LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 66


__ADS_3

Nayla sebenarnya sedikit heran melihat Gino menolak keinginan Agatha. Padahal, itu kesempatan emas untuk mengulik info lebih dalam, siapa tahu saja Agatha keceplosan dan langsung berterus terang. Nayla dengan wajahnya yang memar di bagian kening berjalan bertolak arah, harap-harap cemas Gino tak mengetahui kehadirannya.


"Gue tau lo sana."


Spontan langkah Nayla terhenti, hembusan napasnya terdengar sangat berat saat menoleh dan mendapati tubuh tinggi Gino yang menjulang. Mau tidak mau Nayla mendongak, menilik iris abu itu dengan sayu.


"Kenapa lo mesti nolak ngikutin Agatha?" ujar Nayla terdengar galak.


"Males."


"Kan! Padahal kita bisa aja dapet informasi penting kalo ngikutin Agatha seharian ini."


Satu alis Gino terangkat. "Apa gue terlihat peduli?"


"Badjingan lo!"


Pada akhirnya Nayla mengumpat. Berbicara dengan Gino memang memancing darah tinggi. Andai saja wajah cowok itu tak tampan, iris abunya tak mampu menghipnotis kaum hawa, mungkin tak ada yang menginginkan kehadiran cowok itu dimana pun.


"Gue emang Badjingan." Gino menjawab enteng.


"Viola bener-bener punya selera yang buruk!" cicit Nayla.


"Lebih buruk lo yang udah di unboxing sama Raka!"


Nayla melotot sangar, melirik kanan kiri untuk memastikan koridor benar-benar sepi sebelum melayangkan cubitan maut di perut Gino. Gino meringis, dia bahkan tak segan menjitak kening Nayla yang memar hingga lengkingan suara Nayla cukup mendominasi ruang sepi.


-Di sisi lain-


Aldi baru saja dari ruangan rektor untuk mengajukan permintaan agar Nayla dan Viola kembali ke kampus. Mengabaikan permintaan Nayla, Aldi lebih tidak ingin jika otak pintar cewek itu mulai bekerja hingga Agatha kesulitan menanganinya.


Nayla kalap. Dia memang banyak melakukan kesalahan akhir-akhir ini dengan tindak impulsifnya. Namun, tak menuntut kemungkinan setelah hal-hal kecil yang menimpa cewek itu mulai mengatur strategi cerdik yang lebih aman. Agatha yang hanya mengandalkan bujuk rayu dan wajah lugunya tentu kalah telak.


"Gimana?"


"Udah saya proses, saya yakin nggak lama lagi Viola dan Nayla balik ke sini."


"Bagus. Peran Nayla emang penting, tapi gue ngg,ak mau Nayla jadi Boomerang untuk rencana kita."


"Saya ngerti."


"Satu lagi, gue mau adek lo nggak usah sok kecentilan sama Raka. Bikin mata gue sakit!"


"Kalo itu, coba kamu aja yang omongin sama Agatha."

__ADS_1


"Males."


"Ya---"


Tak menunggu kalimat Aldi rampung, seseorang dibalik sana sudah mematikan panggilan sepihak. Aldi tak ambil pusing, walau geram dia tetap tersenyum tipis sebelum memasukkan ponselnya ke saku.


Viola.


Viola.


Viola.


Nama itu memenuhi pikirannya akhir-akhir ini. Aldi sadar, cewek itu selalu mengikuti kemanapun dia pergi beberapa hari terakhir ini namun, yang Aldi sesali kesadaran itu muncul saat melihat Viola bersama dengan Nayla malam itu.


Bagaimana dengan hari dan malam sebelumnya? Entah hal apa saja yang sudah Viola saksikan. Yang jelas, mereka sudah tahu jika dirinya dan Agatha memilik hubungan erat.


Aldi mengerang.


"Viola-Viola-Viola!"


-Di sisi lain-


Tepat pukul 04.20 WIB.


"Nayla Kayana," cicit Bunda. Helaan napasnya terdengar sangat berat tatkala berbalik badan mendapati Dirga-Ayah Raka- lengkap dengan setelan kantornya berdiri dengan jarak satu meter.


"Bunda lagi mikirin apaan?" tanya Dirga. Terlihat jelas peluh yang membajari kening istrinya, pertanda wanita itu baru saja berpikir keras. "Kalo soal Raka nggak usah dipikirin, Bun. Raka biar Ayah yang ngurusin."


Bunda menggeleng. "Bunda lagi nggak enak badan aja," kilahnya. Bunda rasa, ini belum waktunya Dirga tahu yang sebenarnya. Lagipula, apa yang Bunda tangkap bisa saja salah. Feeling Bunda bisa saja melenceng jauh. "Gimana kerja sama kamu dengan perusahaan Pak Aldi?"


Dirga tersenyum tipis. "Nggak tau kenapa Raka antusias banget nyuruh Ayah tanda tangan kontrak kerjasama itu, mungkin .... Raka nggak sabar mau ikut campur sama pembangunan hotel kali ini?"


"Tapi, Yah. Perusahaan Pak Aldi bukannya baru, ya? Maksud Bunda, perusahaan kita dan Pak Aldi nggak pernah ngejalin hubungan apapun sebelumnya. Bukannya itu terlalu beresiko?"


Ayah tertawa pelan lantas menuntun Bunda untuk duduk di sofa. "Semuanya aman, Bun. Ayah udah ngulik informasinya sama Raka. Dan Raka juga sangat yakin kalo cooperation kali ini berjalan sangat lancar. Jarang-jarang loh, Bun, Raka mau bantu Ayah."


Mau tidak mau Bunda mengangguk. Walau merasa sendikit janggal, pasalnya Raka yang tak pernah mau berurusan dengan bisnis dan membantu Ayah kali ini menawarkan diri sendiri. Bukannya Bunda tidak senang dengan perubahan drastis itu, hanya saja agak sedikit mustahil?


"Pesan Bunda, Ayah tetep pantau dan hati-hati. Raka kan masih curut, nggak ngerti apa-apa. Jangan apa-apa ngasih tugas ke Raka, kalo Raka salah gimana? Kan Ayah juga yang repot."


Ayah tertawa pelan sebelum mengangguk.


Nayla Kayana.

__ADS_1


Entah kenapa, Bunda rasa-rasanya ingin bertemu dengan gadis itu lagi. Namun, bagaimana caranya?


Nayla nyaris saja membanting laptopnya. "Ya ampun! Udah hampir selesai laptop malah mati. Ini gimana? Malah belum ke save lagi." Kedua tangannya pun ikut berpartisipasi menjambak. 


Andai keluar dari cafe ini ada rel kereta api, mungkin Nayla akan senang hati menabrakan diri. Kesepuluh jemarinya pegal, otaknya juga nyaris berasap hanya untuk menyelesaikan sepuluh part terakhir novelnya, setelahnya mendapati laptop mati mendadak.


Nayla gamang. Keningnya yang ditempeli plester tak berhenti dibenturkan di sisi meja. Kata-kata mutiara pun tak absen keluar dari bibir pucat cewek itu.


"Nay, lo butuh duit buat biaya idup lo, keluarga lo, biaya rs bokap lo! Kerja-kerja-kerja!"


"Nggak usah mikirin yang lain dulu. Nggak usah overthingking, fokus nulis aja dulu!"


"Tugas kuliah biarin aja numpuk, entar Viola balik biar dikerjain sekalian."


"Huuffft!---- AAAAAA, SYIAAL!" Nayla kelepasan berteriak dan mengumpat. Tatapan mata sayunya kini tertuju pada laptop yang tak menampakkan apa-apa. "Kenapa lo mesti mati, hah? Bisa sih lo mati tapi ngasih tanda gitu. Tanda seru besar kek biar gue sadar kalo lo bentar lagi mati. Mana belum sempat gue save lagi!" Tangan Nayla memukul geram keyboard laptop.


"Udah gila lo?"


Poni Nayla yang menutupi kening terbang terkena tiupan.


"Mungkin ide lo buruk kali, makanya laptop aja males nampung."


Nayla terkekeh sarkas. Dia bangkit berdiri dan menoleh hanya untuk mendapati Agatha yang menatapnya mengejek dengan posisi bersedekap.


"Hm, karena novel gue ya novel. Nggak kayak lo, drama di dunia maya, drama di dunia nyata!"


Agatha nyaris terpancing, terlihat dari ekspresinya yang sempat berubah. "Nggak masalah, selama gue suka, selama itu pula gue lakuin."


Nayla merotasikan bola mata sebelum mencibir, "Ya-ya-ya, ratu drama." Setelahnya, Nayla membereskan semua barang-barangnya di meja dan bergegas pergi, berjalan, menyenggol sisi tubuh Agatha sampai ikut terdorong.


.


.


.



Kalo ada foto kayak gini, tandanya aku lagi promosi wkwk:v


Mau di next kapan?


salam dariku,

__ADS_1


SYUGERR


__ADS_2