LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 38


__ADS_3

"Gino ada yang pengen gue obrolin sama lo!" Suara Nayla terdengar lebih keras membuat banyak pasang mata menoleh ke arahnya. "Berhenti, please berhenti! Gue capek ngejar lo!" teriaknya lagi di tengah-tengah koridor menuju lantai tiga. Entah mau kemana cowok ini, Nayla juga tidak mengerti.


Langkah Gino berhenti di anak tangga pertama menuju lantai empat. Di belakangnya terdengar suara napas yang putus-putus dan bisa dipastikan itu berasal dari Nayla.


"Ngapain lo ngikutin gue?" tanya Gino, dia masih dengan posisi membelakangi Nayla. Cowok tersebut enggan untuk sekedar menatap Nayla, cewek yang akhir-akhir ini meresahkan Raka. "Gue itung sampe tiga lo nggak ngomong gue tinggal!"


Mata Nayla melotot mendengar itu, napasnya saja masih putus-putus dengan detak jantung yang tidak stabil. "Sabar, gue ben---nerin napas duh---lu," ujarnya putus-putus.


"Satu ...."


"Dua ...."


"Ti ...."


"Lo tau darimana konflik yang nimpa gue sama Raka?" potong Nayla cepat sebelum Gino menyelesaikan itungannya. Nayla memilih berdiri di depan Gino dengan naik dua anak tangga pertama agar tingginya sejajar dengan Gino. "Jawab! Gue tau ada yang elo sembunyikan!"


Gino tidak menjawab, wajahnya juga terlihat datar nyaris membuat Nayla kesal. "Gino, jawab! Tau dari mana lo hubungan gue sama Raka?" Nayla nyaris memekik tepat di depan wajah Gino kalau saja cowok tersebut tidak terkekeh pelan.


"Gue sahabat Raka dan jelas gue tau dari Raka," ujar Gino. Mendengar itu Nayla tertawa kecil dan memukul pundaknya pelan. Gino mengukir senyuman kecil, sudah tahu jalan pikiran cewek ini. "Nggak percaya?"


"Jelas-lah!" gerutu Nayla. Siapa yang percaya oleh jawaban Gino? Nayla tidak bodoh untuk percaya begitu saja. "Raka yang bucin stadium akhir ke Agatha walau bodoh dia nggak bakal sebodoh itu buat nyebar aibnya sendiri, walau ke sahabat sekalipun. Karena apa? Raka cowok yang punya gengsi setinggi langit, dan ... Kalau sampai Agatha tau hubungannya akan hancur berantakan!" Setidaknya itu yang gue pikirin sebelum tau sifat Agatha yang sebenarnya.


"Ternyata lo emang pintar," ujar Gino. Bukan itu yang ingin Nayla dengar, yang ingin di dengarnya ialah darimana Gino tahu konflik dirinya dengan Raka. "Tapi .... Sayangnya lo nggak bakal pernah tau, nggak semudah itu ulik informasi dari gue." Setelah mengatakan itu Gino berjalan meninggalkan Nayla.


"Gino." Nayla mengepalkan tangannya dengan geram. Hingga tepukan di pundaknya membuatnya menoleh. "Lo suka kan sama Gino? Sekarang gue tanya sama lo, apa yang lo suka dari cowok nyebelin kayak gitu?"


"Ish!" desis Viola menarik tangan Nayla mencarikan tempat yang lebih aman untuk mengobrol. Nayla sepertinya benar-benar tidak peduli dengan warga kampus yang mengulitinya dengan tatapan. "Sesekali lo harus liat mereka semua, tatapan mereka udah kayak pisau ke lo. Apalagi pas lo teriakin Gino, mereka udah pada maju mau nyerang tapi mundur lagi gara-gara ditegur sama Gino."


"Ditegur Gino?" tanya Nayla tidak habis pikir. "Nggak mungkin, dia nggak ngomong apapun tadi selain jawaban nggak masuk akal atas pertanyaan gue," sungutnya.


"Dia negurnya make tatapan elang. Gini nih kalo cewek yang nggak peka kayak lo. Eh btw, tadi lo ngobrolin apa sama Gino? Calon papa dari anak-anakku kelak," tutur Viola. Nayla tak segan langsung menyentil kening Viola.

__ADS_1


"Lo nggak curiga. Pas di kantin Gino ngomong seolah-olah dia tau konflik gue sama Raka, dan pas gue tanya katanya dia sahabat Raka dan Raka sendiri yang cerita, lo percaya?"


Viola menggeleng. "Nggak percaya, tapi kalo Gino tau itu bukan hal yang mustahil," tuturnya. Kening Nayla mengerut, pertanda tidak mengerti. "Gini, dikelas selain kita berdua siapa lagi yang paling aktif?" Nayla tidak menjawab, dia tahu jawabannya hanya saja tidak berminat untuk menjawab. "Gino, kan? Jadi menurut gue otak Gino yang cerdas nggak butuh perantara buat tau info, dia cuma nyimak lalu ngerti. Lagian kita belum tau konflik yang Gino maksud itu apa, siapa tau ajakan konflik yang waktu lo nyatain perasaan?"


Viola benar.


#####


Nayla mengetuk pintu apartemen Raka dengan tidak sabaran. Dia ingin Raka sendiri yang menemaninya ke ruang cctv untuk melihat rekaman malam itu. Hanya saja sudah sepuluh menit Nayla berdiri dan mengetuk tidak ada tanda-tanda kehidupan yang terdengar di dalam sana.


"Lo berdua mau nginap?"


"Yo'i, sekalian nge-game. Udah lama kita bertiga nggak nge-game."


"Lo gimana, Gin? Nginap juga, kan?"


"Hm."


"Nayla, lo ngapain di apartemen Raka?" tanya Morgan.


"Gue ada urusan sama Raka," jawab Nayla menatap Raka namun yang ditatap hanya bersikap abai dengan mimik wajah dingin. "Raka, ikut gue sebentar," ajaknya yang tak ditanggapi sama sekali.


"Gue masuk duluan." Itu suara Gino, tanpa basa-basi lagi dia meninggalkan mereka semua dan masuk lebih dulu ke apartemen Raka setelah Raka memberi kartu akses padanya. "Morgan, lo juga." Morgan yang disuruh menggeleng namun karena ditatap tajam oleh Gino dia akhirnya luluh dan ikut masuk.


"Ikut gue ke ruang cctv," ajak Nayla.


"Kuping lo kayaknya karatan deh, Nay. Nggak ngerti-ngerti setiap kata yang gue omongin," tandas Raka.


"Terserah lo mau ngomong apa, tapi gue mohon ikut gue! Gue mau buktiin kalo apa yang gue ucapin semuanya benar. Dan lo salah nilai gue dan juga Agatha!" pungkas Nayla penuh penekanan.


"Terserah lo!" Raka memilih masuk ke apartemen namun baru saja dia ingin memutar knop pintu tangan Nayla lebih dulu menyambar lengannya dan menariknya pergi.

__ADS_1


"Gue nggak peduli lo mau ngomong apa! Yang jelas ikut gue sekarang adalah kewajiban yang mau nggak mau harus lo lakuin!"


"Nggak usah narik-narik!" Raka menghentakkan tangannya. "Kalo apa yang lo omongin semuanya nggak bener, lo nggak ada alasan lagi buat muncul dan recokin idup gue."


Nayla mengangguk dan mengusung senyuman kecil. Dia juga ingin segera mengakhiri ini, sekaligus membantu Raka agar tahu sifat Agatha yang sebenarnya. Cewek yang selalu cowok itu puji-puji.


Sampai di depan ruang cctv, Nayla menghembuskan napas panjang dan melangkah masuk, Raka ikut di sampingnya. Ada seorang pria setengah baya yang duduk di salah satu kursi, pria yang bertugas mengawasi cctv di apartemen ini.


"Maaf, Pak. Kami mau minta tolong."


"Minta tolong apa?"


"Cek cctv di kamar nomor xxx pada tanggal xxx, dini hari tepatnya jam 1."


Raka memutar mata malas mendengar penuturan Nayla. Dia yakin tidak melakukan kesalahan apapun, dia yakin dirinya hanya dijebak. Dan ada bagusnya juga Nayla berinisiatif mengecek cctv, karena dirinya juga ingin tahu musuh mana lagi yang menjebaknya sampai se-ekstrim ini.


.


.


.


.


Menurut kalian pacar Agatha siapa? Gino?


Ada yang penasaran pacar Agatha siapa?


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2