LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 27


__ADS_3

Absen! jangan lupa.


Jangan lupa Follow akun Syugerr yah!


Like di setiap episode juga jangan lupa.


.


.


.


.


.


"Otak lo .... Fungsinya apa?"


Nayla duduk termenung di perpustakaan. Merutukki diri sendiri karena kebodohan yang telah dilakukannya. Seharusnya, dia tidak melakukan itu, namun apa ada daya semuanya sudah berlalu hingga yang terjadi sekarang adalah banyaknya warga kampus yang mencibir dan menghinanya terang-terangan.


Tetapi ..., Nayla cukup tidak peduli akan semua itu. Niatnya hanya ingin meminta pertanggungjawaban Raka! LIABILITY dari cowok itu. Apapun, akan Nayla relakan demi mendapatkan cowok itu. Termasuk, menjauhkan Agatha dari hidup Raka. "Yah, gue harus buat Agatha jauh dari Raka," ucapnya yakin.


Nayla lalu mengeluarkan laptop dari dalam tasnya. Membuka dokumen salah satu naskahnya yang sedang on-going dengan judul yang sama dengan hidupnya 'LIABILITY' dimana nama dan karakter dari pemeran cowok di naskahnya tersebut sama dengan Raka. "Liat aja lo Raka, gue bakal siksa lo di novel gue kali ini. Sesadis yang gue bisa!" geramnya dengan jemari yang mulai lincah mengetik di atas keyboard.


"Tuh Nayla 'kan, mahasiswi yang udah nekad nyatain cinta ke Raka?"


"Kayaknya 'sih, iya."


"Gila 'yah, berani bener! Cari mati namanya."

__ADS_1


"Namanya juga cewek nggak tau malu, yah ... gitu deh."


Nayla menghentikan aksi mengetiknya. Dia melirik sinis pada segerombolan cewek yang baru saja ikut bergabung ke perpustakaan. Dilirik seperti itu oleh Nayla membuat mereka terkikik geli sebelum berlalu dari tempatnya. Nayla mencibir pelan, "Gitu 'yah, kaum betina, gosip kagak tau tempat."


Nayla mengeluarkan aerphone dari dalam tasnya. Ingin menyumbat kedua telinga dari ocehan-ocehan yang tidak berfaedah. Namun, belum sempat dia memasang benda itu, seseorang sudah lebih dulu menepuk pundaknya hingga refleks menoleh.


Netra Nayla terbuka lebar, mulutnya yang terbuka langsung terkatup rapat. "P--pak, ngapain bapak kesini?" tanyanya pada Aldi yang berdiri dengan satu tangan tenggelam ke dalam saku. Nayla menggeser posisi duduknya, mempersilahkan Aldi untuk duduk. "Silahkan duduk, Pak."


Aldi mengangguk lalu duduk di samping Nayla. Nayla menunduk, otak cerdasnya mengatakan jika ini ada hubungannya dengan kasus di kantin tadi, tetapi Nayla tidak pernah berpikir jika desas-desusnya sampai di kampus sebelah. Aldi mengamati lamat-lamat wajah gugup Nayla.


"Pak, saya bisa jelasin semuanya." Nayla memulai percakapan setelah hening tercipta. Aldi tidak merespon ucapannya, dia hanya menatap wajah Nayla dengan tatapan teduhnya. Melihat itu Nayla berpikir jika Aldi mengijinkannya menjelaskan. "Saya dan Raka nggak ada apa-apa, tapi ... saya benar-benar cinta sama Raka, Pak. Jadi ... maafin jika saya nekad, Pak."


Bukan itu yang ingin Aldi dengar. "Beneran suka sama dia? Jadi, kamu putusin aku karena kamu cinta sama dia?" tudingnya yang mampu membuat Nayla tertunduk dalam. Sebenarnya, Aldi berharap jika Nayla tidak mencintai cowok lain, hanya dirinya. "Nay, kamu tau apa yang bisa kulakukan setelah semua ini terjadi?" tanya Aldi dengan tatapan dinginnya. Nayla mengangguk kecil mendengar itu.


"Tapi, Pak. Saya mohon, maafin saya. Ini sudah keputusan saya, lagian bapak juga bisa cari perempuan yang selevel dengan bapak. Bapak ini dosen muda, tampan, perempuan-perempuan cantik di luar sana mengantri untuk mendapatkan hati Bapak," tutur Nayla. Cewek itu hendak membereskan barang-barangnya namun Aldi lebih dulu menggenggam tangan kanannya.


"Ng--nggak bisa, Pak." Nayla melepas genggaman Aldi, setelah itu buru-buru memasukan barang-barangnya ke dalam tas. Nayla berdiri, Aldi juga ikut berdiri. "Maafin saya, Pak," lanjutnya lalu pergi meninggalkan perpustakaan.


Aldi menatap punggung Nayla yang mulai menjauh, senyum kecil terbit di bibir seksinya. Laki-laki itu kembali duduk ke kursi tadi, dan menarik salah satu buku tebal secara asal untuk dibaca.


Setelah kasus ini, semakin banyak orang-orang yang membenci Nayla. Kedekatannya dengan Aldi tadi mengundang semakin banyak komentar negatif tentang cewek itu. Nayla sadar, maka dari itu sepanjang jalan menuju kelas aerphone terpasang apik di telinganya dengan musik yang mengalun bervolume paling keras. Telinganya sedikit sakit dan pengang, namun hatinya akan jauh lebih sakit jika mendengar suara-suara sumbang di sekitarnya.


Kelas yang semulanya bising langsung senyap saat kaki Nayla melangkah ikut bergabung. Viola yang bercengkrama dengan Morgan juga langsung mengatupkan mulut dan membuang muka ke arah lain. Gino yang duduk di depan bangku Viola hanya diam setelah melirik Nayla beberapa detik. Nayla tidak ingin ambil pusing, maka dari itu dia memilih duduk di bangkunya sendiri dan menutup wajah menggunakan buku.


"Iya, sayang, entar aku antar."


Suara itu membuat seisi kelas menoleh ke arah pintu. Di sana ada Raka yang sedang tertawa kecil sambil mengobrol dengan seseorang yang terhubung di teleponnya. Melihat ekspresi bersinar Raka, teman-teman kelasnya seolah sudah tahu kalo Agatha adalah alasan dibaliknya. Nayla belum menyadari kehadiran Raka, wajahnya masih tertutup oleh buku dan telinganya disumbat oleh aerphone.


"Soswit banget 'sih, lo kerak telur, bikin yang suka sama lo makin panas aja," celutuk Randu si mulut cabe di kelas mereka yang mana mampu membuat seisi kelas tertawa ngakak mendengar itu. Randu melempar pulpen hingga mengenai sisi kepala Nayla sampai cewek itu menoleh dan membalas tatapannya. "Gimana rasanya jadi perusak hubungan orang, Nay? Ada manis-manisnya nggak," lanjutnya lagi lalu tertawa-tawa.

__ADS_1


Nayla tidak mengeluarkan reaksi apapun, dia hanya menatap Randu dingin lalu kembali menatap ke depan. Randu kembali menimpali, "Si Raka udah bucin sejak dini, Nay. Lo kagak mungkin bisa misahin dia with Agatha."


Raka diam. Sebenarnya dia ingin menyumpal mulut Randu karena mengatainya 'bucin sejak dini' namun itu dia tahan karena niatnya baik ingin menjauhkan dirinya dari Nayla. Cowok itu kini berjalan, dan duduk di bangkunya yang biasa tanpa menoleh sedikitpun ke arah Nayla.


"Nay, Raka udah di deket lo itu, apa yang mau lo ucapin?" Seseorang yang duduk di paling sudut ikut nimbrung, teman-temannya membalas dengan cekikikan. "Aku cinta sama Raka, nye-nye-nye-nye." Setelah ejekannya itu tawa langsung menggelegar.


Nayla memejamkan mata, semakin menekan masuk aerphone di kedua sisi telinganya agar menempel semakin erat. Raka yang duduk di samping cewek itu menoleh sekilas, merasa iba karena menjadi bulan-bulanan seisi kelas. Tetapi, bagi Raka ... Nayla pantas mendapatkan itu karena kelancangannya di kantin.


"Nay, lo nggak papa?" tanya Viola yang duduk di belakang Nayla. Cewek itu mencondongkan tubuhnya ke depan dan mencolek-colek lengan atas Nayla namun tidak ada respon dari cewek itu. "Nay, gue minta maaf udah bentak lo tadi," ucapnya lagi.


Nayla melepas aerphone-nya, dia menampik tangan Viola. "Gue nggak butuh maaf lo!"


WHOAAH! Setelah ucapannya selesai semua manusia yang ada di kelas ini berseru heboh. Nayla melirik mereka tanpa minat, walau dalam hati dia tak henti-hentinya menyumpah serapahi mereka semua.


.


.


.


.


Masih seru cerita ini?


apa udah enggak karena capek nunggu? wkwkwk


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2