LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 68


__ADS_3

"NAYLAAAA ...."


Viola dengan setengah berlari mendekati Nayla yang duduk di meja kantin seorang diri. Tengah melamun. Terlihat dari pandangan kosong dan tangan yang terus mengaduk mie ayam walau sudah mengembang.


Nayla segera bangkit hanya untuk tertubruk tubuh Viola yang memeluknya erat. Nayla geming. Viola tertawa yang mana berhasil memancing semakin banyak tatapan menujunya.


"Gue lumayan rindu sama lo, musuh bebuyutan," gurau Viola melepas pelukan mereka. Kedua tangannya masih menggenggam tangan Nayla erat, menggoyang-goyangkan dengan bahagia. "Maafin gue ya udah ngilang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas," katanya dengan mata yang melirik tajam ke arah Gino. Cowok tanpa ekspresi itu duduk bersama Raka dan Morgan. Oh, jangan lupakan Agatha yang bersandar di pundak kanan Raka juga Rose yang terlihat kesal duduk di samping kiri Morgan.


Nayla tak kunjung merespon. Viola tak mempermasalahkan itu.


"Lo pasti mau cerita banyak ya, kan? Cerita aja, gue dengerin," pintanya tersenyum manis. Viola menarik kursi untuk duduk tapi sebelum itu dia teringat sesuatu. "Video malam itu masih ada di hp gue, walo sepotong sih karna gue baperan dan lari. Gue juga bingung, padahal nggak ada yang ngusir gue."


Viola menyengir canggung.


Dia berusaha menghibur Nayla, membuatnya tersenyum atau tertawa.


"Lo kenapa sih, Nay?" Suara Viola mulai terdengar serius. Namun, sebelum Nayla membuka mulut dan menjawab, ia buru-buru menambahkan, "Tunggu ... Gue mau mesen makanan, biar enak ceritanya." Setelahnya ia beranjak dari hadapan Nayla.


"Gue benci banget sama lo Agatha." Tangan Nayla terkepal. Tatapan mata menghunus ia tujukan pada Agatha yang tersenyum miring.


Setelah Agatha, tatapan Nayla tertuju pada Gino yang tenang menyeruput jus pesanannya. "Anteng banget lo, No, setelah apa yang lo lakuin!"


Viola datang dengan semangkuk pangsit dan sebotol air yang ia sempil di ketiaknya. Cengirannya tetap tak berubah walau hatinya gundah gulana sebab adanya Gino di kantin ini.


Diletakkannya pesanan tersebut lalu menarik tangan Nayla untuk duduk. "Gimana kabar lo? Aman-aman aja, kan?"


Nayla tak menjawab.


Viola manggut-manggut paham. "Tenang aja udah ada gue, kok. Gue bakal jadi orang pertama yang bela dan berdiri di sisi lo."


"Lo kalo makan, makan aja, nggak usah ngebacot!" geram Nayla.


"Iya-iya, tapi habis ini ngegosip, ya."


"Gue benci lo, Vio."


"Iya-iya gue tau Lo benci gue, secara kan gue musuh bebuyutan Lo."


"Nggak. Gue benci lo karna lahir dari keluarga kaya." Nayla menjeda Kalimatnya hanya untuk melihat Viola kembali menurunkan sendok yang nyaris masuk ke mulutnya. "Gue benci lo karna idup Lo itu sempurna. Lo punya segalanya. Lo kaya, Lo cantik, kekuasaan Lo juga punya. Adek Lo anggota Geng yang terkenal seantero Jakarta. Kurang apa lagi coba?"

__ADS_1


Viola mengernyit tak paham. Saat ia ingin mencelah lagi-lagi Nayla berhasil memotong.


"Sahabat? Kalo aja Lo tau ada banyak orang di luaran sana yang pengen banget dianggap sahabat sama Lo."


"Apasih Lo, Nay." Viola terkekeh sumbang. "Nggak jelas banget tau nggak."


Tanpa mengeluarkan sepatah kata lagi Nayla bergegas pergi dengan langkah cepat. Diiringi sorakan-sorakan kesal penghuni kantin yang mendengar ucapannya untuk Viola, Ia menutup rapat kedua telinganya.


"Nggak jelas tuh orang," cibir Viola. Bodo amat dengan ucapan Nayla tadi, ia tetap melanjutkan makan. "Entar juga baik sendiri."


Di kejauhan, Agatha memanyunkan bibir melihat Nayla pergi begitu saja. Padahal, yang ia harapkan adanya aksi pukul-pukulan atau seenggaknya tampar menampar. Dengusan kasar keluar dari bibirnya yang berwarna merah muda dilapisi lip balm.


"Kenapa?" Raka bertanya santai.


"Nggak papa."


Morgan terkekeh ringan. "Cewek ada masalah idup apasih? Kalo ditanya jawabnya 'nggak papa' padahal kenapa-kenapa."


"Diem aja lo, Gan." Rose menimpali. "Cewek itu kalo ngomong 'nggak papa' tandanya 'ada apa-apa'," jelasnya. Rose melirik Agatha. "Kalo Agatha sih, bilang nggak papa tandanya emang 'nggak papa', kan, bukan cewek beneran, tapi siluman jadi-jadian."


"Mulut Lo!"


"Ssst!" Gino mendesis. Sejak tadi berpikir keras ada apa dengan Nayla. Bukannya senang, cewek itu malah marah dan meninggalkan Viola. "Gue cabut duluan."


"Bukan urusan Lo."


"Ya jelas urusan gue lah!" Raka ngegas. "Lo itu sahabat gue! Walo nggak sahabat-sahabat amat sih, tapi tetep aja. Gue nggak mau Lo deket sama orang manipulatif kayak Nayla. Apalagi kalo sampe suka."


Gino terkekeh sarkas. "Suka? Emang kenapa kalo gue suka sama Nayla? Masalah buat Lo?"


"GIN!" Raka menggertakkan gigi dan berdiri. "Lo sadar nggak sih sama apa yang Nayla lakuin selama ini ke gue? Dia nyaris ngerusak hubungan gue sama Agatha, dan sekarang cewek manipulatif itu berusaha ngerusak persahabatan kita!"


"Terserah Lo mau ngomong apa." Gino keras kepala, menarik jaketnya yang tersampir di kursi dan berbalik. "Yang jelas gue suka sama Nayla."


Agatha terbelalak. Ia tanpa sadar meremas lengan Raka. Raka yang tersadar langsung fokus kepadanya. Mengabaikan Gino yang mulai menjauh.


Perdebatan sengit itu disaksikan oleh Viola. Cewek itu baru fokus ke makanannya saat irisnya bertubrukan dengan iris Gino. Dengan gerakan spontan ia meraih gelas hendak meneguknya yang berakhir pecah dan berhamburan.


Viola buru-buru jongkok dan membereskannya dengan tangan kosong.

__ADS_1


Gino yang tiga langkah di depan Viola berhenti hanya untuk mendengar ringisan cewek itu. Memejam mata sejenak, ia kembali berjalan tegak dengan tujuan yang jelas.


"Nayla sialan!" Viola mengumpat. "Gue udah baik mau bantuin Lo selama ini. Tapi apa? Lo cuman manfaatin gue."


Sejenak, iris Viola berkilat marah, mengabaikan jarinya yang teriris beling.


"Lo nggak papa?" Morgan datang membantu Viola berdiri, namun cewek itu segera menepis. "Galak amat."


"Nggak usah sok baik."


"Lah emang gue baik." Morgan tersenyum guyon. Menarik tangan Viola dan membersihkannya dengan selembar tissue yang ia tarik di atas meja. "Luka Lo lumayan parah, gue rasa bakal di amputasi deh ini."


"Mulut Lo!"


"Lah emang mulut gue." Morgan semakin menjadi-jadi. "Duduk dulu, gue keluar bentar ambilin Lo obat."


"Lo ..." Viola melirik ke arah Raka. "Nggak dimarahin sama Raka emang?"


"Maksud Lo?"


"Karna deket-deket sama gue. Gino aja tadi sampe dipelototin."


"Ya enggaklah. Yang gue samperin itu Viola bukan Nayla. Yang Raka nggak suka itu Nayla si cewek manipulatif bukan Viola yang baik hati."


"Nggak jelas."


"Ya jelaslah kalo Morgan itu gantengnya tiada tara, baik hati, dan senang menabung."


.......


.......


.......


.......


.......


JANGAN LUPA VOTE, KOMENT, AND SHARE.

__ADS_1


^^^salam dariku,^^^


^^^SYUGERR^^^


__ADS_2