LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 65


__ADS_3

Nayla menyusun beberapa lembar kertas AVS di atas meja berisi laporan praktikumnya Minggu ini. Sesekali kening gadis itu mengkerut lalu membaca ulang isi di atas kertas itu, menyusunnya lebih rapi dari sebelumnya.


"Nay, nitip jilid warna biru." Gino menaruh kertas yang sama di meja Nayla sebelum menaikkan tudung hoodie dan bergegas keluar. Cowok itu menoleh saat mencapai ambang pintu, "Gue di perpus, kalo ada apa-apa lo bisa cari gue."


"Ada yang nggak beres," seru Morgan menggebrak meja membuat Raka yang sibuk menulis terlonjak dan refleks melempar pulpen mengenai kepala Nayla bagian belakang. "Nay, gue yakin lo guna-gunain Gino makanya tuh es bisa leleh sama lo!"


"Sebelum gue semprot tuh mulut lambeturah lo, mending ngaku dulu siapa yang lempar pulpen ke kepala gue!" Nayla mendorong mejanya sedikit ke depan agar mudah mengambil bolpoin hitam di bawah kursi. "Lo kira nggak sakit apa ditimpuk pake pulpen!"


"Masih untung pulpen, tadi gue sempet rencana mau lempar spidol berikut papan tulisnya."


Dengusan kasar tak terelakkan saat balasan begitu santai itu terdengar. Nayla dengan gesit berbalik badan dan melayangkan bolpoin itu, Raka yang tak kalah gesit menarik wajah Morgan sebagai tameng.


"SAAAAKIIT! BANGSUL!" Morgan memekik sembari mengusap hidungnya yang berdarah karena tertancap ujung pulpen yang runcing. Raka meringis ngilu, tak menyangka lemparan Nayla bisa sekuat itu. "Nay! Lo gila apa, hah?"


"Ngapain lo nyalain gue?!" Nayla ikut terpancing, menggeser mejanya ke depan lalu berdiri sangar. "Jelas-jelas yang mau gue lemparin pulpen itu si Raka bukan lo. Lo-nya aja yang g0blok mau dibeg0-beg0in!"


"NAY, LO BISA DIAM NGGAK SIH?!"


"SUARA LO TOA TAU NGGAK!"


"CAPER AJA TAUNYA!"


Bukan Raka yang bersuara melainkan penghuni kelas lain yang mulai terganggu. Raka yang tidak disalahkan tersenyum smirk melihat Nayla yang mulai kebingungan menghadapi tatapan teman-temannya yang menusuk.


"Lemparin pulpen aja udah, percuma tuh cewek kalo dibilangin makin jadi!" Suara santai Raka berhasil memancing adrenalin penghuni kelas mengeluarkan pulpen dari tas masing-masing. Ekspresi wajah cowok itu tak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun, melainkan raut puas melihat wajah pucat Nayla semakin pias. "Yang kenceng biar tau rasa."


"Raka! Lo apa-apaan sih?!" geramnya hendak maju menyerang Raka namun urung saat sebuah pulpen melayang nyaris menghantam wajahnya.


Nayla merunduk, lemparan demi lemparan mulai menghantam sisi tubuhnya dari berbagai sisi, kedua tangannya digunakan melindungi wajah yang menjadi sasaran objek pertama. Dalam diam Nayla bersumpah, dia tidak akan memaafkan cowok bernama Raka apapun yang cowok itu lakukan untuk mendapatkan maafnya nanti.


-Di sisi lain-


Viola mengigit jari. Merasa bodoh karena meninggalkan Nayla seperti itu. Viola merasa sangat bersalah, mengutuk otak pintarnya yang tak berguna jika menyangkut urusan cinta. Viola akui, hatinya telah jatuh sejatuh-jatuhnya oleh laki-laki bernama Gino.


Viola menggila. Saat tahu jika Gino adalah pacar seorang Agatha Queenera yang bahkan tak segan mengkhianati sahabatnya sendiri. Viola ingin kembali menata hati, memberitahu hati bahwa dia laki-laki br3ngsek yang terlalu beruntung mendapatkan rasa cintanya.


Hari ini seharusnya Viola sudah kembali ke kampus, menemui Nayla dan meminta maaf. Namun, lagi-lagi ia kalah dengan detakan jantungnya yang menggila. Jika ke kampus, kemungkinan besar ia akan melihat wajah Gino, membuat jantungnya berdetak ngilu tak terkendali. Viola masih belum siap. Bengkak dimatanya belum pulih sempurna karena menangis akhir-akhir ini.


"Andai aja gue nggak jatuh cinta sama lo, Gin. Mungkin gue bisa nimpuk lo pake sepatu malam itu tanpa ragu."

__ADS_1


Dengan sepi yang berkepanjangan, Viola kembali menatap rimbun angin yang menerpa pohon dalam diam. Villa peninggalan neneknya lumayan berguna dan menenangkan.


...******...


"Gino."


Langkah kaki Gino spontan berhenti saat suara lembut itu menyapa telinganya. Gino tetap pada posisinya sampai cewek dengan wajah yang dipenuhi keringat berdiri di hadapannya, menghalangi jalannya.


"Gue mau minta tolong sama lo." Agatha menarik napas panjang dan menghembuskannya pelan-pelan, degup jantungnya tiba-tiba tak terkendali. "Temenin gue ke gramed habis ini, gue butuh referensi novel buat novel gue selanjutnya."


Satu alis Gino terangkat. "Kok gue?"


Agatha tersenyum canggung. "I--ya, soalnya lo juga kan yang bantuin Nayla, sekarang novel-novel Nayla pembacanya banyak banget berkat bantuan lo." Bibirnya sedikit mencebik saat melanjutkan, "Makanya gue juga butuh bantuan lo, kali aja lo bisa bantuin gue sama kayak apa yang lo lakuin ke Nayla?"


Tatapan penuh harap yang Agatha berikan nyaris membuat Gino tersenyum smirk. "Nggak. Karya Nay terkenal karena otak Nay sendiri yang pintar, bukan karena gue."


"Tapi lo juga bantuin." Agatha tetap menghalangi langkah Gino saat cowok itu berusaha menghindarinya. Demi apapun, Agatha tidak suka penolakan secara halus yang Gino lontarkan. "Masa' Nayla lo bantuin gue nggak."


Sungguh, Gino merasa sangat malas meladeni perempuan yang banyak mau seperti ini. Hanya saja status Agatha sebagai pacar sahabatnya membuat Gino sedikit lebih sabar. "Lo bisa minta bantuan Raka, kan? Kenapa harus gue!"


"Raka itu bodoh, dia nggak ngerti sastra!" Refleks Agatha menjawab demikian. Gino terkekeh mengejek, iris Agatha membola saat meralat, "Mak---sud gue, Raka nggak punya bakat di sastra, dia bisanya olahraga atau hal-hal yang menyangkut bisnis."


"Kok lo ngomong gitu?" Bibir Agatha mencebik tidak suka. "Emang gue ada salah sama lo? Perasaan hubungan gue dan Raka baik-baik aja. Morgan juga biasa-biasa aja deket sama gue, lonya aja yang beda."


"Ngapain lo peduli?" Gino menjawab super cuek, bahkan untuk menoleh pun ia enggan.


"Gue cuma minta bantuan lo sedikit tapi lo nggak mau bantuin gue seolah-olah gue udah ngelakuin kesalahan fatal!" Tangan Agatha terkepal, dengan kaki dihentak sebab terlalu kesal dia berjalan mendahului Gino dengan sedikit menyenggol sisi tubuh cowok itu.


Gino smirk.


Menolak keinginan Agatha memang harus Gino lakukan, ia terlalu muak melihat wajah penuh topeng cewek itu. Wajah cantik nan lugu yang berhasil menipu banyak orang. Terlebih-lebih sahabatnya, Raka Dirgantara.


Nayla sebenarnya sedikit heran melihat Gino menolak keinginan Agatha. Padahal, itu kesempatan emas untuk mengulik info lebih dalam, siapa tahu saja Agatha keceplosan dan langsung berterus terang. Nayla dengan wajahnya yang memar di bagian kening berjalan bertolak arah, harap-harap cemas Gino tak mengetahui kehadirannya.


"Gue tau lo sana."


.


.

__ADS_1


.


RUGI KALO NGGAK DIBACA!








...Yang minat tanya-tanya, silahkan chat; 085343958522 (Syugerr)...


...ig; sugiatidahlan...


TIM AGATHA-RAKA MANA SUARANYA?


TIM GINO-NAYLA MANA SUARANYA?


TIM MORGAN-AGATHA MANA SUARANYA?


TIM GINO-VIOLA MANA SUARANYA?


spam koment yah biar aku makin semangat ❤️


dan juga jangan lupa VOTE! bener-bener nurun Drastis Vote-nya.


SPAM NEXT BIAR NGGAK DIEM-DIEM BAEE👉


EMOTICON YANG MEWAKIL PERASAAN MU SAAT INI?


sekalian, ada yang mau di sampaikan sama Gino dan Nayla? atau Morgan dan Agatha?


Salam dariku,

__ADS_1


SYUGERR


__ADS_2