LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 46


__ADS_3

"Saya janji, Pak. Bakal ngelakuin segala cara buat nemuin bukti agar Raka ngaku." Nayla bingung. Tadi Aldi bersikeras membuatnya yakin untuk tetap maju, namun entah kenapa malam ini dirinyalah yang memohon untuk dibantu. "Pak gimana sih, tadi katanya mau bantuin."


"Tadi kamu keliatan nggak yakin, kenapa sekarang tiba-tiba berubah?"


Berdecak, Nayla duduk dengan posisi bersila. "Tadi saya capek buat mikir, kepala saya pusing mikirin itu semua. Gimana, Pak? Mau 'kan, bantuin saya ya-ya-ya-ya."


Terdengar kekehan di seberang sana membuatnya bernapas lega, akhirnya sang mantan yang merupakan dosen itu mau membantunya.


"Yaudah, bantuin mantan nggak ada salahnya."


Nayla tertawa kecil mendengar itu, ia berterimakasih dan mengakhiri percakapan mereka malam itu. Entah benar atau tidak jika Aldi salah satu dalang masih menjadi misteri untuknya, yang jelas Nayla akan berusaha mencari bukti agar kebenaran terkuak kepermukaan.


Saat ini cewek dengan kardigan hitam itu mengintip di balik tembok, di sana ada Gino yang tengah berbincang dengan seorang cewek.


"Riam adalah hubungan berantai antar berbagai kelompok dalam proses produksi, yaitu kelompok yang satu menjadi masukan bagi kelompok yang lain."


Berdecak kagum, Nayla menajamkan pendengarannya.


"Makasih kak Gino jawabannya."


Setelah itu sang adik tingkat pergi dari hadapan Gino dengan senyum mengembang manis. "Tuh cowok otaknya emang beda, pinter asli!" ujarnya memuji Gino masih dengan sembunyi-sembunyi.


Masuk ke perpustakaan, Nayla mengambil buku secara acak dan menutupi wajahnya. Di depan sana ada Gino yang membaca ensiklopedia.


Lama mengikuti Gino yang cuma diam, Nayla hampir saja tertidur di tempatnya. Dia sedang bosan untuk belajar dan ternyata lebih bosan lagi menguntit Gino. Di sisi lain, ada Viola yang membuntuti kemanapun Aldi pergi dengan setelan khas sekretaris kantor ternama.


Nyaris tertidur, Nayla kembali duduk tegak saat ada yang memukul mejanya. Mendongak, iris coklatnya terbelalak karena ternyata orang itu ialah Gino. Nayla langsung berdiri, berbalik badan namun suara Gino menginterupsinya.


"Ngapain lo ngikutin gue?"


"Siapa yang ngikutin lo!" Nayla berusaha santai namun rasanya sangat sulit hingga harus melirik kesana-kemari. "Nggak penting, gue mau ke kelas."


"Ngapain lo ke kelas?"


Baru ingin melangkah suara tanpa riak itu kembali terdengar. Mengukir senyuman manis, Nayla menjawab santai. "Daripada di perpus, udah sepi gini mending ke kelas, kan?"


"Pulang!"


"Hah?" Cengo, Nayla benar-benar cengo.


"Gue bilang pulang." Gino kembali pada mejanya, membereskan buku-buku catatannya. "Kalo masih mau di sini, terserah lo," ujarnya cuek lalu pergi begitu saja.

__ADS_1


Mengecek jam, lagi-lagi Nayla dibuat terkejut. "Nay, kok lo bisa bodoh gini? Lo kebablasan ngikutin dia," gerutunya saat jam menunjukkan pukul setengah enam. Tak mau membuang waktu, Nayla bergegas pergi dengan berlari.


Dia bahkan berlari melewati Gino, tujuannya adalah kelas. Nayla tidak membawa tasnya karena ribet. Mumpung universitas ini lift-nya sudah berfungsi, Nayla langsung masuk saja ke dalam lift.


Belum sempat pintu lift tertutup sebuah tangan menghalangi membuat Nayla terkejut.


"Apasih Gino, ngikutin gue terus!" gerutu Nayla.


Gino tidak menjawab, ia berdiri di depan lift.


"Kalo mau masuk cepetan dah! Gue buru-buru mau ngambil tas, takut kemalaman," ujarnya mulai panik. Mengecek kembali jam pada ponselnya, Nayla semakin tidak tenang.


"Lift-nya rusak," ujar Gino dibalas decakan kesal.


"Boong lo! Peringatan rusaknya udah nggak ada dan tadi gue liat dosen masuk sini."


Gino mengangkat bahu tak acuh. Dia melirik tanda peringatan dilantai yang sempat tertempel di dinding. Nayla ikut menunduk, seperkian detiknya ia kembali mendongak.


"Nekad pakai, lo nggak akan bisa keluar dari sini lagi." Setelah mengatakan itu Gino beranjak membuat pintu lift nyaris tertutup, untung Nayla sigap memanjangkan kakinya.


Di sisi lain. Viola menatap intens dosen muda yang di kandrungi banyak mahasiswi itu. Di sebuah restoran Prancis di kota ini yang harga minuman saja bisa mencapai ratusan ribu, bahkan lebih.


Viola berpindah tempat ke meja lain, untungnya restoran ini milik teman papanya jadi ia sudah sering kesini. Menggunakan pakaian khas sekretaris dan masker wajah membuatnya yakin jika Aldi tidak mengenali.


"Iya. Saya berencana membangun hotel dengan perusahaan Dirgantara, jadi modal pembangunan dan income-nya nanti akan kami bagi rata."


"Dirgantara?" cicit Viola, tidak asing dengan marga keluarga itu. Sampai sepuluh menit berlangsung dua pria ikut bergabung ke meja Aldi.


"Raka? Oh, jadi perusahaan yang pengin Pak Aldi ajak kerjasama itu perusahaan papa Raka. Beuuh, udah dosen, ganteng, tinggi, putih, mancung, mapan, baik hati, pembisnis muda. Nyesel lo Nay mutusin pak Aldi."


Di penglihatan Viola saat ini Raka sudah nampak tidak asing dengan Aldi, seperti mereka pernah bertemu sebelumnya namun cowok itu berusaha menutupi dan bersikap biasa-biasa saja.


Viola membuka tas, menulis beberapa catatan di buku bersampul birunya, diseperkian detik ponselnya berdering menampilkan nama Nayla.


"Lo dapet sesuatu?"


Viola semakin menutupi wajahnya dengan buku menu. "Dapat, gue bisa narik satu kesimpulan," ujarnya.


"Apa?"


"Nanti aja bahasnya, lo gimana? Dapet nggak? Atau terpesona sama ketampanan Gino?" ujarnya kesal di akhir kalimat.

__ADS_1


"Terpesona apanya, yang ada gue bingung sama sikap plin-plan tuh orang. Lo dimana sekarang?"


"Di restoran Prancis, lo mau nyusul?"


"Mau bayarin emang?" tanya Nayla dibalas kekehan. "Ngapa lu?"


"Jual novel-novel lo aja sana, lo kan penulis terkenal," pungkas Viola, tersenyum sopan saat minuman yang sempat ia pesan sudah sampai. Hanya secangkir yang menghabiskan dua ratus ribu.


Sambil mengamati sasaran, Viola berusaha keras untuk menguping. "Udah dulu Nay, mending lo pulang ke apartemen entar gue nyusul."


"Jadi selain hotel kalian sudah berencana membuat restoran italia juga?"


Viola terbatuk, ia meneguk rakus minumannya. "Hotel dan restoran Italia?" cicitnya tidak percaya. "Sepercaya itu?"


Terlihat Raka adem ayem dan mengangguk saja, mulutnya tak bergerak mengeluarkan kata selain sapaan saat datang. "Nggak guna si Raka jadi anak," decaknya.


.


.


.


.


.


Udah bisa nebak?


menurut kalian rencana Gino dan pak Aldi apa?


menurut kalian rencana Viola dan Nayla selanjutnya apa?


ada yah penasaran pake bingit dengan cast mereka? kalo ada komentar di sini🔥


tapi lagi-lagi aku tekanin kalo visual akan aku post lebih dulu di ig, kalo di lapak kudu pikir-pikir, mungkin juga nggak bakal post:) sorry.


buat kalian yang tungguin cerita ini mana suaranya? spam api 🔥 sebanyak mungkin


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2