LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 23


__ADS_3

Raka menubruk dinding apartemen saat mendapatkan tendangan. Cowok yang kalap akan emosi itu terus mengumpat dan menyerang balik, memberi tinju di rahang lawannya dan menendang dengan tenaga yang mematikan. Saat Raka maju hendak mencengkeram kerah lawannya tiba-tiba saja sebuah tangan dengan darah yang menetes dari sana mencengkeram erat pergelangan tangannya ---menghentikan tindakannya --- dan menghempasnya menjauhi sang lawan.


"Nay, tangan lo luka." Raka terkejut, Nayla terdiam kaku saat cowok itu menggenggam pergelangan tangannya. Raka menatap dua cowok yang baru saja menjadi lawannya, menyuruh mereka semua pergi lewat delikan mata. "Kok bisa gini?" Raka merobek kaus yang digunakannya dengan mudah, lalu melilitkan potongan kain itu di tangan Nayla.


"Gue yang berantem 'kok, lo yang luka? Gimana ceritanya." Masih dalam keadaan menunduk, dia melilitkan kain itu dengan hati-hati. Nayla masih diam, kakinya mulai tremor tanpa alasan yang jelas. "Lo kepengen bunuh diri, yah? Tapi nggak jadi-jadi karena takut dosa? Gue saranin jangan bunuh diri Nay, dosa lo 'tuh, banyak. Cukuplah buat giring lo ke neraka," cerocosnya lagi.


Nayla saja sebenarnya bingung kenapa tangannya bisa terluka. Seingatnya dia hanya memasak seraya mengangkat telepon, setelah itu mendengar keributan dan lari keluar. "Nggak tau." Nayla menggeleng, kening Raka mengerut bingung. "Kok bisa luka yah? --- aww." Nayla refleks memekik saat keningnya jadi sasaran jitakan Raka.


"Kayaknya walaupun lo di ambang kematian, lo nggak akan sadar deh. Kebanyakan ngelamun 'sih, lo." Raka menjauhkan tangannya. Nayla memasang ekspresi cemberut karena jitakan cowok itu yang tidak mengontrol tenaga. "Nay, mending lo masuk apartemen lagi gih, tiati banyak cowok nakal yang berkeliaran." Membalikkan tubuh Nayla, dia mendorong punggung cewek itu menjauh.


"Termasuk lo 'kan, cowok nakalnya?"


"Gue cowok baik-baik yah, hati-hati 'tuh, mulut kalo ngomong entar gue racunin."


Nayla tertawa kecil, dia kembali membalikkan badan. "Gue obatin luka dulu deh," ujarnya hendak menarik cowok itu untuk ikut berjalan namun ditepis dengan cepat.  Hembusan napas Nayla terdengar jengah, ekspresi songong Raka seperti ujian untuknya. "Nggak usah sok jual mahal, anggap aja ini 'tuh, balas budi karena lo udah ngobatin tangan gue." Mengangkat tangannya yang diperban kain, Nayla mengukir senyum manis.


"Nggak usah deh." Raka mengibaskan tangan. "Mau telfon Agatha aja biar dia yang obatin," ujarnya lagi yang mana berhasil membuat ekspresi Nayla berubah datar. Berbalik badan hendak pergi ke apartemen sendiri, tarikan di kerah belakang kaosnya membuatnya terhenti. "Nay, setan lepasin woy!"


"Gue aja yang ngobatin kenapa, sih? Keburu kering entar 'tuh, luka, emangnya nggak sakit apa? Sampai-sampai ditunda-tunda terus?" omelnya garang. Raka bergedik bahu tidak peduli, kembali melangkah namun sekali lagi Nayla menarik kerah bajunya untuk mundur. "Keras kepala banget sih lo. Apa bedanya coba, Agatha sama gue? Timban ngobatin luka doang elah."


"Oy! Kesambet setan kali 'yah, lo. Pengen hujat rasanya. Kalo gue pengen Agatha emang kenapa? Orang dia pacar gue," gregetnya. Nayla meringis saat Raka menghempas tangannya. Cowok itu merasa sudah sabar menghadapi Nayla. "Kalo gue baikin lo jangan ngelunjak!" sentaknya lagi.


Nayla diam. Dia tidak mencegah lagi saat cowok itu pergi dari hadapannya. Menatap tangannya yang terluka, Nayla mengukir senyuman tipis. Setidaknya, sudah ada hal yang membuktikan kalo Raka Dirgantara masih mempunyai hati walau sebatas lilitan kain.

__ADS_1


####


Lagi enak bersantai di balkon apartemen dengan sang pacar, suara deringan ponsel berulangkali membuat Agatha dongkol. Ponselnya sedang dalam mode charger di atas nakas, rasanya sangat malas untuk mengambil benda pipih itu. Melirik ke dalam dengan malas, mengumpulkan niat untuk keluar dari mode nyamannya.


"Beb." Agatha memanggil pacarnya yang sedang duduk bersandar seraya bermain gitar. Yang dipanggil mendongakkan wajah, satu alisnya terangkat sebagai bentuk tanda tanya. "Raka nelfon," lanjutnya.


"Angkat aja, palingan mau minta diobatin setelah baku hantam dengan dua orang gue. Lemah!" cibirnya. Agatha menghembuskan napas jengah, hari ini dia sangat malas berurusan dengan Raka, dia ingin menghabiskan waktu dengan pacarnya, bukan cowok yang menjadi objek balas dendamnya. "Jangan bilang ada gue di sini," lanjutnya lagi.


"Jelaslah, bisa berabe kalo 'tuh, bocah tengil sampai tau," balas Agatha. Mencabut charger dari ponselnya cewek itu melangkah ke sofa seraya menggeser ikon hijau di layar untuk menerima panggilan dari Raka. "Halo." Suara Agatha dibuat sehalus mungkin yang mana berhasil membuat sang pacar terkekeh geli. Agatha memperingatkan dengan menempelkan telunjuk di bibir isyarat agar cowok itu diam.


"Lagi dimana?"


Ringisan terdengar setelah pertanyaan itu. Agatha menjauhkan ponselnya dan mengulum senyum lebar, memberitahu pacarnya bahwa alasan Raka menelpon memang benar karena terluka. Setelah itu Agatha kembali mendekatkan ponselnya.


"Apartemen, kamu kenapa? Suara kamu 'kok, lemah gitu?" Panik. Lebih tepatnya pura-pura panik.


Agatha terdiam. Cewek mana yang tidak luluh diberi perhatian sebesar itu? Bahkan, nyaris beberapa kali Agatha melupakan niat balas dendamnya dan memilih mencintai cowok itu sepenuh hati. Namun, semuanya terasa mustahil, dendam di hati Agatha membara setiap kali mengingat masa lampau. Tetapi, cara Raka memperlakukan dirinya juga tidak main-main, cinta yang cowok itu berikan terlampau besar hingga beberapa kali Agatha melayang.


"Agatha ... Sayang, eh? Kok diam." Terdengar kekehan geli di seberang sana, Agatha mengukir senyuman tipis.


"Nggak papa, aku ke apartemen kamu aja? Takut terjadi apa-apa," ujar Agatha.


"Nggak usah, aku nggak papa, kok. Cieee perhatian sama pacar." Raka bersiul gaje untuk menggoda Agatha tapi tak lama kemudian cowok itu meringis. Agatha bangkit berdiri, hendak meraih tas selempang untuk ke apartemen Raka sekarang juga.

__ADS_1


"Aku kesana aja," putus Agatha.


"Jan ...."


Klik! Sambungan dimatikan secara sepihak. Agatha berjalan ke arah meja rias dan mempoles tipis wajahnya di sana. Cowok yang masih setia di balkon kamar itu mengerutkan kening melihat pacarnya kini duduk di pinggir ranjang seraya menarik sepatu putih dibawah ranjang.


"Mau kemana?" tanyanya. Agatha melirik sekilas. Tak mendapat jawaban cowok itu meletakkan gitar di atas marmer balkon dan menghampiri sang pacar. "Mau kemana?" tanyanya mengulang pertanyaan.


"Raka luka, kamu tau 'kan, dia itu keras kepala dan nggak bisa ngurus diri sendiri," jawab Agatha. Setelah selesai dengan kegiatan mengenakan sepatu, kini cewek itu bangkit seraya memasukkan ponsel ke dalam tas selempang yang tersampir di bahunya. "Aku ke apartemen Raka sebentar."


"Nggak!" Iris kelam itu menghujam dingin iris layu milik Agatha. Menandakan bahwa dia tidak ingin jika Agatha pergi dan meninggalkannya sendiri. Bukannya lebay, hanya saja dia tidak ingin jika rencana yang mereka susun hancur begitu saja karena sang antagonis membalas cinta sang protagonis. "Di sini aja, temenin aku," ujarnya lagi.


"Tapi ...." Belum sempat Agatha melanjutkan kalimatnya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh kecupan panjang.


.


.


.


.


.

__ADS_1


SALAM DARIKU,


SYUGERR


__ADS_2