
Udah berapa purnama cerita ini nggak up?
idenya bener-bener nggak ngalir di otak š
eh btw, dari kemarin kena teror mulu gara-gara cerita ini nggak up:(
makasih yah udah ingetin š„
.
.
.
"Kok bisa 'sih, novel Nayla jadi populer gini, ck!" Agatha berdecak saat mengecek novel rekomendasi di platform tulisnya dan mendapati novel dengan judul LIABILITY menduduki posisi ketiga. Penasaran, Agatha mengecek isinya.
"Novel murahan, nggak layak baca!" hinanya sembari menutup laptop dengan kasar lalu menggesernya ke samping. Agatha mengusap wajah, otaknya berkerja memikirkan ide cerita baru untuk novel kelimanya nanti, novel yang mampu menarik pembaca melupakan novel Nayla.
"Mikir Agatha, lo nggak boleh kalah sama Nayla baik tentang Raka atau menangin hati pembaca. Nggak boleh!" Agatha melipat tangan di atas meja dan menenggelamkan wajahnya di sana. "Nggak boleh kalah pokoknya, gue idup bukan untuk nerima kekalahan lagi dan lagi, ini nggak adil."
"Ini adil, Agatha," seru Aldi. Meletakkan tas kerjanya di sofa dia berjalan mendekati Agatha yang membuang muka tidak ingin melihatnya. "Masih marah sama Kakak?"
"Kak Aldi pikir gimana? Agatha nggak bakal marah gitu saat kak Aldi lebih milih cewek baru di hidup kakak daripada adik kandung kakak sendiri," gerutunya. Dia memeluk laptopnya dan berdiri. "Agatha nggak mau bicara sama Kak Aldi untuk sementara waktu."
Aldi menggeleng pelan, berbalik badan melihat punggung Agatha yang mulai menjauh. "Malam ini makan di luar yuk, kerjaan kakak bentar lagi selesai." Suara beratnya yang cukup keras membuat langkah Agatha terhenti.
"BOHONG!" sahutnya tanpa berbalik badan, Agatha kembali melangkah namun terhenti saat Aldi kembali berteriak.
"Sekalian kita bahas rencana selanjutnya dan memikirkan ide baru untuk novel kelima mu."
Di sisi lain.
Iris kelam Raka memicing curiga saat melihat Nayla di belakang sahabatnya. Cewek itu tidak lagi mengganggunya, mengikuti dirinya kemana-mana dan berusaha menjadi pacarnya hanya saja dia mengikuti Gino membuatnya curiga.
"Gino, lo nggak larang Nayla ngikutin lo?" tanyanya tidak habis pikir pada Gino. "Itu Nayla bukan Viola. Lo bisa bedain, kan?" imbuhnya membuat Nayla yang berdiri di belakang Gino mencibir pelan.
"Apasih lo, Ka. Mungkin aja Nayla udah kepincut sama Gino makanya ngikutin Gino terus nggak ngikutin lo lagi," timpal Morgan terdengar sinis. "Lagian, Gino juga keliatannya nggak keberatan."
Raka menatap Gino dengan tuntutan. "Lo nggak keberatan diikutin terus?"
"Hm," balas Gino dengan deheman yang mana Nayla tersenyum senang. Sebab, Nayla selama empat hari membantunya merawat sang nenek di rumah sakit dan sebagai gantinya dia tidak bisa melarang cewek itu.
__ADS_1
Raka mendorong Gino ke samping lalu berjalan mendekat pada Nayla, berdiri di hadapannya. "Denger, gue nggak tau lo ngasih apa ke sahabat gue yang jelas ...." Telunjuk Raka tepat di depan wajah Nayla. "Yang jelas lo harus pergi sekarang juga karena gue nggak mau ada lo di sini!"
Nayla bertolak pinggang lalu menggeleng. "Sekali lagi gue tegasin, gue ngikutin Gino bukan ngikutin lo! Ngerti? Minggir." Karena Raka tidak bergerak Nayla menabrak lengan cowok itu untuk menghampiri Gino. "Makasih Gino," bisiknya saat berdiri di samping Gino.
Iris Morgan memicing curiga. "Kalian berdua ada apa-apa, ya? Deket banget kek perangko. Gino juga nggak biasanya kayak gini, lo santet ya Nay?" histeris Morgan.
"Ngaco lo!" tampik Nayla. Menatap sebotol air mineral yang masih tersegel di tangan Morgan lalu merebutnya. "Tau aja lo gue lagi haus," katanya lalu meminum beberapa teguk dan memasukkannya ke dalam tas.
"Jadi gimana? Jadi nggak nge-gym nya?" tanya Morgan dibalas anggukan singkat oleh Gino dan Nayla namun tidak bagi Raka saat cowok itu menarik tasnya di sofa dan bergegas pergi.
"MAU KEMANA LO, KA?" teriak Morgan tepat saat Raka bersiap membuka pintu apartemennya.
"Mau pulang, mood gue ancur karena ekor Gino," sahutnya ngawur.
"Ekor Gino," lirih Nayla. Saat sadar jika dirinyalah yang Raka maksud irisnya langsung membulat, Nayla mengepalkan tangan dan mengejar cowok itu. "TUNGGU!" teriaknya membuat langkah Raka terhenti seketika.
"Gue peringatin sama lo ya jangan pernah nyebut-nyebut gue ekor, ngerti?" galaknya. Nayla bertolak sebelah pinggang dan memiringkan kepala. "Lagian kenapa kalo ngikut Gino? Kangen lo gue ikutin? Kangen gue ganggu? Secara 'kan, gue udah nggak pernah ngejar-ngejar lo," tuturnya santai.
Raka menunjuk diri sendiri. "Kangen? Lo bilang gue kangen?" Raka melangkah maju mau tidak mau Nayla melangkah mundur. "Denger, lo nggak muncul dalam idup gue pun gue nggak peduli, apalagi cuma beberapa hari," tekannya pada setiap kata.
Raka menoyor kening Nayla dengan telunjuk. "Jadi jangan ke-geer-an, ngerti? Nayla Kayana." Setelah mengatakannya Raka menenggakkan badan dan melanjutkan langkah lebih cepat dari sebelumnya.
Viola
Pak Aldi dinner sama Viola di restoran, entar gue share lock
Iris Nayla membulat, niatnya untuk masuk jadi urung, dia memutuskan untuk segera pergi. Raka yang masih berdiam diri dipijakannya ingin 'kembali' atau 'tidak' dibuat penasaran sebab Nayla berlari mendahuluinya dengan buru-buru.
Di sisi lain.
Viola memasang alat pelacak di mobil Aldi, setelah pulang dan mandi dia memilih untuk mengikutinya lagi. Viola rasa dirinya ada bakat jadi penguntit, impiannya jadi wanita karir sepertinya akan melenceng jadi detektif.
Dulu, untung saja sebuah mobil berada di jalan yang sama, menyalakan klakson berulangkali membuat Aldi tidak jadi membuka pintu mobilnya dan memilih menjalankan mobilnya sendiri. Viola seperti diberi keajaiban saat itu.
Malam ini, satu fakta kembali terkuak. Aldi dan Viola saling kenal. "Kayaknya bukan saling kenal, tapi udah kayak sodara saking akrabnya," cicitnya duduk di sebuah kursi untuk memantau mereka.
Tak lama Nayla datang, memakai hoodie biru dan masker sama seperti dirinya. Namun, seorang cowok berkaos maroon di belakang cewek itu membuat Viola berdiri tegak. Viola buru-buru mengeluarkan ponsel dan mengirimkan Nayla pesan.
Viola
Lo ngapain ngajak Raka?
__ADS_1
Alis Nayla menukik, menatap Viola tidak paham namun sepertinya identitas Viola tidak boleh terbongkar. Nayla memilih berjalan ke kursi lain dan benar Raka mengikutinya. Cowok itu duduk di kursi tak jauh darinya.
Me
Gue nggak tau Raka ngikutin
Viola
Pak Aldi dan Agatha duduk di arah jam 3
Arah jam tiga? Nayla mengambil buku menu dan pura-pura membacanya sembari menatap ke arah itu. Dilihatnya Aldi tengah bercerita dan Agatha yang serius mendengarkan sesekali tertawa.
Mereka terlihat sangat akrab, tidak mungkin hanya sebatas kenalan. Setidaknya itu yang mencokol di otak Nayla saat ini.
Viola
Minta aja si Raka samperin Agatha
Nayla
Nggak bisa Vio, Agatha itu licik dia punya banyak alasan buat ngelak
Sebenarnya, Nayla punya alasan lain. Nayla hanya ingin tahu seberapa dekatkah pria yang menemaninya selama setahun itu dengan gadis penyebab hidupnya hancur.
Jika benar Aldi bekerjasama menyusun rencana busuk itu dengan Agatha, Nayla merasa sangat bodoh karena berpacaran dengan orang yang salah. Dulu, cintanya pada dosen muda itu sangat tulus, saking tulusnya Nayla memilih menjauh demi kebaikan seorang Aldiano Destura.
"Please, Pak Aldi buktiin kalo pak Aldi nggak ada sangkut-pautnya sama Agatha," lirihnya. Tangannya terkepal di atas meja, ponselnya yang berdering pun tak diindahkan. "Gue cuma curiga, tapi gue nggak bener-bener berharap pak Aldi ada sangkut-pautnya, gue bener-bener nggak terima. Gue nggak bisa."
.
.
.
gimana-gimana? bentar lagi ketahuan sama Nayla kalo Aldi itu jehong wkwkš
udah nggak sabar nunggu moment nya?
salam dariku,
SYUGERR
__ADS_1