
Gino mendelik, dia memilih menatap cewek yang sejak tadi sibuk dengan bukunya. Dia berdiri, menghampiri cewek yang namanya saja tidak dirinya tahu, menarik dan membawa cewek itu keluar kelas walau sempat ditolak.
"Lo siapa sih," kesalnya sebab Gino menariknya sesuka hati, di saat dirinya tengah sibuk mengerjakan laporan. "Gue sibuk, kalo nggak penting lain kali aja," tampiknya berbalik badan namun Gino menarik pergelangan tangannya.
"Dimana Viola dan Nayla?" tanya Gino, datar. Tiga hari ini Viola tidak menampakkan diri dan hari ini Nayla ikut menghilang. Gino cukup tau mahasiswi berprestasi seperti mereka pantang meninggalkan kelas.
"Gue nggak tau!" jawabnya sembari melepas cekalan Gino. "Gue emang sekampus sama mereka, cuma itu. Gue nggak deket atau menjabat jadi temen mereka, jadi gue nggak tau apapun!" tambahnya lalu pergi, Gino tidak menahannya lagi.
Gino merasa manusia yang paling bodoh. Tiba-tiba saja orang-orang di sekitarnya berubah, Raka tidak seperti biasanya yang berbicara banyak, Viola tidak mungkin absen selama itu karena Gino tahu jika cewek itu menyukainya, Viola selalu memanfaatkan waktu untuk menatapnya lama. Dan Nayla, setiap kali Gino melihat wajah Nayla, hanya kebencian dan putus asa yang tergambar.
Bahkan, Nayla tidak ingin bertegur sapa dengannya lagi.
Di sisi lain.
Sudah delapan jam Nayla tidak bergerak dari hadapan laptop, jari-jarinya masih bergerak lincah di atas keyboard menuangkan ide, beberapa kali Nayla merasa penglihatannya buram dan keram pada jari-jarinya, namun saat merasa sedikit baikan dia kembali melanjutkan.
Novel yang di tulisnya beberapa bulan lalu telah selesai, kini dia berencana menyelesaikan novel kedua yang sempat hiatus. Walau yakin novel itu tidak akan selesai hari ini juga sebab hanya beberapa part yang sempat di tulisnya sebelum hiatus, ide pun hilang entah kemana, Nayla hanya menulis sesuai insting yang muncul saat itu juga.
Suara perutnya membuatnya terpaksa berhenti. Nayla tidak tahan lagi, sejak tadi dia tidak mengisi perut, badannya sampai pegal dan perutnya terasa perih.
Dia terlalu memforsir tubuhnya dan berkerja keras.
Nayla memutuskan untuk ke cafe terdekat. Setelah membereskan laptopnya barulah dia bergegas keluar apartemen.
Kacamata masih membingkai wajahnya sebab dia lupa melepasnya. Otak Nayla rasanya keram untuk berpikir lagi, tatapannya lurus ke depan dengan sorot sayu, tubuhnya benar-benar lemah sekarang.
Nayla menatap kiri kanan sebelum memutuskan untuk menyebrang jalan. Setelah merasa aman dia melangkahkan kakinya, kefokusannya yang tidak stabil membuatnya salah dalam menilai.
Sebuah mobil sport putih melaju kencang dari selatan. Suara klakson saling bersahut-sahutan yang mana Nayla langsung tersadar dan berdiri kaku di pijakannya. Sisa menunggu waktu lagi mobil itu melayangkan nyawanya.
Semoga Nayla berumur panjang, mobil itu berhenti satu langkah dari hadapannya. Nayla tidak beranjak, dia terlalu shock.
"Hobi lo emang bunuh diri, ya? Udah dua kali lo nyaris mati ketabrak mobil!"
Pemilik mobil itu adalah Raka.
__ADS_1
Nayla perlahan-lahan mengangkat kepalanya, menatap sayu cowok berbaju hitam itu.
"Dan kenapa dari sekian banyak mobil lo nyebrangnya saat mobil gue yang mau lewat!" geram Raka.
Nayla tidak menjawab, bibir pucatnya ingin mengatakan sesuatu namun rasanya sangat sulit. Perlahan, Nayla berusaha melangkahkan kakinya menjauh, dia tidak ingin berurusan dengan Raka untuk saat ini. Raka sudah menyakitinya terlalu dalam.
Raka berdiri angkuh di depan mobilnya. Menunggu Nayla segera pergi dan tidak menghalangi jalannya.
Namun, melihat langkah Nayla semakin lambat seperti siput Raka jadi geram dan berniat mendorong bahu Nayla namun siapa sangka saat tangannya terulur Nayla tiba-tiba saja ingin tumbang alhasil niatnya yang ingin mendorong jadi menarik pergelangan tangan cewek itu sampai jatuh ke pelukannya.
Nayla pingsan.
"Nay." Raka mendekap tubuh kurus Nayla, menepuk-nepuk pipi cewek itu. "Bangun, kayak nggak ada tempat lain aja untuk pingsan!" tambahnya.
Wajah Nayla sangat pucat, seperti tidak ada darah yang mengalir di sana. Raka tidak tahu apa yang cewek ini hadapi hingga menjadi seperti ini. Yang jadi masalahnya sekarang adalah kenapa Nayla pingsan di hadapannya.
Raka menggendong tubuh Nayla ke mobilnya. Setelah mendudukkan Nayla di kursi penumpang barulah Raka berlari-lari kecil memutari mobil untuk sampai ke kursi kemudi.
"Gue nggak tau apa masalah lo sampai lo kayak gini. Yang gue tau lo jadi tanggungjawab gue sekarang karena pingsan di hadapan gue!" tuturnya sembari memasang sabuk pengaman untuk Nayla.
Lima belas menit barulah Raka sampai ke kediaman Dirgantara. Dia masuk dengan menggendong cewek ala brydal, beberapa asisten rumah tangga yang melihatnya cukup terkejut.
"BUNDAAA," teriak Raka memanggil Bundanya.
Bunda keluar dari kamarnya yang terletak di lantai atas.
"BUNDAAA, cepetan ada orang yang sekarat!" tuturnya melirik Nayla yang masih tidak sadarkan diri.
Saat melihat Nayla digendongan putranya, Bunda jadi terkejut. "Nayla kenapa, Sayang? Kamu apain dia?" tanyanya khawatir sembari melambaikan tangan meminta Raka untuk membawa Nayla ke salah satu kamar tamu.
"Nggak diapa-apain, tiba-tiba aja pingsan di tengah jalan," jawab Raka.
"Hati-hati," pesan Bunda saat Raka membaringkan tubuh Nayla ke kasur. "Ya ampun, wajah Nayla pucat banget, suhu tubuhnya juga tinggi," imbuhnya dengan punggung tangan yang menempel di kening Nayla.
"Demam?" beo Raka dibalas delikan kesal oleh Bunda. Raka angkat tangan dan menggeleng. "Bukan Raka Bunda, Raka cuma nolongin Nayla aja pas pingsan. Mungkin kaget karena nyaris ketabrak mobil," imbuhnya.
__ADS_1
"Kamu mau nabrak dia?" pekik Bunda garang yang mana Raka langsung menampik dengan gelengan. Bunda menghela napas, "Suruh Bibi bawa kompresan ke sini," titahnya.
Raka mengangguk dan keluar kamar.
Tak lama Raka masuk dengan sebuah baskom di tangannya. "Bibi lagi masak buat makan malam, tiba-tiba aja semua bibi di rumah ini sibuk semua, kayak kerja kantoran aja," sungutnya.
Bunda menatap baskom yang Raka bawa dengan mata memicing. "Kamu ambil air dimana?"
"Di kulkas," jawab Raka.
"Kain ini?" Bunda mengangkat sebuah kain putih yang dibawa Raka.
"Dikasih Bibi," jawab Raka. Dia melirik wajah Nayla, benar-benar pucat seperti mayat hidup. Raka menggeleng prihatin, "Tinggal nunggu waktu yang tepat aja buat nyabut nyawa nih cewek."
Bunda yang mendengar itu menatap putranya garang. "Jangan ngomong gitu, pamali," pungkasnya.
Raka mengangguk. Bunda sibuk merawat Nayla dengan kasih sayangnya, Raka memilih pergi dari sana guna mencari kesibukan lain.
.
.
.
.
.
Raka kasar-kasar juga nggak tegaan yak😂
aing suka nih yg kayak gini
Bikin gemesss minta ditampol wkwkw
TARGET PART 280 LIKE + 60 KOMENT✨
__ADS_1
kayaknya target part 58 kagak tembus deh:(