LIABILITY

LIABILITY
LIABILITY; 44


__ADS_3

"Nay." Seruan dari arah belakang itu membuat Nayla menoleh, tertegun karena ternyata suara itu milik Aldi. Orang yang akhir-akhir ini belum sempat bertemu dengannya lagi. "Aku mau bicara sama kamu," ujarnya.


Nayla yang duduk di salah satu kursi kafetaria hanya mengangguk, mempersilahkan Aldi duduk. "Ada apa, Pak?" Mereka sudah tidak punya hubungan apa-apa bukan? Dan Nayla rasa hatinya sudah lumayan baik tanpa kehadiran cowok ini.


"Beneran kita udah putus?" Nampaknya Aldi masih tidak percaya akan ucapan Nayla terakhir mereka bertemu. "Nay," serunya saat Nayla tak menjawab.


"Pak, harus berapa kali saya bilang kalo kita udah nggak punya hubungan apa-apa." Nayla berkata sopan, sedikit demi sedikit hatinya mulai membaik, ia bisa merelakan Aldi jika memang cowok itu ingin mencari penggantinya. "Maaf, Pak. Bukannya saya bersikap tidak sopan, tapi apa yang ingin bapak tanyakan sehingga repot-repot menghampiri saya kesini?"


Aldi mengukir senyuman simpul. "Aku denger insiden kamu dengan Raka. Apa itu benar?" tanyanya dan Nayla tanpa ragu langsung mengangguk. "Kampus kita udah tau, dan tinggal tunggu waktu yang pas aja kamu akan ditarik kembali dan digantikan dengan orang lain."


Sesaat napas Nayla tercekat, ia melepas pipet yang sedari tadi ia mainkan lalu menatap Aldi serius. "Pak, saya mohon bantuan bapak untuk membujuk rektor agar saya tidak digantikan, saya akan berusaha untuk menghilangkan berita akan insiden itu."


"Kayaknya sulit Nayla, apa yang harus saya katakan sama mereka?" Penuturan Aldi itu membuat Nayla cemberut, bibir bawahnya maju beberapa senti, cewek itu terlihat nyaris putus asa. "Tapi ... Saya bisa mengusahakan atas dengan satu syarat."


"Syaratnya apa, Pak?" serunya. Apapun syaratnya Nayla akan mengusahakan itu, tujuannya di kampus TRIJAYA masih belum selesai. "Apapun itu saya akan mengusahakan," tukasnya penuh harap.


Aldi lagi-lagi tersenyum simpul. "Jika insiden kamu dengan Raka benar, kamu nggak punya alasan untuk mundur. Bagaimanapun caranya kamu harus mendapatkan hak kamu." Penuturan Aldi membuat Nayla berpikir sejenak. "Kenapa?"


"Kenapa tiba-tiba dukung saya? Bukannya pak Aldi nggak terlalu suka sama Raka dan nggak suka kalo saya deket-deket sama orang lain?" tuding Nayla, matanya memicing untuk sesaat, terlihat curiga. "Kayak Bapak tau persis aja apa yang sebenarnya terjadi."


Mendengar itu Aldi tertawa pelan. "Berita insiden itu sangat viral Nayla, orang-orang yang mengetahuinya pasti berpikiran sama kayak saya."


"Saya tau, tapi orang itu tidak termasuk Pak Aldi. Saya kenal Pak Aldi itu seperti apa," tuturnya yang mengundang kernyitan di kening Aldi. Nayla mengaduk-aduk minumannya dan mengimbuhkan, "Pak Aldi nggak bakal percaya info apapun tanpa bukti yang jelas," lanjutnya.


"Buktinya udah jelas," tampik Aldi. "Kamu mengajak Raka ke ruang cctv untuk melihat bukti malam itu, tapi bukannya dapat bukti yang kamu inginkan Raka malah mengecek rekaman semalam dan mendapatkan kamu berbicara dengan dua orang pria yang dia anggap musuh, padahal hanya pengantar pizza."


Netra Nayla membola, ia refleks berdiri dengan mimik wajah terkejut. Dia tidak menyangka jika Aldi salah satu dalang atas insiden ini.

__ADS_1


Melihat reaksi cewek itu Aldi ikut-ikutan di buat bingung. "Kenapa? Saya benar, kan?" tanyanya namun Nayla hanya diam, masih menatap dirinya dalam. "Nay, jika memang itu benar kamu nggak ada alasan untuk mundur, harga diri kamu di pertaruhkan. Seandainya kamu memberitahu saya jika alasan kamu meminta putus karena ini, mungkin saya bisa menerimanya pelan-pelan."


"Sekarang saya sudah berusaha untuk melupakanmu, semoga aja berhasil. Saya permisi dulu."


Lagi-lagi Nayla tidak menjawab, ia hanya mematung melihat Aldi pergi. Setelah cowok itu hilang dari pandangannya, Nayla bergegas keluar kafetaria ini tak lupa men-dial nomor seseorang.


"Halo Vio, ada yang pengen aku omongin sama kamu, bisa ketemu sebentar?" Nayla melambaikan tangan pada taksi yang akan melaju di hadapannya. "Penting, ini penting banget," tukasnya.


"Emangnya lo dimana?" Suara Nayla terdengar kesal, Viola tidak ada di rumah sekarang. "Jemput Rama? Berarti di kampus dong? Dia kuliah dimana emangnya? Biar gue nyusul kesana," tanyanya beruntun.


Di sisi lain. Raka tengah berusaha mengendap-endap keluar rumah, mama dan papanya akhir-akhir ini sangat protektif. Sudah tiga hari ia keluar dikawal oleh dua orang yang merupakan suruhan papa, dan sesampainya di rumah Raka tidak bisa keluar lagi.


Mamanya saat ini sedang berada di taman belakang, dan papanya sedang berada di office home, setidaknya itu yang Raka tangkap karena tidak melihat mereka sore ini. Nyaris menggapai pintu utama, Raka dikejutkan oleh tepukan di punggungnya. Ragu-ragu cowok berhoodie abu itu menoleh, nyengir karena ternyata sang papa-lah yang memergoki.


"Selamat sore, Pa." Raka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, ia masih mempertahankan senyum terbaiknya.


"Mau keluar sebentar beli sate, Raka kepingin," ujarnya lancar lalu membalikkan badan ingin bergegas pergi namun sang papa lagi-lagi menahan pundaknya. "Ada apa, Pa?" Raka masih mempertahankan nada manisnya.


"Bi Inem bikin sate tadi, ada di meja makan." Penuturan sang papa itu membuat Raka terperangah sebelum akhirnya mengangguk lesu. "Kamu nggak ada rencana mau kabur dari pengawasan papa?"


Raka menggeleng. "Nggak ada dong, Pa. Emangnya Raka mau kabur kemana?" alibinya padahal sore ini ia berniat menghabiskan waktu dengan Agatha. Sejak di kampus tadi ia tidak bebas berpacaran dengan cewek itu karena dua orang suruhan papa yang selalu menguntit. "Oh iya, Pa. Besok Raka kepingin ke rumah Morgan."


Papa mengangguk, mereka berjalan bersisian. "Bisa, tapi Morgan-nya yang kesini."


"Bentar doang, Pa. Pagi Raka berangkat, pulangnya paling maghrib." Ucapan Raka itu langsung dibalas jeweran telinga oleh sang papa membuatnya meringis kesakitan. "Raka kepingin ketemu Agatha, Pa. Kangen nih, kayak nggak pernah muda aja--AWW-AWW, PA! SAKIITT!" teriak Raka di akhir ucapannya.


"Kasus kamu belum selesai dan Mama Papa nggak bakal bebasin kamu gitu aja!" seru sang mama dari arah dapur. Ia membawa nampan berisi makanan ringan dan white coffe untuk suami dan putranya.

__ADS_1


"Belum selesai? Bukannya udah ya Ma, kan tadi udah ketemu mah Nayla," ujar Raka meraih cemilan kentang dan memakannya.


"Belum selesai ... karena sepertinya Mama percaya sama Nayla."


Raka terbatuk-batuk mendengar itu.


.


.


.


Menurut kalian Nayla curiga sama Aldi gara-gara apa?


ada yang bisa nebak alur cerita ini?


kalian bener-bener yakin nggak kalo pacar Agatha itu Gino?


yakin nggak?😂


oh iya, apa kabar? masih semangat ramein grub SYUGERR?


Aku mau ngucapin maaf sebesar-besarnya karena udah jarang nyapa kalian di grub😭, maaf yah.


salam dariku,


SYUGERR

__ADS_1


__ADS_2