsung ngacir ke luar kelas untuk membuntuti Raka. Morgan menarik napas panjang, duduk di kursi depan Viola. "Jatuh cinta itu keadaan saat lo benar-benar merasa tidak ingin jauh dari orang itu, rasa senang, bahagia, berbunga-bunga, setiap ada orang yang lo cinta," ujarnya antusias. Viola membinarkan mata, tetapi sirna saat Morgan melanjutkan ucapannya.


"Seperti rasaku padamu."


"Mimpi!"


Kembali pada Nayla. Cewek itu mengendap-endap di balik tembok, sesekali bersembunyi di balik punggung mahasiswa yang sedang berjalan saat mangsanya menoleh ke kiri dan kanan. Dipenglihatan Nayla, jika dibandingkan antara Raka dan Gino sudah jelas lebih unggul Gino.


Netra abu yang sedikit sipit, mimik wajah sulit ditebak dan agak dingin persis cowok-cowok yang disukai kaum hawa di dunia pernovelan. Sedangkan Raka, tengik, jelek, bloon, pokoknya yang buruk-buruk ada semua pada Raka. Menurut Nayla. Tetapi, anehnya dia menjadi salah satu cowok terpopuler di kampus ini, lebih-lebih sikap posesifnya pada sang do'i. Katanya.


.


.


.


.


RAKA NGESELIN YAH? AKU AJA GEDEK SAMA DIA, TAPI SUKA JUGA:-P


SALAM DARIKU,

__ADS_1


SYUGERR. JANGAN LUPA LIKE!


__ADS_2