LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 21


__ADS_3

KANGEN RAKA AKU, MAKANYA NULIS 😂


.


.


.


.


.


Raka mengernyit bingung melihat cewek itu merendahkan diri memungut sesuatu yang tidak diketahuinya. Sehabis mengantar Agatha dengan selamat dia memutuskan untuk singgah ke supermarket membeli beberapa keperluan di apartemen.


Cewek yang dilihatnya adalah Nayla. Raka bergedik bahu tidak peduli memilih abai dan berjalan melewati cewek itu. Nayla selesai dengan kegiatannya, mengangkat wajah melihat Raka yang berlagak tak salah apa-apa. Ingat! Ambisi Nayla sekarang adalah ingin menghancurkan seorang Raka Dirgantara, jika tidak hancur, minimal menyadarkan cowok itu untuk tidak semena-mena padanya dan mau bertanggungjawab.


"Apa yang terlihat baik belum tentu baik loh." Nayla menyindir. Dia mengambil sebungkus snack dan memeluknya bersama snack lain. Raka terlihat abai, walau senyum miring sempat terbit di bibirnya. "Dan sesuatu yang berlebihan itu akan berakhir seperti sampah. Nggak guna, awal doang kepake lama-lama palingan dibuang, walau masih bagus dan masih bisa digunakan tapi untuk apa juga kalo dah membosankan, iya 'kan, Raka?" Senyuman di bibir Nayla semakin terangkat.


"Iya, tapi sesuatu yang diperlakukan berlebihan itu menunjukkan bahwa dia istimewa, iya 'kan, Nayla?" Sudut bibir Raka terangkat remeh. Nayla memajukan bibir bawah dan bergidik tidak peduli. Raka mengambil snack terakhirnya dan pergi begitu saja, Nayla setia mengikuti.


"Pinggang gue sakit, lo dorong tadi." Memegang pinggangnya sesaat, Nayla bingung sendiri dengan mulutnya yang mudah melontarkan kalimat itu, tetapi jujur memang pinggangnya masih terasa sakit. "Apasih yang Agatha kasih buat lo? Dari penglihatan gue nih, Agatha iya 'sih, cantik, tapi dari cara dia natap lo itu kayak beda." Nayla masih mengingat jelas tatapan mata Agatha pada Raka yang membuatnya bertanya-tanya sampai saat ini. Mungkin Raka tidak menyadari.


"Terlalu cinta. Sampai mata lo silau dan nggak bisa liat jelas iya, kan?" Raka tertawa renyah. Setelah membayar belanjaannya dia berlalu begitu saja dan meninggalkan tempat ini.

__ADS_1


Nayla diam. Tentu tidak membenarkan ucapan Raka namun kasihan pada cowok itu yang sepertinya sangat bergantung pada cewek bernama Agatha. Di tatap sampai kapanpun memang wajah Agatha sangatlah cantik, senyumnya manis yang sikron dengan hatinya yang bak malaikat. Namun, Nayla yakin jika tidak ada manusia yang sempurna, oke? Agatha pasti memiliki cacat seperti manusia lainnya. Beruntungnya, cewek itu memiliki Raka yang selalu setia padanya.


"Apa iya gue harus jadi perusak di hubungan mereka berdua demi tujuan gue buat minta pertanggungjawaban sama Raka? Andai aja semua itu nggak terjadi, mungkin nggak akan serumit ini dan gue nggak akan pernah kenal dengan cowok berengs3k itu." Nayla bergumam pelan, berdiri di pinggir jalan dan menggerakkan tangan menahan sebuah taksi.


Di tempat lain. Di rumah bernuansa biru langit dengan furniture sederhana. Seorang perempuan dengan kaos putih dan celana levis selutut tersenyum lebar dan mengangguk untuk menjawab pertanyaan dari sang lelaki yang berdiri di hadapannya.


"Apa kamu yakin ini akan berjalan sesuai rencana?" Cowok itu beralih duduk di sofa, menepuk pahanya meminta cewek cantik itu untuk duduk dipangkuannya. "Apa kamu yakin dia nggak curiga sama sekali?" Lagi-lagi pertanyaannya dibalas anggukan senang oleh cewek itu.


"Dia mudah kukendalikan, kamu tenang aja." Suara lembut itu menyapa sangat merdu membuat cowok berkaos maroon yang juga turut hadir dan duduk di hadapan mereka mendelik. Bukannya senang dengan info yang diberikan adiknya, melainkan dia risih melihat pemandangan yang tidak ingin dilihat kedua matanya. Cewek itu mencium sekilas pipi sang pujaan hatinya, mengabaikan sang kakak yang semakin merah padam.


"Kenapa kakak mau mengorbankan pacar kakak?" Yang ditanya hanya diam, dia termenung dengan pikiran yang dibuatnya sendiri. Sang cewek terkekeh renyah. "Demi kelancaran misi kita? Kasihan juga 'sih, ceweknya," ujarnya lagi.


Ruangan yang hangat beberapa menit lalu kini dilingkupi dengan hawa misterius. Cowok berkaos maroon berdiri dari duduknya dan pergi meninggalkan sang adik dengan kekasihnya. "Mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi," gumamnya miris. Ingin sedih namun percuma, ingin menyesal itu bukan dirinya, ingin menerima tetapi tetap pada prinsipnya bahwa dia tidak ingin bekas orang lain namun dia sendiri yang mengorbankan.


Di waktu yang sama. Raka menutup kulkas kecil yang letaknya di samping almari pakaian. Cowok itu berjalan menuju pintu utama apartemen, niatnya ingin ke rumah Morgan untuk begadang. Hari esok ialah hari paling dinantikan oleh mahasiswa-mahasiswa yang membenci namanya tugas dan bosan duduk di kelas.


"An ...."


Klik! Panggilan terputus sebelum Morgan menyelesaikan ucapannya. Sebelah tangan Raka terangkat untuk meraih handle pintu, membukanya, dan terkejut melihat penampakan wajah cewek yang akhir-akhir ini menjadi perusak mood-nya. Cewek itu adalah Nayla Kayana, berdiri di depan pintu apartemen Raka dengan kedua tangan yang menenteng kantong plastik berisi cemilan.


"Numpang makan boleh?" Nayla bertanya ramah, tak lupa tersenyum yang mana senyumannya itu semakin membuat Raka heran. "Nggak disuruh masuk nih? Di luar aja?" Bersikap santai. Walau dalam hati Nayla tak berhenti mengutuk Raka dikarenakan tidak dipersilahkan masuk sedangkan beban yang dibawanya juga tidak diambil alih.


"Gue ngusir lo!" Raka hendak menutup pintu apartemennya rapat-rapat sebelum cewek itu menerobos masuk. Namun, Nayla dengan gerakan cepat melepas satu beban di tangannya untuk digunakan mendorong pintu. "Lo punya apartemen sendiri, ngapain di apar gue? Mau mesum 'yah, lo?"

__ADS_1


"Gue udah ramah 'yah, dari tadi, udah senyum manis juga. Bukannya di suruh masuk malah diusir sebelum masuk!" Nayla berusaha keras mempertahankan tenaganya untuk mendorong lebih keras pintu coklat ini. "Dan apa lo bilang? Mesum? Kepala lo nggak ada otak!" balasnya sarkas.


"Lo senyum bukan manis, Anjing! Tapi nyeremin." Ingin mendorong lebih keras pintu tersebut agar segera tertutup namun melihat jari-jari Nayla yang memegang pinggiran pintu membuat Raka tidak tega jika harus menyakiti cewek itu lagi. "Cukup kejadian di kafe tadi aja gue buat dosa, sekarang gue udah nggak mau, lepasin tangan lo dari pintu sebelum gue remukkin!" ancam Raka.


"Sampai tega lo remukkin tangan gue, besok kaki lo gue potong pakai gergaji besi!" Nayla membalas tak kalah sarkas. "Tujuan gue kesini cuma mau baikan sama lo, apa salah?" Iya, tujuan Nayla kesini ingin baikan dengan cowok itu, jika Raka sudah percaya padanya. Maka dengan mudah Nayla mengulek informasi dan menghancurkan hubungan Raka dengan Agatha. "Plis Raka, lo 'kan, cowok nggak boleh kasar-kasar sama cewek."


"Emang lo cewek?" Raka bertanya malas. Menatap jari-jari Nayla yang nyaris terjepit pintu, sekali dorongan saja maka cewek itu pasti akan memekik.


"Lo mau bukti?" Nayla bertanya cukup antusias. Seperti mendapat undian seratus juta, mengintip semakin dalam ke apartemen Raka hingga melihat separuh wajah cowok itu yang terhalang pintu, senyum Nayla semakin terbit, Raka semakin tidak habis pikir.


"Mau!" sahut Raka setelah terdiam beberapa saat. Nayla semakin melebarkan senyumannya, alisnya naik turun seolah meminta cowok itu untuk membuka pintu apartemen semakin lebar agar dia bisa segera masuk dan membuktikan semuanya.


"Buka pintunya dong, entar dikasih liat."


.


.


.


.


SEMANGAT NAYLA🤣

__ADS_1


SALAM DARIKU,


SYUGERR


__ADS_2