LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 24


__ADS_3

"Tapi ...." Belum sempat Agatha melanjutkan kalimatnya, bibirnya lebih dulu dibungkam oleh kecupan panjang.


Di tempat lain. Lebih tepatnya di apartemen milik seorang Raka Dirgantara. Kini, cowok berkaos tanpa lengan itu gelisah setengah mati saat Agatha memutuskan untuk ke apartemennya. Bukannya apa-apa, jaman sekarang kejahatan ada dimana-mana, berbagai motif pula dilancarkan demi segepok uang. Raka tidak ingin jika pacarnya yang lugu itu kenapa-napa.


"Apa gue aja yang ke apartemen Agatha? Jemput dia." Raka menimang-nimang, sejujurnya dia sangat lelah, tulang-tulangnya terasa nyeri jika digerakkan berlebihan, belum lagi dengan luka di wajahnya yang mulai mengering. Sudah lama dirinya tidak nge-gym, juga tidak baku hantam membuat kekebalan tubuhnya berkurang. Sejak tinggal di apartemen sendiri pun, pola makan Raka tidak teratur, berbeda dengan di rumah.


Raka memilih menelpon Agatha kembali. Tiga kali note di layar bertulisan kata 'berdering' namun tidak ada tanda-tanda Agatha mengangkat panggilannya. Raka semakin kalap, pikirannya mulai tidak tenang, dengan gerakan cepat dia meraih kunci di atas nakas dan jaket yang tersampir di belakang pintu dan bergegas keluar.


"Agatha, bikin panik aja lo," gumamnya seraya memakai jaket. Memasukkan ponsel ke dalam saku, cowok itu memutar handle pintu dan menghembuskan napas jengah saat lagi-lagi seorang Nayla Kayana berdiri di depan pintu apartemennya. "Mau ngapain lo hah?" tanyanya sarkas.


Nayla langsung menerobos masuk, menabrak lengan Raka yang menghalangi pintu. "Mau ngobatin lo, sekalian bawain makan malam. Lo pasti lapar," ujarnya meletakkan kotak makan berwarna biru di atas meja. "Sini, gue obatin luka lo."


"Keluar nggak sekarang!" usir Raka.


"Nggak usah ngegas gitu bisa?"


"Gue bilang keluar, gue mau pergi!"


"Sini aja bareng gue, nggak menghargai tamu lo!"  Nayla mencibir. Cewek itu mengalihkan tatapan dari iris kelam Raka yang menghujamnya tidak suka. Nayla melipat kaki dengan posisi bersila di atas sofa, tangannya yang bebas meraih remot dan menyalakan televisi. "Sini duduk dulu, anggap aja apartemen sendiri," lanjutnya.


"Emang ini apartemen gue!" Suara Raka meninggi. Dengan geram dia menghampiri Nayla hendak mengambil alih remot dan mematikan televisi. Setelah itu dia akan mengusir cewek ini keluar secara paksa dari apartemen mewahnya.


"Suka banget 'sih, lo ngegas kalo ngomong sama gue!"


"Sinikan remotnya! Nggak tau malu banget main masuk ke apartemen orang. Mending cewek, lah ini lo masuk apartemen cowok!" Raka mengunci pergerakan cewek itu. Remot bisa dengan mudah direbutnya dari tangan Nayla. Setelah mematikan televisi dia kembali menatap sofa, netranya membulat terkejut saat Nayla lompat dari kepala sofa dan berlari, tersandung, cewek itu kembali bangkit dan berlari dengan posisi kaki yang pincang. "Mau kemana lo, hah?" teriaknya.


"Mau main ke kamar lo, kali aja kucel. Mau bantu bersihin," teriak Nayla. Raka menyusul cewek itu dengan emosi yang tak terkontrol.

__ADS_1


"Lumayan rapi juga kamar lo." Nayla tersenyum tipis. Kamar Raka lumayan rapi untuk ukuran cowok. Tetapi, ada satu hal yang membuat kerapihan kamar cowok itu berkurang yaitu guci yang diletakkan di lantai marmer depan nakas.


"Nay, lo kesambet jin apaansih. Heran gue!" Raka berdiri di pintu kamar. Terkejut saat Nayla merendahkan diri ingin meraih guci mewahnya yang sengaja dia letakkan di lantai. "Nay, jangan sentuh guci itu nanti pe ...."


Brak!


" ... Cah." Terlambat. Guci mewah berwarna emas itu sudah lebih dulu menghantam marmer.


"Raka, gucinya jatuh," ujar Nayla. Sedikit merasa bersalah dia langsung merendahkan diri untuk memungut pecahan guci tersebut, dia tidak sengaja menjatuhkan guci itu, lagipula Nayla hanya berniat baik, Raka tidak mungkin marah padanya, kan? "Raka lo marah?" tanyanya saat tak mendapat sahutan. Membalikkan badan, menghela napas berat saat melihat Raka membenturkan kepala berulangkali di palang pintu. "Nggak usah nyakitin diri sendiri, gue nggak papa kok. Tangan gue baik-baik aja." Nayla mengangkat kedua tangannya ---menunjukkanya pada Raka --- dengan bibir yang tersenyum lebar.


"Lo ini sebenernya pintar apa enggak 'sih, Nay?" Raka berusaha mati-matian untuk tidak marah dan mengomeli cewek itu. Bukannya apa-apa, hari ini dia sudah marah berulangkali dan penyebabnya satu orang yang sama. Nayla terdiam, memilih tidak menjawab hingga Raka kembali berujar, "Gue tadi bilang pergi. Nah, pergi itu kata usiran, yang artinya lo gue usir. Kalo lo diusir seharusnya lo lari keluar lewat pintu keluar, bukan lari masuk ke kamar gue tol0l!" Astagfirullah, gue ngehujat lagi!


"Setiap semester gue selalu dapat empat," jawab Nayla.


"Mau empat 'kek, mau lima atau seratus sekalipun gue nggak peduli. Intinya lo bodoh! Bodoh!" maki Raka tidak tanggung-tanggung.


"Letakkan bantal gue, oy! Astagfirullah!" greget Raka. Berjalan menghampiri Nayla, sampai di depan cewek itu Raka langsung menarik bantalnya membuat Nayla cemberut. "Nay, ngerti bahasa manusia nggak sih?"


"Emang lo manusia?" Nayla bertanya balik, dia meraih guling namun guling pun direbut oleh Raka dengan paksa. Nayla memberenggut kesal, pelit sekali! Barang-barang di kamar ini seperti terlarang untuk disentuh tangannya.


"Manusia lah. Udah sana pergi, jangan sampai gue kehabisan stok kesabaran dan nyerang lo."


"Nyerang dengan cara apa?"


"Botakin lo, mau?" geram Raka. Nayla menggeleng cepat dan nyengir kikuk, sedetik kemudian cowok itu terdorong mundur saat Nayla menubruknya dan memaksakan kakinya yang sakit untuk berjalan secepat kilat. "Mau ngapain lo?" tanya Raka saat cewek itu bukannya keluar malah masuk ke kamar mandi.


"KEBELET PIPIS," teriak Nayla. Raka sesaat merinding, memilih tidak bicara lagi dia membereskan pecahan guci yang belum sempat Nayla selesaikan.

__ADS_1


"Untung aja Agatha gue nggak kayak Nayla," gumam Raka. Bersyukur karena memiliki pacar seperti Agatha, cewek yang selalu jaga image dan tidak sembarang bertindak. Agatha juga tidak pernah membuat dirinya marah, atau lebih tepatnya Raka yang tak bisa marah pada cewek itu.


"RAKA GUE COBA SABUN PENCUCI MUKA LO, YAH," teriak Nayla dari dalam kamar mandi. Raka yang mengumpulkan pecahan guci langsung berlari ke pintu kamar mandi yang tertutup, enak saja cewek itu ingin memakai barang-barang mahal miliknya. Raka tidak akan membiarkan itu terjadi.


"Sampai lo sentuh barang-barang gue, gue jamin lo keluar dari sini lo bakal nangis!"


"Harum bener sabun lo."


"Namanya juga sabun g0blok! Jangan macem-macem, Nay!"


"Ijin nyoba dikit yah," teriak Nayla meminta izin. Suara gedoran pintu tak Nayla pedulikan lagi. Lagian hanya mencoba sabun pencuci muka, apa salahnya? Raka tidak mungkin sepelit itu.


.


.


.


.


.


.


NAY, SUKA BENER LO BUAT RAKA BELINGSATAN 🤣. JANGAN GANGGU DO'I GUE DONG, NAY. ENTAR TAK HIIIH NYAHO LO:v


SALAM DARIKU,

__ADS_1


SYUGERR.


__ADS_2