LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 59


__ADS_3

yang nggak ngerti bahasa Jawa kita seserver 😂


jangan lupa like


komentar


dan follow akun Author


selamat membaca ✨


.


.


.


"Opo?! Bapak lara?""


"Inggih, Mbak. Bapak lara lan butuh biaya katha, awak dewe ora nduwe duwit kanggo bayar. Sampean iso ngirim duwit saiki ta?"


Nayla mengigit jari, untuk sekarang sepertinya tidak. Uangnya habis untuk keperluan lain, ditambah pemberitahuan yang masuk tadi pagi jika dia harus membayar listrik dan air secepat mungkin.


"Piro biaya seng dibutuhno gawe pengobatan bapak?"


"Bapak kudu dioperasi lan biaya'e 150 yuto!"


"WHAT?" Nayla terkejut luar biasa. "Dek, bapak lara nopo?"


Terdengar suara lain di seberang sana, bercampur berbuah riuh.


"Sepurakno ibu lan aku amarga ora ngandani Mbak Nay, awak dewe ora pengin sampeyan kuawtir. Awak dewe ora pengin nggangu konstruksi kuliah'e sampeyan ...." Adiknya di seberang sana menangis, semakin menambah kegundahan di hati Nayla. "Bapak lara parah, awak dewe wes nyoba  golek duwit, penggawenan opo seng iso di lakokno nang kene ora cukup. Biaya 150 yuto ora mung digawe operasi, nanging biaya pengobatan bapak seng sempet nunggak pisan."


Cairan bening merembes membasahi pipi Nayla. Bisa-bisanya mereka semua menyembunyikan informasi sepenting ini. "Lapo kok sek ket ngandani mbak saiki? senajan mbak sibuk utawa opo wae, mbak bakal ono wektu kanggo ngrungokake critane. Informasi koyok iki sampeyan tego nutupin saka embak?"


"Sepurane, Mbak."


Nayla memejamkan mata untuk sesaat. Rasanya dia ingin pergi dari kota millenial ini sekarang untuk bertemu keluarganya di sana. Kekhawatiran juga menusuk ulu hatinya, sang papa sedang sakit keras, Nayla takut tidak bisa mengumpulkan uang itu secepat mungkin."


"Sampeyan ojo nangis, kandha ibu ojo oleh susah. Mbak bakal kirim duwite, tapi gak saiki, wenehi Mbak wektu," tuturnya menenangkan. Entah dimana Nayla akan mendapatkan uang sebanyak itu.


"Nggih, mbak. Ojo lali jogo kesehatan nggih, aku bakal golek penggawean supoyo aku bisa nulungin, Mbak."

__ADS_1


Setelah mengucapkan salam sambungan pun terputus. Nayla duduk dengan lunglai ke sofa, kedua tangannya mencengkram rambut frustasi. Masalah yang lebih pelik menghampirinya sekarang dan dia tidak peduli yang lain lagi, yang terpenting sekarang bagaimana caranya uang itu terkumpul secepat mungkin.


Nayla tidak ingin papanya kenapa-napa. Sebagai seorang putri, papa adalah cinta pertamanya, dia seorang lelaki yang tidak akan pernah menyakiti hati putrinya. Papanya harus sembuh, ya! Nayla harus mencari cara agar uangnya terkumpul.


"Apa gue minta tolong sama Viola aja?" cicitnya. Hanya Viola yang terlintas di otaknya saat ini, mungkin Nayla akan menjadi orang yang tidak tahu diri sebab selalu menarik Viola ke dalam masalahnya. "Nggak ada cara lain lagi, gue harus dapetin duit itu secepatnya!" erangnya frustasi.


Secepat kilat Nayla menyambar benda pipih miliknya di atas meja dan ragu-ragu dia mencari kontak Viola dan menghubunginya.


"Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi ...."


Berdecak. Nayla mengulangi hal itu berkali-kali namun tetap saja hanya operator yang menjawab.


"Vio, lo kemana, sih? Gue butuhin lo, butuh banget," lirihnya nyaris menangis.


Sejak kejadian malam tiga hari yang lalu, dimana fakta tentang Aldi dan Gino terungkap Viola hilang dari jangkauan Nayla. Di telepon tidak bisa, datang ke rumah cewek itu pun dia selalu tidak ada. Bahkan, Nayla sudah menemui pihak kampus, mereka hanya mengatakan jika untuk sementara Viola digantikan oleh orang lain.


Tidak ada yang memberitahu Nayla kemana Viola pergi.


Dan masalah ponsel Viola malam itu. Setelah pulang dari restoran walau larut malam dia tetap mengantarnya pulang ke sang pemilik. Dan saat itu bukan Viola yang dirinya temui, melainkan pembantu, Nayla menitipkan ponsel Viola ke pembantu itu.


"Nggak ada cara lain, gue harus nyelesain novel-novel gue secepat mungkin biar terbitnya cepet dan uangnya cepet ke kumpul."


Saat pertama kali menulis Nayla cuma iseng yang berkelanjutan menjadi hobi saat merasakan sensasi menyenangkan jika membaca komentar-komentar yang mendukung dirinya. Namun, saat dia hidup di kota ini dan menjadi tulang punggung keluarga menulis tidak lagi menjadi hobi melainkan pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan.


"Nayla Kayana?"


Hening.


Dosen pria itu menatap mahasiswa di kelas ini satu persatu saat tak ada yang menyahut ucapannya. "Dimana Nayla?" tanyanya hanya dibalas gelengan pertanda tidak tahu.


Seorang cewek yang menggantikan posisi Viola pun diam. Dia sama sekali tidak tahu tentang kehidupan Nayla dan Viola, dia memang mengenal mereka berdua namun hanya sebatas teman kampus tidak lebih. Lagipula, dia juga senang jika Nayla tidak di sini.


#####


"Aku berani bersumpah akan selalu mencintaimu saat ini, besok, lusa, dan selamanya."


"BUCIIINNN!!"


"Iri bilang, Bos!"


Seisi kelas tertawa mendengar gombalan Morgan pada mahasiswi baru di kelas mereka. Wajahnya memang manis namun tetap saja tidak mengalahkan wajah Viola yang blasteran.

__ADS_1


Agatha yang duduk di kursi kosong milik Nayla pun senang bisa merasakan keseruan di kelas ini. Di sampingnya ada Raka yang mengusap-usap punggung tangannya tanpa henti.


Raka benar-benar jatuh cinta padanya.


"Nayla mana Raka?" tanya Agatha yang dibalas gidikan bahu tidak peduli oleh Raka. Melihat respon Raka yang seperti ini hatinya menjadi sangat senang. "Nggak boleh seperti itu sama temen sendiri," tambahnya.


"Temen? Ngapain aku temenan sama cewek nggak tau diuntung kayak dia." Suara berat Raka terdengar serius, tatapannya tak teralihkan dari punggung tangan Agatha yang putih. "Udah nggak keitung lagi dia berusaha misahin kita. Dia bahkan berani nuduh kamu selingkuh, dia udah melewati batasannya!" tambahnya.


"Bagus, benci Nayla seperti itu terus Raka," batin Agatha. Melihat kebencian dari diri Raka untuk Nayla dia jadi merasa menang, inilah inti dari rencananya, membuat Raka membenci 'kebenaran'


"Tapi ... Kamu kemana malam itu? Kurir yang nganterin barang pesanan aku bilang kalo nggak ada orang di apart kamu," tutur Raka, melepas genggamannya pada tangan Agatha dia menyorot cewek itu serius.


"Aku ...." Gugup. Agatha menatap keluar kelas, melihat seorang cewek menenteng kantong kresek berisi beberapa kotak pizza. "Aku keluar beli pizza, tiba-tiba aja pengen makan pizza," tambahnya.


Satu alis Raka terangkat. Agatha buru-buru tersenyum dan mengusap pipi kanan Raka dengan lembut. "Kenapa? Marah karena nggak ngasih tau kamu kalo aku keluar?"


Raka menggeleng. "Enggak gitu, Sayang. Tapi yaudah-lah, kita ke kantin sekarang, yuk?" ajaknya.


Mengangguk. Agatha menyambut uluran tangan Raka. Mereka berjalan bersisian menuju kantin, pasangan yang membuat banyak kaum jomblo meronta-ronta dan meringis.


Gino menatap kepergian mereka. Tatapannya berhenti saat Morgan menepuk pundaknya cukup keras, membuatnya terkejut.


"Ngapain lo liatin Raka dan Agatha terus? Iri lo sama mereka?" tanya Morgan lalu tertawa.


Gino mendelik, dia memilih menatap cewek yang sejak tadi sibuk dengan bukunya. Dia berdiri, menghampiri cewek yang namanya saja tidak dirinya tahu, menarik dan membawa cewek itu keluar kelas walau sempat ditolak.


.


.


.


.


.


TIM AGATHA MANA?


TIM NAYLA MANA?


Dukung TIM kalian masing-masing ✨

__ADS_1


thanks🔥


__ADS_2