
masih ada yang ingat alur cerita ini seperti apa?
masih ada yang setia nungguin?
kalo ada angkat tangan pakai emot api🔥
.
.
.
Nayla tidak menyangka jika respon novel barunya bisa seluar biasa ini. Kali ini dia mempublikasikannya pada aplikasi berbayar yang mana hasilnya bisa langsung Nayla nikmati. Dia tidak berniat menjadikannya buku karena isinya yang 'menjijikkan' tentunya dari pandangan pribadi.
"Padahal gue penulisnya," ujarnya pelan. Nayla masih tidak percaya, dia seperti dihantui komentar-komentar readers barunya. "Novel yang alurnya gue pikirin mati-matian nggak pernah dapet respon se-excited ini, sedangkan novel yang gue tulis pake emosi sampai-sampai pengen ngancurin keyboard baru part pertama udah tembus ratusan readers," lanjutnya.
Orang-orang yang tidak sengaja melihat Nayla mengoceh sendiri mungkin menganggapnya sudah gila. Apalagi ekspresi wajah Nayla yang berubah-ubah, ditambah cewek itu duduk sendiri di sebuah kursi dekat jendela.
"Sebenarnya readers itu maunya apasih?!" Nayla bertopang dagu dengan satu tangan, sedangkan yang lain menusuk-nusuk chocolate triple cake pesanannya tanpa sadar. "Kepala gue sakit mikirin itu semua!"
Seharusnya Nayla bersyukur karena novel baru yang dipublikasikannya dengan nama pena baru dijadikan favorit banyak orang, bahkan banyak di antara mereka yang meminta daftar novelnya yang lain namun Nayla tidak memberikan. Bukannya Nayla tidak bersyukur hanya saja, novel itu seperti kutukan untuknya.
Suara dentingan berasal dari pintu membuat Nayla refleks menatap ke arah sana, ternyata yang baru saja masuk ialah Raka dan Agatha. Seperti biasa kedua pasangan itu menarik banyak pasang mata.
Tidak di kampus, tidak dimanapun pasangan itu memang menonjol, si cowok ganteng dengan tampilan serba mahalnya, si cewek terlihat manis dengan senyum bak malaikatnya.
Benar-benar pasangan legendaris penuh kemunafikan. Itu hanya terlihat diluarnya saja karena fakta bahwa Agatha tidak mempunyai perasaan apapun pada Raka sudah Nayla ketahui.
Karena tidak ada tempat yang kosong mau tidak mau mereka mendekat ke meja Nayla, duduk tepat di seberang meja Nayla. Nayla meliriknya datar, selanjutnya dia menatap ke jendela. Mood-nya sedang lumayan bagus sekarang, tabungannya meningkat, jadi dia tidak mau merusak itu karena berdebat dengan mereka.
"Gino," cicitnya nyaris tanpa suara. Di balik jendela transparan ini dia melihat Gino yang duduk di pinggir jalan bersama seorang anak kecil yang memegang gitar. "Gino pasti lagi ngikutin Agatha, dia suka banget 'sih, ngikutin Agatha? Apa jangan-jangan dugaan gue bener kalo Gino adalah pacar Agatha yang sebenarnya."
Ting!
Viola
Kabar terbaru, Pak Aldi masih mikirin lo
__ADS_1
Nayla melotot. Jari-jari lentiknya dengan cepat mengetik balasan.
Me
Maksud lo apaan? Tau dari mana lo? Jangan ngaco, nggak mungkin lah
Viola
Nggak ada yang nggak mungkin, gue ngikutin pak Aldi terus dan gue nggak sengaja denger kalo walpaper hp dia itu foto cewek. Gue yakin foto lo
Me
Mungkin aja foto cewek barunya dia
Viola
Gue masih masuk di gb gosip kampus kita ya dan pak Aldi belum ada deket sama yang lain
Nayla meletakkan ponselnya di meja. Fakta kalau Aldi masih menaruh perasaan padanya membuat Nayla bimbang antara berhenti atau maju terus. Kalau boleh jujur, di sudut hati Nayla masih ada nama Aldi bersemayam. Sangat susah untuk melupakan pria yang mengisi hari-harinya nyaris setahun.
Mendengar suara tawa Nayla refleks menoleh ke sisi kanan, bibirnya membentuk garis tipis saat melihat Agatha tertawa akibat ulah Raka. Dan saat Agatha terbatuk karena tertawa Raka sigap memberikan air pada cewek itu dan mengusap kepalanya.
Nayla jadi iri sekaligus kasihan pada Agatha. Kasihan karena dendam dia sampai masuk ke kehidupan Raka. Entahlah, tetapi sejauh yang Nayla ketahui, Agatha seorang penulis juga dan karyanya sudah ada yang tembus betseller, sekitar tiga karya.
Dan seorang penulis dengan karya sebaik itu tidak mungkin berpikir pendek dalam bertindak. Jika dia mampu mengendalikan setiap perasaan cast-nya maka kenapa dia terperdaya dengan kehidupannya sendiri? Kehidupan yang bisa dengan bebas dikendalikannya karena perasaan dirinyalah yang bermain secara langsung.
Nayla menggeleng. Untuk apa dia memikirkan itu semua. Fokusnya jadi terbagi, daripada memikirkan itu lebih baik dia mengikuti Gino.
Di sisi lain. Aldi mengecek lewat spion mobilnya, perasannya mengatakan jika sedari tadi ada yang mengikutinya. Dan benar, sebuah mobil sport berwarna merah mengikuti mobilnya sedari tadi, tadi Aldi juga sempat melihat mobil itu terparkir tidak jauh dari mobilnya saat masuk ke perusahaan Dirgantara.
Aldi tidak tahu pemilik mobil itu siapa. Namun, sejauh yang dia tahu hanya cewek yang memiliki bakat menguntit sebaik itu. Jadi, pasti pelakunya cewek.
"Saya pasti nangkep kamu," ujarnya.
Aldi menginjak semakin dalam pedal gas sampai mobilnya melaju sangat kencang di jalan raya, mobil sport merah di belakangnya mengikuti. Aldi tertawa pelan, ternyata dugaannya sudah terbukti benar.
Saat jalanan semakin ramai Aldi sengaja membelokkan mobilnya masuk ke jalanan sepi. Melirik ke belakang ternyata mobil itu masih mengikutinya sejauh ini. Aldi menghentikan mobilnya dan turun.
__ADS_1
Netra Viola terbelalak. Dia dijebak di tempat sepi ini, Viola mengatur pedal, dia ingin membelokkan mobilnya namun aksesnya tidak ada. Jalanannya benar-benar sempit, mobilnya tidak bisa putar balik.
Viola kembali di buat terkejut saat Aldi berjalan mendekat. Buru-buru dia mengambil masker dan topi atau apapun yang bisa digunakan menutupi wajah. Nayla bisa marah berbulan-bulan kalau sampai dirinya ketahuan.
"Gue ke jebak, gara-gara Nayla nih. Alasan gue apa coba kalo sampai ke tangkap? Masa mahasiswi ngikutin dosennya udah kayak penguntit," gerutunya.
#####
Gino mengusap rambut anak yang bersamanya. Sejenak wajahnya melunak, Nayla datang menghampiri dan tanpa segan duduk di sisi lain anak itu. Gino meliriknya tidak peduli.
"Makasih, Kak. Udah bantuin aku," ujar anak itu yang mana Nayla dibuat penasaran. "Kalo Kakak butuh bantuan aku datang aja kesini, aku pasti bantuin Kakak, apapun itu," imbuhnya lagi.
"Bantuin apa? Gino ngapain kamu, Dek?" tanya Nayla. Dari nada bicaranya seakan-akan Gino melakukan kesalahan besar. "Dia jahatin kamu?" tanyanya perhatian.
Gino melirik Nayla sinis. Dia bangkit dan berjalan menjauh, kedua tangannya tenggelam di saku hoodie hitam yang di kenakannya.
"Jawab Kakak, dia ngapain kamu? Dia jahatin kamu? Bilang aja, nanti Kakak yang bales," pungkas Nayla serius. Melihat sikap bodo amat Gino membuat Nayla beranggapan jika tidak mungkin cowok itu berlaku baik.
"Kakak kenal sama Kakak itu?" tanya anak itu sembari menunjuk Gino.
Nayla mengangguk.
"Kakak itu baik 'kok, dia bantuin aku pas digangguin preman di gang nggak jauh dari sini."
Nayla speechless, apa yang dirinya pikirkan ternyata salah, Gino tidak seburuk itu sampai mau menyakiti anak kecil. Mendongak, melihat punggung Gino masih terlihat Nayla buru-buru berdiri dan mengejar cowok itu.
"Makasih ya, Dek. Nanti kita ketemu lagi," teriaknya saat menoleh ke belakang.
.
.
.
SALAM DARIKU,
SYUGERR
__ADS_1